
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
Sherry membuka mata dan menemukan dirinya dalam sebuah ruangan. Dia tidak tahu sedang berada dimana. Tubuhnya terbaring begitu saja di atas lantai dengan tangan terikat dan mulut di tutup dengan kain. Mau bergerak susah. Rasa sakit di kepalanya juga masih terasa.
Dia tidak bisa menerka dimana dia di sekap. Lalu tujuannya apa? Karena dia adalah putri pemilik perusahaan. Walaupun ketahuan ketemu dia sedang berada di ruang kerja itu, bukankah terlihat hanya sebagai putri pemilik putra perusahaan? Kenapa tiba-tiba saja ada seseorang yang membuatnya pingsan.
Dengan tubuh miring menghadap dinding, Sherry mencoba berpikir soal kejadian tadi. Dia mulai teringat soal amplop yang dia baca di ruang kerja. Lalu, kemana Daniel? Apakah ada di belakangnya? Sepertinya di belakangnya sunyi. Tidak ada siapapun. Lalu kemana, pria itu?
Amplop! Itu berisi keanehan. Operasi plastik? Aku harus segera menghubungi Relly dan mengatakan semua yang aku ketahui, tapi bagaiamana caranya? Saat ini tubuhku susah sekali untuk bergerak.
Setelah bersusah payah bergerak untuk bebas, hingga akhirnya Sherry kelelahan. Menyerah untuk bergerak. Saat itu ada orang-orang datang ke ruangan ini. Terdengar langkah kaki mendekat padanya. Terdengar jeda saat suara kaki itu menghilang lalu terasa seseorang menyentuhnya. Menarik tubuhnya dengan kasar.
Kalau seandainya mulutnya tidak di bungkam mungkin dia akan memekik.
"Ayo jalan," ujar seseorang dengan suara kasar. Sherry menurut. Mengikuti bimbingan orang itu. Selama berjalan, Sherry tidak tahu kemana tepatnya dia akan di bawa. Tubuhnya hanya mengikuti arahan yang di katakan orang yang membawanya. Hingga mereka sampai di pelataran mobil.
Ini pelataran perusahaan milik papa Vermouth. Itu berarti sejak tadi dia masih berada di gedung ini. Karena ini mungkin sudah sangat malam suasana sangat sepi.
"Masuk," perintah laki-laki brewok itu sambil sedikit mendorong tubuh Sherry. Gadis ini sedikit terjengkal, tapi untung tidak sampai membuat kepalanya menabrak badan mobil. Alhasil tubuh Sherry masih aman dan bisa duduk dengan tidak harus terluka.
...----------------...
Elda, yang sedang menunggu Sherry pulang, gelisah. Padahal sudah sangat malam, tapi gadis itu tidak muncul. Nyonya Julia bilang, anak tirinya itu sedang bersama Daniel jadi tidak perlu khawatir. Justru itu, Sherry sangat khawatir. Kenapa gadis itu sedang bersama Daniel di malam yang mulai larut ini.
Elda mencoba menghubungi Sherry, tapi ponsel itu tidak aktif. Awalnya Elda berpikir bahwa baterai ponsel itu habis. Namun kegelisahan terus menerus menyerangnya. Dia tidak bisa tenang. Elda mencoba menelepon Ve.
"Halo." Suara laki-laki terdengar di seberang.
"Maaf. Ini ponselnya nona Ve bukan?" tanya elda ragu tapi tetap bertanya.
"Elda?" Sebut suara di seberang membuat Elda sedikit terkejut. "Aku Aska. Adik Sherry. Ada apa?"
"Nona Ve kemana?" tanya Elda lega. Ternyata itu Aska.
__ADS_1
"Dia menemani ibuku."
"Bisa panggilkan sebentar?" Aska melongok ke dalam kamar.
"Maaf, sepertinya dia tertidur."
"Siapa?" Vermouth yang tertidur kursi membuka mata. Rupanya dia mendengar apa yang di bicarakan Aska di telepon.
"Pemeriksaan pasien," ujar seorang perawat terdengar dari sana. Pasien? Elda ragu untuk bertanya soal Sherry.
"Kamu ada di mana?" tanya Elda khawatir.
"Rumah sakit," jawab Aska. Namun percuma karena Elda pasti mendengar kata-kata perawat barusan.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Elda sedikit lambat.
"Ibu. Tolong jangan bilang ke Sherry bahwa ibu sedang sakit. Dia akan sangat khawatir jika tahu itu."
"Baik. Apakah Sherry hari ini menemuimu?" tanya Elda akhirnya bertanya.
"Tidak. Ada apa?" tanya Aska heran.
Nyonya Julia dan yang lain sudah tidur. Jadi untuk mencari Sherry, dia harus keluar rumah dengan pelan-pelan. Ibu tiri itu akan marah besar jika mengetahui Elda keluar tanpa ijin.
Elda terkejut melihat seseorang di luar dinding pagar rumah. Pemuda itu memutar tubuh saat mendengar seseorang keluar dari pagar.
"Kamu ..."
"Ya. Aku Relly. Aku ingin bertemu Sherry," ujar Relly membuat Elda terkejut.
"Jangan menyebut nama itu." Elda cemas ada orang yang sedang mengikutinya. Kepalanya lihat kanan dan kiri. Mereka berdua yang sama-sama tahu soal keajaiban tertukarnya dua jiwa, tidak terkejut dengan nama itu.
"Bisakah panggil Sherry untukku?" pinta Relly tidak sabar. Elda melongok masuk ke dalam mobil. Disana ada seorang pria. Dia erick. Orang yang ada di rumah sakit mengurus segala keperluan Sherry. Pria itu mengangkat tangan bermaksud menyapa Elda.
"Maaf, Relly. Bukan maksudku tidak ingin memanggil Sherry, tapi dia tidak ada di rumah."
__ADS_1
"Tidak di rumah? Ini sudah malam. Bukankah seharusnya dia sudah di rumah? Apa dia sengaja menghindariku?" Relly seperti menggerutu dengan alasan pelayan di depannya.
"Bukan. Sherry belum pulang sejak pulang sekolah tadi."
"Dia belum pulang?" tanya Relly lambat karena terkejut. Elda mengangguk dengan wajah muram. Relly sontak terkaget-kaget. Dia masih ingat bisa menelepon gadis itu tadi. Saat dirinya hendak pulang, tapi karena tas ranselnya tertinggal, dia kembali ke kantor. "Apa dia tidak meneleponmu sama sekali?"
"Tidak. Aku cemas dan meneleponnya berulang kali malam ini, tapi ponselnya tidak aktif. Awalnya aku sengaja tidak menghubunginya karena dia sudah bilang akan ke kantor tuan besar sendirian. Biasanya sebelum malam dia sudah berada dirumah. Kali ini aneh. Padahal sudah larut malam, dia masih tidak muncul bahkan tidak memberi kabar." Elda menjelaskan.
Relly kembali di dera rasa cemas. Gadis itu tidak pulang bahkan tidak menelepon Elda untuk memberitahu keadaannya. Dirinya juga sudah mencoba menelepon ponsel Sherry, tapi tidak aktif. Dia berpikiran Sherry sedang tidak ingin di teleponnya. Karena itu dia sengaja datang kerumahnya. Relly ingin bertemu.
"Apa dia tidak memberi kabar padamu juga?" tanya Elda. Relly yang sedang berpikir mendongak. "Mengingat hubungan kalian yang di sebut sepasang kekasih meskipun itu tidak nyata, tapi mungkin saja kalian berdua terikat satu sama lain. Jadi mungkin saja Sherry memberitahu semua hal padamu, bukan padaku." Elda mengatakan dengan pelan dan agak menunduk. Relly melihat pelayan Ve yang setia itu.
"Mungkin kita sepasang kekasih palsu, karena aku yang memaksakannya. Namun aku tulus menyayanginya Elda." Relly memberitahu. "Aku menyayangi Sherry." Elda bisa melihat kesungguhan pemuda di depannya.
"Aku mau mencari Sherry di luar. Apakah kita bisa mencarinya bersama-sama?" tanya Elda.
"Tidak. Kamu boleh masuk Elda. Tunggu di rumah. Aku yang akan mencari Sherry."
"Tapi..."
"Lebih baik kamu berada di rumah. Biar aku bergerak sendiri. Dia akan menemaniku." Relly merasa keadaan ini sedikit mengkhawatirkan.
"B-baiklah. Tolong kabari aku secepatnya kalau kau sudah menemukannya. Terima kasih." Elda membungkuk dan masuk ke dalam rumah lagi.
Kali ini dia bisa percaya pada pemuda itu. Meskipun dia tahu bahwa sekarang di dalam tubuh Ve itu bukanlah Ve yang asli, cowok itu memperlakukan lebih baik daripada saat tubuh itu di isi oleh Ve sendiri.
...----------------...
"Kenapa Elda meneleponku?" tanya Ve yang terbangun tadi.
"Hanya sekedar bertanya soal keadaan dirimu." Aska meletakkan ponsel di atas nakas. Ve mengangguk. "Dia juga berpesan, jaga kesehatanmu."
"Dia memang perhatian padaku selain bu Sarah. Dia seperti seorang kakak yang selalu menjagaku." Ve berkata sambil menunduk. Wajahnya muram. Aska menghela napas. Menjadi Ve di kehidupan aslinya juga sangat berat. Dia semakin iba melihatnya.
Ibu mendadak asmanya kambuh dan parah. Hingga beliau kesulitan bernapas yang akhirnya membuat beliau harus di opname dan di beri oksigen.
__ADS_1
Pintu kamar di buka. "Aku membawa makanan untuk kalian," ujar Hansel yang datang membawa kresek hitam.