
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Sepeninggal Relly yang mengetahui cerita Sherry, suasana di dalam kamar pasien tetap menegang. Vermouth masih terisak dalam pelukan Aska. Hansel mematung seraya menancapkan indra penglihatannya pada tubuh gadis yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Sherry menggeser retinanya ke arah Hansel. Mata mereka beradu.
"Maaf," ujar Sherry tanpa ekspresi ke Hansel. Pemuda ini akhirnya tersenyum tipis menanggapi permintaan maaf Sherry.
"Soal apa?" tanya Hansel lebih santai.
"Peringatanmu soal Relly." Hansel hanya manggut-manggut. "Aku punya alasan dan tujuan sendiri," sambung Sherry.
"Semua keputusan terserah padamu," ujar Hansel sok bijak. Padahal hatinya sedikit tergores barusan. Saat Sherry mengatakan ingin menjadi kekasih Relly.
Di atas ranjang Aska menepuk punggung Vermouth agar lebih tenang. Sherry masih terdiam di tempatnya berdiri. Tidak tahu harus bicara apa lagi. Hansel memandangi gadis yang masih dalam pelukan Aska. Dia juga ingin tahu, siapa sebenarnya mereka berdua. Kenapa Sherry mau berkorban demi melindungi gadis itu.
"Kau bisa pulang terlebih dulu. Biar dia yang mengantarmu, bisa kan?" tanya Aska sambil melihat ke arah Hansel. Dengan mata memohon. Hansel mengangguk pasti. Sherry menatap Aska dengan mengangkat alisnya. Mempertanyakan kenapa Aska menyuruh dia dengan Hansel.
"Kalau dia tidak mau, aku tidak bisa apa-apa," Hansel paham raut wajah itu menunjukkan ketidaksetujuan.
"Aku enggak bisa nganterin kamu," kata Aska mendesak. Dia tidak mungkin meninggalkan Vermouth yang masih dalam suasana hati labil. Hansel melirik gadis di sebelahnya. Sherry memejamkan mata sebentar.
"Antar aku pulang," kata Sherry memukul lengan Hansel pelan. Hansel tersenyum.
"Siapa namamu?" tanya Hansel. Sherry yang sudah berjalan berhenti dan menoleh kebelakang. Aska menatap Sherry, coba meminta pendapat. Hansel tahu pemuda yang duduk di bibir ranjang itu masih meminta ijin Sherry saat akan menyebut namanya. Sherry mengangguk pelan.
"Aska," jawab Aska akhirnya.
"Terima kasih. Kalau kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi, karena aku sepertinya ingin lebih dekat denganmu, kawan," ujar Hansel sambil menunjuk Aska dengan jentikan jari. Sherry melangkah keluar kamar terlebih dahulu. Di ikuti Hansel di belakangnya.
Aska melepaskan pelukannya dari tubuh Vermouth. Masih dengan isakan tangis yang tersisa Vermouth menyeka hidungnya yang basah.
__ADS_1
"Maaf, aku tadi...," Aska jadi canggung. Padahal jelas-jelas di hadapannya itu adalah tubuh kakaknya. Vermouth menggeleng. Dia mengerti pelukan Aska untuk melindugi kakaknya.
"Jadi kamu tahu kalau di dalam tubuh ini ada jiwa orang lain?" tanya Vermouth dengan sesenggukan. Aska mengangguk. "Pasti kamu juga menyadari kalau tubuh gadis barusan adalah kakakmu?"
"Iya. Aku lebih tahu dulu bahwa kakakku ada pada tubuhmu. Jadi aku coba memperhatikan dirimu. Ternyata kalian berdua memang tidak sama. Aku semakin yakin bahwa kamu bukan kakakku yang sebenarnya." Vermouth mengusap lagi hidungnya yang berair. Aska menyerahkan tisu. Tangan Vermouth menerima sodoran tisu dan memakainya.
***
Sebenarnya Sherry bisa meminta Elda menjemputnya, tapi dia tidak enak mengusir Hansel. Jadinya dia menyetujui usulan Aska yang menyuruhnya pulang bersama Hansel.
Elda tidak menjemput makanya dia mau mengikuti saran Aska. Sherry sudah memberitahu kalau dia lagi ngumpul sama teman sekolah. Ini kemajuan bagi seorang Vermouth. Karena dulu gadis pemalu ini tidak pernah punya kegiatan sepulang sekolah dengan teman-temannya. Makanya Elda coba membiasakan tubuh itu untuk bisa berkumpul dengan orang lain. Hitung-hitung untuk jalan Vermouth kelak saat jiwa mereka kembali. Tapi kapan? Entah.
Hari mulai petang, tapi Sherry tidak ingin langsung pulang. Hansel mengajaknya mengitari jalanan yang sepertinya tidak di mengerti Sherry. Ini bonus tersendiri bagi Hansel karena Sherry mau berlama-lama dengannya.
Sherry masih berdiam diri saat Hansel mengajaknya turun untuk berjalan-jalan mengitari taman. Dia teringat saat dirinya melihat Vermouth sadar. Juga soal Relly yang mendesaknya hingga akhirnya dia menawarkan diri menjadi kekasihnya. Mereka masih belum pulang, masih memakai seragam sekolah.
"Vermouth?" tegur Hansel. Tangannya menarik tubuh Sherry karena hampir saja menabrak orang. Itu membuyarkan lamunan Sherry.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya dia heran, "Apa ada hal penting lainnya? Aku bisa mengantarmu jika mau," tanya Hansel penasaran.
"Apaan sih lempar-lempar jaket sembarangan?" seru Sherry memprotes sikap Hansel barusan.
"Pake jaket itu," perintah Hansel.
"Kenapa harus? Tidak mau. Jaket bau ini disuruh pakai. Maksudnya apaan sih?" tanya Sherry sambil ngomel. Sebenarnya jaket itu tidak berbau seperti bibir Sherry ucapkan. Hanya saja sesaat tadi dia menghirup aroma lelaki milik Hansel yang membuatnya merona. Karena itu membuat dirinya seakan-akan sedang di peluk oleh pemilik jaket itu.
"Bawel. Cepat pakai." Karena Sherry tidak segera memakai jaket, Hansel geregetan dan menarik jaket dari tangan Sherry dan membungkus tubuh gadis ini asal dengan jaketnya.
"Ngaco ini ah.." seru Sherry.
"Lebih baik kamu menurut. Semua melihatmu karena mereka pikir sungguh aneh ada gadis masih memakai seragam saat sudah gelap seperti ini," ujar Hansel menunjuk orang-orang di sekitar dengan matanya.
"Kenapa sih. Aku enggak apa-apa, kok."
"Memangnya kamu gadis yang sedang kabur dari rumah? Sudah tutup mulut dan lakukan sesuai perintahku," Memang semua orang di situ memandang Sherry dengan tatapan tidak menyenangkan. Mereka beranggapan Gadis ini adalah bocah nakal yang tidak langsung pulang kerumah tapi masih keluyuran.
__ADS_1
Akhirnya Sherry membuka jaket yang hanya di balut melingkari tubuhnya secara asal. Lalu memakainya dengan benar.
"Kamu sendiri masih memakai seragam...," gumam Sherry sambil melirik Hansel.
"Aku tidak masalah. Karena aku lelaki. Lebih baik tatapan mata itu di berikan padaku daripada harus kamu yang menerimanya," pungkasnya layak ksatria. Sherry hanya menipiskan bibir.
Tanpa sadar mereka berdua jalan bareng lumayan lama. Hansel membiarkan Sherry diam tanpa bicara. Dia merasa jadi dekat saat jalan berdua seperti ini, meskipun Sherry tidak mengajaknya ngobrol.
"Apakah ada orang percaya keajaiban?" tanya Sherry tiba-tiba. Seperti bertanya pada dirinya sendiri. Hansel tidak menjawab. "Apakah kamu percaya kalau aku bilang aku bukanlah aku?" tanya Sherry lagi tanpa menoleh.
"Aku tidak paham. Tapi jika kamu benar-benar bertanya padaku, mungkin aku bilang tidak percaya." Sherry yakin pasti seperti itu. Mana ada orang yang percaya kalau dia adalah orang lain. Itu sungguh gila. "Kalau kamu bertanya apa aku merasa kamu orang lain, aku akan jawab iya. Kamu seperti orang lain." Hansel memberikan pendapatnya tanpa di minta.
"Aku memang terlihat seperti orang lain, ya?" gumam Sherry.
"Ya," jawab Hansel singkat. Sherry tersenyum sedih.Tapi apa gunanya kalau hanya terlihat seperti orang lain. Bukankah tetap aku adalah vermouth.
"Apakah mungkin jika aku memang orang lain? Aku bukan Vermouth. Aku adalah orang lain yang tak sengaja masuk dalam tubuh vermouth," Tak sadar Sherry mengatakan sendiri soal dirinya. Hansel terdiam. Bukan tidak mendengarkan apa yang di bicarakan Sherry. Dia hanya tertegun mendengar Sherry berkata seperti itu.
"Seperti yang aku katakan padamu di tempat latihan, aku sempat menganggapmu orang lain. Apakah kamu memang bukan Vermouth? Bukan pemilik tubuh ini?" tanya Hansel yang langsung membuat Sherry tersadar bahwa barusan dia sedang mengungkap jati dirinya. Kaki Sherry berhenti dan menatap Hansel. Mata itu menatapnya dengan serius. Coba mempertanyakan lagi apa yang di bicarakan oleh bibir Sherry.
"Tidak. Tidak apa-apa. Abaikan apa yang aku bicarakan. Anggap kau tidak mendengar apa-apa," Sherry panik. Matanya mengerjap bingung. Tangannya sibuk mengusap telinga dan menyisir rambut karena panik.
"Apakah perpidahan tubuhmu berkaitan dengan dua orang yang ada di rumah sakit tadi? Aska dan... gadis yang kau lindungi?"
"Aku... Aku pergi," Hansel mencegah.
"Dengar_ Siapapun kamu, kalau hatimu sama dengan yang aku kenal saat ini, aku tidak peduli. Jadi bicarakan saja apa yang ingin kamu bicarakan padaku. Apapun itu. Aku yakin mampu mendengarkan dengan baik," ujar Hansel bersungguh-sungguh sambil menahan tubuh Sherry dengan kedua tangannya.
"Mungkin bukan saat ini, tapi nanti. Pasti," janji Sherry.
"Aku bisa menunggu," kata Hansel yakin.
__ADS_1