
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Akhirnya sampailah mereka berdua di depan gang rumah Sherry.
"Tunjukkan, yang mana rumah kamu."
"Rumahku jelek."
"Kamu bicara apa? Aku kesana buat anterin kamu. Bukan untuk menilai rumah kamu jelek atau bagus. Aku bukan penilai." Sherry menggaruk tengkuknya. Relly benar, tapi dia ragu. "Lagipula, aku harus tahu rumah kamu yang mana. Bukannya lain kali aku harus mendatangimu sendiri untuk kencan." Relly menoleh ke belakang.
Kencan? Wow. Itu terasa sangat asing bagi Sherry. Namun sepertinya manis dan menyenangkan. Jangan sampai terlewatkan.
"Iya, kan?" tanya Relly butuh penegasan. Kalau itu tidak bisa di tentang. Tidak boleh di abaikan. Sherry mengangguk setuju pada akhirnya. Gadis ini memberitahu rumahnya.
Di depan rumah, sorot mata Aska menatap tajam dan menelisik keduanya. Bersidekap layaknya ayah menemukan putrinya bersama seorang pria. Memperhatikan Sherry dan Relly yang berdiri di depannya.
"Ka, Relly pamit nih. Dia hanya nganterin aku pulang," kata Sherry menepuk lengan adiknya pelan. Sekedar mengingatkan Aska untuk mendengarkan.
"Ya. Silakan," jawab Aska dengan dingin. Relly melirik cowok di depannya itu. Sherry menipiskan bibir dengan geram.
"Terima kasih atas petunjukmu untuk aku bisa menemukan Sherry."
"Aku tidak memberimu petunjuk. Aku memberi peringatan kamu untuk menjauhinya dan tidak mengganggu hidupnya lagi," sahut Aska membuat Sherry mendelik.
Jadi Aska sempat melakukan sesuatu nih?
"Tidak. Bagiku itu semangat untuk menemukan Sherry dan menyadarkan diriku bahwa ini belum terlambat. Terima kasih." Relly membungkuk. Lagi-lagi Sherry membelalakkan matanya.
"Tidak perlu begitu, Rell." Sherry menepuk pelan punggung. Mata Sherry mendelik ke Aska karena membuat Relly melakukannya.
Setelah berdiri tegak, Relly tersenyum. "Tidak apa-apa. Ini karena kita sesama cowok. Dia butuh pertanggungjawabanku sebagai orang yang memulai menyukaimu terlebih dahulu. Karena aku yang memulainya, aku harus berani meneruskannya sampai tuntas. Aku tahu Aska bermaksud begitu." Relly tersenyum lagi menatap Sherry.
"Karena sudah sampaiĀ di rumah, aku pulang dulu. Kamu pasti lelah sejak tadi menangis karena banyak hal."
"Ya. Hati-hati." Sherry berkata pelan. Krek! Pintu rumah terbuka. Semua menoleh bersamaan. Seorang ibu muncul dari balik pintu.
"Lho, ada tamu ... Kenapa tidak di suruh masuk? Ayo, Aska dan Sherry yang baru datang. Bawa masuk temannya. Tamu kok di biarkan di luar sih."
Aska sudah akan mengatakan sesuatu, tapi Relly ternyata lebih dulu bersuara, "Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya mengantar Sherry."
"Mengantar Sherry?" Kepala ibu menoleh pada Sherry. "Justru itu. Karena sudah berbaik hati mengantar putri ibu, kamu harus masuk."
__ADS_1
Sherry mengerjap mendengar ibu meminta Relly masuk rumah dulu. Aska menghela napas.
"Ini tidak terlalu malam, kan? Kamu bisa mencicipi kue buatan ibu. Masih hangat," ujar ibu senang. Bagi Relly tentu saja harus setuju jika di suruh masuk. Ini kesempatan.
"Ya. Terima kasih, Bu."
"Masuklah..." Sherry mendorong tubuh Relly pelan.
"Sementara Aska antarin ibu bawa kue pesanannya."
"Ya. Aska ambil kunci motor dulu." Relly dan Sherry masuk ke dalam rumah. Relly duduk di sofa sederhana yang di tunjuk Sherry
"Ambilkan beberapa kue di dapur." Ibu memberi petunjuk. Sherry mengangguk.
...----------------...
...----------------...
Mungkin ucapan 'kita akan bertemu sebentar lagi! bukan hanya kiasan saja. Sherry benar-benar muncul di sekolah Relly sebagai salah satu murid pertukaran. Itu berarti mereka akan segera bertemu.
Setelah Relly dan teman-temannya usai menyelesaikan belajar di sekolah Sherry, kini giliran sekolah Sherry mengirimkan siswanya.
Ini pasti ulah Relly, gumam Sherry dalam hati.
Demi mendapatkan ijin membatalkan jalinan pertunangan dengan Ve, Relly melakukan semua rencana yang bertujuan ke arah pendekatan. Kali ini, dia membuat rencana dengan memasukkan Sherry sebagai salah satu pertukaran pelajar yang akan bertugas sebagai siswa di sekolahnya.
Seperti pembohong saja, kata Sherry dalam hati. Duk! Tak sengaja saat melangkah menuju kelas, seseorang tertabrak dirinya.
"Maaf," ujar Sherry sambil membungkukkan tubuhnya sedikit. Gadis itu menoleh dan sedikit terkejut. Sherry juga terkejut. Ve! Mata Vermouth menatap lurus ke arah Sherry. Gadis ini juga kaget sebenarnya. Mereka berdua diam dan hanya saling tatap beberapa detik.
Yura melihat Ve juga. Dia tidak tahu, bahwa gadis ini adalah gadis yang pernah jadi teman.
"Ve!" panggil seseorang. Membuyarkan ketegangan antara mereka berdua. Rupanya Frans. Cowok itu mendekat. "Ah, Sherry. Kamu merupakan siswa yang bertandang ke sekolah ini juga rupanya." Berkat Frans yang juga menjadi salah satu sisea pertukaran pelajar, dia juga mengenal Sherry sebagai teman satu kelasnya.
"Ya, bersama Yura."
"Oh, Yura ..." desis Frans. Sepertinya mereka menemukan rivalnya. Mereka seringkali saingan mendapat nila baik di kelas.
"Ya. Aku datang." Yura bersikap menantang.
"Ada apa memanggilku?" tanya Ve merasa kesal dirinya tidak di anggap.
"Ah, itu. Kamu di panggil wali kelas di kantor. Mungkin terkait, dengan lamanya kamu tidak masuk sekolah. Pelayanmu juga disana. Elda."
Frans menyebut nama ini, membuat Sherry menoleh cepat. Dia jadi rindu dengan kakak itu. Elda!
"Ya. Aku akan kesana," sahut Ve agak dingin. Sebelum pergi, dia melirik ke arah Sherry sebentar. Seperti menunjukkan bahwa Sherry tidak akan bisa lagi menemui perempuan itu.
__ADS_1
Akhirnya kamu muncul di depanku, Sherry!
...----------------...
Sungguh, Relly bisa melakukan apapun demi rencananya. Ini juga bukti salah satu rencana Relly. Sherry muncul di dalam kelasnya saat dulu mendiami tubuh Ve. Satu kelas dengan Relly.
Ada rasa takjub, bahagia, dan aneh, membuncah saat menapakkan kaki pertama kali. Dulu, dia harus menjadi orang lain, kali ini dia muncul sebagai dirinya sendiri. Sebagai Sherry. Ini bagai mimpi.
Bola mata Sherry melihat ke sekitar. Susana kelas masih sama. Hanya berbeda dengan keadaan dirinya.
Kalau kala itu Relly yang selalu menajamkan pandangannya untuk melihat semua gerak-gerik Sherry yang masuk dalam tubuh Ve, kali ini Sherry sendiri yang mengarahkan pandangan ke arah cowok itu. Tampak tubuh tinggi itu duduk di bangkunya, di belakang. Bangku yang sama seperti dulu. Relly.
Sherry memandang agak lama, hingga akhirnya Relly menyadari keberadaannya. Saat itu guru masuk untuk memperkenalkan murid baru di kelas mereka.
"Frans, dimana mereka akan duduk?" tanya guru kepada Frans sebagai ketua kelas.
"Disana, Pak."
...----------------...
Akhirnya kamu datang, sebuah pesan singkat dari Relly muncul saat guru sudah keluar ruangan.
Ya. Sepertinya ini rencanamu.
Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu bahwa kita akan bertemu sebentar lagi.
Hilangkan senyummu itu. Seseorang melihat curiga.
Siapa?
Lihat saja sendiri.
Relly menghentikan melihat ponselnya dan melihat sekitar. Vermouth. Ya, gadis itu tengah melihatnya. Menelitinya. Relly hanya menoleh dan menghela napas. Setelah melihatnya, gadis itu berganti melihat ke arah Sherry.
Saat ini Ve mungkin gugup. Kepura-puraannya menjadi Sherry akan terungkap. Dia terancam. Lihatlah gadis itu mulai tidak tenang.
...----------------...
"Aku ingin bicara." Tiba-tiba Ve mendatanginya saat jam istirahat. Saat itu Sherry tengah berjalan di lorong bersama Yura.
"Sherry!" teriak Yura. Sherry hanya melambaikan tangan. Menunjukkan bahwa dia ada perlu sebentar. Sherry mengikuti Ve dari belakang. Kakinya membawanya ke tempat sepi. Sherry mengikuti tanpa mengatakan apa-apa.
"Tempat ini sudah sepi. Silakan bicara." Sherry memulai. Ve akhirnya berhenti melangkahkan kaki.
"Aku tidak mau tahu kenapa kamu sampai di sekolah ini. Namun aku harus tahu, kenapa kamu harus muncul sekarang?"
Sherry sudah menduga pertanyaan ini. Bagi Ve, keberadaannya membawa bencana. Mungkin dia tidak pernah terpikir bahwa mereka berdua akan bertemu kembali setelah kembali dalam tubuh masing-masing.
Mungkin dia berani mengaku Sherry, karena dia dan Sherry pasti akan berada di dua dunia berbeda. Yah ... takdir sudah menemukan dua orang untuk memerankan suatu lakon di dalam sebuah cerita baru.
__ADS_1