Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Rencana


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


"Bisa k-kamu katakan, apa yang membuatku nyawaku terancam?" tanya Ve begitu penasaran.


"Apa kau akan menepati janji? Jika kamu bisa di percaya dan bekerjasama," ujar Relly.


Tubuh Ve berjingkat sebentar. Kemudian diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Relly. Gadis itu seperti ragu. Berpikir dan bergulat dengan dirinya sendiri.


Suasana di rumah Sherry masih sepi. Sepertinya sejak tadi ibu memang tidak ada. Saat Sherry mengambilkan minuman untuk Relly, bagian dapur juga masih melompong. Mungkin belanja.


"Kemungkinan Sherry akan tetap maju menolong kamu yang sedang dalam bahaya, meski tidak ada kesanggupan kamu bekerjasama." Karena tidak ada jawaban, Relly menambahi kalimatnya segera. "Namun aku bisa membuatnya berhenti melakukan itu karena ini bukan tanggung jawabnya. Dia tidak perlu melakukan hal yang membahayakan dirinya. Tidak peduli bagaimana nasib kamu ke depannya, buatku keamanan Sherry lebih penting." Relly nampak marah.


Sherry mengerjap. Ve melebarkan mata terperangah kaget. Hatinya seperti di remas-remas, sakit.


"Memang perlu ngomong seperti itu?" sungut Hansel tidak terima. Dia ikut merasakan Ve yang sakit hati.


"Perlu. Ve perlu tahu bahwa ini bukan demi orang lain, tapi buat dirinya sendiri. Sherry bisa juga tidak peduli karena dengan tubuhnya yang sekarang, kejadian dengan tubuh Ve sudah tidak berkaitan lagi dengannya. Dia sudah terlepas dari bahaya, tapi dia berniat menyadarkan dan menolongnya karena ada orang yang mau mencelakainya. Apalagi yang perlu di ragukan olehnya?


"Meskipun begitu, Ve juga masih perlu berpikir. Jika dia segera menyetujuinya, kamu akan langsung pergi meninggalkannya. Itu yang dia khawatirkan." Hansel seperti tahu apa isi hati gadis itu.


Ve tidak membantah. Dia diam masih seperti tadi. Berarti omongan Hansel benar. Relly menghela napas.


"Sejak awal aku tidak pernah menawarkan sesuatu yang berhubungan dengan rasa suka. Kita bertunangan pun bukan karena aku mau, tapi karena itu suatu kesalahan. Aku mengira dia adalah Sherry. Bagaimanapun kamu pasti tahu bagaimana perasaanku sebenarnya padamu." Relly menatap Ve.


Sherry memperhatikan Ve yang menunduk. Hansel juga. Keputusan ini mungkin tidak mudah baginya. Ve yang sudah merasa di atas angin dengan mendapatkan Relly sebagai tunangannya, di suruh memilih. Di tinggalkan Relly atau menyelamatkan nyawanya dari bahaya yang masih tidak jelas darimana.


"B-baiklah aku setuju. Kamu bisa mulai bercerita padaku. Aku menerima semua hal yang akan berlaku jika kerjasama ini selesai." Termasuk dengan hubungan kita yang akan putus sebagai tunangan, lanjut Ve getir dalam hati.


Relly melihat gadis ini mulai serius dengan keputusan yang di ambil.

__ADS_1


"Tunggu." Hansel meletakkan kelima jarinya kedepan. Semua melihat ke arahnya. "Sejak tadi tidak ada orang yang mengusirku dari rumah Sherry. Apa ini berarti kalian mengijinkanku untuk mendengarkan dan ikut terlibat?"


Sherry melihat ke Relly.


"Ya. Kau juga salah satu orang yang tahu takdir mereka berdua. Jadi mungkin bisa membiarkanmu terlibat." Relly mengatakannya tanpa ragu. Dia percaya dan membiarkan Hansel masuk begitu saja.


"Baiklah. Terima kasih sudah melibatkanku. Silakan dilanjutkan." Tangan Hansel menunjuk ke depan untuk mempersilakan.


"Oke. Sekarang aku akan memberitahumu." Relly menceritakan garis besar soal siapa Gio. Cerita Relly membuat Ve terbelalak saat mendengarnya.


"Palsu? Papaku?" tanya Ve tidak percaya. Ada rasa tidak setuju. Itu wajar. Relly membiarkan gadis itu dengan ketidakpercayaannya. Wajahnya menatap Relly seakan ini hanya omong kosong belaka.


"Ya. Kemungkinan begitu. Aku menemukan berkas operasi wajah. Aku dan Daniel ...." Sherry berhenti sejenak. Ve dan Hansel menoleh pada Sherry. Rupanya Sherry teringat lagi dengan pria itu. Relly menggenggam tangan Sherry. Melihat raut wajah gadis ini, Relly tahu Sherry mau menangis.


"Aku dan Daniel kakak tirimu itu, menyelidiki ruang kerja papamu di perusahaan. Aku menduga ada yang salah. Ternyata benar. Papamu menyuruh anak buahnya menyekapku dan Daniel. Dia mengaku bahwa dia palsu."


"B-benarkah?" Ve menutup mulutnya dengan raut wajah ngeri dan takut.


"Bagaimana bisa dia mengaku pada orang lain? Bukankah itu sangat berbahaya baginya? Sebagai penjahat, aku rasa dia terlalu sembrono." Hansel berpendapat. Cowok ini mungkin tidak percaya juga. Siapa yang percaya begitu saja dengan cerita Sherry dan Relly?


"Dia akan membunuh Sherry.  Dia berniat membunuh dua saksi kepalsuannya. Maka dari itu sebelum membunuh saksi, dia mengatakan semuanya." Relly mengambil alih Sherry untuk menjawab. "Sebuah kepercayaan diri seorang penjahat karena yakin bisa langsung membunuh mereka berdua setelah mengatakannya. Sherry dan Daniel. Namun takdir berkata lain. Sherry berhasil aku temukan meskipun sempat tertabrak truk dan menyebabkan dirinya koma."


"Ve ..." Hansel langsung merengkuh bahu gadis itu.


"Lalu ... lalu dimana papaku? Dimana papaku yang asli?" tanya Ve dengan suara juga ikut bergetar. Sherry menoleh pada Relly. Meminta bantuan untuk menjawab. Dia tidak tega.


"Kita tidak tahu," ujar Relly.


"Tidak tahu? Apa orang itu tidak memberitahu padamu dimana papaku sekarang? Katakan Sherry," tanya Ve emosional. Sherry menelan ludah. Dia memang mendengar Gio berkata bahwa tidak mungkin dia bisa berbuat semaunya jika Gio asli masih ada. Itu kemungkinan bahwa Gio asli sudah mati. Namun haruskah dia menjawab seperti itu? Ini juga tidak mudah mengatakannya.


"Papamu sudah meninggal." Relly akhirnya mengatakan berita itu secara jelas. Sherry yang berniat bungkam, membelalakkan mata tidak percaya, Relly mampu mengatakannya. Cowok ini paham, Sherry tidak akan sanggup berkata begitu.


"Meninggal? Papaku? Tidak. Itu tidak mungkin. Papaku tidak mungkin meninggal. Katakan itu bohong! Katakan Sherry!" Ve histeris.


"Tenanglah, Ve. Tenanglah." Hansel berusaha menenangkan. Gadis itu menangis.


"Itu tidak mungkin Hansel. Tidak mungkin ...." Ve menangis di pelukan Hansel. Sherry miris melihatnya. Dia tidak tega.

__ADS_1


"Tidak perlu menutupi sesuatu yang jelas. Kalaupun nanti akan ada kabar bahwa Gio asli hidup, sekarang dia harus percaya bahwa orang yang sekarang ada di rumahnya adalah orang jahat, Sherry ...," bisik Relly mencoba menenangkan gadis ini.


"Ya." Sherry mengangguk.


...----------------...


Tangis Ve mereda. Hansel mengelus punggung gadis itu pelan.


"Aku tidak tahu ternyata kamu dalam keadaan sulit saat menjadi aku, Sherry ..." Ve menyeka hidungnya yang berair.


"Tidak begitu sulit daripada dirimu sendiri, Ve."


"Ya. Hidupku penuh dengan kesedihan sejak awal." Ve menyadari kehidupannya. "Kamu bisa teruskan soal Gio."


"Apa kamu masih sanggup mendengar semuanya?" tanya Sherry tidak yakin.


"Sebenarnya tidak, tapi aku perlu banyak tahu. Bagaimanapun ini soal keluargaku. Aku juga perlu bertindak meskipun tidak yakin."


Ve memang perlu bertindak.


Relly dan Sherry menceritakan soal kejadian di tepi danau secara bergantian. Ini membuat Ve mampu menyimpulkan. "Jadi ... jadi kecelakaan itu yang membuat jiwa kita kembali?" tanya Ve. Masih dengan pegangan tangan Hansel pada bahunya.


"Mungkin. Karena tubuhmu terpelanting keras di atas aspal." Relly memberi penjelasan.


"Apa yang harus aku lakukan demi membongkar kedok Gio palsu?" tanya Ve menggebu.


"Menemukan berkas operasi itu. Menelusuri dari mana operasi itu di lakukan. Dari sana kita mencari tahu dan harus menemukan siapa orang di balik topeng papamu, Ve." Sherry memberi ide.


"Sherry tidak bisa leluasa bergerak memakai tubuhnya. Itu memungkinkan jika dirimu, yang melakukannya." Relly menjelaskan.


"Tapi ... Aku takut," ungkap Ve jujur. Tubuhnya meringkuk lagi.


"Aku juga takut Ve. Kita sedang menghadapi penjahat. Wajar rasa takut menyerang kita," Sherry memberi pengertian.


"Kamu tidak sendirian, Ve. Kita bertiga akan membantumu," ujar Hansel meyakinkan.


"Terima kasih."

__ADS_1



__ADS_2