
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Di perusahaan SMART. Hansel dan orang-orang Erick juga sedang melawan anak buah Gio.
"Kamu seorang petarung rupanya," puji seorang pria. Hansel menoleh ke belakang dan mendengkus pelan.
"Bukan. Aku hanya berandalan kecil, yang suka kebebasan, Daniel ..." sahut Hansel atas pujian pria itu. Ya. Itu Daniel kakak tiri Ve. Pria ini sudah sehat. Dia tidak boleh muncul untuk membuat Gio lengah. Semua dugaan itu benar. Mereka memperlonggar keamanan di gedung ini karena merasa orang-orang yang tahu soal Gio palsu hanya berada di rumah keluarga Ve.
Anak buah Gio ternyata berhasil di lumpuhkan dengan mudah. Namun mereka masih punya tugas mencari bukti itu.
"Aku tidak menyangka Relly punya rencana. Dia sendiri sedang berjuang di rumah Ve. Pasti di sana lebih menakutkan daripada di sini." Daniel berkomentar.
Hansel hanya diam. Di dalam hati dia sangat cemas memikirkan Ve yang di katakan Sherry tengah dalam bahaya. Namun Erick dan lainnya sudah bersiap. Jadi Hansel merasa mereka pasti aman. Meski begitu, Hansel tidak bisa tenang.
Tujuan Relly adalah menyelamatkan Ve, tapi jika Sherry juga muncul di sana ... Relly mungkin akan lebih memilih memprioritaskan Sherry daripada Ve, itu yang di cemaskan Hansel.
"Di sekitar Sherry ada banyak cowok tangguh, ya ..." gumam Daniel saat mereka berjalan menuju ruangan Gio. Hansel hanya melirik sebentar.
"Jadi ... kamu kakak tiri Ve?" tanya Hansel kemudian.
"Ya. Namun hubungan kita tidak terlalu akrab. Dia takut padaku. Itu juga mungkin karena sikap mamaku yang buruk." Daniel tampak menyesali.
"Mungkin, jika semua ini terselesaikan dengan baik, kalian bisa menjadi keluarga yang rukun."
"Doa yang baik. Terima kasih," ujar Daniel sambil menepuk bahu Hansel yang tegap. "Apa ... kamu pacar Ve?" tanya Daniel penasaran.
__ADS_1
Kaki Hansel berhenti sejenak. Menoleh pada Daniel dan berkata, "Bukan." Lalu berjalan lagi.
"Aku rasa sikapmu mengatakan kamu peduli padanya ..." Daniel berpendapat. Hansel mendengkus. Dia belum tahu. Belum memastikan apa dia menyukai Ve atau sekedar kasihan. Namun dia memang peduli pada gadis itu.
Sesampai di depan ruangan Gio, mereka melihat pintu terbuka. Hansel segera menyerbu masuk terlebih dahulu. Daniel mumcul kemudian di belakangnya di temani beberapa orang-orang Erick.
Di dalam, anak buah Gio yang berjaga sudah babak belur. Ada seorang pria berjas abu-abu yang berdiri di sana. Juga beberapa orang yang terlihat sebagai pengawal. Hansel waspada. Bisa saja orang itu adalah sekutu Gio plasu.
"Siapa kamu?" tanya Hansel.
"Tunggu, Hansel," cegah Daniel yang merasa mengenal pria itu. Mendengar ada yang menegur, pria itu membalikkan badan. Lalu melihat keduanya.
"Kalian sedang mencari ini?" tegur seorang pria yang tidak di kenal Hansel itu. Rupanya berbeda dengan Daniel. Pria ini mengenal pria paruh baya berjas abu-abu itu.
"Tuan?!" tanya Daniel terkejut. "Kenapa Anda ada di sini? Dan kenapa itu bisa ada di tangan Anda, Tuan?" tanya Daniel dengan mata terpaku pada amplop putih yang di berada di tangan pria itu. Hansel menyatukan kedua alisnya berpikir. Siapa pria ini?
"Aku mendapatkannya dengan usaha," ujarnya sambil melihat amplop itu dengan penuh harapan.
"Mengapa Anda tahu bahwa kami sedang mencari amplop itu? Aku pikir, hanya aku dan Sherry yang tahu soal itu..." Daniel merasa aneh. Meskipun orang di depannya ini adalah salah satu orang penting di perusahaan, tapi mengetahui soal amplop itu tetap terasa aneh.
...----------------...
Di saat Gio terprovokasi dan marah karena Relly. Di luar, para anak buahnya tengah sibuk menghadapi gerombolan pria berjas hitam. Perkelahian tidak terelakkan. Saling memukul dan menendang pun terjadi.
"Jalan terbuka! Kalian bisa masuk ke dalam!" teriak Erick bersama anak buahnya.
"Siap, Erick!" ujar gadis dan seorang pemuda ini. Setelah mengatakan itu mereka maju dengan di ikuti beberapa anak buah Erick. Jalan mereka sempat terhalang oleh anak buah Gio yang bersiaga di setiap sudut rumah.
Namun, itu bisa di atasi. Keributan yang di dengar Gio rupanya adalah mereka. Sherry dan Aska masuk ke rumah bagian dalam dengan bantuan anak buah Erick. Yang tak lain adalah pengawal Relly.
Saat mulai akan memasuki ruang makan, Sherry di kejutkan oleh Gio yang sedang mengarahkan moncong pistol pada pelipis Relly. Aska mencegah.
__ADS_1
"Tunggu." Dia tidak segera maju. Tindakan gegabah akan membuat nyawa mereka yang di tawan akan melayang.
"Jangan gegabah. Dia bisa terbunuh jika kita bergerak sembarangan," cegah Aska yang berada paling dekat dengan pintu.
"Relly ...," lirih Sherry dengan rasa takut yang hebat. Hingga paru-parunya sempat merasa kesulitan untuk bernapas. Kakinya terasa lemas dan hampir saja ambruk. Aska dengan cekatan menyambar tubuh kakaknya.
"Ada apa?" tanya Erick yang muncul di belakang mereka. Aska menunjuk dengan jarinya tentang keadaan di dalam ruang makan. Erick terkejut melihat tuan mudanya dalam posisi tidak aman.
"Kita tidak bisa bergerak sembarangan," ujar Erick setengah berdecih kesal.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aska yang memegangi lengan kakaknya pelan. Sherry mengangguk. "Tenang saja, cowok itu akan selamat." Aska berusaha menenangkan kakaknya.
"Biarkan aku yang menangani ini," ujar seorang pria paruh baya yang muncul dari belakang mereka. Dia?
...----------------...
Erick dan Sherry membiarkan pria paruh baya itu masuk bersama beberapa orang-orangnya.
"Dia ... sekutu kita?" tanya Aska tidak mengerti. Sherry yang tadi lemas karena takut melihat pistol pada pelipis Relly mulai berdiri tegak. Melihat pria yang baru saja masuk ke ruang makan, dia mulai merasa ada harapan.
"Ya," sahut Sherry.
Tiba-tiba setengah anak buah Gio yang ada di dalam ruang makan menodongkan pistol ke arah Gio. Semua mata terkejut melihatnya. Terlebih Gio sendiri. Bola mata pria paruh baya ini melebar. Melihat anak buahnya dengan pandangan terperangah dan marah.
"Apa yang sedang kalian lakukan, hah?!" teriak Gio dengan urat terlihat di lehernya. Bagaimana dia tidak marah. Saat ini hampir setengah anak buahnya mengacungkan pistol ke arahnya dan kawanannya. Itu berarti dia juga dalam keadaan tidak bagus.
Orang-orang itu diam dan hanya mengarahkan moncong pistol mereka pada Gio dan anak buahnya. Relly terdiam tidak paham. Welly hanya melihat ke sekeliling. Mencoba memahami di balik keadaan yang terbalik ini.
Relly tidak mengenali orang-orang itu. Dia yakin itu bukan orang-orang Erick. Lalu siapa mereka? Ada perselisihan di dalam kubu Gio palsu? Relly sungguh tidak mengerti.
Pintu ruang makan terbuka perlahan. Semua melihat ke arah pintu itu hampir bersamaan. Seorang pria paruh baya muncul.
__ADS_1
"Kau?!" teriak Gio terperangah. Kemudian di susul dengan orang-orang berjas hitam di belakangnya. Kemungkinan orang-orang yang menodongkan pistol pada Gio adalah anak buah pria ini.