Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Bunga Matahari


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


Seperti dugaan Daniel, Papa Vermouth sangat senang saat tahu putrinya di rawat di rumah sakit besar milik keluarga Relly. Saat berkunjung ke rumah sakit, Papa Ve sangat senang bertemu dengan Relly. Beliau senang ternyata Ve bisa dekat dengan Relly putra pemilik perusahaan terkemuka di negara ini.


Siang ini masih dengan memakai seragam sekolah, Relly berkunjung ke rumah sakit. Membawa sekeranjang buah dan sebuket bunga matahari.


"Apa itu?" tanya Sherry heran dengan bawaan Relly.


"Ini. Ada seseorang yang mengaku bernama Henry memberikan buket bunga," ujar Relly meletakkan buket bunga di atas selimut Sherry dan meletakkan sekeranjang buah di atas nakas. Walaupun Sherry sudah sehat, selimut itu menjadi kebiasaan yang menetap di tubuhnya.


Bunga matahari.



Itu berarti seseorang mengharapkan kebahagiaan atau hal baik untuk dirinya.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Seperti biasa. Jenuh dan semakin lelah. Bukankah seharusnya aku pulang?" kata Sherry enggan. "Terus menerus berada di rumah sakit ini membuat tubuhku kaku. Aku rasa mungkin pukulan dan tendanganku juga semakin tumpul," desah Sherry sambil memperhatikan buket bunga yang indah.


"Bagaimana bisa yang kau pikirkan soal itu?" Sherry hanya mengkerucutkan bibir.


"Aku harus kembali membuat tubuh ini kuat. Jika orang yang mendorongku itu masih berkeliaran, bukankah tubuh ini sangat tidak aman. Kalau saja perutku tidak sakit waktu itu, aku pasti bisa menghajarnya." Sherry menjadi kesal lagi saat mengingat itu.


"Aku akan memastikan tubuhmu aman, Sherry," ujar Relly yang membuat Sherry mengerjap. Nama itu kini menjadi sangat laku dan pasaran diantara laki-laki ini. Relly dan Daniel.


"Ada kartu ucapan untukmu. Bacalah...," ujar Relly. Sherry mengambil sebuah kartu ucapan kecil yang terselip di buket bunga.


Semoga kamu cepat sembuh dan kembali ceria, Vermouth. Dari Paman Henry.

__ADS_1


"Dia paman henry. Adik papa Ve," ucap Sherry memberitahu seusai membaca ucapan itu seraya memandang bunga matahari agak lama.


"Dia sangat baik mau menjenguk dan bersusah payah membawa hal kecil seperti ini." Relly menyimpulkan tentang paman Vermouth.


"Aku tidak begitu paham, tapi aku juga merasa nyaman saat berada di dekatnya padahal baru pertama kali bertemu dengan beliau," ujar Sherry merasa terpukau dengan dirinya sendiri karena merasakan hal itu.


"Mungkin dia adalah orang yang baik."


"Benar. Bunga matahari. Aku menyukainya." Kedua alis Sherry terangkat. Itu menandakan dia sangat senang mendapatkan buket bunga itu.


"Berarti aku juga harus membawakan bunga matahari saat akan berkencan denganmu." Relly mulai berpikir.


"Kenapa kencan?!" tanya Sherry dengan mata melebar.


"Bukankah itu yang biasanya yang dilakukan orang berpacaran?" kata Relly menyipitkan matanya melihat reaksi Sherry. Mata Sherry terpejam dengan jari-jarinya tangan kanannya yang menutup kedua matanya kemudian. Bibirnya menipis geram.


Relly tahu itu. Namun dia tidak peduli. Sherry melepaskan tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Cepatlah sembuh, aku ingin kamu muncul di sekolah."


***


Pagi ini Sherry berjalan sendiri dari gerbang sekolah. Relly tidak muncul seperti biasanya, ini anugrah baginya bisa berjalan sendirian tanpa ada orang yang mengikutinya. Namun muncul Hansel yang seperti hendak menyerbu ke arahnya. Sherry melihat ada rasa bahagia di mata Hansel.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Hansel yang bertemu di depan ruang guru.


"Apakah kita sudah lama tidak bertemu?" tanya Sherry heran. Menurutnya mereka berdua tidak selama itu, tidak bertemu.


"Iya. Bahkan aku tidak bisa menemukanmu dimana saja. Apakah tubuhmu baik-baik saja? Apakah memarnya sudah membaik? Apakah kau sudah sehat?" tanya Hansel secara beruntun.


Meski ragu, Sherry menjawab. "I...ya."


"Frans memberi informasi kalau kamu di rawat di rumah sakit," ucap Hansel karena melihat raut wajah Sherry yang sangat ingin tahu darimana Hansel tahu soal tubuhnya yang penuh memar. "Relly menyembunyikanmu dengan sangat baik, hingga aku tidak bisa menemukanmu dimana-mana," sambung Hansel dengan nada suara takjub juga kalah. Kesal dan juga marah.

__ADS_1


"Aku tidak bersembunyi ataupun sedang di sandera," kilah Sherry jadi sedikit tidak nyaman. Melihat wajah Hansel muram karena di sebabkan tidak munculnya dia di sekokah. Jadi Relly sengaja menghilangkan jejaknya agar semua orang tidak bisa menemuinya. Dengan kekuatan keluarga Relly yang merupakan pengusaha kaya, itu mungkin saja.


"Baiklah. Aku sudah melihatmu. Jadi aku bisa lihat kamu memang baik-baik saja," kata Hansel kemudian, "Bagaimana kabar tubuhmu?"


"Tubuhku baik-baik ... Sebentar, maksudmu ...?" tanya Sherry ragu yang membentuk kerutan samar pada dahinya, karena Hansel seperti bukan bertanya soal tubuhnya.


"Tubuh aslimu, Vermouth sesungguhnya." Hansel sengaja memperjelas maksud pembicaraannya. Kedua alis Sherry naik dan mulutnya membulat. Maksud dia Vermouth rupanya.


"Mungkin baik-baik saja. Bukankah dia sudah pulang." Sherry paham maksudnya. Di sebabkan Hansel sudah paham jalan ceritanya takdir aneh ini, Sherry sudah tidak lagi menyembunyikan perihal itu. Dia juga tidak perlu lagi pura-pura dan mengelak bahwa dirinya adalah Vermouth.


"Berarti tidak ada yang perlu di cemaskan," ujar Hansel lega. Sherry melihat Hansel yang lega, jadi takjub juga. Helaan napas barusan seperti telah melepaskan seluruh pikiran yang membebaninya. Hansel memikirkannya? Pemikiran lucu yang terlintas dalam otaknya. "Ayo kita ke kelas," ajak Hansel. Sherry mengangguk.


***


Setelah kejadian Edgar terdengar di seluruh sekolah, tubuh Vermouth semakin menjadi perhatian. Dimana dia selalu di perhatikan saat berjalan. Apalagi pagi tadi saat bersama Hansel. Menurut mereka, Vermouth tampak cocok dengan Hansel mengingat reputasi mereka saat ini.


Hansel terkenal kuat dan pandai berkelahi. Sekarang Vermouth juga di anggap bukan lagi gadis kikuk seperti biasanya. Vermouth bukan gadis yang bisa di tertawakan lagi. Selain karena kejadian menantang Edgar, soal Sherry yang melawan perisak Vermouth dan memotong rambutnya asal itu mencuat ke permukaan.


Pasti para perisak itu memberi bumbu-bumbu yang sedap di lahap saat mereka berbicara soal melawan Edgar.


Saat masuk ruang latihan pun atmosfernya berubah. Banyak mata menatapnya takjub, heran bahkan takut.


"Kau kembali lagi?" tanya Devon heran. Lido, Nero dan Neymar juga melihat kedatangan Vermouth yang penuh semangat.


"Dia muncul lagi ...," kata Nero pelan. Edgar yang berada tidak jauh dari Devon melihat dengan tajam. Mulutnya berdecak sebal. Semua merasa mendapat kejutan dengan kemunculan Sherry lagi dalam ruang latihan ini.


"Maaf, saya menghilang dan tidak mengikuti latihan karena banyak hal. Terima kasih jika Kakak mau menerima saya lagi," ujar Sherry membungkukkan tubuhnya.


"Tidak ada yang menolak anggota baru sepertimu. Hanya saja ... tidak boleh lagi ada kejadian yang membuat nama klub karate ini menjadi populer karena kelakuan buruk," pesan Devon mengingatkan. Perihal kejadian di cafe depan sekolah sempat terdengar di telinganya. Hanya saja karena tidak sampai terjadi kerusuhan besar, Devon hanya menegur pelan.


Sherry tidak ikut di tegur karena dia menghilang dengan memilih latihan di tempat latihan Hansel. Kembali latihan di sekolah sebenarnya karena adanya Relly. Dia harus punya banyak kegiatan agar tidak selalu di ikuti, pemuda itu.


Suara riuh dari mulut para anggota karate terdengar di luar ruang latihan. Sherry kembali latihan seperti biasa. Dia tidak lagi memusingkan soal pandangan orang-orang tentang tubuh Vermouth. Dia harus membuat ini bugar kembali. Tubuh ini harus kembali kuat. Kemungkinan akan banyak rintangan kedepannya terlihat sangat jelas. Sherry harus siap itu.

__ADS_1



__ADS_2