
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Situasi ini berbeda dengan Ve dulu yang di cemooh karena menyukai Relly. Sekarang mereka mendukung gadis itu karena merasa Ve disakiti. Sungguh konyol. Apa Ve tidak sadar bahwa mereka hanya suka melampiaskan kekesalan lewat kehebohan seperti ini?
Mereka bukan murni mendukung Ve. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan menindas gadis dari sekolah swasta biasa seperti Sherry.
Hansel yang melintas berhenti melihat kehebohan di lapangan basket.
Dexy dan Elliot mencoba mencari tahu dari mereka yang lebih dulu ada di tempat ini.
"Ada apa?" tanya Elliot.
"M-mereka sedang menindas siswa pertukaran." Melihat kedatangan Hansel dan kawan-kawan dia gemetar.
"Penindasan? Mereka mau jadi jagoan juga rupanya," ujar Dexy menyenggol lengan Elliot. Hansel mendengarnya dan mendekat ke dekat lapangan basket. "Eh, kenapa Hansel mendekat?" tanya Dexy heran. Biasanya dia malas karena itu hanya perkelahian para pecundang.
"Kita ikuti saja," kata Elliot memutuskan. Hansel tertarik karena dia melihat tubuh Sherry di sana.
"Aku menantang tanding basket."
"Basket?"
"Ya. Bukankah di sekolahmu juga ada lapangan basket?"
Jika itu basket, Sherry tidak perlu lagi berkata tidak. Namun buat apa menuruti kemauan bocah sialan ini.
"Maaf."
"Hahaha ... ayolah jangan takut. Aku tidak akan kasar pada perempuan," kata cowok itu.
"Maaf, aku tidak punya teman yang bisa di ajak main basket."
"Ajak saja dia." Cowok itu menunjuk Runo yang lewat.
"Hah, aku? Aku tidak bisa," tolak Runo dengan tegas.
"Kamu juga lemah?" ejek cowok itu.
"Bukan, itu ..."
"Ikut saja Runo." Sherry mendukung. Runo mendelik. Dia tahu bahwa Sherry jago basket, dia juga bukan tidak bisa. Hanya saja ini bukan pertandingan. Ini sebuah penindasan. Dia juga tidak mau membuat masalah di sini. Sebagai ketua kelas di sekolahnya dia harus punya sikap baik. "Baik. Dia ikut." Sherry memutuskan sepihak.
"Siapa?" tanya Runo tidak setuju.
"Kamu."
"Aku serius tidak mau." Runo masih menolak. Sherry mendekat dan berbisik.
__ADS_1
"Tolonglah. Demi sekolah kita."
"Tidak. Ini bukan demi sekolah kita, tapi demi kamu," tuding Runo geregetan. "Aku tahu apa yang terjadi." Sherry memamerkan deretan giginya. Tidak menduga Runo tidak mau.
"Baiklah. Maaf." Sherry tidak bisa memaksa. "Aku menolak tantanganmu."
Melihat ini mereka tertawa lagi.
"Aku akan menjadi partnernya," ujar Hansel tiba-tiba. Hansel? Sherry melihat cowok itu menawarkan diri. Elliot dan Dexy lebih terkejut. Ve sempat melebarkan mata tidak percaya Hansel akan ikut serta dalam permainan anak-anak itu.
"T-tidak Hansel. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Kami t-tidak bisa melawanmu," ujar cowok lain takut. Dia tahu reputasi Hansel.
"Kenapa sih? Baiklah Hansel, jika itu maumu. Kamu bisa menjadi teman dia, tapi ingat ... Kau juga akan mendapatkan hukuman juga jika kalah dari kami."
"Terserah."
"Aku menolak. Aku tetap mengajak dia." Sherry memaksa mengajak Runo. Dia tidak harus melibatkan Hansel. "Aku saja yang akan menerima hukuman jika kalah. Jangan libatkan dia. Dia cukup membantuku jadi partnerku."
...----------------...
Pertandingan berjalan dengan Sherry dan Runo melawan dua cowok tadi. Sherry yakin mereka pasti ada hubungannya dengan para penggemar Relly.
Awalnya Sherry lengah tapi akhirnya mampu mengimbangi. Di luar dugaan mereka, Sherry dan Runo lumayan jago main basket. Itu mempersulit mereka.
Duk! Tiba-tiba salah satu dari mereka menjegal dan sengaja melemparkan bola basket ke arah perut Sherry dengan kencang. Awalnya semua menduga itu karena Sherry lemah. Namun karena terjadi berulang-ulang, Sherry tidak bisa menahan diri lagi.
"Apa yang kau lakukan?" sembur Sherry kesal.
"Apa? Aku melakukan apa?" tanya cowok itu membela diri.
"Tanyakanlah pada mereka semua.
Apa mereka melihat aku melakukan sesuatu?" tanya cowok itu pongah. Tentu saja mereka bungkam. Mereka tidak berani. Di pinggir lapangan, Yura melihat dengan cemas.
"Oke, oke. Baiklah tidak masalah." Sherry menghela napas.
"Kamu tidak apa-apa, Sher?" tanya Runo mendekat dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa Runo. Bersemangatlah!" ujar Sherry riang sambil menepuk bahu Runo. Namun sejurus kemudian, tubuh Sherry mendekat ke arah cowok tadi dan menendangnya dengan kuat. Bruk! Cowok tadi terjatuh dengan seruan kekagetan anak-anak yang sedang melihat.
Rupanya Sherry tidak bisa menahan diri untuk tidak marah dengan tindakan mereka. Runo yang tadinya melihat Sherry tenang, kini membelalakkan mata kaget. Namun wajah Sherry menunjukkan rasa puas.
Hansel yang berdiri di sana juga tidak melepaskan pandangan dari gadis ini. Dia Sherry! Hansel langsung melihat ke arah tubuh Ve. Dan dia adalah ... Vermouth! Mereka kembali pada tubuh masing-masing.
Di pinggir lapangan basket, Relly yang baru saja mendengar keributan ini datang dengan wajah cemasnya. Itu tepat di saat Sherry menendang salah satu lawannya. Dia datang bersama Lido.
"Sherry ...," gumam Relly.
Sementara temannya membantu cowok yang tersungkur tadi, Ve berjalan mendekati Sherry dan akan melakukan sesuatu.
"Berhenti, Ve!" teriak Hansel. Cowok ini segera menangkap tubuh Ve. Relly yang juga mendekat segera menghampiri Sherry. Dia tahu Sherry sedang lengah.
"Lepaskan aku Hansel," kata Ve lirih. Dia berusaha berontak.
"Kamu mau apa? Jangan melakukan apa-apa, Ve. Tenangkan dirimu. Jangan membuat tindakan tidak perlu," bisik Hansel.
__ADS_1
"Dia ... Sherry itu telah ...." Ve tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tangisannya mau meledak.
"Sudahlah ...." Ve menggigit bibirnya menahan tangis.
Semua yang melihat kejadian ini masih di liputi keterkejutan akan tindakan tak terkontrol Sherry. Berdengung membicarakan murid dari sekolah lain yang tertuduh sebagai orang yang ingin merebut Relly dari tunangannya.
Dexy dan Elliot tidak kalah bingungnya. Mereka juga tidak menduga Hansel mendekati gadis cantik itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Relly cemas. Shery mengangguk.
"Hei, kamu!" teriak cowok tadi mulai bisa berdiri. Sherry dan Relly menoleh bersamaan. "Apa yang kau lakukan padaku, hah?!" Cowok ini marah.
"Tutup mulutmu dan diam. Kau tidak lagi berurusan dengan dia, tapi aku ...," ujar Relly mengambil alih. Sherry melirik. Relly berniat melindunginya. Sebenarnya dia tidak bermaksud mengandalkan cowok ini untuk melindunginya. Tadi itu hanya emosi tidak tertahankan yang sangat bodoh. Dia tidak memikirkan nasibnya.
Cowok tadi tidak menduga Relly membelanya. Temannya menarik cowok itu untuk segera pergi. Apalagi saat Lido, Dexy dan Elliot membubarkan murid-murid yang jadi penonton. Karena Relly dan Hansel, mereka jadi kompak.
Hansel membawa Ve pergi dari sana segera. Melewati Sherry dan Relly tanpa banyak kata.
"Kamu jadi memberitahu dirimu pada semuanya bahwa kita memang ada apa-apa. Kamu membenarkan gosip itu," ujar Sherry.
"Soal kamu merebutku dari Ve?"
"Ya."
"Bukankah itu benar? Kamu memang sudah bisa merebut hatiku dari tunanganku."
"Aishh ... Jangan memperkeruh keadaan dengan omonganmu, Rel." Relly hanya mengangkat bahunya. "Mereka mengira aku ini penjahat. Apalagi dengan tindakanku barusan." Sherry melirik ke arah lapangan basket.
"Itu pembelaan diri. Tidak ada yang salah."
"Kamu tidak melihat sendiri kejadiannya. Jangan yakin aku tidak salah."
"Aku tidak melihat, tapi aku paham. Kamu tidak akan melawan kalau tidak di serang duluan. Entah apa yang dia lakukan padamu, pasti itu membuatmu keluar dari batas sabarmu."
"Hmmm kamu semakin pintar berbicara ..." Sherry berjalan menjauh. Relly mengikutinya.
"Aku memang pintar," kata Relly di belakangya.
"Ya, ya, ya ..." Sherry menipiskan bibir. Relly melingkarkan lengannya pada bahu Sherry. Gadis ini hanya menoleh sebentar lalu melihat kedepan.
"Jangan bersikap dingin. Kamu pasti akan membutuhkanku segera." Relly mencubit lembut pipi Sherry.
"Oh, ya?"
"Soal kamu yang marah sampai menendang itu. Anak tadi mungkin tidak akan melepaskanmu dengan mudah."
"Benarkah?" tanya Sherry takut, hingga menghentikan langkahnya. Relly mengangguk dengan pasti. "Lalu bagaimana aku?" Sherry panik.
"Itulah gunanya aku."
"Ah, iya. Kamu bisa melindungiku."
"Benar. Aku pasti melindungimu." Sherry menghela napas lega. Sepertinya aku jadi ingin memeluk cowok ini. Gawat.
__ADS_1