
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Sherry juga kaget melihat pemuda itu yang ternyata adiknya. Namun karena kelelahan, Sherry memilih tenang sambil menyapa.
"Hai, Aska. Terima kasih." Sherry menyapa dengan mengangkat tangannya. Napasnya mulai stabil. Aska menggelengkan kepala melihat gadis di depannya adalah Ve. Tangannya menggaruk kepala dengan kesal. Entah kenapa dia seperti itu. Melihat orang yang ditolongnya adalah gadis itu, justru membuat Aska geram.
"Kalau kau bisa menghajarnya sendiri kenapa minta bantuanku untuk menolongmu?!" tanya Aska semakin kesal. Apaan sih ... Sherry menipiskan bibir dengan wajah ditekuk tidak paham maksud adiknya itu. Tiba-tiba saja dia marah-marah. Aska menjadi gusar tidak jelas. Sherry hanya memandang Aska. Tidak berkomentar dengan kekesalannya.
Sejak melihat pertama tadi saat ada cewek yang mengejar seorang dua cowok sendirian, Aska sudah seperti merasakan dejavu, tapi itu di tampik dengan cepat oleh otaknya lalu segera mengejar dua cowok yang di teriaki jambret itu.
Dia seperti melihat sosok kakaknya sedang berlari tadi. Apalagi saat memukul cowok jambret itu. Terbayang lagi seorang Sherry yang menghajar orang itu. Kebiasaan kebiasaan Sherry saat tersenyum duluan sebelum menghajar orang, ada pada gadis di depannya. Aska merasa jadi blo'on. Otaknya tiba-tiba jadi konslet. Rusak. Bagaimana bisa dia berpikir gadis cantik di depannya adalah Sherry, kakak perempuannya.
"Kau seperti sedang melihat hantu," kata Sherry sambil mengangkat dagunya sebentar. Karena Aska terlihat terguncang.
Bagaimana mungkin? Aska tertegun.
"Aku mulai benar-benar melihatmu seperti Sherry," ujar Aska tidak bisa lagi menahan kalimat itu. Sherry merapikan rambutnya yang mulai acak-acakan.
Memang aku Sherry kakakmu, kunyuk! Sherry bersungut-sungut dalam hati. Tapi tidak mau merespon kalimat Aska. Dia hanya diam.
"Kenapa mulutmu diam saja?" Aska jadi uring-uringan lagi.
"Apaan sih? Kenapa jadi marah-marah?!" Sherry jadi ikutan kesal.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja saat aku bilang mirip dengan Sherry? Kenapa kamu tidak protes? Memang kamu tahu siapa Sherry?" tanya Aska sambil menunjuk Sherry dengan jari telunjuknya. Mata Sherry mendelik marah. Sherry menggertakkan giginya geram.
"Hei! Singkirkan tanganmu, kunyuk. Aku tidak perlu protes dan bertanya siapa Sherry. Karena aku memang Sherry. Sherry Anugerah! Dasar geblek!" Sherry akhirnya menjitak kepala adiknya dengan kesal. Geregetan dan gemas lihat Aska mencak-mencak. Apalagi teriak sambil menunjuk wajahnya. Lalu memukul punggung Aska dengan keras. Plak!
"Augh!" Aska meringis.
"Mentang-mentang badan udah segede gini jadi berani lawan kakakmu, ya..." Sherry akan memukul punggung Aska lagi tapi langsung di tangkap sama tangan Aska.
"Kamu beneran Sherry si gila karate itu?" tanya Aska sambil meringis. Sherry memukul tangan Aska yang memegang tangan kanannya dengan tangan kiri. Aska langsung melepasnya.
"Iya, kunyuk," sungut Sherry. Aska meneliti wajah di depannya dengan seksama. Wajah itu dan tubuh itu milik orang lain tapi bagaimana bisa jadi kakakku?
"Bagaimana mungkin..."
"Pakai daya imajinasimu," bimbing Sherry.
"Mana bisa. Aku kan bukan tukang khayal seperti kamu. Gak nyangka ada takdir aneh seperti ini. Ajaib." Aska menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. "Oke. Aku terima kamu sebagai kakakku lagi," ujar Aska memilih kalah dan mengakui.
Perasaan sendirian karena jiwa yang terjebak di dalam tubuh orang lain. Dan juga rindu sama keluarga akhirnya terjawab. Rasa sepi yang sering dirasakan Sherry saat di dalam kamar Ve kini mulai hilang.
Aku tidak sendirian..
Kata-kata yang sering di rapalnya dalam hati untuk mencoba menguatkan diri hidup pada tempat yang asing, kini benar benar terwujud. Dia memang tidak lagi sendirian. Ada Aska, adiknya yang mulai memahami takdir aneh ini.
Aska menepuk punggung kakaknya pelan.
Pasti Sherry menderita. Pasti sebenarnya dia gak sanggup berada di dalam tubuh itu, pikir Aska mulai mengerti kepedihan Sherry dalam tubuh cantik itu. Akhirnya tangis Sherry pecah juga.
"Jangan mewek. Aku enggak suka."
__ADS_1
"Aku gak mewek," kilah Sherry. Namun ingus Sherry keluar karena menangis.
"Suara apaan tuh?" Aska sudah waspada.
"Ingus," jawab Sherry datar. Namun respon Aska luar biasa.
"Apa? Lepaskan pelukanmu! Aku gak mau ingus itu menetes ke bajuku dan menjalar kemana-mana!" Aska panik.
"Tapi sudah terlanjur menetes." Denger ini mata Aska membelalak dan melepas paksa pelukan saudaranya itu. Padahal Sherry mau mengelap ingus yang menetes di bahu Aska.
"Sebentar Ka, aku belum selesai mengelap ingus di baju kamu," kata Sherry yang tambah membuat Aska murka.
"Jorok! Joroknya gak ketulungan! Seharusnya kamu yang perempuan bisa lebih bersih dari aku!" teriak Aska membersihkan bahu tempat Sherry bersandar tadi.
"Ya ampun. Dikit doang, ngatainnya berlebihan," Sherry mencebik. Lalu mengusap ingus yang tersisa di hidungnya. Juga mengusap air mata yang membanjiri pipinya. "Kamu tuh juga kelamaan dan lelet sadarnya kalau aku adalah Sherry Anugerah kakakmu."
"Ini terasa aneh, tahu. Muka dan badan kamu itu bukan Sherry! Mana bisa aku langsung mengiyakan saat kamu bilang adalah kakakku. Orang normal pasti bereaksi yang sama saat ada orang bilang bahwa dirinya adalah saudaranya. Sementara tubuh Sherry sendiri asyik bikin kue bareng ibu di rumah." Aska tidak terima. Sherry ketawa ngakak. Meski sempat kesel sama Aska yang sempat ngelunjak tadi. Sebenarnya dia sangat bahagia bisa di kenali adik tampannya ini.
"Adikku memang top." Sherry kasih jempol gede ke Aska.
Elda ternyata sudah ada di sana beberapa menit yang lalu. Dia menyaksikan kejadian mengharu biru tadi. Sengaja dia membiarkan interaksi itu. Saat Aska heboh menemukan sosok Sherry kakak tercintanya ada pada tubuh gadis cantik bernama Vermouth. Juga saat Sherry menangis di pelukan Aska.
"Hei Elda, ini tas kamu.." Sherry menyerahkan tas Elda yang berisi ponsel dan uang belanja yang tidak sedikit. Dan seandainya hilang, Ibu tiri akan marah besar.
"Hh... untung saja. Kalian berdua memang gesit." Elda menghela napas panjang. Menunjukkan kalau dia sangat lega.
"Elda dia adikku, Aska." ujar Sherry mengenalkan Aska kepada Elda. Sedikit ragu mereka berdua mengulurkan tangan. Ini jelas sangat aneh. Tubuh ini tidak pernah mempunyai saudara lain kecuali Daniel si Kakak tiri. Saat di kenalkan bahwa Aska adalah adik Ve itu sungguh aneh. Aska juga menggaruk kepalanya canggung. Bagaimana bisa gadis cantik di depannya adalah kakaknya.
"Aduh... lama banget sih mau salaman. Keburu tutup supermarketnya! Ibu suri bisa jadi gila kalau kita kelamaan." Sherry tidak sabar melihat dua manusia itu mirip keong. Gerakan mereka jadi kayak mode slow motion. Aska melirik kesal ke kakaknya.
__ADS_1