Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Lindungi Sherry


__ADS_3


.


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


.


.


"Aku hanya penasaran kemana kamu pergi," jelas Hansel saat Sherry mempertanyakan kenapa mengikutinya. Sherry masih bisa bernapas lega karena Hansel masih tidak peduli dengan tubuh gadis di atas tempat tidur.


"Ya... aku pergi kesini menjenguk seseorang," kata Sherry mempertegas keperluannya. "Jadi keperluanmu sudah selesai?" tanya Sherry berharap Hansel segera pergi. Namun untuk mengusir Hansel, sepertinya jangan sampai di lakukan.


Dia salah satu dari tiga manusia gila yang sudah menganggap dan percaya bahwa dirinya adalah orang lain. Jadi tindakan aneh akan membuatnya curiga. Kalau bisa, mengusir Hansel dengan halus. Jangan gegabah.


"Aku seperti tamu tidak di undang ya?" tanya Hansel tahu diri sambil tersenyum. Di tujukan untuk .eringankan suasana yang sejak tadi terasa berat saat kedatangannya. Sherry menanggapinya dengan senyuman tipis.


"Bukankah aneh, jika kamu yang tidak punya keperluan dengan orang-orang ini justru muncul disini," kata Sherry melirik ke Aska.


"Aku punya keperluan kok dengan dia," ujar Hansel menunjuk Aska yang enggan mengeluarkan kata-kata. Tujuan Hansel sepertinya bukan kemana Sherry pergi, melainkan dengan siapa Sherry pergi. Hansel sangat ingin tahu dengan Aska yang sejak tadi berdiri di samping ranjang. Karena masih memakai masker mulut, Hansel tidak bisa melihat dengan jelas wajah di balik penutup itu.


Aska tahu sedang di amati jagoan hebat di depannya. Dia berusaha tenang.


"Kalau hanya itu keperluanmu, aku bisa jawab. Dia temanku," jelas Sherry tanpa di minta. Karena selain mata Hansel selalu menatap dirinya, dia selalu melihat Aska dengan sikap ingin tahu yang tidak terbantahkan. Mendengar penjelasan itu Hansel mengangguk mencoba memahami walaupun setengah hati.

__ADS_1


"Yang terbaring itu siapa?" tanya Hansel yang sempat melihat sekilas ada seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Teman dia," jawab Sherry sambil menunjuk Aska dengan dagunya. Hansel melihat ke Aska lagi. Hansel sempat menjadi kebingungan lantaran memang tanpa berpikir terlebih dahulu, dia segera melesat mengikuti Sherry. Bahkan Dexy dan Elliot di tinggal tadi. "Ada hal penting lagi yang harus kita bicarakan? Atau kau masih ada keperluan denganku?" tanya Sherry berharap Hansel segera pergi dari sini.


"Emmm... tidak ada. Aku hanya lega akhirnya bisa menemukanmu disini," kata Hansel mengusap rambutnya. Meskipun begitu, pemuda ini tidak berniat pergi. Dia masih berdiri disana.


Dari depan terdengar suara pintu yang masih terbuka di geser dengan pelan. Suara itu pelan tapi mampu membuat semua mata menoleh. Sherry terkejut. Keterkejutannya kali ini melebihi saat Hansel muncul di ambang pintu. Matanya tidak hanya membulat tapi juga nanar. Relly muncul dengan wajah arogant-nya yang tenang dan enggan. Sherry menarik napas panjang. Karena tiba-tiba saja napasnya menjadi berat dan sesak. Seperti ada beban yang sedang menimpanya.


Aska kurang paham dia siapa, tapi saat melihat ekspresi kakaknya, berarti dia adalah salah satu 'orang penting' dalam peranan takdir aneh ini.


"Kau di sini?" tanya Relly mengangkat alisnya. Meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia benar-benar berhasil menemukan Sherry yang di ikutinya. Sherry hanya bisa melihat tanpa bisa mengucapkan kata-kata. Lalu Relly masuk dengan pelan. Tanpa berbicara panjang lebar, rupanya Relly sudah mampu mengintimidasi Aska dan Sherry. Hanya Hansel yang dengan senyuman remeh bisa bersikap biasa melihat kemunculannya.


Indra penglihatan Relly beredar ke sekeliling. Menjelajahi semua yang ada di dalam kamar pasien yang sempit ini. Relly menoleh ke arah Hansel yang berada di kiri sekilas, lalu berganti menghujamkan pandangannya ke arah Aska. Kali ini tidak sesingkat saat menatap Hansel. Mata tajam itu agak lama menghabiskan rasa lapar pada matanya akan seseorang yang baru di temukannya. Melihat dari atas lalu ke bawah. Memindai tubuh Aska sedemikian rupa, yang menciptakan kerutan samar pada dahinya. Menautkan dua alis hingga hampir menyatu.


"Siapa dia?" desis Relly secara terus terang menyatakan ketidak sukaannya melihat Aska. Sherry menatap mata tajam itu dengan berbagai macam emosi pada sorot matanya. Lalu menjawab pertanyaan Relly setelah berhasil mengurangi rasa kering pada kerongkongan akibat keterkejutan melihatnya.


"Teman? Kau yakin adalah temannya?" desak Relly seraya tersenyum mengejek. Aska mengerutkan kening, merasa Relly sedang marah atas keberadaannya. Mata Relly melirik ke arah Sherry yang masih seperti ketakutan dan terintimidasi dengan munculnya dia di dalam kamar pasien ini. Kegelisahan sangat nampak pada wajah Sherry.


Setelah mencoba memahami situasi, Relly paham kenapa lelaki ini bersikap seperti itu.


"Vermouth tidak punya teman. Apalagi dari luar sekolah," imbuh Relly dingin. Dia bisa mengetahuinya karena gadis itu telah menjadi penggemar yang selalu berkeliaran di sekitarnya. "Atau dia teman dari dirimu yang lain?" tanya Relly lagi yang langsung membuat Aska melebarkan mata terkesiap.


Dirimu yang lain? Dia tahu bahwa dalam tubuh yang di pakai Sherry sekarang ada jiwa lain yang sedang terperangkap? Aska melihat ke arah Hansel. Jangan-jangan dia juga tahu bahwa cangkang ini tergantikan dengan jiwa yang lain?


Degup jantung Sherry berdetak keras. Hansel menemukan Sherry mengepalkan jari-jarinya. Lalu menatap raut wajah Sherry yang menjadi tambahan banyak pertanyaan di benak Hansel. Aska yang awalnya penasaran mengapa pemuda ini melihat dirinya seperti itu akhirnya paham. Dia tahu arti sikap dingin, juga aura gelap tidak menyenangkan yang di tujukan Relly terhadapnya. Relly memiliki perasaan istimewa untuk kakaknya. Marah ini adalah rasa cemburu yang muncul.


"Ughh...," erang Vermouth pelan yang mulai bergerak dan bangun dari pingsannya. Sherry terkejut dengan suara erangan itu. Dia Hanya mampu menoleh sekilas untuk memastikan bahwa memang tubuh di belakangnya yang bersuara. Tubuh Sherry menjadi tegang. Mendengar ada pergerakan dari tubuh di belakangnya membuatnya semakin tidak tenang. Tubuh Sherry semakin melindungi tubuh di atas ranjang itu dengan posesif.

__ADS_1


"Relly?" desis Vermouth tertahan saat melihat tubuh lelaki itu dari balik tubuh Sherry yang kurang sempurna menutupi. Sherry terkesiap mendengar suara seorang gadis di belakangnya. Lalu bergeser mencoba menutupi lagi dengan baik.


Matanya nanar tanpa bisa memutar tubuhnya ke belakang. Mendengar nama itu di sebut, baik Relly maupun Hansel tersentak kaget. Sherry panik. Tubuhnya gemetar. Aska mendekat ke ranjang segera untuk menenangkan Vermouth yang sepertinya sangat terguncang melihat Relly.


"Siapa di balik tubuhmu?" tanya Relly mengernyitkan dahi mencari tahu. Dia tidak sempat paham seorang gadis di belakang Sherry. Karena tubuh Sherry dengan cepat menutupi pandangan. Hanya sekilas Relly bisa melihat seseorang di belakang Sherry. Jadi dia belum bisa menyimpulkan itu siapa. Mendengar pertanyaan ini Sherry menelan ludah.


"Bukan siapa-siapa."


"Telingaku mendengar seseorang menyebut namaku. Suara itu berasal dari balik punggungmu," ujar Relly menatap lurus gadis di depannya.


"Tidak. Tidak ada yang menyebut namamu. Kau mungkin salah dengar," paksa Sherry mengaburkan pendengaran. Hansel yang merasa juga bisa mendengar suara itu menyebut nama Relly, bergerak maju dari samping Sherry untuk melihat siapa yang berada di balik tubuh Sherry.


Siapa gadis yang sedang terbaring di atas tempat tidur?


Aska yang sudah mendekat, memeluk tubuh Sherry yang berisi jiwa Vermouth dan menutupi sebagian wajah Vermouth. Sementara Sherry melangkah menghampiri Relly untuk menahan tubuh itu bergerak maju.



.


Aska melindungi tubuh kakaknya dengan memeluk Vermouth. Jika mereka berdua mengira ada jiwa lain pada tubuh Vermouth yang dipakai Sherry, mereka tidak boleh tahu cangkang Sherry sesungguhnya.


Jadi Hansel tidak sempat melihat siapa gadis tadi karena gerakan Aska lebih cepat. Hansel memiringkan kepala dan bertanya-tanya kenapa lelaki yang tadi bersama Sherry menutup wajah gadis itu.


Ada apa dengan mereka sebenarnya? tanya Hansel dalam hati.


__ADS_1



__ADS_2