
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Relly. Dia lebih dulu yang tahu aku bukan Ve," ungkap Sherry.
"Bagaimana mungkin?" Sherry mengangkat bahu. "Teman sekolah Ve?" Sherry mengangguk. "Aku jarang bertemu dengan teman-teman Nona sebelumnya, jadi aku rasa percuma walaupun kamu mengatakannya," ujar Elda merasa kecewa tidak dapat mengetahui siapa nama yang di sebut Sherry barusan. Dia takjub ada lagi orang yang mengetahui takdir aneh Sherry.
"Tidak. Kamu pernah bertemu dengannya saat pulang sekolah seperti ini," Sherry menarik napas dan memperbaiki letak duduknya.
"Sungguh?" Elda mencoba mencari visual anak muda yang cocok dengan nama itu di dalam memory ingatannya. Perempuan yang melayani Ve ini mulai teringat dengan wajah di balik nama Relly, "Anak muda yang memintaku untuk berbicara denganmu saat di dalam mobil? Iya aku ingat dia." Sherry membiarkan Elda merasa hebat sudah bisa menemukan siapa orang dengan nama Relly.
Elda mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobil ke arah jalan lagi. Dia juga sudah bisa tenang. Walupun masih menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak percaya.
"Kamu sudah yakin bisa tenang mengemudi saat aku bercerita?" tanya Sherry sambil bersandar melihat ke samping.
"Ya. Aku yakin. Kamu saja bisa tenang dalam keadaanmu kenapa aku tidak? Dan bagaimana dengan Relly? Bagaimana dia bisa tahu kamu bukan Ve?"
"Dia tidak tahu. Dia hanya mendesakku untuk menjadi orang lain seperti dalam imajinasinya,"
"Hanya itu? Kenapa dalam imajinasinya kamu adalah orang lain?"
"Entah aku sudah mengatakan padamu atau tidak, bahwa Ve menyukai seseorang di sekolah. Nona muda cantik dan kaya ini begitu mencintai seorang pemuda hingga membuatnya selalu menjadi penguntit dan menatapnya dengan penuh cinta."
"Diakah Relly? Orang yang sangat disukai Ve?" Tebakan Elda benar. Sherry mengangguk.
"Relly menyadari aku bukan Ve dari kebiasaan kebiasaan Ve yang dulu dan yang sekarang."
__ADS_1
"Berarti dia juga adalah orang aneh yang berpikir seperti itu," Elda mendengkus merasa lucu. Dia mulai berpikir bahwa dirinya tidak sendirian saat mempercayai gadis di sampingnya ini adalah orang lain yang singgah dalam tubuh nonanya.
"Mungkin. Ternyata masih banyak orang yang mempercayai dongeng sepertiku." Sherry juga mendengkus merasa lucu.
Cara Relly memandangnya terlihat sama dengan Daniel. Melihat dengan tepat pada jiwanya. Hati dan jiwa milik Sherry tersentuh saat melihatnya. Namun itu bukan menjadi kebahagiaan, melainkan kegelisahan.
Elda menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah yang artinya harus berhenti. Sherry ingin melihat-lihat keluar jendela. Tangannya menyentuh tombol pembuka kaca jendela. Walaupun Ac mobil sudah menyala Sherry tetap ingin membuka kaca jendela sebentar. Untuk membuang kejenuhan saat menunggu lampu berganti hijau.
Saat itu netra Sherry tertuju pada dia yang juga melihat ke arahnya yang membuka jendela. Relly! Entah kenapa netra Sherry diam dan terpaku saat dua bola mata gelap itu menatapnya.
Elda menoleh juga. Melihat ke arah pengendara motor di samping mobilnya yang masih memakai seragam. Pemuda itu memakai seragam yang sama dengan yang di kenakan Sherry sekarang. Hanya sebentar saja Elda memandanginya lampu berganti warna hijau. Itu berarti mobilnya harus melaju meninggalkan jalan di depan zebra cross yang terbentang panjang melintasi jalan.
Sekilas Sherry melihat bibir itu menciptakan senyuman untuk dirinya. Untuk Sherry..
"Dia Relly kan?" tegur Elda tanpa menoleh ke arah Sherry yang menekan tombol agar jendela tertutup dengan perlahan.
"Ya," jawab Sherry singkat sambil masih melihat ke samping ke arah jalanan.
Relly. Kenapa dia menginginkan Ve justru saat aku berada dalam tubuhnya?
Untuk melepas rasa gelisah Sherry mendatangi sebuah tempat latihan karate yang letaknya di jalan kecil. Sherry naik ojol agar bisa puas mengunjungi tempat ini tanpa ada orang yang tahu. Dia sudah pernah latihan beberapa kali untuk mengasah tubuh ini. Dia ingin cangkang itu kuat. Sepertinya cangkang ini mulai membentuk sesuai dengan keinginan Sherry. Malam ini dia datang lagi untuk latihan.
Sejak Daniel menemukan mamanya semena-mena kepada adik tirinya di dapur waktu itu, Nyonya Julia alias ibu tiri tidak lagi sejahat dulu. Jadi Sherry mempunyai banyak waktu bebas untuknya dirinya sendiri.
Sherry terkejut saat menemukan teman sekolahnya di dalam ruang latihan sana. Mata pemuda itu terus-menerus melihat ke arahnya. Mulai dari datang memasuki ruangan, sampai Sherry berdiri tegap berbaris bersama dengan yang lain. Bahkan waktu latihan di mulai pemuda itu tidak berhenti mencuri pandang dan mengulas senyum.
Lebih terkejut lagi saat melihat pemuda itu adalah salah satu senior yang menjadi asisten pelatih. Pantas dia bisa jadi di sebut berandal di sekolah.
Aku tidak menyangka bakal bertemu dengannya di sini. Di ruang latihan ini, kata Hansel dalam hati.
__ADS_1
Saat Sherry memasuki ruang latihan karate di dojo milik pamannya, Hansel membeliak senang. Bibirnya tertarik ke atas dan menciptakan sebuah senyuman. Setiap langkah kakinya tidak luput dari pandangan Hansel.
Setelah puas hanya memandangi, langkah kaki Hansel mendekati tubuh gadis pemberani itu dengan hati-hati. Pamannya mencoba memperkenalkan Sherry dengan gadis itu tanpa di minta. Ini suatu kejutan bagi Hansel.
"Dia bisa menjadi teman latihanmu," kata Paman Jodi menunjuk Hansel sebagai teman latihan, "Dia keponakanku. Kamu bisa mengajaknya latihan. Biasanya dia tidak muncul hari ini, tapi kebetulan dia ada perlu jadi muncul di tempat latihan," Paman Jodi menjelaskan tanpa perlu Sherry bertanya.
Sherry membungkuk sopan sudah di perkenalkan dengan keponakannya yang langka. Walaupun tanpa di kenalkan dia sudah kenal sama pemuda itu. Seusai paman Jodi mengenalkan Hansel, beliau pamit pergi karena ada kepentingan.
Latihan sudah usai tadi. Namun Sherry masih ingin berlatih.
"Aku tidak menyangka akan menemukanmu di tempat latihan ini," Sherry menoleh dengan pandangan datar ke Hansel. Pemuda ini melihatnya sambil tersenyum. Dia tidak terpengaruh dengan tatapan mata tak bersahabat itu. Menurut Hansel itu kebiasaan gadis ini.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sherry heran.
"Semua orang pasti tahu alasan ku berada di sini, tapi orang akan terkejut kalau menemukanmu di sini." Tangan Hansel melebar sambil menunjukkan ruang latihan karate. Sherry baru sadar. Seorang Vermouth tidak akan pernah datang ke tempat seperti ini.
Iya, lupa.
"Tidak juga," jawab Sherry pendek. Setelah dia mengerjai Edgar hari itu sepertinya semua orang tahu tentang kebiasaan baru Vermouth.
"Berarti cerita itu benar ya? Saat kamu mengerjai Edgar?" tanya Hansel yang sepertinya juga mendengar cerita itu. Sherry mendongak dan hanya mengedikkan bahu. Tidak merasa itu adalah hal baru.
"Mau latihan denganku?" tawar Hansel ramah. Hansel sudah siap sedia menjadi teman latihan Sherry dengan mata bahagianya. Sebahagia itukah dia bertemu dengan gadis ini? Kepala Sherry geleng-geleng kepala lihat Hansel.
"Tentu saja." Sherry enggan menolak tawaran latihan. Jadi mereka melakukan latihan tanding.
"Aku tidak akan mengurangi tenagaku," kata Hansel.
"Tidak apa. Aku memang tidak ingin melawan orang yang lemah," kata Sherry yang di respon Hansel dengan menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah favorit, vote dan komentar❤