
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
.
Setelah ada tiga orang baru yang mengetahui keberadaan jiwa pada cangkang Vermouth, Sherry seperti semakin sulit bergerak. Dia tidak menyangka mereka terus saja percaya bahwa Vermouth adalah orang lain. Ternyata di 'temukan' seperti ini membatasi geraknya. Karena bola mata mereka selalu memperhatikan dengan seksama.
Sherry ingin bercerita soal ini ke Aska adiknya. Tapi itu tidak mungkin. Dia punya banyak rasa malu jika bercerita tentang hal semacam ini. Pasti Aska akan meledeknya habis-habisan. Bagaimana mungkin seorang Sherry merasa terjebak seperti ini. Bukankah biasanya dia selalu cuek dan tidak peduli dengan hal semacam ini.
Sebutan Sherry untuknya dari bibir Daniel juga mulai mampu mengusiknya. Apalagi masih dengan tatapan penuh arti itu. Daniel tidak lagi membiarkan Sherry bersikap apa adanya seperti biasanya. Perhatian yang berlebihan membuat Sherry jadi sulit memposisikan dirinya sebagai Vermouth maupun Sherry.
Pagi ini, laki-laki itu sudah muncul di rumah ini dengan pakaian kerjanya. Setelan jas berwarna abu-abu melekat pas pada tubuh jangkungnya. Sesungguhnya bukan suatu hal aneh dia ada di sini, karena dia juga memang mau berangkat kerja. Mungkin ingin berangkat bersama Papa.
Sherry tidak harus merasa terlalu percaya diri menganggap bahwa Daniel muncul di rumah ini karena dirinya. Namun jadi sangat mengejutkan saat Daniel mengatakan akan mengantar Sherry berangkat sekolah pagi ini.
"Aku akan mengantar Ve, ke sekolah," ujar Daniel meminta ijin yang membuat Papa dan Mama melihat heran. Daniel tidak peduli. Sherry menatap laki-laki di depannya dengan tatapan tajam. Ada apa dengannya? Sherry bisa menemukan wajah bahagia itu saat mengucapkan kalimat ajaib barusan.
__ADS_1
Walaupun Daniel mengatakannya dengan tenang, dia bisa melihat sorot mata aneh itu. Mata laki-laki itu mulai berpindah ke arah gadis SMA yang ada di depannya. Sherry menusukkan garpu ke daging ayam yang dicincangnya dengan geram. Lalu memasukkan ke dalam mulutnya dengan gerakan seakan akan menumpuk semua rasa kesalnya pada lauk itu. Lalu mengunyahnya dengan pelan tapi penuh dengan gigitan yang langsung mengoyak daging itu dengan ganas.
"Aku bisa berangkat dengan Elda," bantah Sherry. Daniel menatap Elda yang berdiri dekat dengan pintu dengan wajah yang mengartikan bahwa dia harus mengijinkannya. Seperti memberi perintah untuk membiarkan dirinya yang mengantar gadis ini dengan matanya.
"E... Itu terserah Tuan Daniel saja," ujar Elda tanpa sadar. Sherry melebarkan matanya mendengar jawaban Elda. Indra penglihatanya menatap tidak percaya ke arah Elda. Perempuan ini merasa bahwa mungkin tidak apa-apa kalau Daniel yang mengetahui siapa Sherry yang mengantarkan ke sekolah. Semenjak Daniel mengetahui siapa tubuh ini sekarang, tidak ada kejadian yang membahayakan Sherry ataupun siapa saja orang di rumah ini. Tidak ada keanehan apapun.
Itu menunjukkan laki-laki ini bisa dipercaya seperti apa yang di ucapkan Sherry. Namun Elda bingung saat mendapati Sherry mendelik justru saat dirinya memperbolehkan Daniel mengabtarkan ke sekolah. Apalagi dia seperti merasa wajib menuruti keinginan Daniel. Mata Nyonya Julia sempat melihat aura aneh diantara mereka. Lalu nyonya Julia menatap putranya.
***
"Ayo cepat masuk. Bukankah kamu masuk sekolah jam tujuh?" tanya Daniel yang baru keluar dari pintu utama rumah ini. Sherry menyila tangan sambil berdiri di depan pintu. Hanya melihat laki-laki itu berjalan menuju pintu kemudi tanpa beranjak pergi mengikutinya masuk ke dalam mobil.
"Kau sedang bermain babysitter denganku yah..." Daniel yamg hendak membuka pintu mobil terkekeh di tempatnya berdiri. Lalu berhenti dan menghadap Sherry yang masih enggan masuk ke dalam mobilnya. Dia yang berada di sisi lain badan mobil akhirnya memandang gadis SMA itu agak lama.
"Kenapa? Kamu tidak suka kalau aku bermain babysitter denganmu?" tanya Daniel balik. Sherry mendengus. Kaki laki-laki ini berjalan memutari mobil untuk sampai pada sisi lain mobil. Lalu berhenti tepat di depan Sherry yang masih enggan. "Mungkin permainan babysitter memang tidak cocok untuk kita. Bagaimana kalau permainan romeo dan juliet yang akan kita mainkan?" tanya Daniel sambil mengulurkan tangan di depan Sherry. Indra penglihatan Sherry membulat melihat tangan itu.
"Ijinkan aku mengantarmu ke sekolah," ujar Daniel dengan tenang. Tatapan mata Daniel tiba-tiba berubah sendu yang membuat Sherry menelan ludah. Lelaki dengan tubuh jangkungnya itu tiba-tiba merubah lagi raut wajahnya menjadi seperti itu. Di sini. Di depan pintu rumah Vermouth. Dengan banyak pekerja yang berlalu lalang di halaman rumah.
Dia rela menunjukkan sorot matanya yang seakan memohon itu. Dia tidak peduli jika harus di lihat semua pelayan rumah ini. Meskipun saat ini mereka kakak adik, status mereka adalah tiri, dimana mereka bukan sedarah. Apa kata orang-orang yang melihat Daniel menatap Vermouth dengan pandangan seperti itu.
"Hentikan," kata Sherry tegas dengan tertahan. Dia tidak ingin penghuni rumah melihat wajah memohon Daniel yang terlihat sangat lemah. Bagaimana bisa dia memperlihatkan raut wajah seperti itu.
__ADS_1
"Tidak. Sebelum kau mau ikut denganku." ujar Daniel pelan.
"Singkirkan tanganmu. Aku akan masuk ke dalam mobil jika kau mau menyingkirkan tangan aneh ini," kata Sherry ketus sembari melirik ke tangan Daniel. Perlahan Daniel menarik uluran tangannya. Setelah itu Sherry masuk ke dalam mobil dengan segera. Daniel mengikuti untuk segera duduk di kursi pengemudi.
"Ini hanya soal aku tidak mau di antar ke sekolah denganmu, kenapa kamu harus berwajah seperti itu? Kenapa memaksa seperti itu?" ujar Sherry seraya mendesis geram. Dia memang sempat meminta laki-laki ini menemukan jiwanya yang terperangkap lewat pandangannya. Namun dia jadi sedikit tertekan dengan Daniel yang mengetahui jati dirinya.
Dia hanya ingin laki-laki ini tahu siapa dirinya bukan bersikap berlebihan seperti itu. Daniel tersenyum tipis mendengar Sherry berkata dengan geram di bangkunya.
"Kenapa panik dengan itu. Aku tidak sedang melakukan apa-apa. Aku hanya mengulurkan tangan untuk memintamu ikut denganku," kata Daniel tidak merasa bersalah atau melakukan hal aneh.
"Sebenarnya kau sadar tidak sih, sorot matamu saat memandangku?" tanya Sherry kesal. Daniel masih belum menjalankan mesin mobil.
"Memangnya, sorot mata apa yang aku tunjukkan saat memandangmu?" tanya Daniel sambil menoleh ke arah Sherry yang bertopang tangan di bibir jendela. Kepala Sherry menoleh tanpa memindahkan tangannya dari bibir jendela mobil yang terbuka.
"Sorot mata memohon yang membuat orang pilu melihatnya."
"Benarkah?" Sherry hanya mendengkus sambil geleng kepala. "Menurutmu bagaimana jika aku memang bersungguh-sungguh memohon kepadamu? Kamu juga merasa pilu?" Lagi-lagi sorot mata itu.
"Jalankan mesin mobilmu dengan segera kalau tidak mau aku sampai terlambat sekolah," pinta Sherry tanpa melihat. Dia tidak mau membahas soal itu lagi. Gadis ini hanya membenarkan letak tas ranselnya dan bersandar dengan nyaman.
Kau mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku juga tidak ingin melihatmu di hukum karena datang terlambat."