
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Sherry iseng melempar gumpalan kertas ke arah Yura saat guru tidak memperhatikan. Namun sialnya kertas itu justru mengenai cowok di bangku sebelum bangku Yura. Ya ampun. Cowok itu menoleh ke arah kertas yang jatuh. Sherry hendak tidak peduli dan berpura-pura tidak tahu-menahu saat kepala itu bereaksi atas lemparan kertasnya. Namun saat kepala itu sudah menoleh, Sherry tercekat.
Kondisi dirinya tiba-tiba berubah. Yang semula tenang, kini menjadi gelisah. Jantung berdetak kencang. Dada berdebar, bergemuruh. Getir, dan perih menyerang hatinya lagi.
Tidak. Ini halusinasi. Ini hanya mimpi. Sherry menggelengkan kepalanya pelan.
Tidak mungkin! pekik sherry dalam hati.
Sherry menunduk menatap buku paket di atas meja.
Apa aku sedang ingin bertemu dengannya, hingga saat ini orang lain terlihat mirip?
Sherry berdialog dengan dirinya sendiri. Menerka-nerka apa yang sedang di pikirkannya hingga membuat imajinasi yang begitu nyata.
Bukankah itu tidak mungkin? Sangat.
Sherry masih berpura-pura menyimak buku panduan seraya berpikir keras. Waktu berlalu hingga pelajaran selesai.
"Relly dan Frans ke kantor saat istirahat nanti."
Relly? Benarkah yang aku dengar? Benarkah pemilik nama itu sama seperti yang ada dalam pikiranku?
Sherry masih menunduk saat nama itu di sebut. Dia tidak ingin mendongak. Dia tidak ingin tahu wajah dari nama yang di sebut barusan.
"Ya, Pak."
...----------------...
Aska segera menghubungi Sherry saat istirahat jam pertama. Namun gadis itu tidak segera mengangkat. Aska berdecih berkali-kali karena panggilan ponselnya tidak di jawab.
Sherry, kamu ada dimana?
Saat itu, Sherry melintas tepat di depannya. Aska menggiring kakaknya ke tempat yang tidak banyak orang. Gadis itu tidak sempat protes atau apa karena pikirannya tidak tenang.
"Hei, kenapa menarik-narik tanganku?" seru Sherry baru sadar.
"Aku ingin bicara."
__ADS_1
"Apa sih, Ka?" tanya Sherry sambil menggerutu.
"Kamu sudah tahu?" pertanyaan Aska penuh dengan misteri.
"Apa?"
"Soal kedatangan anak-anak pertukaran pelajar."
"Pertukaran pelajar?" tanya Sherry belum mengerti.
"Itu program kepala sekolah baru yang katanya datang dari sekolah swasta elit itu. Mereka datang ke sekolah kita untuk memenuhi program kepala sekolah."
Jadi pertukaran pelajar? Jadi benar, itu dia? "Lalu?" tanya Sherry datar.
"Kamu belum bertemu dengannya, kan?" Sherry melihat adiknya dengan diam. Menatap lama yang akhirnya di ketahui Aska sebagai jawaban Sherry bahwa dia sudah tahu apa yang di katakannya. "Jadi sudah?" tanya Aska membelalakkan matanya. Mulut Aska menggeram. "Maaf. Aku lupa memberitahumu soal ini. Aku tidak sempat. Karena aku melihatnya di tempat parkir saat bareng Aldo. Aku yang sempat terkejut segera menyingkir dari sana tanpa memberitahumu."
"Tidak perlu kamu memberitahuku, aku pasti akan bertemu dengannya."
"Kamu menginginkan bertemu Relly lagi?"
Sherry menelan ludah. "Bukan. Kita satu kelas."
"Satu kelas? Sial. Itu sangat tidak nyaman."
"Tenang saja. Dia tidak mengenaliku. Relly tidak bisa tahu, itu aku atau bukan." Aska memandang Sherry agak lama.
"Bagaimana kalau dia tahu siapa kamu?" Aska tahu kakaknya sempat menginginkan itu. "Kamu masih memakai nama yang sama seperti yang dia ketahui selama ini. Apalagi ada aku. Entah ingat atau tidak, dia pasti akan mengenalimu. Itu jadi kesempatanmu untuk kembali kenal dengannya."
"Dia tidak akan lama disini. Dia hanya siswa yang ikut pertukaran pelajar. Tidak akan lama mereka ada di sekolah miskin ini. Mereka orang kaya. Mereka pasti segera kembali ke habitat mereka."
"Satu bulan."
"Apa?"
"Satu bulan, para siswa sekolah elit itu berada disini."
"Hmm ... jadi satu bulan ya. Oke. Jadi selama satu bulan, usahakan kamu tidak muncul di depannya. Dia mungkin bisa mengingatmu."
"Jadi kamu memaksaku harus kabur setiap aku melihatnya?" tanya Aska tidak percaya.
"Benar."
"Itu berlebihan, Sher."
"Ya sudah. Kalau begitu tidak masalah kalau dia bisa tahu aku adalah Sherry yang ada di dalam tubuh Vermouth, karena dia bisa mengenalimu. Aku tinggal menunggu." Sherry mengambil keputusan. Alis Aska terangkat. Sherry tidak masalah kalau Relly tahu siapa dia. Keinginannya memang seperti itu, tapi ...
"Setelah tahu aku adalah Sherry yang pernah di anggapnya sebagai gadis yang pantas di sukai, aku juga ingin tahu yang akan di lakukannya. Entah sikap apa yang di tunjukkannya padaku. Karena aku begitu berbeda dari tubuh Ve..." ujar Sherry mengakhiri kalimatnya dengan membuang wajah ke arah lain. Tangannya mengepal. Mulutnya menggeram. Sherry ketakutan membayangkan apa yang akan di tunjukkan Relly padanya. Ia sangat ingin bertemu dan Relly mengenalinya, tapi apakah sesuai dengan skenario yang dia harapkan? Dia takut akan itu.
__ADS_1
Mendengar ini Aska justru merasa mendengar kakaknya tengah patah hati. Sakit dan perih. Aska baru paham sekarang.
...----------------...
Sherry berjalan sendiri di lorong setelah dari toilet. Tangannya memijit pelan pundaknya. Badannya pegal-pegal. Menggerakkan kepalanya memutar untuk menemukan rasa nyaman. Kemudian menghela napas lelah.
Ada suara seseorang di ujung lorong. Sherry mendongak. Deg! Sherry menelan ludah saat melihat seseorang berada di koridor yang sama dengannya. Sepertinya dari ruang guru.
Napas Sherry tertahan. Terasa berat saat mengelola udara di dadanya. Sesak. Oksigen terasa berkurang di rongga paru-parunya. Sherry berusaha memukul-mukul dadanya pelan. Bermaksud membantu saluran pernapasannya yang terasa tersumbat.
Karena tidak ingin bersirobok dengan cowok yang berjalan tegas itu, Sherry membuang muka ke halaman. Berjalan perlahan agar cowok itu bisa mendahuluinya berjalan ke tikungan menuju kelas. Dia tidak ingin berpapasan.
Tidak di sangka. Kehidupan barunya sebagai Sherry Anugrah juga di liputi oleh kemunculan cowok itu. Relly. Takdir mempertemukan mereka berdua lagi, tapi dalam momen dan nuansa yang berbeda. Bukan saling mengenal bahkan mencap dirinya sebagai kekasih, mereka berdua tidak saling menegur sama sekali. Sungguh miris.
...----------------...
Terdengar suara hiruk pikuk di depan kelas. Sherry melihat banyak cewek-cewek sedang berkerumun. Gadis ini melangkah masuk melewati mereka yang tengah menutup akses masuk ke kelas. Sebenarnya ada apa?
Rupanya mereka sedang ingin melihat anak-anak dari sekolah elit itu. Tidak bisa di pungkiri bahwa Relly dan Frans keren.
Teeett! Suara bel pertanda istirahat pertama berakhir. Anak cewek-cewek itu masih berada disana. Semua pada norak ingin berkenalan atau sekedar lihat. Sebagai siswa pendatang, Relly dan Frans tersenyum sopan saat banyak mendapat senyuman dari semua cewek.
"Hei ... Ayo bubar, bubar! Bel sudah berbunyi. Itu pertanda kalian harus kembali ke kelas," usir Runo yang berdiri di dekat pintu. "Aku laporin ke ruang guru kalau kalian tidak bubar!"
Semua berdengung memprotes pengusiran Runo. Kaki Sherry melewati Runo yang masih melakukan pengusiran. Bibirnya tersenyum lihat perjuangan Runo membebaskan kelas dari serbuan mereka. Namun mendadak berhenti saat matanya bersirobok dengan Relly.
Sherry membuang muka pelan dan duduk di bangkunya.
"Sherry! Nanti pulang sekolah latihan! Sudah lama banget kamu enggak ikut latihan," teriak Runo.
"Ya. Siap."
Sherry?
Relly menoleh pada gadis yang di panggil dengan nama tidak asing barusan. Dia tidak menyangka harus mendengar nama itu disini. Matanya melihat gadis yang duduk di belakang itu.
Dia sherry? Nama yang membuatku rindu dengan gadis yang semangat itu.
"Relly juga nanti bisa lihat ke lapangan basket. Jika berkenan, juga bisa ikutan."
Relly juga ikut basket? Ini semakin membuat sesak dadaku saja. Kenapa harus? Aku tahu dia paling suka dengan basket, tapi kenapa di saat begini?
"Kalau enggak ikut gimana?" tanya Sherry tiba-tiba.
"Mau keluar dari ekskul? Bentar lagi juga naik kelas tiga, Sher. Tanggung. Sudah, pak Roni sudah datang, tuh." Runo membungkam mulut Sherry dengan memberitahu kedatangan guru.
__ADS_1