
..."Aku tahu mobil tadi. Aku pernah melihatnya." Sherry mengernyitkan dahi sedang berpikir. "Seandainya kamu tidak menahanku waktu itu, aku rasa aku sudah bisa menemukan siapa sebenarnya yang menyuruh mereka," sungut Sherry menyalahkan Relly. Karena waktu itu Relly memang yang menahan Sherry untuk tidak mengejar....
..."Aku lebih memilih menyelamatkanmu dari kelaparan daripada harus menemukan orang yang ingin mencelakai Vermouth. Karena itu lebih berhubungan dengan dirimu yang sebenarnya daripada soal penyerangan ini." Mata Relly serius....
..."Sekarang aku jadi Vermouth. Apapun yang terjadi, aku juga perlu memperhatikannya. Aku juga harus peduli."...
...[ Episode Sebelumnya ]...
...
...
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
"Aku peduli. Maka dari itu aku disini. Sepertinya kau akan sibuk sebentar lagi." Hansel menunjuk dengan dagunya ke arah anak-anak yang sedang menunggunya. Aska berdecih. Ya. Dia akan menyerang suatu tempat. Itu membuat celah bagi Hansel untuk bersama Vermouth.
Dexy dan Eliot melihat sekilas ke arah Hansel yang membicarakan sesuatu dengan cowok dari sekolah sini.
"Kau bisa mengajak mereka jika mau." Kali ini Hansel menunjuk ke dua sahabatnya. Menawarkan bantuan.
"Kau menyerahkan temanmu untuk ini?" tanya Aska tidak percaya.
"Mereka kesini bukan untuk bermain. Jadi jangan menganggap aku brengsek." Dua temannya sudah berada di dekatnya.
"Aku baru tahu, kamu punya teman dari sekolah ini, Han," kata Dexy meneliti Aska. Eliot juga memperhatikan.
"Dia, temanku. Aska." Hansel memperkenalkan pada mereka layaknya seorang teman yang sudah lama kenal. Dexy dan Elliot mengernyit.
"Ya. Anggap saja begitu." Aska mengatakannya dengan tenang.
"Ini seperti saat kita bertemu gadis itu di atap." Elliot ingat tentang pertemuan pertama mereka dengan Sherry.
"Siapa?" tanya Hansel.
"Vermouth. Gadis penakut yang tiba-tiba saja jadi pemberani dan tidak takut padamu." Dexy menjelaskan. Hansel terkekeh. Vermouth yang berada di sebelah Hansel sempat terkejut saat mereka menyebut namanya. Aska mendengkus.
"Benar. Gadis itu. Aska memang mirip gadis itu." Hansel masih menyisakan senyum di ujung bibirnya. Dia paham maksud Dexy dan Elliot. Aska mirip dengan Sherry. Itu tidak bisa di pungkiri. Kenyataan bahwa mereka bersaudara adalah pembuktian bahwa mereka memang kadang terlihat mirip. Juga saat menatap Hansel. Walaupun mata Sherry agak sipit, cara menatap mereka sama.
"Ka! Ayo!" panggil teman-temannya.
"Wah... mereka akan tawuran dengan sekolah mana?" Dexy bersemangat. Aska melirik.
"Kamu tidak mengantarkan aku pulang dulu, Ka? Ibu pasti khawatir." Ve panik karena Aska akan pergi. Walaupun Ve lebih perhatian kepada ibunya lebih dari kakaknya sendiri, tapi Aska tentu tetap memilih Sherry sebagai kakaknya.
"Mau ikut mereka?" tawar Hansel.
"Kau sendiri?" Elliot balik tanya.
"Aku ada urusan lain." Walaupun mengaburkan tujuannya, semua tahu Hansel sedang ingin bersama gadis di sebelahnya.
"Hansel akan mengantarmu pulang," kata Askq membuat Vermouth mendekat ke Aska dan berbisik.
"Dia akan tahu soal keluargamu. Keluarga Sherry."
"Dia sudah mengetahui segalanya." Aska tahu Hansel takkan lelah mencari tahu. Dia pasrah. "Pastikan dia selamat, Hansel." Aska memberi peringatan.
"Tenang saja."
...****************...
__ADS_1
"Papa ada?" tanya Sherry.
"Di ruangannya," jawab Daniel pendek. Sherry manggut-manggut. Lalu berlalu begitu saja. Daniel berdecih sambil menggelengkan kepala. Dia merasa bodoh hari ini. Ingin sekali rasanya mencegah gadis itu pergi dengan menarik tangannya, kemudian memaksanya tinggal di ruangannya.
Gadis kecil itu tentu saja sudah membuatnya merasa tidak waras. Tubuh, jiwa dan segalanya yang seperti dongeng itu membuatnya sempat limbung ke arah lain. Daniel menginginkan gadis itu sebagai kekasihnya. Hhh... Daniel mendesah lelah. Sekarang gadis itu seperti sengaja menjaga jarak.
"Vermouth! Kamu datang putriku. Apakah kamu bersama putra keluarga Kendrick?" tanya beliau sambil menutup sebuah map berisi dokumen dan membuat Sherry bingung karena pertanyaannya.
"Relly?"
"Ya dia. Yang telah menolongmu dan merawatmu di rumah sakit milik keluarganya."
"Tidak papa. Aku sendiri." Sherry tersenyum. Lalu mereka berbincang hingga akhirnya perut Sherry yang keroncongan berbunyi keras. Sherry ketawa. Menertawakan dirinya sendiri.
"Putri papa lapar rupanya. Baiklah. Kita makan siang dulu."
"Aku bisa makan siang sendiri. Papa bisa melanjutkan pekerjaan."
"Tidak apa-apa. Ayo." Tangan beliau membimbing putrinya untuk keluar ruangan dengan segera. Saat berjalan melewati ruang peruang ini, terlihat sebuah ruangan yang terbuka. Bukan ruangan milik Daniel. Papa mengajak Sherry berkunjung ke ruangan itu.
"Halo Henry." Lelaki paruh baya itu mendongak.
"Rupanya putrimu datang berkunjung." kata paman Henry saat melihat kakaknya datang bersama Sherry. Ada amplop berwarna putih sedang tergeletak menonjol di atas meja. Tangan beliau dengan sigap menutupinya dengan dokumen-dokumen yang lain. Terlalu natural hingga tidak nampak mencurigakan. Namun Sherry tahu, gerakan tadi seperti ingin menyembunyikan sesuatu.
"Ya. Ve, sapalah Om Henry," ujar papa membuat Sherry menghentikan untuk memperhatikan amplop putih dan melihat pamannya.
"Halo, om..." Sherry menyapa. Pria itu tersenyum dan menepuk pundak Sherry pelan. Tidak banyak kata, tapi itu seperti sudah menyampaikan banyak makna. Seperti yang di rasakan Sherry pertama kali bertemu, saat ini juga Sherry merasa senang bertemu dengan paman Ve. Kehangatan seorang paman yang menyayanginya, lebih terasa.
"Kau akan mengajak dia makan siang?" tawar papa Ve.
"Bolehkah?" tanya Henry terkejut. Entah kenapa perlu beliau terkejut, karena ini adalah tawaran normal dan wajar.
"Silahkan Henry. Kamu mau ikut makan siang dengan pamanmu, Vermouth?" tanya papa. Sherry menganggukkan kepala. Dia juga ingin lebih dekat dengan paman Ve. Karena sepertinya bersama beliau, terasa lebih hangat.
"Terima kasih. Aku akan memulangkannya dengan selamat. Ayo Ve," ajak paman Henry terlihat berbunga-bunga. Ternyata papa Ve sengaja ingin, dia keluar dari ruangannya. Mungkin beliau masih sibuk. Hanya saja tidak ingin putrinya kecewa.
Walaupun cara bicara paman Henry tetap tenang seperti biasanya, Sherry tampak semangat. Dia tidak tahu siapa orang ini. Dia tidak begitu mengerti. Namun, pria dengan sikap tenangnya yang berkesan kurang ramah, mampu membuat Sherry merasa aman.
Makan siang di lakukan di kantin perusahaan. Sebenarnya beliau mengajak keluar, tapi Sherry menolak.
"Kamu sudah tumbuh besar, Ve. Makan yang banyak. Jangan pernah membuang makanan. Kamu harus selalu sehat," ujar paman Henry seperti mengkhawatirkan tubuh kurus keponakannya. Saat itu Daniel melintas. laki-laki itu sedikit terkejut dengan keberadaan Sherry bersama tuan Henry.
"Daniel, mau bergabung bersama kita?" tawar tuan Henry ramah. Daniel mengangguk dan ikut duduk dalam satu meja. "Aku mengajak Ve untuk makan siang. Aku rasa sepulang sekolah dia pasti merasa lapar." Sherry tersenyum mengiyakan. Daniel hanya mengangguk saja.
"Oh, ya terima kasih sudah menjenguk Ve di rumah sakit," kata Sherry. Dia memang berniat akan mengucapkan terima kasih saat bertemu dengan pamannya.
"Sama-sama. Aku tidak bisa menemuimu disana. Pemuda itu menyampaikan pesanku dengan baik rupanya."
"Ya. Relly bertanya tentang om Henry." Mendengar nama Relly, Daniel merasa tersisihkan.
"Kamu dekat dengannya? Putra Kendrick itu?" Pertanyaan ini layaknya seorang bapak yang sedang mencemaskan putrinya.
"Ya. Karena kita satu sekolah, juga satu kelas."
Daniel merasa menyesal telah ikut makan siang bersama mereka. Telinganya harus mendengarkan nama Relly berulang-ulang.
"Daniel, jadilah kakak yang melindunginya dengan baik," pinta Tuan Henry.
Kakak? Sepertinya batasku memang hanya menjadi seorang kakak bagi gadis ini.
"Iya, Tuan."
Elda mencari tahu soal paman Henry dari Bu Sarah yang sudah merawatnya sejak bayi. Lalu menceritakannya kepada Sherry. Mungkin karena Tuan Henry tidak menikah, beliau menganggap Vermouth seperti putrinya sendiri. Beliau adalah bujang tua yang tampan. Sherry mulai berpikir kenapa pamannya ini tidak ingin menikah. Namun itu tidak di perlukan. Pikiran lain soal kehidupan Vermouth sangat tidak di perlukan untuknya.
__ADS_1
...****************...
Daniel terkejut saat Sherry tidak langsung pulang melainkan mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Daniel terkejut. Gadis itu langsung duduk di sofa.
"Aku mengikutimu."
"Aku tahu kamu mengikutiku. Lalu apa keperluanmu sampai harus mengikutiku. Bukannya kamu harus pulang?" Pengusiran secara halus. Sherry tahu. Setelah tahu bahwa Relly adalah kekasihnya, Daniel membatasi sikap. Seakan pria ini tengah patah hati.
Sherry menghela napas. Daniel duduk di kursi kerjanya. Berusaha mengerjakan sesuatu walaupun amat terganggu dengan keberadaan gadis.
"Maaf dan terima kasih."
Kepala Daniel mendongak. Melihat Sherry dari balik laptopnya. Gadis itu melihatnya juga. Daniel mengalah dan mengalihkan perhatian ke arah lain.
Bodoh! Kenapa kalah saat saling pandang seperti ini. Dia hanya gadis kecil.
"Soal apa?" tanya Daneil ingin tahu.
"Terima kasih atas keberadaanmu dan maaf atas diriku."
"Aku tidak paham." Tangan Daniel masih mengerjakan tugas kantor.
"Tidak apa-apa. Terima saja ucapan maaf dan terima kasihku." Sherry menunjukkan deretan giginya. Dia tersenyum. Daniel tidak melanjutkan walaupun dia tidak paham. Dia memilih tidak peduli perkataan gadis di depannya. Sherry berdiri dan mendekati meja kerja Daniel. "Sebagai Sherry, aku ingin berteman denganmu." Sherry mengulurkan tangan.
"Kita adik kakak. Bukan teman. Katakan saja apa keperluanmu." Daniel tahu, pasti gadis ini ada perlu. Setelah sekian lama tidak pernah mengunjunginya, sekarang sengaja muncul. Dia mengabaikan uluran tangan Sherry. Akhirnya Sherry menarik kembali tangannya.
"Bisakah aku mempercayaimu dan meminta tolong?"
"Apa yang ingin kamu minta?"
"Aku harus pastikan dulu, kamu bisa dipercaya," kata Sherry serius memaksa Daniel benar-benar berhenti dari pura-pura kerja.
"Apalagi, Sher? Kamu masih meragukanku soal kepercayaan disaat aku yakin kamu bukan Vermouth padahal tubuhmu sendiri adalah Vermouth? Apa yang tidak bisa di percaya dari aku? Aku sangat mempercayaimu bahkan dengan kegilaan soal jiwamu yang tertukar. Soal kamu yang adalah orang lain dan semua hal yang tidak masuk akal itu." Daniel mengatakannya dengan menggeram marah.
Suaranya tertahan karena dia tidak ingin orang lain tahu. Dia marah dan bahkan sangat marah pada Sherry juga pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tertarik dengan gadis kecil yang mengaku adalah orang lain?
"Maaf."
"Tidak perlu minta maaf. Kamu membuatku terlihat bodoh saat ini."
...****************...
Sherry mencari sesuatu yang membuatnya ingin tahu. Amplop berwarna putih yang membuatnya penasaran. Amplop yang tadi sengaja langsung di tutupi oleh paman Henry karena dia dan papa Vermouth datang. Gerakannya mungkin terlihat natural tapi nampak aneh di mata Sherry. Ada rahasia yang sepertinya tersembunyi disini.
Daniel berjaga di luar dengan cemas. Saat ini semua sudah waktunya pulang. Kantor sepi. Berdalih lembur, Daniel menemani Sherry yang ingin mencari sesuatu miliknya yang tertinggal. Entah kenapa dia cemas. Bukankah semua sudah pasti pulang?
Lagi-lagi aku mengikuti permainannya. Dia menyuruhku berjaga di sini, sementara dia menjalankan aksinya disana.
Daniel memejam mata tidak mempercayai dia mudah di perdaya gadis itu. Dia geram dengan dirinya.
"Kamu belum selesai?" tanya Daniel yang melihat Sherry masih berkutat di depan meja. Dari tempat Daniel berdiri, dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan Sherry. Tangan Sherry sedang memeriksa di sana-sini. "Sebaiknya kita segera kembali, karena kamu sudah lama berada di kantor ini. Aku antar ...." Daniel tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena dia tergesa-gesa menutup pintu dan mendorong tubuh Sherry menjauh dari meja kerja.
"Kenapa mendorongku ke sini? Kamu bilang ...."
"Diamlah dan sembunyi." Menarik tubuh Sherry yang masih berdiri tegak, lalu bersembunyi di balik sofa. Rupanya ada paman Henry yang entah kenapa kembali lagi ke ruangannya.
__ADS_1