Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Hati yang terluka


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Setelah berhasil menghentikan Relly, Ve turun dari mobil.


"Tenanglah, Sherry."


"Aku bisa tenang. Aku hanya sedang menyiapkan diri." Ya. Sherry memang tidak perlu takut akan kemunculan Ve. Dia takut gadis itu sendiri yang terluka. Sherry segera turun.


"Tetaplah di belakangku."


"Aku harus turun, Rel." Dia tidak harus tetap di atas motor meskipun Relly mencegahnya turun. Akhirnya Relly juga turun dari motornya. Membuka helm dan menunggu gadis itu mendekat. Wajah Ve nampak kacau akan emosi.


"Jangan dekati Relly. Dia itu tunanganku," ujar Ve saat menghampiri Sherry. Wajah Sherry menunjukkan raut keterkejutan walau hanya sesaat. Gadis itu mulai berani mengutarakan ketidaksukaannya. Dia berusaha melindungi apa yang sudah di milikinya. Ve mencoba bisa.


Sherry diam. Dia merasa tidak harus melawan Ve.


"Kenapa kamu diam?!"


"Aku tidak tahu, apa aku boleh bilang padamu ... lebih baik cobalah tenang, Ve." Ve melebarkan mata menatap Sherry. Tidak percaya dia menjawab demikian.


"Kamu menyuruhku tenang? Kamu yang seenaknya saja mendekati tunanganku, apa bisa membuatku tenang?" Gadis ini bisa meluapkan amarah. Setelah lama hanya bungkam dan diam, Ve bangkit dengan berani. "Jika itu terjadi padamu, apa kamu juga bisa tenang?"


"Bisa. Bukankah saat kamu memilih menjadi aku, aku tidak pernah mencoba membuat Relly sadar bahwa kamu bukan aku." Ve tertohok dengan perkataan Sherry. Namun itu benar adanya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku adalah Sherry. Aku adalah Sherry, Relly..." Ve mengiba seraya menoleh pada Relly.


"Jangan kekanak-kanakan Ve," kata Relly lembut tapi penuh dengan ketegasan.


"Kekanak-kanakan? Aku? Ini tidak benar Relly. Kamu semestinya paham." Ve sakit hati Rey menuduhnya seperti bocah kecil. "Relly, kenapa kamu bersama dia? Bukankah kamu sudah menyetujui bahwa kita bertunangan. Seharusnya kamu tidak bersama gadis lain saat aku sedang menunggumu tadi. Ini tidak sesuai dengan janjimu yang akan selalu menyayangiku."


"Apa yang bisa kamu katakan bahwa ini tidak benar?" tanya Relly membuat Ve menggigit bibir takut. Relly serius.


"Kamu itu tunanganku, Rel. Seharusnya kamu ..."


"Kamu menipuku, Ve. Kamu berpura-pura menjadi Sherry. Aku tahu, tapi aku biarkan. Aku pikir dengan kemunculan Sherry kamu akan jujur padaku. Nyatanya tidak. Kamu terus saja mengatakan bahwa kamu adalah Sherry."


"Ja-jadi kamu akan tetap mendekatinya walaupun sudah bertunangan denganku?" tanya Ve melebarkan mata.


"Ya."


Tubuh gadis ini gemetar. Matanya nanar. Tangannya mengepal merasakan sakit di hatinya. Ve mulai menangis. Miris. Sherry menoleh pada Relly untuk bertanya apa yang harus di lakukan? Dia jadi tidak tega melihat Ve terguncang.


Aku seperti tokoh antagonis saja. Sebenarnya ... apakah benar, tindakanku menyetujui rencana Relly untuk membatalkan dengan pertunangan gadis ini? Jika aku bahagia, pasti Ve terluka. Jika Ve bahagia, aku yang terluka.

__ADS_1


Elda datang mendekat karena Ve terlihat aneh. Melihat perempuan ini muncul, Sherry tergerak untuk mendekat. Relly mencegah dengan menahan pergelangan tangan Sherry. Kepala Elda menoleh pada Sherry. Melihat ini, jadi ingin memeluk Elda.


"Lihatlah dia, Elda. Lihatlah. Dia tetap bisa bersikap tenang padahal sudah membuat aku sakit hati. Relly yang menjadi tunanganku telah di ambil olehnya!" Ve kalap. Gadis ini menangis seraya menyerukan bahwa ini terasa tidak adil baginya.


"Sudahlah, Ve. Kita harus segera pulang. Ini sudah hampir sore."


"Tidak Elda. Aku harus bisa menyadarkan Relly. Ini tidak benar." Ve memohon dengan airmata bercucuran. Elda tetap memaksa majikannya pergi dari sana. "Kamu butuh istirahat. Kami permisi," ujar Elda sambil membungkuk.


Ada rasa gundah juga di hati Sherry setelah melihat kepergian Ve.


"Aku seperti penjahat, Rel" kata Sherry.


"Kenapa? Karena dia menangis, kamu jadi kasihan padanya?" tanya Relly hendak memasang helm.


"Mungkin."


"Aku lebih merasa itu tidak tepat. Kenapa orang yang berbohong harus merasa sedih saat kebohongannya tidak berhasil? Kamu yang telah jadi korban karena dia berbohong, masih mencoba kuat dan tidak menunjukkannya padaku. Kenapa dia malah menunjukkan kebohongannya dengan tangisan?"


"Aku tentu saja lebih kuat dari dia, Rel..."


"Karena kamu jago karate?"


"Bukan itu."


"Justru karena cara kita berbeda, Rel. Dia tidak bisa harus memendam semua rasa sakit itu sendirian. Jadi saat tersakiti dan ada celah untuk menunjukkannya, dia memilih menunjukkannya seperti tadi. Sementara aku ... karena pada awalnya memang jarang punya teman curhat, jadi terbiasa sakit hati sendirian."


"Itu lebih sakit, Sher."


"Lagipula ... dia adalah cewek yang sejak awal sudah menyukaimu hingga sekarang. Patut berbanggalah. Sementara aku baru sadar kalau suka kamu itu saat tahu bahwa jauh darimu bikin otak mikir terus. Enggak tenang dan bikin puyeng," ujar Sherry tanpa sadar membuka sendiri kapan dirinya suka sama Relly.


"Terima kasih sudah sempat sadar bahwa aku itu penting, meskipun agak terlambat." Sherry memiringkan bibirnya bermaksud mencela Relly karena kata-katanya. Cowok ini menyeringai.


"Lagipula kenapa harus berbangga? Di sukai orang bukan sebuah prestasi karena orang itu sedang mengharapkan sesuatu dari kita. Kalau kita di sukai orang dengan tulus, patutlah berbangga. Sudahlah, berhenti membela Ve. Bagaimanapun Ve memang perlu tahu kalau berbohong itu percuma."


Relly tahu debat ini tidak akan usai. Walaupun dia senang mengobrol dengan cewek ini, jika harus berdiri dengan lama dan berdebat, dia menyerah.


"Aku lapar. Berhenti berdebat. Apa kamu tidak lapar?"


Sherry mengangguk. "Ya. Aku lapar."


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Gosip beredar dengan cepat. Soal Relly yang menggandeng gadis lain merebak. Semua mata melihat ke arah Sherry dengan muak. Meskipun Ve tidak di sukai, mereka lebih tidak suka melihat Sherry dari sekolah biasa mendekati Relly yang terlihat dari kalangan atas.


"Mereka terus saja melihatmu Sherry," bisik Yura.


"Jangan hiraukan. Kamu bisa pergi meninggalkan aku jika merasa tidak nyaman."


"Aku memang tidak nyaman, tapi tidak harus pergi meninggalkanmu," sahut Yura.


"Terima kasih."


Jenny, yang Sherry tahu juga penggemar garis keras Relly mentapnya tajam. Musuhnya muncul lagi. Saat menjadi Ve, mereka menyerangnya karena Relly. Apa sekarang dia juga akan di serang?


Duk! Seseorang melempari Sherry dengan bola basketnya. Sherry terkejut dan menolehkan kepala. Sepertinya seseorang sengaja.


"Bisa lemparkan bola itu padaku?" ujar cowok yang berasal dari sekolah ini. Tanpa menjawab Sherry memungut bola dan mengembalikan bola itu. Namun setelah di lemparkan, cowok itu melempari Sherry lagi dan mengenai lengan Sherry.


Semua yang melihat terkejut.


"Maaf. Sepertinya tanganku licin. Aku tidak bisa menangkap dengan mudah bola yang kamu lemparkan," kata cowok itu tanpa rasa bersalah.


"Maunya apa anak itu?" bisik Yura.


Sudah jelas bahwa dia sengaja melemparkan lagi dan mengenai lengan Sherry. Namun apa mau dikata, sepertinya dia putra orang berpengaruh jadi tidak ada yang berani berkata bahwa dia keliru.


Siang ini waktunya istirahat. Kejadian ini juga pasti banyak yang melihat.


Sherry menghela napas dan mengambilkan bola basket lagi.


"Sepertinya kamu enggak perlu melakukan itu, Sher. Dia sengaja." Sherry hanya tersenyum tipis. Lalu dia melemparkan bola itu lagi.


"Terima kasih," ujar cowok itu. Sherry dan Yura memutar tubuh dan akan pergi. Duk! Bola basket itu terlempar lagi dan mengenai kepala Sherry.


Semua mata memandang terkejut. Ini di sengaja. Sudah pasti. Yura melebarkan mata.


"Sherry, kamu enggak apa-apa?" tanya Yura khawatir. Terkena lemparan bola basket yang mantap itu pasti sakit. Apalagi ini di sengaja di depan banyak orang. Rasa malu karena di permalukan pasti ada. "Mau kamu ..." Sherry mencekal lengan Yura untuk mencegah gadis ini marah.


Yura bermaksud menanyakan apa maksud dari cowok itu barusan. Dia tidak berani, tapi melihat ketidak adilan ini jelas membuatnya marah.


"Jangan emosi," kata Sherry. Melihat Sherry si korban saja tenang, Yura juga jadi menahan diri.


Benarkah Sherry tidak marah? Jelas tidak mungkin. Dia sudah mengumpat dalam hati sebanyak-banyaknya tadi.


Cowok tadi tertawa. Saat Sherry memutar tubuh, dia menemukan Ve berada di barisan sana. Barisan cewek-cewek yang tidak suka dengan berita kedekatannya dengan Relly. Ve punya banyak pendukung.


__ADS_1


__ADS_2