
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
...Sekolah Aska...
Aska jago basket juga jago berkelahi. Nilainya juga wow untuk kategori seorang berandalan. Dia tipe bad boy yang di gemari cewek-cewek sekolahnya. Siang ini Aska bermain basket di bawah terik matahari. Dan karena lihat yang main Aska, semua cewek-cewek pada rela menyaksikan di bawah terik untuk sekedar melihat cowok itu mengshoot bola. Padahal ini juga bukan pertandingan sungguhan.
"Ka! Ada Sherry noh ... Ajak dia main juga, gih. Asyik banget kalau main sama dia." Aska melihat Aldo dengan tatapan tidak suka. Aldo terkesiap. Dia lupa kalau Aska tidak suka kalau teman-temannya menyebut Sherry hanya namanya saja. Karena walau bagaimana pun, Sherry lebih tua daripada mereka-mereka ini. Aska tidak membiarkan teman yang satu angkatan menyebut nama Sherry tanpa embel-embel 'Kak'.
"Iya lupa. Kak Sherry. Kamu sendiri aja panggil dia tanpa kak. Kita kan ngikut. Karena dia memang asyik banget orangnya untuk di jadikan teman," gerutu Aldo balik balas Aska. Mendapat balasan ini Aska tidak peduli.
"Kita panggil hanya namanya saja bukan berarti gak hormat kan. Kita gitu karena kita itu memang akrab sama kakakmu. Coba kalau orang lain. Pasti di hajar dulu sama kakakmu," jelas Sabo mencoba menenangkan Aska.
Memang, Aska juga tidak pernah memanggilnya kak. Karena umur mereka yang hanya terpaut satu tahun. Menjadikan perbedaan sangat tipis. Di tambah dengan tingkah Sherry yang membuat mereka lupa, Sherry adalah kakak kelas. Ini membuat Sabo dan Aldo berkali-kali meralat kata-kata karena minimnya kata Kak dalam setiap perbincangan dengan Sherry.
"Kak Sherry!" panggil Sabo sambil melambai kuat. Sherry palsu tersenyum sambil melambai dengan manis. Ini membuat Sabo heran.
"Ka. Belakangan ini lambaian Kak Sherry lebih manis daripada biasanya deh." Aldo dan Aska jadi ikut memperhatikan.
"Kamu enggak lagi meledekku kan?" tanya Aska malah berpikiran lain.
__ADS_1
"Ah, kamu Ka. Mikirnya jelek terus. Perhatikan deh." Aldo memaksa mereka bertiga memperhatikan Sherry palsu. Memang cara berjalan dan gerakan semua tingkahnya tidak tegas dan cuek seperti biasanya. Dia lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertingkah. Seperti keluarga puteri-puteri yang anggun dan terhormat.
Aska mengerutkan kening. Memperhatikan kakaknya yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Tangkap, kak!" teriak Sabo. Gadis itu kaget dan ... Bruk! Dia justru jatuh tertimpa bola. Semua kaget dan panik. Segera berlari menghampiri kakaknya Aska itu. Sementara Aska berdiri termangu di tempatnya. Dia tidak segera menghampiri kakaknya.
"Kakak gak apa-apa nih?" tanya Sabo. Gadis itu tersenyum sambil menahan sakit. Matanya sedikit berkaca-kaca. Semua terkesiap. Syok tingkat dewa. Bagaimana mungkin kakaknya Aska itu berkaca-kaca hanya karena terkena bola? Yang ada biasanya juga malah berteriak dan balas lempar bola. Itu pun kalau lagi apes. Kalau enggak, ya dia dengan mudah menangkap bola.
"Ka. Cepat kesini! Kenapa malah berdiri disana!" teriak Sabo. Aska tersadar dan mendekati mereka.
"Aku tidak apa-apa," ujar gadis ini tersenyum saat Aska mendekati.
"Memang seharusnya tidak apa-apa." Aska justru berkata kejam. Yang lain heran. Gadis itu tersentak kaget.
"Kak, main basket yok! Kita lawan tanding," ajak Aldo. Gadis itu diam sejenak lalu tersenyum.
"Bukan karena kamu tidak bisa kan?" ujar Aska seperti sedang menginterogasi. Ve terkejut mendengar pertanyaan Aska. Yang lain melihat Aska sambil tergelak.
"Enggak mungkin kakakmu ini enggak bisa main basket. Bukannya dia jago seperti dirimu?" tanya Sabo sembari ketawa. Aldo ikut ketawa sambil mukuli bahu Aska. Tapi Aska hanya diam. Membuat yang lain jadi canggung. Ve pias. Wajahnya mendadak pucat.
"Kembalilah ke kelas. Sepertinya teman-teman sedang menunggumu," ujar Aska yang langsung di terima anggukan oleh Ve. Gadis itu segera pergi dari lapangan basket.
"Tidak mau di ajak main basket? Tumben banget." Aldo terheran-heran. Sabo mikir juga. Aska menghela napas. Teringat perkataan gadis cantik yang mengatakan bahwa Sherry yang sekarang bukanlah Sherry yang asli. Bagaimana bisa dia kesakitan hanya karena terkena bola basket sementara dia biasanya bisa menghajar dua orang sekaligus?
Apa aku perlu percaya, bahwa Sherry adalah orang lain dan gadis cantik itu kakakku? Dalam hal apa dia bisa berkata kalau dia adalah Sherry yang asli. Tubuh itu tidak tangguh. Tidak mungkin! Mungkin kalau tubuh lemah itu bisa menghajar orang baru aku percaya.
__ADS_1
Aska mulai curiga. Setelah memperhatikan kakaknya beberapa hari ini, Aska menemukan banyak perbedaan antara Sherry yang sekarang dengan Sherry yang terdahulu. Kakaknya itu tidak lagi muncul di arena pertarungannya. Dia lebih baik dan lembut. Sebenarnya lebih mengarah ke arah yang lebih baik, tapi Aska merasakan itu aneh. Asiknya Sherry itu berasal dari keunikannya yang sangat jarang ada pada cewek pada umumnya.
Sekarang Sherry lebih perhatian kearah feminitas seorang cewek. Dan itu seperti bukan paksaan. Ini seperti memang sangat melekat pada dirinya. Dan Ini bukan Sherry banget. Dia mulai peduli dengan omongan orang soal dia yang terlalu dekat sama cowok-cowok yang mereka bilang preman. Sherry orangnya tidak seperti itu. Sherry itu keras kepala soal pilihan bertemannya. Karena menurutnya, kata orang baik belum tentu baik buatnya dan sebaliknya.
Sherry mulai sering tampil manis yang membuat Aska kadang bergidik. Sherry enggak cocok tampil manis dengan cara seperti itu.
"Kamu punya cowok?" tanya Aska suatu hari karena penasaran sama berubahnya kakak perempuannya.
"Ih, apa coba ...," sahut Sherry imut yang langsung membuat Aska pergi. Sherry jelas tidak seperti itu. Sherry tidak akan menunjukkan keimutan seperti itu. Sangat mustahil. Bukan dia tidak suka tampil manis, tapi cara mengungkapkan pengertian tampil manisnya itu beda.
Aska mencoba mencari tahu dari titik dimana Sherry berubah. Yaitu lokasi kecelakaan terjadi. Aska mengikuti saran gadis cantik itu. Di lampu merah dekat sekolah menengah. Sherry di temukan mengalami kecelakaan disana dengan seorang gadis lain. Aska tidak tahu siapa itu. Menurut orang yang melihat kejadian, gadis lainnya yang mengalami kecelakaan di bawa ke rumah sakit yang sama dengan Sherry.
Bergegas Aska menuju rumah sakit yang di maksud. Di sana petugas lupa dengan kejadian tersebut. Aska keluar dari rumah sakit dengan kecewa. Apa memang ini jalannya untuk tidak mempertanyakan Sherry yang saat ini sedang bersama ibu adalah palsu atau bukan?
Aska hendak menuju ke area parkir saat seseorang memanggilnya. Aska membalikkan tubuhnya.
"Apakah kamu yang tadi bertanya soal kecelakaan di lampu merah itu?" tanya seorang lelaki berumur sekitar dua puluh lima tahun di depan pintu lobi rumah sakit. Aska mengangguk.
"Anda tahu soal kejadian itu?"
"Ya. Aku sopir ambulan yang membawa korban ke rumah sakit ini."
Ya!! Akhirnya aku menemukan orang yang tepat untuk di tanyai. Mungkin.
__ADS_1