
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Kau?!" teriak Gio terperangah. Kemudian di susul dengan orang-orang berjas hitam yang mengikuti langkah pria ini masuk ke dalam. Kemungkinan itu adalah orang milik pria ini.
"Ya. Ini aku," jawab pria itu tenang. Relly melebarkan mata. Tidak terpikir lagi olehnya bahwa pria ini yang akan muncul. Henry. Paman Ve.
"Om Henry...," ujar Ve dalam hati. Seketika ketakutannya memudar.
Julia menyipitkan mata saat melihat adik suaminya. "Henry muncul."
"Jangan bergerak, Gio ..." cegah Henry. "Semua anak buahmu di luar sudah di lumpuhkan." Gerakan Gio terkunci. Itu berarti dirinya sedang terpojok? Kalah?
"Aku bisa menembak bocah ini dulu sebelum kalian bisa membunuhku," ancam Gio sambil menarik lengan Relly paksa. Mama dan Sigi bereaksi dengan menggerakkan tubuhnya saat melihat Relly di perlakukan kasar. Welly hanya diam dengan berharap putranya tidak terbunuh saat ini.
"Kau yakin?" tanya Henry sambil menyeringai. Paman berwajah lembut ini terlihat begitu bengis saat ini. "Apa kau pikir aku tidak meletakkan penembak jitu di dalam rumah ini untuk menembakmu sekarang?" Mendengar ini Gio mendadak gugup. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Bola matanya menyisir ke seluruh ruangan. "Bisa saja sebentar lagi, sebelum kamu bisa menekan pelatuk pistol dan membunuh anak muda ini, peluru penembak itu sudah menghujam jantungmu," ujar Henry masih dengan sorot mata tajam dan menusuk. Begitu dingin. Sangat berbeda dengan kelembutan paman Henry yang biasanya.
Tangan Gio bergetar. Otaknya berpikir. Jika Henry bisa menempatkan anak buahnya di sekitar dirinya, itu berarti dia juga bisa meletakkan penembak jitu tanpa sepengetahuannya. Dengan keras, Gio mendorong tubuh Relly hingga pemuda ini jatuh ke lantai.
Bersamaan itu suara pelatuk pistol di gerakkan membuatnya berhenti bergerak. Anak buah Henry siap menembak. Dengan gerakan lincah dan kuat, Henry berhasil membuat pistol Gio terlempar dan membuat tubuh penjahat ini membungkuk. Henry membekuk penjahat ini dan mengunci pergerakannya agar tidak mampu melawan.
Tangan Gio di tarik ke belakang dan di tekan. Menimbulkan rasa sakit yang terasa. Gio mengerang.
Kepala Relly celingukan mencari-cari seseorang. Tangannya yang belum terlepas dari tali terabaikan. Karena orang Henry menyelamatkan para tawanan lainnya terlebih dahulu setelah membekuk para penjahat. Satu persatu orang di lepaskan dari tali pengikat dan lakban yang menyumpal mulut mereka.
Dari balik kumpulan orang-orang itu muncullah seorang gadis. Sherry. Senyuman Relly mengembang.
__ADS_1
"Dasar ..." lirih Relly. Ada rasa senang dan juga khawatir. Senang melihat gadis itu muncul untuk bersusah payah menyelamatkan dirinya. Khawatir membayangkan dia menempuh bahaya demi dirinya. Sherry berlari dan mendekat ke arahnya.
"Maaf, aku datang terlambat," kata Sherry mendekat ke Relly. Sorot mata Relly tenang sambil menatap Sherry lekat.
"Tidak. Kamu datang tepat waktu," sahut Relly dengan wajah berseri-seri. Matanya juga melihat ada orang lain yang mengejutkan di sana. "Kamu datang juga Aska." Relly merasa tersanjung dengan kemunculan cowok ini. Bila mengingat sebelumnya dia mencegah Sherry dan menolak membantu dirinya secara terang-terangan, kemunculannya sungguh tidak mungkin.
"Terpaksa. Tidak mungkin aku membiarkan Sherry menghadapi bahaya sendiri saat menyelamatkan nyawa seorang cowok sepertimu," ujar Aska tidak antusias. Relly tersenyum.
"Terima kasih," ujar Relly. Aska mendengkus. Seperti menolak rasa terima kasih Relly.
"Ternyata Om Ve bukan orang jahat, Rel ..." ujar Sherry. Relly mengangguk.
"Ya. Kita sempat salah duga." Dia sedang berusaha membuka ikatan Relly.
"Ka. Tali ini sulit di buka," keluh Sherry sambil menoleh pada adiknya. Aska menggeram kesal. Akhirnya dia turun tangan dan membantu Sherry membuka ikatan tali Relly.
"Merepotkan saja," gerutu Aska. Gio masih mencoba melawan. Namun Henry rupanya lebih kuat.
"Sebentar." Relly memeluk tubuh Sherry erat. Aska yang melihat ini syok dan meringis.
"Hei! Hentikan adegan romantis kalian! Ini saatnya kita pergi!" seru Aska geram.
"Kita harus bergegas, Rel. Tidak ada waktu untuk beginian," racau Sherry merasa malu di dalam dekapan Relly. Sebenarnya dia suka di peluk Relly, tapi itu seperti tidak tahu kondisi. Relly sendiri tersenyum mendengar racaun Sherry. Dia juga tidak marah di teriaki Aska.
"Siap Aska. Oke. Kita memang harus bergegas keluar dari sini." Relly melepas pelukan Sherry dan meraih tangannya. "Kita masih harus berusaha keras mencari bukti bahwa Gio sekarang adalah palsu. Itu bisa membuktikan siapa identitas dia sebenarnya. Dengan begitu, aku bisa mengatakan pada papa bahwa aku berhak memilihmu untuk menjadi tunanganku."
Sherry memerah. Bagaimana bisa dalam keadaan genting seperti ini, Relly masih saja sempat mengatakan hal yang membuatnya tersipu. Sherry hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Aska menggeram dan memutar matanya malas.
Mama Relly akan mendekati putranya, tapi Welly mencegah.
"Biarkan dia. Dia tahu bagaimana harus menyelamatkan diri."
__ADS_1
"Tapi, Pa ..." Mama ragu meski suaminya berkata dengan meyakinkan.
"Ayo, kita segera keluar." Welly menggandeng tangan istrinya. Sigi hanya menoleh ke arah mereka bertiga. Dia juga ingin mendekati mereka. Tampaknya Aska tidak tahu keberadaannya. Akhirnya Sigi memilih ikut Welly keluar.
"Om ...," panggil Ve. Gadis itu ingin segera berlari mendekati Henry.
"Ikut mereka keluar dari sini, Ve. Aku akan mengikutimu segera." Henry segera mencegah dan memberi arahan pada keponakannya. Dia tahu gadis itu ingin menghampirinya. Ve sudah akan berbelok ke arahnya. Itu terlihat dari sorot mata gadis ini. Bahwa keponakannya itu sangat merindunya. "Julia tolong, bawa dia keluar."
"Baik. Ayo Ve. Kita harus keluar dari rumah ini." Julia mendorong tubuh Ve untuk mengikuti yang lain keluar dari ruang makan.
"Om ..." Ve masih tidak bergerak untuk pergi. Henry mengangguk. Menyuruh keponakannya pergi.
"Kau sudah tertangkap, Gio palsu," geram Henry.
"Aku heran kenapa kau sudah bisa membuat anak buahmu masuk dalam anggotaku?" tanya Gio saat di giring keluar oleh orang-orang Henry.
"Karena aku sudah tahu siapa dirimu sebelum hari ini."
"Aku ketahuan? Tidak mungkin." Gio palsu mendengkus.
"Aku tidak tahu persis, tapi aku merasa begitu. Mungkin kamu tidak terlalu menganggapku ada karena memang hubunganku dengan kakak sedikit renggang. Namun, aku sudah menduga ada yang tidak beres."
"Darimana kamu tahu bahwa aku adalah palsu?"
"Karena perubahan sikapmu padaku. Aku terkejut saat kamu memberi ijin padaku untuk mengajak Ve keluar jalan-jalan."
"Apa yang aneh dari itu? Meskipun hubungan kalian renggang, bukan suatu keanehan jika seorang papa membiarkan adiknya membawa keponakannya sendiri."
"Itulah. Kau tidak tahu soal itu. Karena ... Gio tidak akan membiarkan Ve ikut denganku." Gio mengernyit sambil berjalan di giring keluar.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1