
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Gio adalah dalang dalam peristiwa itu, Rell ...," ungkap Sherry dengan pelan dan masih sedikit gemetar.
"Gio?!" seru Relly tidak percaya.
"Ya."
"Jadi ... jadi yang membuatmu seperti itu papa Ve sendiri?" Sherry mengangguk. Relly sudah menebak bahwa orang jahat itu berada dalam perusahaan SMART, tapi tidak menduga itu adalah papa Ve.
"Tapi, dia bukan Gio asli. Dia palsu."
"Palsu? Aku tidak menyangka."
"Aku menemukan bukti di kantor, sebuah berkat operasi wajah. Aku yakin dia orang lain yang mengganti wajah menjadi papa Ve. Sebab menemukan bukti itu juga, Daniel ..." Sherry menggigit bibirnya dan terisak. Dia menangis. Teringat pria yang terakhir menemaninya menyelidiki sesuatu di kantor. "Daniel mati karena membantuku, Rell." Isakan Sherry semakin kencang.
Relly memeluknya. Meredam tangis gadis ini. Mereka masih di sebuah outlet. Walaupun suara Sherry pelan, karena tangisan ini sempat beberapa orang memperhatikan.
"Tenang, Sherry. Daniel tidak mati. Dia masih bisa di selamatkan."
Sherry mendongak dengan mata bercucuran air mata. "Aku melihatnya sendiri, Rell. Daniel ... Daniel kehilangan nyawanya." Sherry mempererat pelukan pada pinggang Relly. Dia sedih mengingat pria itu.
"Sudah aku bilang Daniel selamat Sherry. Dia ada bersamaku. Erick menemukannya." Mendengar ini spontan Sherry melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"Benarkah? Benarkah dia selamat?" tanya Sherry sangat berharap. Relly mengangguk. Dengan wajah sembab dan juga hidung merah karena menangis, Sherry memeluk Relly lagi. "Terima kasih, Relly ..."
"Waw, aku berkali-kali di peluk olehmu," seru Relly senang. Sherry melepas pelukan dan memukul lengan Relly pelan.
"Diamlah." Sherry jadi malu juga bila saat ini di ingatkan. Relly terkekeh. Sherry mengusap semua bekas airmatanya. Relly mengambilkan gelas berisi jus dan memberikan pada Sherry. Setelah meneguk memberikan lagi pada Relly.
"Jadi Daniel juga selamat. Aku merasa bersalah sudah meninggalkannya waktu itu."
"Sudah ... jangan dipikirkan. Daniel sudah dirawat dengan baik. Dia sepertimu. Sekarang masih koma."
"Aku boleh menjenguknya?"
"Kenapa? Kamu rindu?"
__ADS_1
"Bukan. Dia orang terakhir yang menemaniku saat aku di tahan beberapa jam, Relly." Relly tahu pria itu menaruh hati pada Sherry. Dia tidak suka. Dia enggan. Namun karena jasanya berjuang memberitahu lokasi tempat mereka di bunuh, Relly sedikit melunak.
"Ya. Aku akan memberitahumu jika sudah ada waktu yang tepat. Masih mau makan lagi? Atau ingin jalan-jalan?" tawar Relly.
"Aku bisa menjadi bola bundar jika terus saja makan," cegah Sherry sambil menggelengkan kepala.
"Tidak masalah. Karena melihatmu makan dengan lahap, itu salah satu kesenangan tersendiri bagiku." Sherry menipiskan bibir.
"Memangnya aku selahap itu, ya?"
"Ya. Kamu jadi lucu dan menggemaskan saat makan dengan lahap. Biasanya, gadis suka jaga image saat makan dengan seorang cowok, tapi kamu tidak. Aku suka. Kamu bersikap biasa tanpa harus terlihat sangat buruk. Makan dengan lahap itu tidak buruk. Itu menunjukkan bahwa kamu menyukai makanan yang di hidangkan."
"Soal makan, memang tidak boleh menolak atau di buat mainan. Aku terbiasa menghargai makanan di rumah. Ibu enggak suka makanan di buang karena keluargaku miskin. Hemat. Tapi aku juga di larang rakus. Kata ibu tidak sehat."
"Ibu kamu pasti orang hebat."
"Jangan berlebihan. Ibuku orang biasa."
"Bisa melahirkan gadis seperti kamu menurutku hebat." Tangan Relly terulur mengusap rambut Sherry." Karena ibumu, aku bisa menemukan gadis unik yang membuatku tertarik. Yaitu kamu, Sherry." Sherry jadi tersipu.
Gila! Dia bikin aku berdebar-debar.
"Gombal," gumam Sherry merona. Relly tersenyum.
"Iya, iya. Lalu bagaimana Ve? Bukankah dia jadi terancam, jika Gio sudah tahu keberadaannya? Waktu itu aku dan Daniel hampir terbunuh, Rel. Jadi ada kemungkinan bahwa Gio akan tetap membunuh Ve kedepannya. Karena wajah itu sudah tahu siapa Gio..."
"Tapi Gio bersikap biasa. Aku yang awalnya curiga sekarang jadi bingung. Jika Gio sudah tahu bahwa Ve pernah mengetahui rahasia itu, seharusnya dia segera membereskannya. Namun Gio justru bersikap seperti papa pada umumnya. Menerima tawaran papaku untuk merestui pertunangan Ve denganku. Karena papa takut aku akan masuk penjara dengan tuduhan penculikan dan penyekapan, papa melakukan itu."
"Jadi pertunanganmu karena itu?" Relly mulai buka suara soal pertunangannya. Sherry baru tahu itu bukan keinginan Relly.
"Ya. Papa melindungiku dari gugatan Gio. Dan ternyata berhasil. Gio menyetujui tawaran itu dan menarik kembali laporannya kepada pihak polisi untuk berhenti mencari putrinya. Aku selamat, papa juga selamat."
"Apa Gio tahu bahwa Ve adalah orang lain?" tanya Sherry sambil memegang dagunya berpikir.
"Tidak mungkin Sherry. Yang percaya itu hanyalah aku. Orang yang yakin bahwa Ve yang sekarang adalah orang yang berbeda saat kejadian itu mungkin hanya aku."
"Ya. Kamu memang spesial." Sherry menaikkan alisnya sambil sedikit mencebik. Sebuah rasa takjub yang kentara.
"Aku memang spesial bagi Sherry," ulang Relly dengan nada bercanda. Menahan senyum saat mengatakannya. Sherry melirik. Lalu geleng-geleng kepala. Relly tersenyum lagi. Hari ini Relly banyak tersenyum karena merasa bahagia dan lega menemukan gadis ini.
"Atau ada hal lain yang membuat Gio yakin dia akan aman meskipun tetap menerima Ve."
"Mungkin karena sikap Ve?"
"Sikap Ve? Apa itu?"
__ADS_1
"Ve, bersikap manja seperti biasa. Sorot matanya polos tidak ada kecurigaan apapun terhadap Gio saat pertama kali mengunjunginya di rumah sakit. Menurutku itu aneh. Sejak awal kita berdua curiga salah seorang dari perusahaan Gio adalah orang yang berniat mencelakai Ve. Apalagi ternyata kamu adalah saksi yang tahu kejadian sebenarnya, kemungkinan pertemuan itu akan membuat tubuh Ve takut melihat Gio. Namun Ve bersikap biasa."
Sherry mendengarkan.
"Mungkin bagi Gio, keadaan Ve yang seperti itu tidak memungkinkan dirinya terancam. Dia merasa aman, Ve tidak membicarakan atau menyinggung sekalipun soal kejadian kamu yang hampir di bunuh." Sherry menatap Relly lama.
"Hilang ingatan. Amnesia. Gio mungkin beranggapan Ve amnesia," tebak Sherry. "Mungkin dia tahu keadaan Ve dan mengira begitu."
"Ya. Mungkin saja. Kepala Ve memang di perban karena luka paling parah adalah kepalanya. Kamu terbentur sangat keras di atas aspal, Sherry ... " Tiba-tiba atmosfer menjadi sendu.
"Saat itu aku merasakan ketakutan yang sangat. Takut kamu meninggalkan aku. Takut kamu menghilang dan tidak bisa membuka mata lagi."
Kali ini raut wajah Relly begitu merasakan pedih. Lara di hatinya saat kecelakaan itu begitu tergambar jelas di sorot matanya saat ini. Sherry jadi tahu raut wajah yang tidak bisa di ingat itu.
Jadi Relly sesedih ini?
Sherry menyentuh pelipis cowok ini. "Aku sudah kembali Relly. Jadi kamu bisa tenang." Relly tesenyum getir.
"Ya. Aku menemukanmu. Jangan pergi dan menghilang lagi Sherry." Relly menoleh pada Sherry dengan tatapan memohon. Sherry mengangguk.
...----------------...
Karena langit sudah gelap, Relly mengajak pulang. Apalagi sudah berkali-kali telepon masuk mereka abaikan. Relly berulangkali di telepon Erick. Sementara Sherry di telepon Aska.
"Itu pasti seseorang yang penting," ujar Sherry saat melihat Relly melihat layar ponsel. Dia curiga itu dari Ve.
"Ya. Ini memang telepon penting, tapi bukan Ve. Ini Erick." Relly menunjukkan layar ponselnya ke arah Sherry. Ada 12 panggilan tidak terjawab dari Erick. Sherry terkejut Relly akan bersikap terbuka. Dia tahu, Sherry curiga itu dari Ve.
"Jangan menjebakku. Aku tidak akan bersembunyi darimu. Aku akan memberitahukan semuanya padamu," ucap Relly yakin.
"Baguslah." Sherry meneguk jusnya yang sudah tidak dingin lagi. Melihat layar ponsel dan memberitahu Aska bahwa dia baik-baik saja. Adik laki-lakinya itu memang tidak bertemu dengannya sama sekali sejak dia membolos. Relly sedang mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Setelah selesai, Relly mengajak pulang.
"Naik." Relly memberi perintah Sherry untuk naik motornya.
"Aku enggak bawa helm."
"Enggak apa-apa. Aku akan cari jalan aman."
"Kamu akan mengantarku sampai rumah?"
"Ya. Kenapa?" tanya Relly menyalakan mesin.
"Tidak." Sherry mengeraskan suaranya. Karena bising suara knalpot itu, mungkin saja Relly tidak dengar.
__ADS_1