
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Relly teringat lagi saat bertemu dengan Ve di taman tempat pesta tadi. Itu pertama kalinya mereka bertemu setelah berulang kali menghubungi gadis itu, tapi tidak mendapat respon.
"Akhirnya kamu muncul juga Ve," kata Relly saat menemukan Ve di kerumunan orang-orang yang menghadiri pesta kecil ini. Ve yang sedang mengambil minuman menoleh ke arah Relly.
"Relly? Aku harus muncul karena undangan papamu, Rel."
"Kenapa harus muncul sekarang?"
"Pertanyaan apa itu? Sudah kukatakan barusan, ini karena undangan keluargamu. Lagipula, sudah beberapa hari ini aku sakit. Kamu tahu itu. Terima kasih sudah menjengukku kemarin. Maaf aku tidak bisa menemui kalian."
"Jika ingin menghilang kenapa harus muncul di waktu yang tidak tepat ...," sesal Relly yang langsung bisa di baca Ve.
"Soal apa itu? Soal pertunangan kita?"
"Ya. Jika kamu bisa ..."
"Kalian berada di sini rupanya. Maaf Relly, pinjam Ve sejenak. Ada yang harus di benahi." Mama Relly muncul memotong kalimatnya. Tanpa menunggu Relly mengiyakan, mama sudah membawa Ve pergi. Gadis itu hanya bisa menurut tanpa penolakan sama sekali. Matanya hanya menatap iba saat melihat Relly. Cowok ini belum menuntaskan kalimatnya.
"Sepertinya mama sengaja menjauhkan Ve dariku. Jadi ... aku tetap tidak di perbolehkan mengakhiri ikatan ini?" gumam Relly sendiri.
Terlihat Welly dan Henry berbincang di dalam rumah. Duduk di atas sofa di ruang tamu. Sepertinya sebuah perbincangan serius. Relly tidak bisa mendengar. Namun, dia bisa membaca raut wajah mereka. Relly menghela napas. Untuk itu dia berniat menghubungi Sherry.
Setelah lama tidak di angkat, akhirnya telepon Sherry bisa tersambung.
"Ya, Relly," ujar Sherry di sana.
"Sherry!" seru Relly merasa senang bisa mendengar suara gadis ini. "Syukurlah kamu akhirnya menjawab. Kenapa sejak tadi kamu tidak menerima teleponku?"
"Maaf aku tidak mendengar suara ponselku berdering."
__ADS_1
"Kamu ada di mana?" tanya Relly.
"Emmm ... Aku masih ada di rumah."
"Kamu ... tidak datang ke pesta keluargaku, kan?" selidik Relly.
"Sebenarnya aku mau datang ke pesta keluargamu demi memenuhi undangan dan menghormati orangtuamu. Namun sepertinya aku tidak perlu kesana."
"Maaf, Sher. Aku senang jika kamu muncul di depanku, tapi kali ini aku berharap kamu tidak datang. Tidak perlu merasa tidak enak atau sebagainya pada orangtuaku. Kamu tidak perlu hadir. Biar aku yang akan mendatangimu. Pesta ini sangat tidak menyenangkan," cegah Relly dengan menggebu-gebu.
"Apa ... karena disana ada Ve dan keluarganya?" tanya Sherry seperti tahu. Relly menghela napas.
"Ya," sahut Relly seraya menahan kesal harus mengatakannya. "Namun bukan hanya itu. Masih banyak hal lain yang tidak menyenangkan disini."
"Bukannya ada Daniel dan Hansel di sana?"
"Ya. Mereka sudah muncul."
"Apa itu karena keluarga kalian berdua akan membicarakan sesuatu?" tanya Sherry lagi seperti sedang menyelidiki.
"Soal itu aku tidak tahu." Relly sendiri memang tidak tahu. Entah ada pembicaraan atau tidak, tapi dia melihat dua keluarga tengah membicarakan sesuatu di luar. Setelah yakin Sherry masih belum muncul di pestanya, Relly kembali ke kamarnya. Mencoba menghubungi Sherry.
"Sherry ..." lirih Relly. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya. Berdecih dan mengepalkan tangan dalam diam. Meninju udara karena sangat kesal. Kemudian dia kembali mendekatkan ponsel di telinganya.
"Jika kamu tidak membantah, berarti itu benar." Sherry terdengar menghela napas di sana.
"Bukan. Aku tidak tahu ada apa."
"Walaupun mungkin itu benar, aku tidak apa-apa, Relly. Tidak apa-apa," ujar Sherry membesarkan hatinya.
"Jangan bilang kamu tidak apa-apa saat aku sendiri kacau jika pemikiran soal pernikahan ini benar-benar di bicarakan orangtuaku, Sher. Aku tahu kamu pasti sakit hati. Aku juga sedang kacau dan ingin marah jika memikirkan itu," sergah Relly.
"Meskipun begitu, aku tetap harus menerima dengan terbuka keputusan itu, Rel. Keputusan orangtuamu adalah yang terpenting."
"Diam, Sherry. Aku mohon diamlah. Jangan berkata apa-apa lagi soal itu. Aku tidak mau. Tidak. Cukup kamu berpikir tetap menungguku di tempatmu. Tidak perlu kerumahku. Aku yang akan menemuimu."
"Jangan. Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Tapi Sherr ..."
"Selesaikan dulu pestanya, lalu kamu bisa menemui aku."
"Jika begitu, semua akan terlambat."
...----------------...
Sigi berjalan menghampiri kamar Relly. Sejak tadi cowok itu belum muncul lagi di area pesta. Padahal keluarganya dan keluarga Ve sudah berkumpul. Sepertinya Relly berniat tidak muncul di area pesta. Maka mama Relly menyuruh Sigi untuk memanggil cowok itu.
Tok! Tok! Sigi mengetuk pintu kamar sepupunya. Tidak ada jawaban dari dalam. Sigi kembali mengetuk pintu. Tok! Tok! Lagi-lagi di dalam sunyi.
"Kenapa kak Relly tidak menjawab?" Karena curiga Sigi mencoba membuka kenop pintu. Tidak di kunci.
"Kak Relly," panggil Sigi seraya melangkah masuk dengan perlahan. Kepala Sigi menjulur ke dalam kamar bak kura-kura. Di dalam kamar sepi. Tidak ada siapa-siapa. Kosong. "Kak Relly ..." Angin bertiup membuat Sigi mengerutkan kening. Ternyata itu berasal dari jendela kamar yang terbuka.
Sigi berlari mendekat ke arah jendela. Dia melihat di bawah ada sosok manusia tengah berlari. Relly kabur. Gadis ini segera berlari keluar kamar dan mencari tantenya. Saat di temukan mama Relly tengah berbincang dengan Julia, Sigi mendekat.
"Maaf mengganggu. Sebentar ya, Tante Julia. Sigi ada perlu sama tante. Penting," ujar Sigi menyela pembicaraan mereka berdua.
"Ya. Tidak apa-apa. Silakan berbincang." Julia mempersilakan mereka berbincang. Sigi setengah menyeret lengan tanntenya untuk menjauh dari sana.
"Ada apa Sigi?" tanya mama Relly heran dengan tingkah keponakannya.
"Kak Relly tidak ada di dalam kamarnya. Dia pergi. Aku melihatnya sedang berusaha keluar dari rumah lewat jalan beakang." Sigi berbisik dengan bola mata sesekali melebar.
"Relly, pergi?" tanya mama Relly terkejut. Sigi mengangguk.
"Iya Tante. Bagaimana soal rencana Om Welly yang Tante katakan itu?" tanya Sigi mengingatkan.
"Itu anaaakk ... Tidak sabaran sekali." Mama Relly terlihat geregetan. Namun sejurus kemudian beliau tersenyum. "Rupanya dia seserius itu. Dasar ... Aku harus segera menghentikannya sebelum semuanya menjadi kejadian besar. Apalagi ada keluarga Ve disini," ujar beliau bertekad. Sigi mengangguk.
...----------------...
Relly memang berniat pergi sejenak dari rumah. Dia punya firasat bakal ada pembicaraan baru, orangtuanya dengan tuan Henry selaku ayah biologis Ve. Dia merasa harus menemui Sherry. Sekarang.
"Kamu mau kemana Relly?" Suara bas yang menekan terdengar di belakang Relly. Cowok ini sempat terperanjat kaget. Bola mata Relly memejam kesal sambil tetap memunggungi lelaki di belakangnya. Dia ketahuan saat belum berhasil keluar dari rumah.
__ADS_1