
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Gio dan Julia sudah selesai lebih dulu. Tinggal Sherry berdua dengan Daniel yang misterius. Sherry menganggap misterius karena Elda tidak pernah cerita tentang cowok tinggi ini.
"Papa sebentar lagi keluar dulu dengan mama." Papa dan mama muncul dengan pakaian rapi. Rupanya mereka hendak keluar.
"Daniel, kau akan menginap bukan?"
"Iya."
"Baiklah. Ve, cepat tidur jangan tidur terlalu malam," ujar nyonya Julia.
"Iya." Sherry mengangguk. Menunjukkan dirinya patuh. Memangnya aku bisa tidur jam segini? ini sih masih sore.
"Daniel, baik-baiklah dengan Ve," ucap Ibu tiri. Di telinga Sherry itu seperti ini ... 'Habisi dia pelan-pelan.'
"Baik Ma."
Dia siapanya Ve? Sherry mendongak melihat pria itu. Bukannya Ver anak tunggal?
"Hai," sapanya meniru ucapan Sherry tadi.
"Heemmm," jawab Sherry singkat sambil mengangkat sendoknya bermaksud membalas sapaan.
"Itu gaya barumu dalam menyapa?" tanya pria itu merasa sedikit terkejut.
"Bisa di bilang seperti itu," sahut Sherry. Pria itu diam.
"Kamu begini karena percobaan bunuh dirimu gagal?" tanya Daniel yang membuat Sherry mampu berpaling dari piring makannya.
Deg! Sherry terkejut dengan perkataan cowok itu, tapi secepat itu Sherry bisa menguasai keadaan.
"Aku terkejut kamu tahu berita itu, tapi Papa seperti tidak mendengar berita apapun." Sherry asal bicara. Karena Papa datang, laki-laki ini juga datang. Apa mereka bersama?
Dia tergelak. Pria itu menertawakan apa yang di bicarakan Sherry.
__ADS_1
"Aku rasa papa tahu, hanya saja mungkin tidak mau membahasnya," ujar Daniel tenang.
Benarkah? Mana yang benar. Kalau memang tahu kenapa tidak muncul saat aku yang sebagai Ve terbaring lemah. Banyak hal mencurigakan dari lelaki ini.
"Aku selesai." Sherry berdiri dan pergi ke kamar meninggalkan Daniel sendiri. Dia tidak ingin berlama-lama. Di rasakannya pria itu masih memandanginya dari belakang.
Sherry langsung menyeret Elda yang melintas di depan kamarnya untuk masuk ke dalam kamar.
"Siapa pria bernama Daniel itu? Siapa?" todong Sherry langsung kepada Elda.
"Darimana kamu tahu nama itu?" Elda heran Sherry bisa semudah itu menyebut nama Daniel.
"Dia datang bersama Papa malam ini. Dan duduk di meja makan bareng sama kita."
"Ups. Sorry, sorry ... Aku tidak tahu kalau dia juga mampir ke sini. Dia adalah kakakmu. Kakak Ve." Elda memberitahu.
"Bukannya Ve anak tunggal?"
"Kakak tiri."
"Anak Nenek sihir itu?!" tanya Sherry syok. Elda mengangguk. Ini keajaiban. Pria bernama Daniel itu cakep, tapi ... mungkin masih wajar. Nyonya Julia juga cantik. Hanya saja mulutnya tidak pernah berbicara lembut yang mengurangi kecantikannya.
"Kamu tidak percaya karena dia tampan?" tebak Elda.
"Wakil direktur."
"Karena koneksi Nyonya Julia?"
"Iya, tapi sebelumnya dia memang seorang wakil direktur di perusahaannya sendiri. Perusahaannya bangkrut karena terkena kebakaran. Lalu mereka tinggal dalam perkampungan kumuh," bisik Elda seperti sedang membicarakan sebuah rahasia. Sherry yang bersila di atas tempat tidur mendengarkan secara seksama. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Elda terlihat khawatir. Sherry menggeleng heran. Mengapa bertanya seperti itu.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Entah kenapa Ve terlihat takut bila ada lelaki itu di hadapannya. Tubuhnya pasti gemetar dan bicaranya juga gagap bila di ajak ngobrol oleh Daniel."
Fakta baru lagi nih. Maka dari itu lelaki tadi terlihat terkejut dengan perubahan Ve yang terlihat baik-baik saja saat di ajak ngobrol. Apalagi Sherry sudah bersikap cuek dan dingin tadi.
"Kenapa? Ada apa?" Elda cemas melihat Sherry yang menghela nafas berat.
"Aku sudah bersikap tidak sopan tadi. Pasti dia berpikir Ve menjadi aneh. Tapi tak apalah ... " Elda memandang Sherry takjub. Seandainya ini benar Ver, Ibu tiri tidak akan berani sembarangan terhadapnya.
"Apa respon Daniel?" tanya Elda penasaran.
__ADS_1
"Yah ... seperti itulah." Sherry malas membahas.
"Benarkah malam ini dia menginap di sini?" tanya Elda memastikan.
"Yang aku dengar tadi seperti itu, dia akan menginap di sini." Sherry mengangguk.
"Hati-hati. Dia orang yang sulit. Kadang dia muncul sebagai orang baik, tapi juga kadang muncul sebagai orang jahat." Elda memberi peringatan.
Trek! Ada suara mencurigakan dari balik pintu. Sherry dan Elda menoleh cepat ke arah pintu.
"Ada seseorang," bisik Elda.
"Sstt ...." Sherry meletakkan telunjuknya ke depan bibirnya. Menyuruh Elda diam. Sherry berjalan berjingkat menuju pintu kamar. Dan menempelkan telinga di pintu. Berusaha mendengarkan sesuatu yang ada di balik pintu. Elda dengan cemas memperhatikan Sherry.
Cklek!
Sherry membuka pintu kamar dengan cepat. Maksudnya supaya orang yang ada di balik pintu tertangkap basah. Namun saat membuka pintu tidak ada orang di sana. Sherry celingukan ke kanan dan kiri, tapi di lorong sepi.
Sherry menutup pintu kembali karena merasa tidak menemukan siapa-siapa.
"Siapa?" tanya Elda tegang.
"Tidak ada siapa-siapa. Apa aku salah dengar? Atau orang itu sangat lihai bersembunyi dengan cepat?" Sherry berpikir dan mendekati Elda. Rebahan dengan tangan di belakang kepala sebagai bantal. Memandang langit-langit kamar yang indah. "Dengan sifat Vermouth yang baik hati, kenapa ada orang yang mau mencelakai dia? Bukankah itu aneh?" tanya Sherry.
"Benar. Aku juga tidak percaya saat kamu bilang itu bukan usaha bunuh diri tetapi kecelakaan. Karena aku merasa dia tidak punya masalah dengan orang lain." Elda juga berpikir.
"Tapi...sepertinya di sekolah, dia memang sedang dalam masalah." Mendengar ini Elda langsung mendekat ke Sherry.
"Masalah apa?"
"Walaupun Vermouth orang baik. Dia sepertinya punya banyak musuh tanpa di sadarinya."
"Musuh?" Elda terkesiap. Sherry melirik Elda heran.
"Kau tidak tahu? Vermouth tidak pernah cerita?" Elda menggeleng.
"Walaupun aku adalah pelayan yang khusus melayaninya tapi dia tidak pernah bercerita soal kehidupan sekolahnya. Vermouth itu cukup tertutup. Dia hanya terlihat sedih saat dimarahi nenek sihir."
Sepertinya Vermouth lebih terbuka kepada buku diarynya daripada orang-orang ini. Semua hal yang di alaminya dia curahkan ke buku diary. Mungkin tidak semua. Tapi hampir semua. Itu berarti dia hanya menunjukkan sikap baik baik saja kepada semua penghuni rumah. Mungkin hanya soal ibu tiri yang di ketahui penghuni rumah. Karena itu memang sudah terlihat di depan mata. Selebihnya dia pendam sendiri.
Berarti yang bisa mengungkap diri Ve adalah aku Sherry. Jiwa lain yang tak sengaja singgah di tubuhnya. Hh ... tugasku sepertinya berat. Bukan hanya jadi nona kaya yang bergelimang harta. Ve ternyata hidupmu tidak seindah wajah dan hartamu.
__ADS_1