Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Tertunda


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


"Cepatlah keluar! Kau tidak mendengar apa yang ku katakan, hah?!!" teriak anak buah Gio tidak sabar.


Elda terperanjat kaget. "B-baik." Rupanya mereka bukan mengejar Elda karena dirinya mencurigakan, tetapi bermaksud membawa titah baru dari bos mereka.


Sepertinya Elda tertidur lama atau bahkan pingsan karena matahari sudah terik. Pikiran Elda terganggu oleh banyak hal.


Elda keluar dengan tetap di awasi orang itu. Di dapur, semuanya sudah siap memasak makanan. Bola mata Elda terpana saat melihat kedua orang tadi. Nyonya Julia dan Ve. Mereka ternyata juga masih hidup.


Meski ingin memeluk mereka, Elda menahan diri. Karena anak buah Gio selalu memperhatikan.


"Aku senang melihat nona," bisik Elda yang ikut bergabung bersama mereka. Elda mendekat dan ikut berkecimpung dalam membantu menyiapkan masakan.


"Aku juga," jawab Ve sama pelannya dengan Elda. Tidak ada Bu Sarah, Ijah dan Lola. Elda merinding di tengkuknya. Apakah mereka sudah di habisi oleh Gio?


"Mereka masih hidup. Tugas mereka berbeda dari kita," ujar nyonya Julia yang mengerti kecemasan Elda.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Elda.


"Ya. Kita harus kuat dan bertahan bagaimanapun caranya." Nyonya Julia bertekad. Anak buah Gio melihat itu.


"Kenapa kalian berbisik-bisik?!" Elda dan Ve terkejut. Berbeda dengan Julia. Dengan lantang wanita ini menjawab bentakan penjaga.


"Kita sedang berunding soal makanan yang akan di buat. Tidak mungkin kita hanya menutup mulut tanpa membicarakannya. Masakan tidak akan jadi," sahut Julia dengan tegas.


"Jangan membicarakan hal lain! Selesaikan makanan dengan cepat. Sore nanti tamu tuan akan datang!"


"Baik." Julia menunduk. Berpura-pura patuh.


"Untuk siapa semua makanan ini? Siapa tamu yang di maksud penjaga?" tanya Elda. Ve menggeleng. Entah siapa yang datang.

__ADS_1


"Siapapun itu, dia sudah membuat kita selamat tidak di habisi pagi ini. Dia membuat Gio menyuruh kita bermacam-macam pekerjaan hingga Gio harus berpikir ulang untuk menghabisi kita," kata Julia. Mereka melakukan komunikasi masih dengan suara samar dan pelan. Yang kemungkinan hanya mereka bertiga yang bisa mendengarnya.


...****************...


Pagi tadi sebelum semua sibuk di dapur, Gio sudah ingin membunuh Julia dengan pistol yang memakai peredam, tapi ... sesaat sebelum peluru berhasil melukai kepala Julia, ponsel Gio berdering. Kedua alis Gio terangkat. Ada sebuah nama pada kontak yang membuatnya heran. Gio segera menerima panggilan itu.


"Baik, baik. Aku akan persiapkan perjamuan makan untukmu." Gio tersenyum saat berbincang di ponsel. Kemudian menatap Julia dan Ve lurus. Perbincangan di ponsel yang agak lama membuat semua aling bertanya-tanya. Berbicara dengan siapa Gio sekarang?


Gio menarik pistol dari kepala Julia dan mengetuk meja dengan jari-jarinya. "Lepaskan mereka," perintah Gio pada anak buahnya tiba-tiba.


"Lepaskan, Bos?" tanya anak buah Gio heran. Terdengar sangat plin plan memang.


"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan barusan, hah?!" teriak Gio marah.


"I, iya bos."


"Kalian aman saat ini. Dia ingin bertamu ke rumah kita. Jadi sementara kita harus menjadi sebuah keluarga. Aku tidak ingin membuat dia curiga."


Napas Julia yang tertahan karena berusaha siap mati kini menghembus lega. Meskipun setiap saat pistol itu akan kembali pada pelipisnya, setidaknya saat ini Gio urung membunuhnya.


"Mama ..."


"Tidak apa-apa, Ve. Tidak apa-apa. Kita bisa bernapas lega meski sebentar." Ve terus saja menangis sambil memeluk ibu tirinya. Julia mengelus lembut rambut putrinya.


Siapa yang akan datang berkunjung? Siapa yang mampu membuat Gio menghentikan niatnya untuk membunuhku dan Ve?


...****************...


Setelah membicarakan dengan Sherry apa yang terjadi pada keluarga Ve, Relly langsung menemui ayahnya yang ternyata masih di dalam ruang kerja malam itu. Hari ini beliau sedang mengerjakan sesuatu di sana sendirian.


Saat mendengar pintu di ketuk pelan, Welly tidak mendongak. Namun saat langkah pelan dan terkesan ragu itu masuk, Welly mengangkat kepala dan menatap putranya yang berdiri di depan pintu.


"Ada perlu apa kamu ke ruang kerja papa?" tanya Welly.

__ADS_1


"Aku ingin meminta sesuatu pada papa."


"Permintaan yang terakhir kamu ucapkan, telah kamu ingkari sendiri setelah aku mengabulkannya. Kali ini apa?" Welly pasti membahas soal pertunangan itu. Beliau menghentikan gerakan tangannya pada pekerjaannya. Terlihat di wajah Welly bahwa dia geram dengan tingkah Relly.


"Maaf untuk itu, Pa." Relly menganggukkan kepala merasa bersalah.


Tangan Welly bersidekap. Menatap putranya dalam-dalam. Welly merasa Relly semakin berubah. Pemuda yang terkesan menjauhi masalah ini, kini seringkali terlibat sesuatu yang menyebabkan masalah. Welly juga nampak berpikir ada apa dengan putranya?


"Bicaralah ..." Walaupun ingin marah, Welly meminta Relly untuk mengatakan apa keinginan putranya. Melihat sikap Relly yang memaksa masuk meski ini sudah larut, menunjukkan bahwa pemuda ini ingin mengatakan sesuatu.


"Bisakah ayah menelepon orangtua Ve untuk melakukan perjamuan makan atau semacamnya?"


"Maksudmu?" Bola mata Welly memicing. Dia tidak paham.


"Kita tidak pernah mendatangi keluarga Ve di rumahnya, sebaiknya kita juga bekunjung kesana sesekali." Relly menambahkan.


"Berkunjung? Kenapa tiba-tiba melakukan itu?" tanya Welly heran.


"Untuk membuat keadaan lebih baik." Mendapat jawaban ini Welly menaikkan alisnya terkejut.


Tentu saja permintaan Relly mengherankan. Beberapa waktu yang lalu, dia meminta membatalkan pertunangan, sekarang justru ingin mengadakan pertemuan. Jika memang ingin lepas dari tali pertunangan, bukankah sebaiknya menjauhi. Bukan semakin mempererat hubungan.


"Papa heran. Papa sungguh tidak mengerti dan tidak paham. Sebenarnya ada apa dengan otakmu belakangan ini. Apa yang sedang kamu lakukan?" Relly diam tidak menjawab. Semua yang di lakukannya memang terasa aneh. "Namun itu lebih baik untuk membuat hubungan kalian semakin baik. Baiklah. Papa akan berkunjung ke rumah Gio besok."


"Bisakah malam ini membuat perjanjian, papa?" tanya Relly terdengar memaksa. Welly yang sudah akan mengerjakan pekerjaan lagi, kini mendongak.


"Aku tidak tahu kamu begitu ingin kesana padahal kamu terlihat tidak berminat saat papa membahas putri Gio." Relly diam. Dia melakukannya demi keselamatan mereka. Saat ini Gio bisa saja langsung membunuh mereka. Dan Relly terlambat menyelamatkannya. "Katakan pada papa, apa tujuanmu sebenarnya? Papa yakin ada sesuatu di balik semua permintaanmu itu." Welly lagi-lagi bersidekap. Kali ini wajahnya lebih serius.


"Apa papa benar ingin mendengar semua alasan di balik permintaanku?" tanya Relly seakan mendapat jalan terbuka untuk mengatakan semuanya.


"Ya. Karena kamu anakku, aku yakin kamu melalukan banyak hal aneh belakangan ini karena suatu hal. Kamu pasti punya alasan. Jika memang itu suatu masalah serius, katakanlah. Kamu bisa cerita semua yang terjadi hingga papa paham ada apa denganmu." Melihat kesungguhan papa yang terpancar jelas dari wajahnya, Relly mengambil napas panjang. Ada perasaan senang yang membuncah. Ini artinya dia akan membeberkan semua hal aneh yang sudah terjadi.


"Ceritaku mungkin terdengar tidak masuk akal bagi papa, tapi aku mohon ... Papa harus yakin bahwa tidak mungkin aku membual dan membohongi papa. Aku sedang mengatakan hal yang sebenarnya meski terdengar mustahil." Relly sedikit membuat perjanjian. "Berjanjilah papa akan terus mendengarkan ceritaku meski janggal hingga usai. Karena ini penting," kata Relly dengan raut wajah bersungguh-sungguh.

__ADS_1



__ADS_2