
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Ada apa dengan pipimu?" tanya Sherry yang menemukan jejak kemerahan pada pipi cowok ini. Cih. Lalu lagi-lagi berdecih dalam hati karena menanyakan hal tidak perlu. Hampir-hampir saja tangannya terulur menyentuh pipi itu. Sherry mengepalkan tangannya di bawah meja karena akhirnya bisa mencegah dirinya sendiri akan menyentuh pipi Relly.
"Hanya karena kelelahan saja."
Tidak masuk akal. Aku tahu itu bekas tamparan. Siapa yang berani menamparmu? Papamu? Ada apa? Sherry menipiskan bibir mendengar alasan Relly.
Cowok ini tetap melahap makanannya. Sherry memperhatikan. Tak sengaja matanya beredar mengitari ruang cafe tempat mereka disini. Dia baru tersadar bahwa ini adalah tempat yang pernah di datangi olehnya dan Relly. Saat jiwanya masih berada dalam tubuh Ve. Bola mata Sherry langsung menggeser pandangan ke arah cowok di depannya. Memandanginya dengan mata sedikit menyipit. Lebih lama dari tadi.
Apa dia sadar bahwa aku adalah Sherry yang sebenarnya? Maka dari itu dia mengajakku kesini? Heh ... itu sangat mustahil. Bagaimana bisa?
Sherry membuang pikirannya barusan. Dia tidak tahu. Walaupun tampak menikmati makanannya, Relly tengah memenuhi benaknya dengan pikiran lain. Bukan soal makanan di depan matanya.
Sherry maaf. Aku merasa ada yang salah. Rasa lelah dan sesakku terasa longgar dan hilang saat berbincang dengannya. Aku merasa bersalah, padamu. Aku yang selalu menunggumu bangun dari keadaan koma, kali ini justru menghindarimu. Maaf.
...----------------...
...----------------...
Pagi hari saat Relly berangkat ke sekolah, mama Relly mendatangi rumah sakit. Beliau ingin menemui gadis yang membuat Relly nekat melakukan hal sembrono.
Vermouth terkejut melihat kedatangan perempuan berparas tegas itu. Dia tidak menduga akan di datangi dua orang penting bagi Relly ini.
"Aku tahu kamu putri Gio Santana. Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu." Mama Relly duduk di samping ranjang. Berbicara dengan nada lembut tanpa bermaksud memperindah kalimatnya.
"Maaf, tante. Aku menjadi penyebab Relly dimarahi papanya." Ve menunduk merasa bersalah. Dia memang tidak tahu kenapa Relly menyembunyikannya disini, tapi dia tahu bahwa Relly di tampar papanya karena perkara dirinya.
"Tidak apa-apa. Relly memang perlu di beritahu bahwa tindakannya keliru. Aku sudah mendengar dari Erick, bahwa kalian harus meresmikan hubungan dengan sebuah ikatan pertunangan." Ve mengangguk. "Segeralah sembuh. Hingga kalian bisa segera melangsungkan pesta pertunangan."
"Iya, tante."
Erick datang dengan raut wajah terkesiap. Dia tidak menduga nyonya besar datang kesini tanpa tuan besar atau Relly sendiri. Melihat orang-orang di luar, dia mengira tuan besar ke sini lagi ternyata bukan.
"Selamat pagi nyonya."
"Pagi Erick. Jaga Relly lebih baik lagi. Dia putraku satu-satunya," ujar nyonya besar dengan suara lembut tapi tegas.
"Baik nyonya."
"Aku pergi. Jangan lupa selalu ingatkan dia makan. Apapun keadaan hatinya. Mungkin dia lebih terbuka kepadamu yang selalu mengikutinya." Erick mengangguk.
Selepas kepergian mama Relly, Erick segera menghubungi ponsel Relly. Namun, Relly tidak menerima panggilan ponselnya.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu di sekolah.
Saat ini jam pelajaran olah raga. Sherry berlari mengelilingi lapangan sepakbola. Berusaha menjadi tiga besar. Dia salah. Kali ini ada Relly, cowok ini juga jago lari cepat. Hingga akhirnya Sherry kalah karena Relly mendahuluinya.
Sorak-sorai cewek-cewek memekakkan telinga. Mereka mendukung performa Relly yang bagus.
Pengkhianat banget sih. Yang asli murid sekolah ini siapa? gerutu Sherry melihat tingkah mereka.
"Berambisi banget ingin menang, Sher," tegur Hanin yang mendekati Sherry. Gadis teman Ve ini baik-baik. Mereka membawakan Sherry minum tanpa di minta.
"Kan ingin dapat nilai bagus," kilah Sherry.
"Benarkah? Belakangan kamu enggak gitu deh."
Itu Ve bukan aku. Gadis itu sih enggak peduli sama kegiatan fisik seperti ini.
"Sekarang beda. Aku selalu ingin menang jika itu lari dan basket."
"Ingin saingan sama Relly, yah?" ledek Yura.
"Bukan."
"Kapan hari Relly sengaja nungguin kamu di area parkir."
"Iseng."
"Wahh ... isengnya manis ya." Yura masih mencoba menggoda Sherry. Relly sendiri, seusai mendapat nilai sempurna sedang menghindar sehalus mungkin saat di kerubuti cewek-cewek.
Merasa di lihat, Relly noleh. Mata Sherry mengerjap.
"Lihat siapa, Sher?" tegur Hanin.
"Enggak." Sherry memindah arah pandangnya ke arah lain.
"Relly, yah," tebak Yura benar. Sherry tidak menanggapi. Sementara Relly masih tetap melihat. Sherry sengaja melihat ke arah Relly lagi. Rupanya itu cowok masih belum berpaling. Matanya mengerjap mengetahui kalau Relly tetap memperhatikannya. Bahkan tidak membuang muka saat Sherry melihatnya. Ini membuat gadis ini harus mengalah dengan membuang muka terlebih dulu.
Sialan. Kenapa dia seperti itu? Bikin gerah saja.
"Panas ya Sher, udaranya?" tanya Hanin.
"Ya. Panas. Apalagi habis lari." Sherry mengibas-ngibaskan tangannya mencari hembusan udara dari tangannya.
"Dia kadang mirip Vermouth pas lagi semangat," komentar Frans yang tiba-tiba berkata demikian. Mungkin dia tahu Relly sedang melihat ke gadis itu. Relly melirik. "Belakangan, sebelum gadis itu di kabarkan menghilang oleh keluarganya, Ve tampak begitu berbeda. Sangat bersemangat. Seperti dia. Apa kamu sudah menemukan gadismu itu?"
Benar kata Erick. Gio mengumumkan putrinya yang hilang. "Belum," jawab Relly berbohong.
"Kamu pasti merindukannya." Frans menepuk pundak Relly pelan. Bermaksud menguatkan.
...----------------...
__ADS_1
Saat usai jam olah raga, Relly menemukan 10 panggilan tak terjawab dari Erick. Ini berarti gawat. Relly yang sedang ganti baju menjauh dari gerombolan cowok-cowok dengan tujuan yang sama itu.
"Ada apa?
"Nyonya besar mengunjungi gadismu dirumah sakit."
"Mama?"
"Ya."
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Aku tidak sempat mendengarkan. Aku datang nyonya besar sudah mau pergi. Beliau berpesan untuk menjagamu baik-baik. Juga ... jangan lupa makan, begitu pesannya." Walaupun sudah remaja, Relly tetap terlihat bocah di mata mamanya.
Makan ya. Relly teringat saat makan malam di temani oleh gadis yang menjadi teman sekelasnya saat ini. Terasa damai dengan orang asing. Itu aneh.
"Hmm ..." Terdengar gumaman tidak jelas. Relly menoleh merasa terusik. Beberapa cewek berdiri tidak jauh dari dirinya. Tersenyum penuh arti yang membuat Relly risih. Ada juga yang berbisik sambil tersenyum setelah melihat Relly.
Sherry yang melintas bersama Yura dan Hanin terkejut. Mereka juga akan ganti seragam. Tubuh mereka masih mengenakan kaos olahraga.
Ketika itu mata Sherry membulat. Membelalak tidak percaya. Yura dan Hanin juga demikian, tapi mereka hanya diam tidak melakukan apa. Berbeda dengan Sherry yang langsung melempar seragam yang akan di pakainya dan mendekati Relly.
Relly terkejut. Meski tidak mengenai wajahnya, cowok ini terperangah kaget. Sherry berdiri tepat di depan Relly.
"Apa yang kalian lihat? Cepat bubar!" suara lantang Sherry menggema. Relly melihat gadis ini dari belakang dengan heran. Para gadis yang melihat tadi mengkerucutkan bibir sambil berlalu dari sana. "Kamu juga, kenapa setengah telanjang seperti itu disini?" desis Sherry masih memunggungi Relly.
Setengah telanjang? Relly menunduk. Lalu mendapati dadanya polos tanpa apa-apa. Jika tubuhnya kurus kering tidak terawat hanya akan menjadi bahan tertawaan, tapi tubuh Relly berbeda. Tubuh cowok ini tegap. Tidak terlalu berotot tapi begitu menggiurkan jika di pajang seperti tadi.
Bodoh! Aku lupa belum pakai kaos karena terkejut ada panggilan telepon dari Erick. Panggilan yang aku pikir gawat darurat.
Tangan Relly meraih seragam yang di lempar Sherry barusan. Lalu menyodorkan ke Sherry dengan tubuh gadis itu masih membelakanginya. Sherry melirik ke arah seragam yang di sodorkan melewati bahunya.
"Seragammu. Terima kasih sudah menolongku," ujar Relly di belakangnya. Terasa berbicara di dekat telinga yang membuat Sherry menahan napas sejenak.
"Ya," sahut Sherry meraih seragam itu tanpa menoleh ke belakang. Dadanya berdegup kencang.
...----------------...
Gio, papa Vermouth sangat terkejut saat pemilik rumah sakit terbesar itu melayangkan undangan. Ada apa gerangan? Gio menerka-nerka sendiri ada urusan apa pria itu mengundangnya dalam makan malam yang mewah. Untuknya dan Julia istrinya.
"Maaf atas undanganku yang mendadak Gio," ujar Welly papa Relly.
"Ah, ya tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih atas undangan makan malamnya. Aku merasa tersanjung." Gio tersenyum. Julia juga tersenyum mengikuti suaminya. Mama Relly dengan cemas yang di sembunyikan menemani suaminya.
"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf."
"Soal apa?" tanya Gio penasaran. Julia yang menemani hanya banyak menunduk dan sesekali mendengarkan.
"Putraku. Relly. Ternyata putrimu sedang bersama putraku."
__ADS_1
"Putriku bersama putramu?" tanya Gio terkejut. Julia kali ini benar-benar menyimak.