
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Tidak. Ini perkara yang melibatkan kalian berdua. Papa harus mengambil keputusan untuk kalian berdua."
"Jika papa akan memberikan hukuman, cukup aku yang di hukum. Jangan mengganggu Sherry atau memata-matainya lagi. Aku tidak terima."
"Papa wajib melakukan itu."
"Tidak! Papa tidak berhak melakukan itu. Tindakan papa akan membuat Sherry merasa tidak nyaman."
"Lalu bagaimana cara papa berbuat baik pada Sherry?" tanya Welly langsung membuat Relly bungkam. Sejurus dia terdiam. Menatap pria paruh baya yang menjadi orangtuanya itu dengan tatapan bingung.
Berbuat baik? Apa telingaku sudah tidak bisa mendengar dengan baik karena rasa tegang yang sudah menggerogotiku sejak tadi? Sherry yang menunduk sejak tadi berpikir.
"Apa maksud papa? Apa papa salah bicara?" tanya Relly tanpa basa-basi. Mama melirik ke arah suaminya. Dia menunggu respon selanjutnya.
"Mungkin," jawab Welly meragukan.
"Berhenti bermain-main suamiku. Sekarang adalah waktunya." Kini mana mengambil alih bicara dengan tegas. Dia rasa "Katakan saja. Jangan berlarut-larut. Semua akan berubah tidak menyenangkan jika terus saja berputar-putar." Mendengar mamanya bicara Relly mengerutkan kening tidak mengerti.
"Baiklah. Dengarkan Relly, papa akan membicarakan soal pertunanganmu dan Ve." Kalimat papanya langsung membuat Relly mendesah lelah. Lagi? Pembahasan basi itu lagi?
Telingaku masih bisa mendengar dengan baik. Kalimat papa Relly memang di sebabkan karena salah bicara. Hhh ... apa yang aku harapkan. Bodoh! rutuk Sherry di dalam hati.
"Tunangan? Bukankah aku dan Ve sudah bertunangan?" tanya Relly heran. Ini sungguh aneh. Jika ikatan pertunangan sudah ada kenapa harus di bahas lagi?
"Ya. Memang kalian sudah bertunangan waktu itu." Papa mengangguk.
"Lalu kenapa sekarang masih harus di bahas lagi, Ma?" tanya Relly gusar. "Aku sudah katakan aku ingin memutus ikatan itu dan memilih Sherry. Gadis ini!"
"Ini bukan pertunangan antara kamu dan Ve, Rell ..." Mama memberi pengertian.
"Lalu apa, Ma?" desak Relly tidak sabar.
"Ini soal pertunangan kamu dengan Sherry." Mendengar nama Sherry di sebut, dua anak manusia ini mendongak secara bersamaan.
__ADS_1
"Sherry mama bilang?" tanya Relly tidak yakin.
"Iya. Kamu dan Sherry yang akan bertunangan."
"Maksudnya?" Relly mendadak linglung. Kalimat sesederhana itu tidak bisa di cerna dengan baik olehnya.
"Papa mau membicarakan masalah pertunangan kalian berdua. Kamu dan sherry."
"Jadi ... Jadi ... papa menyetujuinya?" tanya Relly dengan terbata. Sherry yang duduk di samping Relly juga terpana mendengar kata-kata Welly.
Bola mata Sherry mengerjap bingung.
Ini prank? Ini lelucon begitu? Jika begitu, jangan salahkan aku jika hatiku berdebar karena senang. Biarkan aku menikmati kesenangan bermimpi sekejap. Mungkin hanya beberapa menit. Atau bahkan beberapa detik. Meskipun sebentar lagi kenyataan akan kembali, biarkan aku bahagia, racau Sherry dalam hati.
Mereka berdua menanti kelanjutan dari percakapan menggembirakan ini.
"Ya. Sesuai dengan janji papa kepadamu. Jika kamu berhasil mengungkap kasus Gio, papa akan mengabulkan permintaanmu." Akhirnya Welly menghentikan sandiwaranya.
"Lalu? Lalu bagaimana dengan Ve? Bukankah papa bilang jika memutus ikatan ini, gadis itu akan terluka?" tanya Relly mengutip kalimat papanya dulu.
"Aku tidak terluka sama sekali, Rel. Meski kamu memutuskan ikatan pertunangan ini, aku tidak sakit hati," sela Ve menanggapi perkataan Relly. Gadis itu belum pulang. Dia muncul bersama Sigi.
"Dia sudah memberitahu kepada kami bahwa dia ingin memutus ikatan kalian." Mama menjelaskan. Ve mengangguk. "Mama panggil Ve untuk meyakinkanmu bahwa memang ikatan pertunangan kalian sudah tidak ada." Mama tersenyum pada gadis itu.
"Aku melakukan itu bukan karena terpaksa. Tidak. Aku melakukannya dengan sukarela. Karena aku sadar bahwa tempatku bukan di sana." Ve menunjuk Sherry dengan pandangan matanya.
"Ve ...," ucap Sherry lirih. Kini dia benar-benar mengambil tempat Ve.
"Ve memutuskan ikatan kalian bukan barusan, tetapi sudah lama. Sejak insiden Gio itu." Mama melanjutkan. Mendengar ini Relly langsung melihat ke papanya dengan cepat.
"Jadi papa dan mama membuat sandiwara dengan berpura-pura menolak proposal cintaku? Sementara di belakangku kalian semua menertawakanku yang frustasi karena itu semua?" Semuanya tersenyum kaku. Lebih tepatnya meringis. "Kalian semua memang keterlaluan!"
"Ini semua ide papamu, Rel ..." ujar mama menunjuk suaminya.
"Iya. Ini ide om Welly. Aku hanya ikut," ujar Sigi ikut menunjuk ke arah om-nya. Melihat ekspresi marah Relly, mereka semua membuka mulut.
"Dan kamu tahu, Ve?" tanya Relly lagi.
"Awalnya tidak. Namun kemudian aku paham. Maaf, Rel."
Mereka tidak mau di salahkan. Pria paruh baya ini jadi tersangka kasus penipuan. Yaitu menipu putra mereka sendiri. Merekayasa kejadian yang sesungguhnya. Dimana sebenarnya keluarga Ve sudah memutuskan ikatan pertunangan sudah sejak kasus soal Gio palsu selesai. Itu atas permintaan dari Ve sendiri. Namun Welly ingin memberi sedikit ujian. Apa bocah tampannya masih punya tekad kuat untuk memperkenalkan Sherry sebagai calon tunangannya selanjutnya atau tidak.
__ADS_1
"Jadi papa adalah dalang dari sandiwara bodoh ini? Juga penyebab aku yang menjadi kacau balau membayangkan akan menyakiti Sherry karena kalian tidak mengabulkan permintaanku memutus pertunangan dengan Ve?" tanya Relly geram.
"Sesekali lelaki perlu ujian putraku," ujar Welly tenang.
"Aarggghh!" teriak Relly marah.
"Rell ..." lirih Sherry berusaha menenangkan. Semuanya menegang. Bocah dengan tubuh tegap itu marah. Tiba-tiba Relly beranjak berdiri. Tangan Relly mengepal. Lalu mendekati Welly dengan mata tajam. Erick bersiap menghalangi Relly jika pemuda itu kalap. Bagaimanapun baginya prioritas sekarang adalah tuan besar.
"Minggir Erick!"
"Jangan Relly!" teriak mama mencegah hal yang menakutkan. Sigi gemetar. Ve dan Sherry ikut tegang.
"Terima kasih, Pa." Relly mendekat bukan akan menghajar papanya. Dia mendatangi Welly untuk memeluknya erat. Sherry tadi hendak maju meraih lengan Relly untuk mencegah, tapi mendadak dia urungkan niatnya. Dia sadar Relly bukan cowok yang akan melakukan hal seperti itu. Dia cowok baik.
Welly tersenyum seraya menerima pelukan putranya yang bertubuh lebih tinggi darinya.
"Walaupun menyebalkan, Relly sangat berterima kasih," ujar Relly masih dalam pelukan.
"Ya, ya ... Putraku patut mendapatkan apa yang di inginkannya." Welly menepuk-nepuk punggung putranya. Mama Relly dan Sigi menghela napas lega. Mereka tidak jadi melihat kejadian yang menakutkan.
"Kalian berpikir aku akan menghajar papa?" tanya Relly memandang semua orang yang berwajah lega di sana. "Itu tidak mungkin."
"Tidaakk ..." Mama tersipu sempat berpikiran buruk tentang putranya. Sigi juga senyum-senyum ketangkap basah. Sherry menghela napas melihat mereka.
Takdirku berubah. Ini kembali sesuai dengan inginku. Terima kasih Relly, tetap berjuang untukku. Terima kasih sudah menemukanku di saat aku terjebak dalam cangkang orang lain. Kamu tetap memperlakukanku dengan baik, bukan karena tubuh milik Ve, tetapi karena aku adalah Sherry.
Dongeng tentang gadis biasa yang di cintai oleh pemuda kaya raya usai.
Sedikit berkhayal dan memimpikan tentang suatu hal yang mustahil kadang tidak apa-apa. Mungkin dari sanalah awal dari sebuah kebetulan yang menyenangkan. Meski terseok-seok karena terjatuh dalam dongeng yang aneh, akhirnya itu akan menjadi takdir mengejutkan yang membuat hati bahagia.
Berkhayal dan bermimpilah sebagus mungkin. Selama tidak secara sengaja ingin menjatuhkan orang lain, kamu akan menemukan bahagia seperti mimpimu.
...T A M A T...
...Terima kasih untuk semuanya yang masih mau membaca cerita ini hingga sekarang. Meski berulangkali dan lama tidak update bab baru, kalian semua tetap berkenan memberi like dan komen. Sekali lagi terima kasih. Beribu maaf atas kekurangannya....
...L a d y V e r m o u t h...
...❤❤...
__ADS_1