
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Semua mata memandang dengan bola mata mereka yang melebar ke arahnya. Ke arah seorang gadis yang berjalan sendirian. Saat mata memandang, mulut mereka bergumam. Ada apa dengan dia? Ada apa dengannya? Semua yang di lewatinya tak berhenti untuk bertanya. Menanyakan hal yang sama seperti seseorang yang pertama kali menemukan wacana pemandangan yang terlihat berbeda dari biasanya.
Dia, gadis dengan rambutnya yang rusak karena guntingan yang kasar dan asal. Rambut itu di biarkan terurai yang membuatnya terlihat semakin jelas kalau rambut itu punya bentuk yang sangat tidak masuk akal. Rambut panjang aneh itu jadi terasa asing bila di pasangkan dengan wajah cantik di sana.
Ya, saat ini Sherry yang berada dalam tubuh Vw sedang berjalan kembali ke kelasnya. Berjalan dengan rambut yang kadang bergoyang di terpa angin yang melintas. Selain rambutnya, seragam sekolahnya yang kusut dan kotor sangat mencolok untuk dilihat. Seorang gadis cantik yang biasanya tertunduk malu saat melewati koridor kelas, kini berjalan dengan kepala tegak dan juga dengan berbagai kejanggalan yang ada pada tubuhnya. Rambut berpotongan aneh dan baju kotornya jadi bahan kasak kusuk yang apik untuk di perbincangkan saat ini.
Saat sudah sampai di depan pintu kelas dan masuk, semua juga tidak berhenti memandangnya. Pekikan kecil yang terhenyak kaget terdengar spontan dari bibir para murid perempuan di dalam kelas. Mereka semua tak bisa menahan kaget melihat penampilan kusut pemilik wajah cantik, Vermouth.
"Kamu kenapa, Ve?" tanya Frans yang langsung berdiri dengan terkejut hendak mendekati Sherry yang berjalan menuju bangkunya. Mendengar pertanyaan Frans, Sherry hanya senyum.
Relly yang sedang duduk di bangkunya juga melihat dengan terkejut. Setelah sekian lama mereka mengenal gadis ini, baru kali ini mereka melihat tampilan 'gila' seorang Ve. Mata Relly mengikuti langkah gadis itu sampai tepat berdiri di sebelahnya.
Allen yang duduk di bangku depannya ikut menoleh ke belakang melihat keadaan gadis pendiam dan pemalu ini.
Sherry mulai duduk di bangkunya.
__ADS_1
"Jangan hanya tersenyum Ve. Gaya rambut itu sungguh tidak masuk akal. Tidak mungkin kamu sengaja memotongnya seperti itu," kata Frans yang tadi memutar dari bangku sebelah Relly menuju ke bangku Sherry.
Memang tidak masuk akal. Meskipun Sherry lebih gila dari Ve tidak mungkin dia sengaja memotong rambutnya dengan model hancur amburadul begini. Rambutnya menjadi pendek sebatas bawah dada hanya pada bagian kiri saja. Sementara rambut pada bagian kanan di biarkan memanjang di atas pinggang. Sherry bukan pencari sensasi dengan memotong rambut seekstrem itu.
Ini sangat irasional, gila, konyol dan menggelikan. Relly masih menatap gadis itu dengan tatapan heran. Semua memandang gadis ini dengan cara sama. Ternganga kaget dan heran.
"Aku yakin tadi pagi melihatmu dengan bentuk rambut yang wajar, tidak seperti ini." Frans terus mendesak Sherry sampai membuat gadis itu menggeram dalam hati karena kesal terus di interogasi.
"Kalau memang ada yang sedang melakukan perisakan, lebih baik kamu bilang Ve." Allen ikut ngomong. Dia menatap sedih keadaan temannya.
Haloo ... aku enggak apa-apa nih. Rambut ini saja yang ingin di kasih perhatian lebih dari kalian. Rambut ini mungkin mengenaskan saat di pandang, tapi aku enggak apa-apa hei! gerutu Sherry kesal dalam hati.
"Aku nyari ikat rambut dulu ya, biar rambut kamu rapi," Allen mencari tanpa di minta. Kebungkaman Sherry membuat orang-orang itu iba. Padahal Sherry diam karena mencoba menahan diri untuk tidak naik pitam melihat cowok penyebab dia berlagak keren tadi. Relly. Dia masih menatapnya.
"Rambut itu tidak mungkin terpotong dengan sendirinya, kan?" tanya Relly yang mulai angkat suara. Dengan lagak coolnya itu, membuat Sherry menatap Relly tegas.
Mendengar itu Relly diam sambil menatap dengan tatapan seperti sudah memahami kejadian yang menyebabkan tampilan amburadul gadis ini.
"Jadi mereka yang membuatmu jadi seperti ini?" tanya Relly.
"Lebih baik kamu hentikan saja penggemarmu daripada bertanya soal keadaanku," tunjuk Sherry dengan marah.
"Tidak mungkin aku bisa menghentikan mereka yang seperti itu. Karena itu inisiatif mereka sendiri." Relly mengatakannya seperti tidak peduli. Dia acuh tak acuh dengan pernyataan Sherry tadi.
__ADS_1
"Berhenti bersikap cool seperti itu," kata Sherry mulai naik darah. Dia tidak bisa menahannya lagi. Frans sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Ada apa dengan Ve? Gadis yang biasanya selalu berkata lembut dan lirih tentang Relly itu sekarang seperti bersikap tidak suka dan sebal di depan Relly.
Frans ganti menatap Relly. Cowok itu mungkin juga terkejut dengan perubahan gadis di depannya, tapi Relly justru tersenyum simpul.
Apa? Tersenyum?
Frans semakin tidak mempercayai apa yang terjadi saat ini di depannya. Baik Ve maupun Relly sama-sama berubah.
"Kau marah? Lucu sekali. Kenapa aku perlu melakukan hal yang tidak penting seperti itu. Kalau memang aku harus menghentikan tingkah semua cewek yang tergila-gila padaku, bukankah pertama aku harus menghentikanmu dulu?" ujar Relly membuat seisi kelas bingung.
Senjata makan tuan. Kata-kata Sherry di kembalikan lagi ke Sherry. Kalau bicara seseorang yang tergila-gila dengan Relly bukankah itu gadis ini? Ve? Yang tak lain adalah tubuhnya sendiri.
Aduh! Kenapa aku lupa kalau tubuh ini adalah salah satu penggemar cowok menyebalkan ini. Sialan!
" Ssshh ...." Sherry mendesis sebal sambil menggaruk keningnya. Sherry kalah telak. Maksudnya mau marah, tapi ternyata tidak bisa. Justru dia yang sekarang di serang oleh Relly menggunakan kalimatnya sendiri.
"Benar juga. Kalau gitu coba saja hentikan aku. Supaya aku tidak tergila-gila lagi padamu," ujar Sherry menemukan ide. Jawaban gadis ini barusan mampu membungkan Relly yang menjadi tertegun. Frans dan seisi kelas apalagi. Allen yang datang sambil membawa ikat rambut juga bengong. Sherry melirik ke kanan ke kiri. Mengedarkan pandangan ke seluruh isi kelas yang tertegun dengan perkataannya. Sherry yang tadi emosi sempat berdiri. Sekarang duduk lagi karena respon serentak seisi kelas.
"Ve bercanda pasti ..." kata Frans sambil senyum. Lainnya juga ikut senyum. Tidak mungkin kisah penggemar yang melegenda itu berhenti di sini. Tidak mungkin Ve yang mengagumi Relly itu mendadak kehilangan rasa cintanya dengan tiba-tiba.
Namun mungkin saja. Tiba-tiba Frans punya pemikiran yang baru. Kalau iya, mungkinkah dia bosan mencintai Relly yang selalu mengabaikannya? Ataukah dia berpindah menjadi penggemar orang lain yang lebih keren dari Relly? Siapakah itu?
__ADS_1
Frans menatap Sherry yang juga bungkam seperti Relly. Hansel?!