Diary Sherry

Diary Sherry
Daniel curiga


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Sherry yakin telinganya sudah di bersihkan tadi pagi saat mandi. Namun mengapa dia mendengar kata-kata yang terdengar aneh. Matanya melihat ke arah Daniel. Laki-laki itu masih menatapnya dengan mata terpesona.


Tidak, tidak. Mata seperti itu bukan seharusnya di tujukan padaku, halau Sherry segera.


"Kau bukan sedang membicarakan aku bukan?" tanya Sherry memastikan. Daniel tersenyum menawan. Kenapa lelaki ini menebar pesona seperti itu. Walaupun Daniel tidak melakukan apa-apa selain tersenyum, tiba-tiba saja dia tampak menawan.


"Kalau aku bilang saat ini aku memang sedang membicarakanmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Daniel. Sherry yang awalnya membungkuk melihat buku pada rak bawah mulai berdiri. Melihat lelaki yang di sebut kakak itu dengan seksama.


"Pfftt ..." Sherry tergelak. "Kamu bilang aku ini menggemaskan?" Sherry terkekeh lagi sembari meletakkan novel itu pada tempatnya. "Aku tidak tahu apa yang membuat kamu bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kalau kau bertanya apa yang akan aku lakukan saat kau mengatakan itu. Tidak ada. Tidak ada yang harus aku lakukan. Dan memang aku tidak perlu melakukan apa-apa," jawab Sherry tenang dan tegas.


Daniel mendengarkan penjelasan Sherry dengan penuh perhatian. Tangannya bersedekap. Lalu tersenyum lagi. Dan sesungguhnya Sherry sedikit merasa gelisah saat bibir laki-laki itu tersenyum penuh misteri seperti itu. Dia tidak suka senyuman seperti itu. Senyum itu membuat Sherry mulai mengencangkan kewaspadaannya.


Senyuman seperti itu bagai sebuah ancaman bagi Sherry. Senyuman palsu yang mengecoh lawan. Sherry lebih merasa mudah menghadapi orang dengan penuh emosi daripada seperti Daniel yang minim emosi.


"Saat ini kamu seperti menjadi orang lain yang tidak aku kenal," kata Daniel. Arti dari senyuman Daniel ternyata ini. Membuat Sherry menatap dalam ke mata lelaki itu. Mencoba mencari arti kalimat lelaki itu. Sherry tidak merespon kalimat ini. Dia hanya diam. Dia cuma ingin tahu kelanjutan kalimat yang akan keluar dari bibir kakak laki-laki Ve.

__ADS_1


"Yang aku tahu, Ve akan bersemu merah saat aku mengatakannya. Bukan hanya saat aku mengatakan bahwa dirinya menggemaskan, tapi saat pertama aku mempersilahkannya masuk ke ruangan ku dengan berlebihan."


Dia sengaja! Daniel ternyata sengaja memperlakukan Sherry dengan berlebihan. Itu bukan di lakukan karena kebiasaannya tetapi karena Sherry dengan santai ingin masuk ke dalam ruangan Daniel. Dia lelaki yang teliti.


Sialan! Berarti ini jebakan atau perangkap? Mengapa harus membuat hal-hal seperti itu.


Daniel tiba-tiba mendekati Sherry yang masih berada didepan rak buku. Saat ini Sherry merasakan jantungnya berdegup kencang. Napasnya naik turun dengan cepat. Sherry perlu beberapa detik mencoba untuk membuatnya melambat.


Tatapan lelaki itu berubah menjadi berbeda dari yang tadi. Mata itu sedang menatapnya serius dan dalam. Langkahnya semakin dekat dengan Sherry. Namun tubuh Sherry masih saja berdiam diri di sana. Tidak bergerak kemanapun.


"Aku tidak tahu dari mananya, kamu terlihat berbeda saat ini. Wajahmu dan tubuhmu masih sama dengan gadis kecil yang biasa aku lihat sering ketakutan di dalam rumah keluarga ayah tiriku, tapi setelah kepulanganku, kamu benar-benar seperti terlahir kembali dengan jiwa yang baru," ujar Daniel mengatakannya sambil mencondongkan tubuhnya ke Sherry. Dan ini membuat Sherry juga harus menarik tubuhnya agar menjauh dari lelaki itu, tapi tangan Daniel sudah mengepung dari kanan dan kiri.


Ini tidak benar!  Ini salah! Lelaki ini jadi gila!


"Tidak mungkin gadis di depanku ini menjawab pertanyaanku dengan sikap seperti tadi. Tingkah yang berani itu tidak akan pernah ada pada diri Ve." Daniel benar. Apakah Daniel berhasil menemukannya. Berhasil menemukan jiwa yang salah tempat?


"Hentikan omong kosongmu. Hentikan khayalanmu. Sepertinya kau minum banyak alkohol di siang bolong. Kau mabuk," kilah Sherry parau pada akhirnya.


"Hahahahaa.. " Daniel tertawa.


"Aku haus. Tolong minggir," pinta Qia. Dia melepaskan tangan Daniel dan keluar dari lingkaran kepungannya. Tenggorokan Sherry menjadi terasa sangat kering. Saat ini dia butuh air. Haus tak tertahankan. Butuh air yang sangat banyak. Ini di sebabkan karena tingkah laki-laki itu. Sherry segera berjalan menuju dispenser air yang ada di pojok sana. Mengambil air minum lalu meneguknya berkali-kali.


Menghilangkan rasa gugup saat di dekati lelaki itu. Hampir saja Sherry terjatuh tadi kalau tidak ada rak yang menyangga punggungnya. Karena dia merasakan lemas di tubuhnya. Ini pertama kali ada orang yang menyangka ada jiwa lain dalam tubuh Ve. Meskipun hanya sangkaan dan perkiraan, tapi berpikir ke arah sana sudah membuat Sherry takjub. Dadanya berdesir tadi. Desiran senang ternyata ada juga yang menemukan jiwanya yang terjebak pada tubuh orang lain.

__ADS_1


Takdir aneh ini tidak akan mudah di pahami banyak orang. Jadi Sherry tertegun saat mendengar ada seseorang yang berpikir ke arah soal jiwa yang berada pada tubuh lain. Apalagi ini dari Daniel. Lelaki yang dianggap misterius oleh Sherry. Kakak tiri Ve. Dan memang Lelaki itu juga aneh seperti dirinya.


Apakah Daniel memang sempat menyukai Ve yang jadi adiknya setelah bertemu sebesar ini? Mungkin saja. Ve gadis yang cantik dan anggun. Makanya dia bisa memperhatikan perbedaan antara Ve lama dan Ve yang berisi jiwa Sherry.


Daniel sudah menyelesaikan tawanya di depan rak buku tempat Sherry berada tadi.


"Jangan membicarakan hal aneh seperti tadi kalau kau tidak ingin di sebut orang gila." Sherry mencoba memperingatkan sembari memegang gelas air minum di tangannya.


"Kakak. Kau biasanya memanggilku dengan sebutan kakak. Walaupun itu sangat jarang. Cobalah biasakan dengan itu." Tiba-tiba saja Daniel mengajari cara Sherry memanggilnya. Kalimat ini agak aneh di telinga Sherry. 'Kau biasanya memanggilku?' Daniel seperti menuntunnya untuk mengikuti kebiasaan Ve. Dia mengajari Sherry untuk berubah menjadi Ve!


"Kakak?" ulang Sherry mengatakannya dengan mengejek. Dia sangat kesal dengan laki-laki yang mulai duduk di sofa lagi. Daniel tersenyum. Berkali-kali gadis di depannya mencoba untuk memprovokasinya dengan beberapa ejekan. Tapi Daniel tetap mengabaikan.


"Wajahmu menunjukkan kalau kau enggan memanggilku begitu."


"Kelihatan ya... Hehehe.." Sherry tergelak dengan suara mengejek. Daniel tidak terpengaruh ejekan Sherry. Mata Daniel berkilat aneh lagi. Dan ini membuat gadis itu langsung melihat ke arah lain. Mencari obyek lain untuk di lihat. Dia tidak ingin di tatap Daniel dengan mata seperti itu lagi.


"Sudahlah. Sepertinya memang kau tidak akan pernah menjadi Ve seperti biasanya lagi." Lagi-lagi kalimat aneh yang muncul dari mulut Daniel. Bila hanya mendengarkan kalimatnya, memang dia seperti sedang terluka atau kecewa. Tapi saat ini yang di lihat Sherry tidak seperti itu. Daniel menikmati semua ejekan. Sherry harus benar-benar memperhatikan gerak-gerik lelaki ini.


"Untukmu.. Kau boleh memanggilku sesukamu," ujar Daniel. Tatapan mata itu lagi. Hhh ... apa yang sedang kau pikirkan, Daniel?


Cklek! Bola mata keduanya melihat ke arah pintu yang terbuka.


"Putriku ada di sini?" Papa Ve muncul. Meeting sudah selesai. Mungkin Daniel yang memberitahu kedatangan putrinya. Sherry langsung menghambur ke arah Papanya.

__ADS_1



__ADS_2