
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Ve," tegur Aska sambil membantu gadis itu duduk. Gadis itu menolehkan kepalanya melihat Aska. "Kenapa tiba-tiba sakit? Kamu harus sehat. Jika ibu terbangun dan melihatmu sakit, beliau akan sedih. Karena ibu masih belum sehat total."
"Ibu?"
"Ya. Kamu lupa, ibu asmanya kambuh?" Aska kembali duduk di kursinya.
"Ibu sakit? Dimana ibu?" tiba-tiba Ve mencengkeram bahu Aska. Sementara itu Aska melihat Ve heran. Matanya mencoba meneliti gadis di depannya. "Katakan Aska, dimana ibu?"
"Di kamarnya."
"Katakan dimana kamar ibu dirawat?"
"Ada apa? Memangnya kamu mau kemana dengan tangan di infus seperti itu?" Srak! Gadis itu melepas selang infus dari tangannya. "Ve!" tegur Aska terkejut.
"Aku ingin melihat ibu. Cepat. Antar aku ke kamar ibu." Gadis itu menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan beranjak turun.
"Apa-apaan ini, Ve? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aska langsung berdiri dan marah.
"Kamu tidak dengar? Aku ingin melihat ibu."
"Kamu sakit. Jadi harusnya kamu berbaring di atas ranjangmu!" tunjuk Aska ke ranjang di belakang Ve.
"Aku akan lebih sakit jika tidak melihat ibu. Sudahlah Aska. Antar saja aku melihat ibu. Waktuku tidak banyak." Deg! Jantung Aska berdetak kencang.
Waktuku tidak banyak? Apa maksudnya?
Aska langsung mundur dan membiarkan gadis itu akan pergi. Mendengar kalimat Ve barusan, Aska menjadi gelisah. Ve langsun berlari keluar kamar dan meninggalkan Aska yang masih tertegun.
Apa Ve akan pergi? Apa tubuh Sherry punya penyakit serius? Bukankah dokter bilang tidak ada masalah?
Gadis itu berlarian di lorong rumah sakit tanpa Aska untuk mencari kamar ibunya. Dia kebingungan. Berkali-kali tubuhnya menempel di kaca yang ada pada pintu kamar pasien, untuk melihat apakah ada ibunya di sana.
Ibu. Dimana ibu?
Ve berlarian kesana kemari. Bruk! Sampai akhirnya dia menabrak seseorang di tikungan lorong. Hingga membuat tubuhnya hampir ambruk jika tangan seseorang tidak segera menangkapnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya suara seorang cowok. Ve tidak mendengarkan. Pikirannya hanya satu, yaitu bertemu ibu.
__ADS_1
Ve berusaha melepaskan tangan cowok yang di tabraknya juga menolongnya. Melihat gelagat ini, cowok yang jadi korban karena seorang gadis sembarangan berlarian di lorong rumah sakit berusaha melepaskan perlahan. Dari pakaian yang di kenakan, dia tahu gadis ini adalah pasien rumah sakit ini.
"Ibu. Aku harus bertemu ibu ...," gumam Ve. Gadis ini panik dan gemetar.
"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya cowok itu lagi. Tangannya berusaha mengguncang tubuh Ve pelan. Ve mengabaikan pertanyaan cowok itu. Dia seperti tidak dalam keadaan sadar. Bola mata hitam milik cowok itu memperhatikan gadis di depannya. Tubuh Ve seakan tidak terhentikan untuk pergi. Gadis ini sedang terburu sesuatu. Cowok itu melepaskan pegangannya pada bahu Ve.
Setelah tubuhnya bebas, Ve langsung berlari lagi tanpa melihat ke arah cowok barusan.
"Baiklah. Jangan berlarian di lorong. Kamu bisa menabrak orang lagi!" teriak cowok ini saat melihat Ve masih saja berlari. Ve tidak tahu siapa yang sedang di tabraknya barusan.
Ponsel di saku berdering. Cowok ini mengambil ponsel dari sakunya sambil tetap melihat Ve yang berlarian mencari kamar ibunya.
"Ya. Ada apa Erick?" Ternyata dia adalah Relly. Ve telah menabrak Relly! "Aku akan segera kembali. Kamu bisa mengantar Sigi sekolah." Setelah mengatakan demikian, Relly pergi menuju jalan lurus di depannya. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat gadis yang tadi tergesa-gesa.
Dari arah lorong sebelah kiri muncul Aska yang juga tergesa-gesa. Akhirnya Aska bisa menemukan Ve. Melihat wajahnya, bisa di pastikan dia marah.
"Ve! Ada apa denganmu?! Kamu harus kembali ke kamar ... mu." Aska melambatkan bicaranya karena gadis itu menunduk dan sedikit gemetar. "Ve." Aska mendekat ke tubuh itu. "Kamu tidak apa-apa?" Kali ini suara Aska di buat lembut. Sepertinya gadis ini sedang menangis.
Tangan Ve mengusap airmata yang menggenang sebentar di ujung matanya. Lalu mendongak dan melihat Aska. "Bisa antar aku ke kamar ibu? Aku tidak bisa menemukan kamar ibu. Aku ingin bertemu dengannya." tanyanya dengan suara berat. Dia sedang menahan tangis. Sepertinya dia masih ingin menangis tapi ditahan.
Aska iba melihat ini. "Oke. Aku akan antar kamu melihat ibu." Aska mengantarkan langkah Ve menuju kamar ibu dengan segala kebingungan yang tidak terjawab.
Mengapa Ve mengatakan sesuatu yang aneh? Mengapa tiba di lorong yang sangat jauh dari kamar ibunya? Lalu mengapa Ve ingin menangis dengan rasa getir yang amat sangat terlihat di matanya? Ada apa dengan Ve? Ada apa?
Sesampainya di kamar ibu, langkah Ve melambat. Ibu sedang tertidur. Kakinya pelan-pelan menghampiri ibu. Saat sudah bisa mendekat dan memperhatikan ibu, gadis itu menangis. Menangis sejadi-jadinya membuat Aska salah tingkah dan kebingungan. Hingga akhirnya memilih membiarkan gadis itu menumpahkan semua air matanya tanpa terkendali.
Tangisan mereda. Ibu juga sampai terbangun. Ve memeluk ibu dengan erat seakan tidak ingin ditinggalkan. Aska hanya bisa melihat semua tingkah Ve dengan haru. Sebenarnya ibu heran melihat putrinya seperti seorang pasien. Namun gadis itu bisa berkelit dengan lancar.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Aska yang menyeret Ve keluar kamar. Mengajak gadis ini mengobrol agak jauh dari pintu kamar karena takut ibu bisa mendengarnya.
"Aku tidak pernah sakit."
"Jangan bilang tidak pernah sakit. Tadi malam kamu merintih kesakitan hingga membuat aku dan Hansel panik."
"Hansel. Kamu membiarkan dia akrab denganku? Kamu melakukannya?" tanya Ve dengan nada dingin. Aska mengerutkan kening. Berhenti mengatakan sesuatu dan melihat ke arah tubuh di depannya.
"Kamu ... tidak seperti biasanya."
"Memangnya aku biasanya seperti apa?" Kedua alis Ve naik dengan gaya cuek.
__ADS_1
"Mulutmu lebih tajam."
"Tutup mulutmu."
"Aku tidak salah. Kamu berubah seperti dia. Seperti Sherry." Aska mengatakannya dengan nada misterius. "Kamu ingin berubah menjadi dirinya?"
Bola mata Ve memandang lama ke arah Aska.
"Sangat tidak mungkin kamu menjadi dirinya. Hentikan saja jika ingin menjadi Sherry. Kamu tidak akan pernah bisa menjadi dingin, cuek dan seenaknya sendiri. Kamu terlalu amatir untuk jadi orang sadis dan bar-bar seperti dia. Sherry itu selalu bikin kesal dengan ketidakpeduliannya pada bahaya."
"Jadi seperti itu, caramu mendeskripsikan seorang Sherry di depan orang lain?" tanya gadis itu setelah lama mendengarkan Aska menjelaskan dengan rinci soal kakaknya. "Jadi begitu?" Kali ini Ve membuat raut wajah marah. Aska mengerutkan keningnya lagi. "Jadi kau selalu menjelek-jelekkan kakakmu di depanku orang lain, hah?!" Kali ini benar-benar marah. Plak. Tiba-tiba tangan Ve memukul kepala Aska.
"Apa yang kamu lakukan? Aku sedang bicara soal Sherry, bukan kamu." Aska marah.
"Aku tahu. Kamu sedang membicarakanku, bodoh!!" Plak! Gadis itu memukul kepala Aska sekali lagi. Aska tertegun gadis lembut ini menjadi kasar. Sebentar ... membicarakanku? Aska menatap tubuh di depannya dengan seksama. "Kenapa perlu meneliti aku lagi, hah?!"
"Kamu ... kamu ... Sher ... ry?" tanya Aska terkejut.
"Sekali lagi kamu terlambat menyadari adikku. Ya. Aku Sherry ...," ujar bibir itu menahan tangis. Namun tidak bisa. Air matanya kembali mengalir. Dia menangis. "A, aku Sherry, bodoh!" teriak Sherry di antara isak tangisnya. Aska tertegun. Namun dia segera memeluk kakaknya erat.
Sherry kembali. Sherry bisa kembali pada cangkang aslinya dengan selamat.
Orang yang melintas terheran-heran melihat tangisan gadis ini. Setiap orang lewat, selalu menyediakan waktu untuk menoleh pada mereka berdua. Aska tidak peduli. Dia terlalu bahagia. Ada airmata di ujung matanya. Dia segera menghapusnya dengan cepat.
"Kamu benar Sherry bukan?" tanya Aska lagi saat tangisan kakaknya mereka.
"Aku harus bilang berapa kali lagi, bodoh!" Sroottt!! Ingus keluar dan di sedot dengan cepat oleh Sherry sendiri.
Aska meringis. Kemudian mengibaskan tangan merasa sia-sia sudah bertanya. "Bagus. Itu gayamu. Tidak mungkin Ve memakiku dengan tenang sepertimu. Cukup. Kamu juga sangat jorok saat menangis. Aku yakin itu kamu, kakakku."
"Sudah tentu ini aku."
"Lalu bagaimana dengan tubuh Ve?" tanya Aska membuat Sherry langsung tersadar.
"Aku harus kembali lagi kesana, Aska."
"Kemana?" tanya Aska tidak mengerti.
"Ke tubuh Vermouth. Aku harus kembali ke sana. Tubuh Vermouth ada disini. Di rumah sakit ini."
"Apa yang mau kamu lakukan?"
__ADS_1
"Aku akan menceritakan semua yang terjadi padaku hingga aku berakhir di rumah sakit. Tubuhku terlibat sebuah masalah serius yang membuatnya hampir mati, Aska. Aku harus memberitahu Relly." Aska bermaksud mencegah tapi tidak bisa. Sherry sudah berlari lagi menuju tempat tubuh Ve berada.