
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Relly meraih minuman yang ada di meja saji dan meneguknya. Dia butuh penyegar di tenggorokan karena akan berbicara panjang. Kakinya melangkah mendekati tempat duduk dimana Sherry dan mamanya berada.
Melihat kedatangan Relly di sana, mama yang tadi sedang berbicara sekarang berhenti.
"Ada apa Relly?" tanya mama sambil memasang raut wajah penuh perhatian. Sherry yang tengah membelakangi Relly terkejut.
"Aku sedang ada perlu dengan Sherry," sahut Relly. Bola mata Sherry yang sudah membulat kaget karena kedatangan Relly di dekatnya, kini menatap cowok ini dengan heran.
"Ooo ... Sherry?" tanya mama Relly sambil melemparkan pandangan ke arah Sherry yang duduk di depan beliau.
"Ya. Sherry berdirilah," pinta Relly aneh. Mama Relly masih berdiri saat melihat keduanya dengan heran. Ve yang ada di sana juga mengerutkan kening.
Welly yang sedang berbincang sesekali melihat ke arah meja istrinya. Dia juga ingin tahu sedang apa putranya di sana.
Sherry mengkerjap-kerjapkan kedua bola matanya. Dia bingung. Namun perlahan dia mencoba berdiri seperti yang di minta Relly. Setelah Sherry berdiri, Relly mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Sherry pelan.
"Ikut aku."
"Kemana? Kita sedang dalam pesta keluarga, Rell ...."
"Aku tahu. Justru itu. Mumpung semuanya berkumpul di sini, aku harus melakukan ini," ujar Relly seraya menyapu orang-orang dengan pandangannya.
"Melakukan apa?"
"Aku mohon ... Ikut denganku," pinta Relly penuh harap. Melihat raut wajah memohon milik Relly, Sherry akhirnya menerima uluran tangannya. "Mama, maaf."
"A-apa?" tanya mama terkejut. Setelah mengatakan kata maaf yang aneh, Relly menarik tangan Sherry yang sudah di genggamnya. Wajah gadis itu tampak kebingungan dengan tindakan Relly. Namun dia tetap mau mengikutinya.
__ADS_1
Semua mata memandang ke arah Relly yang berjalan dengan menggandeng tangan Sherry. Aska yang sudah duduk bergabung dengan Hansel terkejut. Matanya tidak lepas dari dua anak manusia itu. Terutama Sherry.
"Jadi Relly mau curi start duluan?" tanya Aska di iringi senyuman puas di bibirnya. Lalu melirik ke Hansel yang juga melihat itu dengan bangga. Hansel akhirnya menghela napas.
"Dia nekad juga rupanya."
"Ya. Seharusnya memang begitu, Han. Jika berharap semua keinginan kita terkabul, kita harus punya tekad kuat." Daniel muncul sambil menepuk bahu Hansel pelan.
Bola mata Sherry masih menatap tangannya yang di genggam dengan takjub. Saat ini Relly tengah menggandengnya di hadapan seluruh keluarganya dan keluarga Ve.
"Kita mau kemana Rel?" bisik Sherry cemas.
"Ke tengah-tengah pesta."
"Untuk apa?"
"Kamu akan segera tahu. Siapkan saja hatimu mendapat kejutan ini." Relly mengucapkannya tanpa melihat ke belakang. Kejutan? Kejutan apalagi? Dengan menggenggam dan menarik tangannya saja sudah merupakan kejutan bagi Sherry. Lalu apalagi sebentar lagi yang akan di terimanya.
Welly memperhatikan tindakan putranya. Erick yang terkejut dengan langkah yang di ambil Relly sedikit panik. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu pada Welly.
"Papa!" ujar Relly memanggil papanya dengan lantang. Belum selesai pembicaraan Erick pada tuannya, suara Relly sudah mengusik mereka. "Jika proposal cintaku tidak terjawab untuk di kabulkan, aku memilih untuk mengabulkannya sendiri." Semua orang berdengung mendengar pemuda ini berbicara di depan semua orang dengan lantang.
"Maaf, Tuan." Erick menunduk.
"Putramu akan membuat sebuah kejutan?" tanya Henry di sampingnya.
"Sepertinya," sahut Welly.
"Dia! Gadis ini akan menjadi tunanganku." Relly menoleh pada Sherry yang berdiri canggung di sebelahnya. Gadis ini terkejut dengan pernyataan Relly barusan.
"Apa-apaan Relly? Kamu gila?" tanya Sherry panik. Bagaimana tidak? Sekarang Relly sedang meminangnya, di depan Ve tunangannya dan seluruh keluarga kedua belah pihak.
"Aku tidak gila. Tetap di sampingku dan temani aku," ujar Relly lirih. "Maaf, untuk Ve! Aku tidak bisa lagi melanjutkan ikatan pertunangan ini. Aku tidak bisa! Hatiku bukan untukmu, tapi dia!" Tangan Relly terayun kemudian mempersembahkan Sherry sebagai pujaan hatinya.
"Relly, berhenti," pinta Sherry masih dengan suara pelan. Dia malu dan juga merasa tidak nyaman.
"Maaf, dia bilang? Sejak dulu dia tidak pernah mencintaiku, lalu kenapa sekarang baru meminta maaf? Aku sudah tahu itu bakal terjadi ...." ucap Ve tanpa sedikitpun ada rasa marah di dirinya. Julia melihat putrinya dan mengelus punggungnya. "Aku tidak apa-apa, Ma."
__ADS_1
"Mama tahu. Hanya saja mama ingin mengelus punggung putri mama," ujar Julia sambil tersenyum.
"Aduh, Relly itu ...," ujar mamanya gemas. "Maaf ya, Ve ...." Beliau jadi merasa tidak nyaman pada Ve yang duduk di sana.
"Tidak apa-apa, Tante. Saya sudah tahu kok."
"Kepada keluarga Ve dan keluargaku sendiri, aku meminta maaf sudah mengacaukan pesta kalian! Aku tidak bisa lagi pergi kemana-mana karena gadis ini membawaku kembali ke sini demi menghormati orangtuaku. Padahal mereka tidak bisa memberiku ijin untuk mempublikasikan bahwa dialah yang sebenarnya aku pilih sebagai orang yang aku sayangi."
Wajah Sherry merah. Dia malu. Sangat malu. Ini bukan hanya perbincangan antara dia dan Relly, tapi di depan khalayak umum. Ya ... meskipun mereka kebanyakan sudah di kenalnya.
Bibir Sherry tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia memilih bungkam dan sedikit menundukan kepala demi menahan rasa malu dan bersalah. Ya. Jika sekarang Relly sedang mengatakan pada semua bahwa dialah yang menjadi pilihannya, maka itu berarti Ve di singkirkan.
**
Pesta usai. Namun itu menyisakan ketegangan di antara Relly dan keluarganya. Kini Relly dan Sherry tengah duduk di sofa ruang tamu. Di hadapan mereka ada Welly yang juga duduk bersidekap seraya memandang mereka berdua lama. Hening yang tercipta membuat keadaan semakin tegang.
Sherry sudah berusaha melepaskan genggaman tangan Relly, tapi cowok itu semakin erat menggenggamnya. Relly bersikeras menunjukkan bahwa apa yang di katakannya tadi di depan semua orang adalah kebenaran. Dia memilih Sherry.
Mama juga memperhatikan mereka berdua dari tempat duduknya.
"Jadi kamu memilih jalan ini, Relly?" tanya Welly dengan suara berat.
"Ya, Papa. Aku sudah katakan sejak awal. Ikatanku dengan Ve adalah kekeliruan dengan maksud menolongnya. Aku ingin melindunginya saat itu."
"Sherry." Gadis ini terperanjat kaget saat mendengar namanya di sebut oleh Welly.
"Jangan tanyakan apa-apa pada dia. Cukup aku saja yang papa interogasi. Dia hanya mengikutiku. Ini murni adalah ideku. Biarkan dia tetap berada di sampingku mendengar seluruh kemarahan papa atas tindakanku." Relly langsung bertindak untuk melindungi Sherry.
"Jadi papa hanya perlu berbicara denganmu?" tanya Welly masih melipat kedua tangannya.
"Ya. Cukup denganku saja."
"Bagaimana bisa papa hanya bertanya padamu. Disini pelaku yang di ketahui orang adalah kalian. Kamu dan Sherry. Jadi bagaimana bisa papa tidak bertanya juga pada gadis ini, Relly ..."
"Apa yang akan papa lakukan aku akan bertanggung jawab penuh. Hanya aku yang perlu bertanggung jawab," sahut Relly bertekad.
"Relly ...," lirih Sherry merasa keadaan menjadi kacau.
__ADS_1