
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Ve ada?" tanya Hansel di depan kelas Ve. Semua mata menatap tidak percaya dengan kedatangan berandalan terkenal di sekolah ini. Rupanya setiap sekolah pasti punya satu kelompok orang seperti Hansel dan teman-temannya.
Semua orang yang lagi ada di dalam kelas menoleh ke asal suara. Anak-anak yang awalnya punya kegiatan masing-masing juga pada noleh. Yang takut karena hansel adalah berandalan pada jadi diam. Kicep. Yang terpana sama berandal cakep ini ternganga takjub. Seperti Mora dan grupnya yang kebetulan ada di meja di depan.
Brak!
Dexy menggebrak meja karena semuanya diam. Semua berjingkat kaget. Anak-anak yang tadinya sudah takut, jadi semakin takut dengan polah Dexy.
"Kok gak ada yang jawab sih?! Bukannya pertanyaan Hansel mudah. Dimana gadis bernama Ve sekarang?" tanya Dexy kesal dan tidak sabar. Bagaimana bisa mereka semua hanya menatap tanpa menjawab.
Ini pertanyaan mudah yang jawabannya sulit. Bagaimana bisa menjawab, memangnya Ve mau pergi kemana laporan sama mereka? Enggak, kan? Mereka sekelas, tapi mereka tidak selalu mengurusi gadis yang di anggap manja dan penyendiri itu.
Dan juga mereka kasihan kepada Ve karena di cari oleh Hansel yang terkenal sebagai jagoan berkelahi. Mereka merasa harus tutup mulut. Dia seperti yakuzanya sekolah ini. Apa yang sudah di perbuat gadis lemah dan penakut itu hingga membuat Hansel mencari dengan para anak buahnya. Tampang dingin itu membuat mereka membungkam mulut sendiri tanpa di minta.
__ADS_1
"Dexy. Jangan berteriak seperti itu. Mereka akan semakin ketakutan." Eliot maju. Ganti ngomong sebagai juru bicara.
"Hansel sedang ada keperluan dengan gadis bernama Ve. Bukan ingin membunuhnya atau perbuatan buruk semacam itu. Kalian tidak perlu merasa takut." Eliot mencoba menjabarkan keberadaan Hansel dan temannya dengan benar. Eliot sengaja menjelaskan dengan lambat-lambat dan halus. Supaya mereka tidak salah paham. Jelas sekali wajah mereka berkata seperti Ve akan di bantai saja.
"Anaknya enggak ada," kata Allen memberanikan diri. Mendengar nona ini yang menjawab, Dexy langsung bungkam. Dia tidak menyangka di antara cewek-cewek di belakang yang berkumpul itu ada dia. Tangannya yang menggebrak meja langsung perlahan menjauh dari meja. Lalu mengusap rambut tanpa sebab. Dexy balik badan mendekat ke Eliot secara perlahan.
"Kenapa kamu?" tanya Eliot enggak paham melihat tingkah cowok berbadan gempal itu bingung dan sedikit berkeringat. Dexy cuma geleng-geleng kepala aja tanpa menjawab. Eliot hendak menginterogasi lebih lanjut tapi Dexy langsung menghentikan pertanyaan dengan satu tangannya yang lebar.
"Nyari itu yang ada dong. Kenapa nyari yang enggak ada," seloroh Mora dengan senyum mengembang seperti merayu Hansel. Mata Hansel yang sipit melirik ke meja depan itu.
"Kan bisa juga nyari yang lainnya," Semua yakin Mora sedang menguji peruntungannya dengan merayu Hansel. Gadis yang memakai rok dengan potongan pendek di atas lutut itu berdiri dengan melekukkan tubuhnya sedemikian rupa supaya lawan jenis tertarik untuk mendekatinya. Bukankah menjadi kebanggaan tersendiri saat dirinya mampu membuat Hansel mendekatinya. Hansel adalah berandal yang tampan seperti Aska, adik Sherry.
Hansel melangkahkan kaki dengan sengaja menuju ke tempat Mora berdiri dengan sempurna. Semua mata memandang ke arah Hansel. Teman-temanya menahan nafas dan memekik kegirangan karena Mora berhasil membuat bad boy yang berkesan sangat dingin ini menghampirinya. Mora tersenyum bangga. Kalau melihat roman wajahnya, sepertinya dia sangat percaya diri bisa menaklukan Hansel.
"Minta tolong, beritahu Ve untuk mencariku pulang sekolah," pesan Hansel ke arah Allen di belakang.
"Ya. Akan aku sampaikan."
"Oke, terima kasih." Setelah mengucapkan itu tiga cowok ini pergi dari sana. Semua bernapas lega. Semua kelas membicarakan Hansel yang sedang mencari Ve. Ada apa dengan gadis itu? Setelah pernyataannya soal ingin Relly menghentikan rasa sukanya, sekarang Hansel. Yakuza ganteng itu sedang mencarinya. Ve sedang terlibat masalah apa?
Dan kita akan melihat keadaan Sherry alias Ve palsu. Dimana sekarang keberadaan gadis itu. Ternyata Sherry sedang mendatangi klub karate. Dia ingin menanyakan terkait keanggotaannya dalam klub ini. Rupanya dia tak ingin berlama-lama membiarkan tubuhnya berkarat karena tidak pernah latihan.
__ADS_1
Menilik tiga gadis yang menyerangnya soal Relly, berarti masih ada lagi gadis-gadis yang akan menyerangnya. Karena tak di sangka seorang Relly ternyata sangat berpengaruh di sekolah ini.
"Kau sedang apa?" tanya seseorang di belakang. Sherry memutar tubuhnya. Ada seorang cowok berbadan tegap berdiri di sana. Kalau melihat dari auranya dia pasti sangat pandai dalam berkelahi.
"Oh, hai... Saya Ve dari.."
"Oh, Ve penggemar Relly abadi?" tanyanya dengan menjengkelkan memotong kalimat perkenalan Sherry. Julukan itu tidak menyenangkan. Sherry menanggapi datar tapi dengan tangan mulai terkepal.
"Aku hanya bercanda jangan di masukkan ke hati," katanya mulai mengulas senyum karena gadis di depannya tampak sangat serius.
"Frans sudah mendaftarkanmu pada klub karate tempo hari. Kau bisa mulai berlatih nanti sore," ucapnya yang ternyata ramah. Mata Sherry berbinar indah. Seindah pelangi sore seandainya kalau ada hujan. Karena sudah beberapa hari hujan tidak turun.
"Baik. Saya akan datang nanti sore.." jawab Sherry sangat bersemangat. Lalu berjalan menjauh dari sana. Dia bagaikan anak buah yang siap menerima latihan dari komandannya.
Semangatnya terisi seratus persen. Akhirnya hari-hari yang di isi dengan latihan karate akan terwujud. Dan kalau bisa dia juga harus mengikuti klub lain yang melatih fisik. Dan lengan ini akan menunjukkan otot bisep yang keren. Seperti otot yang ada pada tubuh Sherry. Wawww... Sherry gemetar-gemetar kegirangan membayangkan tubuh cantik ini akan berotot. Masa dimana dia bisa menghajar tiga orang cowok sekaligus akan kembali gemilang. Sherry mengepalkan tangannya dengan gereget kebahagiaan.
"Kamu sedang mendapatkan undian?" tanya Hansel yang muncul di dalam perjalanan menuju kelas. Membuat kegembiraan Sherry terhenti. Sebenarnya Hansel bisa menunggu sampai bertemu dengan gadis ini. Tapi rasa ingin tahunya sangat besar yang membuatnya ingin segera bertemu. Sengaja dia mencari Sherry sendirian.
"Bagaimana keadaan rambutmu?" tanya Hansel langsung mencoba memegang rambut Sherry dari sisi belakang. Sherry menghindar.
"Hei, singkirkan tanganmu." Sherry memperingatkan. Hansel menatap dengan kepala miring. Ya, Hansel ingin tahu bagaimana rambut dan keadaan Ve.
__ADS_1
Rupanya sudah di potong dengan baik. Hh.. bikin khawatir saja. Karena rambut itu mahkotanya perempuan.Tapi sepertinya percuma mengkhawatirkan gadis ini. Dia seperti tidak pernah mengalami trauma berat karena masalah rambutnya.