
Tiba-tiba Relly melepas kertas itu dan menangkap tangan Sherry. Meletakkan tangan itu di dadanya sendiri. Mata Sherry tidak bisa mengerti maksud Relly.
"Aku mencoba membaca dari wajahmu. Apa yang kamu rasa saat merasakan detak jantungku menjadi cepat ketika kamu berada di dekatku?" ujar Relly dengan tatapan mata sama seperti saat itu. Saat pertama Relly menemukan bahwa ada jiwa lain pada tubuh Vermouth. [ episode sebelumnya ]
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Mata Sherry mengerjap. "Lepaskan." Menarik tangannya dari dada Relly. "Apa yang sedang kau tanyakan? Aku sedang belajar. Ayo ajari aku... Kamu bilang aku harus menyelesaikan tugas ini agar Vermouth tidak menjadi peringkat bawah." Sherry kembali ke tempatnya duduk. Relly diam sambil memperhatikan Sherry yang mulai menjauh darinya.
Relly mulai tahu siapa aku? Lalu apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya bukan masalah dia tahu karena aku yakin dia akan mengabaikan. Rupanya dia tidak begitu.
Relly mendesakku untuk mengaku kalau aku bukan Vermouth. Mengaku? Apakah dia gila?
Aku mulai tidak tenang saat mata itu selalu menatapku hangat. Sungguh aneh jika aku berpikir dia sungguh-sungguh menyukaiku.
Aku mulai merasa ingin terus melihat mata yang hangat itu. Bukankah ini mustahil? Bukankah ini menakutkan?
Relly tertegun sendiri memikirkan tulisan-tulisan yang tertulis pada kertas itu. Gadis ini memikirkannya?
"Bisakah kau segera memberitahuku bagaimana cara mengerjakan ini?" tanya Sherry membiarkan kertas-kertas itu terjatuh dari laci. Dia hanya harus fokus belajar. Pertanyaan ini tidak membuat Relly segera menjawab. Dia hanya mematung melihat Sherry.
Elda yang mendengar Sherry datang bersama dengan seorang teman cowok gelisah. Dia ingin tahu siapa dia. Melihat sepeda motor yang di parkir di halaman depan, Elda bisa menerka-nerka siapa yang datang. Dia ingat seseorang dari balik helm itu.
***
Sherry berencana mencari kebenaran dengan di temani Relly. Awalnya Sherry ragu karena dia merasa tidak punya dukungan untuk melakukan penelusuran. Kali ini takdir memberikan penjaga dan penyelamat bagi Sherry untuk menemaninya.
"Kita harus memulai dari titik awal dimana kecelakaan itu terjadi," ucap Relly memimpin penyelidikan ini.
"Benar. Kita harus kesana."
"Apakah kamu ingat tempatnya?"
"Tentu saja. Aku tidak akan lupa dimana takdir ini berawal."
Relly menyodorkan helm. "Pakai ini. Kita akan berpetualang bersama." Sherry memakai helm yang di berikan padanya.
"Helm ini milik seorang gadis. Aku bisa mencium aromanya," kata Sherry membuat Relly terkejut. Lalu Relly menatap Sherry dengan menyipitkan mata.
"Kamu tidak suka? Apakah kepala ini sedang berpikir macam-macam?" tanya Relly sambil mengetuk helm yang sudah di pasang di kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Apa? Macam-macam apa?" tanya Sherry. Relly tersenyum yang artinya itu tidak baik. Cowok ini sedang berpikir sesuatu yang membuat dirinya sendiri senang dan membuat Sherry cemas.
"Kamu cemburu?"
"Apa?! Itu jelas tidak mungkin!" bantah Sherry yang membuat rona malu pada kedua tulang pipinya. Kedua mata Sherry mengerjap bingung. Ini membuat senyum Relly mengembang.
"Itu punya sepupuku," ungkap Relly. "Aku bisa membawakan helm baru untukmu, tapi kamu tidak akan setuju. Tidak ada seorang gadis di rumahku. Jadi aku sengaja meminjam helm sepupuku." Sherry tidak menjawab. Dia tidak menyangka Relly mencari jawaban atas celetukan asalnya. Dia hanya asal ngomong.
Dengan menaiki motor, mereka berdua sampai pada jalan yang menjadi saksi tertukarnya jiwa mereka. Vermouth dan Sherry. Langkah awal yang di tempuh juga oleh Aska untuk menemukan jati diri dari jiwa kakaknya.
Sherry turun dan mendapati dirinya kembali ke jalan ini. Ada rasa haru berada di tempat ini. Banyak juga emosi campur aduk yang melewati relung hatinya. Ini pertama kalinya dia kembali ke sini setelah jiwanya tertukar. Tiba-tiba tubuhnya lemas. Kepalanya sedikit sakit. Relly segera mendekat dan menyangga tubuh itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Relly dengan wajah cemas. Sherry menggeleng sambil memegangi kepalanya.
"Tubuh ini mungkin mengingat trauma yang terjadi akibat kejadian itu."
"Duduklah disana." Relly membimbing tubuh itu ke pinggir. Mendudukkan tubuh Sherry diatas tempat duduk yang terbuat dari beton.
"Aku mencarikan minum ya?"
"Tidak perlu."
"Mungkin tubuhmu lemas, juga perlu di isi makanan sepertinya. Kamu gadis yang memakan banyak makanan. Mungkin makanan bisa mengalahan trauma tubuhmu," ujar Relly sedikit meledek dan menggoda.
Bibir Relly terkekeh. "Diam di sini. Aku akan segera kembali." Lalu ia pergi menuju mini market rerdekat.
Sherry mencoba meluruskan kakinya. Matanya melihat ke arah jalanan yang saat ini mulai terlihat sepi. Ini hari senin. Dimana semua rutinitas kerja atau sekolah di mulai. Jadi semua lelah.
Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Dia merasakan ada hawa tidak baik. Tubuh Sherry berdiri dan merasa ada orang yang akan mendatanginya. Matanya berusaha menemukan seseorang yang bukan sedang berjalan-jalan atau bersenang senang. Seseorang yang ingin berbuat sesuatu kepadanya.
Seseorang dari kerumunan itu tiba-tiba membekap mulut Sherry setelah keadaam sepi dan membawanya ke balik rerimbunan di belakang. Mata Sherry melotot dan tegang. Namun ia segera menyodok dengan pukulan yang dilontarkan melambung dari depan dengan posisi lengan membentuk siku-siku menuju perut orang itu.
Mungkin ini tidak pernah di duga oleh orang itu, hingga tangannya yang membekap mulut Sherry terlepas, karena menahan sakit pada perut.
"Uughh...," erang orang itu. Meringis dan kembali mendongak seraya menatap tajam. "Sialan, bocah ini!" makinya marah. Sherry sudah siap menghadapi serangan selanjutnya. Namun sepertinya dia hanya perlu coba menghindar dulu.
Sherry menggunakan kuda-kuda seni bela diri dan menempatkan tinju di depan wajah untuk mendorong lawan melakukan hal yang sama. Ternyata dugannya benar, lelaki ini bukan petarung terlatih, ia hanya meniru cara Sherry berkelahi, dan itu memungkinkan Sherry mengontrol perkelahian.
Secepatnya kaki lelaki itu maju dengan tangan terbuka di udara untuk menerkam tubuh Sherry lagi. Namun Sherry tidak lagi memberi celah, dia segera melayangkan tendangan ke depan menggunakan telapak kaki. Tubuh lelaki itu langsung terpental mundur begitu tubuh Sherry. Hanya saja itu tidak berdampak buruk bagi tubuh Sherry. Tidak dengan lelaki itu, tubuhnya jatuh ke belakang dan terjatuh dengan punggung duluan diatas tanah.
"Sherr!" teriak Relly yang sudah tiba dari mini market. Lelaki itu meringis lagi.
"Di belakangmu, Rell!" teriak Sherry tanpa melihat ke arah Relly. Dia masih terus memperhatikan lelaki itu. Relly menoleh ke arah asalnya suara. Walaupun indra penglihatannya belum bisa melihat dimana tepatnya Sherry berada karena tertutup rerimbunan, Relly tidak perlu berpikir lama untuk segera menyusul.
Setelah melewati rerimbunan, akhirnya Relly bisa menemukan gadis itu. Dia sedang berdiri dengan kuda-kuda dan mata menatap nyalang. Apa yang sedang di lihat gadis ini hingga perlu memasang kuda-kuda?
__ADS_1
Relly melihat ke arah yang sama. Dia menemukan seorang lelaki yang sedang berusaha berdiri dari jatuhnya.
"Dia menyerangmu?" tanya Relly paham.
"Ya." Mata Relly mencoba melihat dengan seksama. Melihat ada satu orang lagi di sana, dia memilih pergi sambil menggerutu.
"Berhenti!" teriak Sherry yang membuat orang itu panik dan berlari. Relly mencegah.
"Biarkan."
"Ini kesempatan kita untuk menemukan siapa yang ingin menyerangku," ujar Sherry bersikeras. Sambil sesekali melihat ke arah lelaki yang berlari.
"Baru saja tubuh ini merasakan sakit, sebaiknya kita lepaskan dulu orang itu. Kumohon...," pinta Relly. Sherry sangat berambisi menangkap orang itu. Pasti itu membuatnya sangat bersemangat.
"Baiklah. Kita biarkan orang itu lolos hanta hari ini. Cukup hari ini!" Relly mengangguk paham.
"Minumlah dan makan ini." Relly menyodorkan makanan dan minuman kemasan. "Sepertinya kau menyukai sandwich cokelat dan keju ini."
"Benarkah?" tanya Sherry sambil menerima kresek itu. Saat membukanya, itu memang kesukaannya, "Bagaimana kau tahu?"
"Aku memperhatikanmu."
"Oh...." Sherry sudah terlalu sering mendengar cowok ini mengatakan memperhatikanmu, mengawasimu dan sebagainya itu.
"Sejak pertama, sejak tubuh Vermouth bersikap sangat aneh," lanjut Relly. Sherry membiarkan. Dia hanya mencoba menikmati sandwich kejunya. Relly tahu gadis ini berusaha menghindari perkataan-perkataan semacam ini.
Dia tidak perlu menunjukkan raut wajah terkejut lagi meskipun dadanya selalu berdesir setiap cowok ini mengatakannya. Dia pasti akan kembali nanti. Ia ingin kembali pada tubuh aslinya.
"Kita lupa satu hal. Tubuhmu ternyata bereaksi dengan tempat ini. Awal kejadian takdir anehmu. Itu sedikit aneh bukan?" tanya Relly membuat Asha mengernyit untuk berpikir.
"Benar juga. Aku harus paham ini. Aku tidak tahu karena belum pernah ke tempat ini setelah kejadian itu. Tapi aku rasa hanya sebuah trauma karena kecelakaan itu," Sherry melebarkan mata takjub.
"Ayo, sebaiknya kita pergi dulu dari tempat ini." Relly menarik lengan Sherry pelan agar mengikutinya.
"Sebentar. Ini aneh Rel. Kenapa orang tadi tahu kalau aku ada disini?"
"Benar. Mungkinkah mereka sudah mengikutimu sejak tadi? Di tengah perjalanan menuju tempat ini mereka yang tahu soal kamu segera mengikutimu..."
"Benarkah? Kok terasa ganjil ya?"
"Sebaiknya kita melihat rekaman cctv pada lampu lalu lintas ini atau juga rekaman cctv pada toko-toko di sekitar yang memungkinkan menyorot pada jalan ini." Sherry mengikuti arah Relly menunjuk. Lalu melihat ke sekeliling juga.
"Benar. Kita bisa melihat siapa laki-laki yang menyerang Vermouth waktu itu." Sherry mengangguk. Ada secercah harapan bisa mengetahui siapa yang ingin mencelakai tubuh ini.
__ADS_1