Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Di luar rencana


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


"Kamu pernah mengunjungi Gio di kantornya, Relly?" tanya Welly tidak menduga. Berkat pertanyaan papa-nya, Relly mengerti apa yang di tanyakan tadi. Jadi dia bisa menjawab apa yang di tanyakan Gio.


"Iya. Saat pulang sekolah. Mengantar Ve yang ingin bertemu papanya." Relly bisa memberikan tanggapan yang sesuai. Dia masih ingat soal itu.


"Sepupumu tidak ikut?" tanya Gio. Semua mengerutkan kening. Sigi yang merasa menjadi sepupu Relly di sini, menoleh. Alisnya naik melihat ke arah Gio. Bermaksud tersenyum menanggapi pertanyaan paman itu. Namun sepertinya sepupu yang Gio maksud bukan dia. Karena pria itu tampak sedang mencari-cari seseorang.


"Sepupu? Sigi juga ikut ke kantormu, Gio?" tanya papa Relly. Welly melihat ke keponakannya. Sigi mengerjap. Gio tampak bingung saat Welly bertanya pada Sigi. Dugaan gadis ini benar. Itu bukan dia. Karena dirinya tidak pernah ikut Relly dan Ve. Lalu siapa yang di maksud Gio sepupu Relly?


Sementara itu Ve menegang. Dia ingat soal itu. Yang di maksud Gio sepupu, pastilah Sherry.


"Ee ...." Sigi bingung mau menjawab apa.


"Bukan. Aku memang kurang ingat, tapi aku yakin bukan dia." Gio sepertinya masih punya ingatan soal Sherry.


"Bukan Sigi? Lalu siapa?" tanya mama Relly heran. Ve terdiam sambil menggigit bibir dalamnya.


"Dia Sherry. Sepupuku yang lain." Mendengar Relly sengaja menyebut nama Sherry secara terang-terangan membuat Ve yang tadi menunduk, kini mendongak dan menoleh cepat. Elda di pantry juga terkejut. Sigi mulai paham.


Elda dan Ve menegang mendengar pengakuan Relly.


"Pasti yang di ajak Relly adalah sepupu yang lain. Bukannya dia punya sepupu selain Sigi ... Ya, Sherry yang dia sebut barusan," ujar Welly meyakinkan sambil tersenyum. Pria paruh baya ini paham jika saat itu putranya bersama gadis itu. Gadis yang pernah di ikuti oleh orangnya.


Mama Relly tampak kebingungan. Julia tersenyum padanya. Membuat perempuan itu juga tersenyum dan melupakan kebingungan yang menerpanya tadi.


"Hahahaha ... "Gio tertawa. Membuat suasana di sekitar tadi berkurang tegangnya. Welly menyambut tawa Gio dengan gelak tawa yang sama. "Begitu, ya ... Ayo, ayo lanjutkan makan kalian. Habiskan makanan yang sudah di buat oleh istriku." Tangan Gio terangkat mempersilakan tamunya menghabiskan makanan di meja.


"Bagaimana kabarmu, Ve?" tanya Mama Relly. Gio menoleh pada Ve.

__ADS_1


"Baik tante," jawab Ve.


"Kamu tampak sangat gugup dan gelisah. Ada apa denganmu?" pertanyaan Welly membuat semua orang menoleh. Terutama Gio. Pria ini semakin fokus melihat ke arah gadis itu.


Pertanyaan ini jelas jalan bagi Ve untuk mengatakannya. Namun sangat tidak mungkin karena mereka berada dalam kandang musuh. Anak buah Gio beredar di mana-mana. Mereka seperti siap menangkap siapa saja yang melakukan aksi mencurigakan.


"Tidak ada, Om. Hanya lelah saja."


"Begitu ya ... Lebih baik istirahat saja. Tidak perlu menemani kami."


"Tidak apa-apa, Om." Ve memang tampak lelah meski sudah berpakaian bagus untuk menyambut keluarga Relly.


Dalam makannya, Relly berpikir keras untuk mengeluarkan gadis itu dan keluarganya. Namun jika harus mengeluarkan semuanya, itu tidak mungkin. Dia kesulitan.


"Aku boleh mengajak Ve dan tante Julia keluar bersama keluargaku, Om?" tanya Relly.


"Pergi jalan-jalan bersama papa dan mamaku." Welly hanya mendengarkan, tapi mama tampak terkejut meskipun kemudian tersenyum. Ide ini muncul mendadak hingga mama sedikit terkejut.


"Jalan-jalan ya ... Itu bagus. Hanya saja ... " Sepertinya Gio tidak mau membuat tawanannya lepas. Dia tampak berpikir lama untuk memberi ijin pada mereka.


"Apakah ada sesuatu Gio?" tanya Welly.


"Tidak, tidak. Hanya saja Ve tampak lelah. Aku rasa dia tidak enak badan," kata Gio tiba-tiba menyatakan bahwa gadis ini sedang sakit.


"Aku mau. Aku mau keluar bersama keluarga Relly," ujar Ve dengan tergesa-gesa. Dia tidak mau melepaskan kesempatan yang sangat berharga ini. Semua menoleh.


"Ve, bukankah kamu sakit?" tanya Gio menekankan suaranya pada kata sakit. Bola matanya melemparkan ancaman. Ve tahu. Ve paham. Gio tidak mau dua perempuan itu pergi keluar bersama mereka. Penjahat itu tidak mau pengawasannya terlepas jika mengijinkan mereka membawa Ve dan Julia.


"Tidak. Aku tidak sakit. Aku sehat!" Tiba-tiba Ve menaikkan suaranya. Semua terkejut. Elda yang sudah selesai membersihkan pantry menoleh cepat. Dia tahu gadis itu ingin berontak. Julia mendekat. Mengelus punggung Ve dengan lembut.

__ADS_1


"Tenanglah, Ve. Tenang ...," bisik Julia berusaha menenangkan amarah gadis ini. Dia takut itu mengakibatkan pembunuhan pada mereka akan di percepat. Sementara Gio menggeram dalam hati melihat Ve berontak. Julia tahu itu. Relly berdecih. Dia tidak menduga bahwa Ve akan bersikap tidak sabaran. Meskipun dia tidak memberikan detail rencana yang akan di lakukannya, seharusnya Ve paham. Ini keadaan dimana kita tidak boleh bersikap sembarangan.


"Ada sesuatu?" tanya Welly lagi. Mama dan Sigi ikut memperhatikan.


"Tidak ada, Welly ..."


"Ada! Ada sesuatu di rumah ini!" teriak Ve yang bangkit dari duduknya. Julia yang duduk di dekat gadis itu sangat terkejut. Gio menatap gadis itu dengan sorot mata marah. "Ada banyak kejahatan di rumah ini!" Julia tidak lagi menenangkan Ve. Dia membiarkan gadis ini mengatakan semuanya.


Jika memang kita akan mati di sini, matilah. Yang penting harus ada orang lain yang tahu akan kejahatan pria ini. Perbuatan Gio harus bisa terbongkar. Hari ini atau tidak sama sekali!


"Di rumah ini memang ada sesuatu, Tuan Welly." Julia ikut mengatakan hal yang sama. Welly menoleh. Relly semakin frustasi. Bukan seperti ini rencananya. Mereka harusnya tenang.


"Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Welly pun bersikap waspada.


"Dia adalah penjahat Tuan! Di rumah ini semua adalah penjahat, kecuali pelayan perempuan!" Julia dengan lantang membeberkan semua. Tangannya menunjuk Gio yang masih duduk dengan tegas.


Mendengar ini anak buah Gio langsung bersiaga. Gio meletakkan sendok dan garpunya dengan kesal ke atas piring.


Brak! Gio menggebrak meja makan membuat para perempuan tersentak kaget dan takut. "Tutup mulut kalian!!" teriak Gio. Welly menegang mendengar teriakan marah dari meja di ujung. "Bawa perempuan-perempuan itu ke dalam. Segera!!" Anak buah Gio langsung mendekat dan mencengkeram tangan Ve dan Julia.


"Lepaskan!" teriak Ve dan Julia berontak. Mama dan Sigi berdiri dan menjauh dari mereka. Menatap ngeri dengan perlakuan anak buah Gio.


"Tunggu, Gio. Apa-apaan ini? Apa yang sedang terjadi?" cegah Welly seraya berdiri.


"Kau ingin tahu apa yang sedang terjadi?" tanya Gio dengan seringaian yang tersungging di bibirnya.


"Dia adalah Gio palsu yang merebut semua harta suamiku, Tuan," desis Julia. "Dia sudah membunuh suamiku! Dia membunuh Gio Santana!" teriak Julia kalap.


__ADS_1


__ADS_2