
.
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
"Aku yakin kau sedang menyembunyikan sesuatu," kata Relly geram tanpa mempedulikan Hansel yang sebenarnya bisa tahu lebih dulu, siapa gadis di balik punggung Sherry.
"Tidak," bantah Sherry masih berupaya keras.
"Aku yakin telingaku menangkap suara perempuan sedang memanggilku dan aku rasa aku pernah mengenal suara siapa itu." Relly memaksa melangkah ingin melihat gadis di balik selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya itu. Sherry mendorong tubuh Relly.
"Berhenti!"
"Aku tidak harus mendengarkan perintahmu," Relly sudah bisa menerobos barikade Sherry dan menuju ke bibir ranjang. Aska yang memeluk Vermouth menjadi terkejut dan semakin memeluk Vermouth erat. Hansel tidak punya kesempatan karena tangan Relly sudah di depan lengan, Aska.
"Aku mau jadi kekasihmu kalau kau berhenti mendesak ingin tahu, Relly!" teriak Sherry yang langsung membuat tangan Relly yang ingin menarik tubuh Vermouth dari pelukan Aska berhenti seketika. Hansel menoleh cepat ke arah Sherry yang berdiri membelakangi mereka. Matanya yang semula terus saja mencoba melihat gadis yang ada di pelukan Aska, kali ini mengalihkan pandangan ke arah Sherry yang menunduk.
Hansel memandang Sherry terkejut. Menjadi kekasih? Setelah memejamkan mata beberapa detik dan menghela napas, Sherry memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah ranjang rumah sakit. Dimana mereka bertiga sedang berada di sana. Hansel yang tiba lebih dulu si samping ranjang sedang menatap Sherry. Juga Relly yang berada di sisi ranjang lainnya juga menghentikan langkah dan lebih tertegun dengan kalimat Sherry barusan.
__ADS_1
"Seperti tawaran yang kau berikan padaku. Aku mau jadi kekasihmu," ulang Sherry yang tidak punya pilihan lain. Tinggal sedikit saja Relly akan berhasil membalikkan tubuh Vermouth yang tak lain adalah tubuhnya sendiri. Sherry tidak mau tubuh itu di ketahui orang lain yang bukan dari kehidupannya yang dahulu. Terutama dari Relly yang tak lain adalah orang yang sangat di cintai Vermouth.
Aska yang sedang memeluk Vermouth merasakan ada yang hangat membanjiri seragamnya. Rupanya Vermouth menangis dalam pelukan Aska. Mendengar Sherry mengatakan ingin menjadi kekasih Relly membuat Vermouth menangis.
Itu adalah mulutnya. Itu adalah tubuhnya. Selama ini menjadi kekasih Relly adalah impian Vermouth. Dia menangis karena Relly adalah orang yang selalu di harapkannya menjadi orang yang spesial. Keinginannya terkabul justru saat jiwanya tidak berada pada tubuhnya. Itu berarti bukan dia yang akan menjadi kekasih Relly, tapi Sherry.
Relly melangkah perlahan mendekati tubuh Sherry yang berdiri agak jauh dari ranjang.
"Kau tidak bisa lagi menarik ucapanmu," kata Relly setelah berdiri tepat di depan Sherry.
Aku tahu.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau sembunyikan. Aku merasa mengenal suara itu, tapi aku yakin aku tidak mengenal gadis itu. Jadi entah sadar atau tidak pertukaran ini berat sebelah. Kau mau menjadi kekasihku dengan catatan aku tidak boleh mencoba mencari tahu siapa dia, bukankah ini berarti aku mendapat bagian dan keuntungan yang lebih banyak?" ujar Relly mengingatkan.
"Aku yang tidak ada hubungan apapun dengan gadis yang kamu lindungi itu tentu tidak mau bersusah payah mencari tahu siapa dia. Padahal aku hanya ingin tahu wajah di balik tubuh itu hanya karena kau berusaha menyembunyikannya. Aku yakin aku sangat tidak tertarik dengan orang lain kecuali kamu. Apakah kamu tidak merasa rugi menjadi kekasihku hanya untuk melindungi dia yang mungkin saja tidak berharga untukku?" tanya Relly yang membuat Sherry merasakan sesak di dada.
"Aku tidak tahu drama apa yang sedang kalian bicarakan, tapi berhenti bersikap pasrah seperti itu, Ve... Kamu tidak harus menjadi kekasihnya karena tidak ingin dia mendekati gadis itu," kali ini Hansel bicara. Relly yang biasanya akan langsung melirik tajam ke Hansel, kali ini diam dan masih melihat ke Sherry. Seperti menerka apa yang kali ini ada dalam benak gadis di depannya.
"Aku tahu apa yang sedang kau bicarakan Relly. Tidak masalah asal kau tidak mendekati dia," kata Sherry sambil menunjuk ke arah Vermouth. Dia tidak mempedulikan perkataan Hansel.
__ADS_1
"Apa kau tidak berpikir dia sedang mempermainkanmu hingga membuatmu harus mengiyakan tawarannya padahal kau sendiri tidak punya perasaan yang sama padanya," kata Hansel tetap memaksa Sherry mengubah keputusannya. Relly masih tetap diam tanpa mengalihkan pandangan dari Sherry. Tidak sedetikpun.
"Maaf Hansel, aku tahu apa yang aku lakukan. Aku rasa ini tidak berat sebelah. Dengan jelas aku mengatakan mengikuti tawaran menjadi kekasihnya hanya karena aku tidak ingin dia mencari tahu siapa gadis itu. Bukankah berarti dia juga tahu bahwa aku tidak ada perasaan khusus padanya?" kata Sherry dengan tatapan mata yakin seraya melihat ke Relly. Dia juga tidak mengalihkan pandangan dari Relly. Seakan menunjukkan dengan berani ini hanya perjanjian, bukan ikatan yang berisikan cinta dan semacamnya.
"Maaf, sepertinya aku sudah cukup puas jika tubuh itu tidak pergi kemana-mana dengan orang lain tanpa seijinku, karena kita punya hubungan yang memperbolehkan aku melarangmu dekat dengan orang yang tidak aku suka," kata Relly dengan kesenangan yang kentara. Pun matanya melirik ke arah Hansel agar dia tahu apa yang dimaksud dari perkataannya.
Masih dalam diam dan dirinya yang memeluk Vermouth yang tetap menangis, Aska mendesah. Dia melihat Sherry sedang berusaha berkorban demi tubuh yang di pakai Vermouth untuk tidak sampai diketahui mereka. Sherry benar-benar tidak ingin mereka tahu seluk beluk dirinya.
Relly lebih mendekat ke arah Sherry dan berbisik, "Aku tunggu dirimu memenuhi janjimu. Kamu bisa pastikan aku juga memenuhi janjiku... " Mata Hansel menatap tidak suka dengan interaksi barusan. Seonggok hati sakit saat melihat Relly dengan yakin mendekati Sherry. Hansel berdecak seakan marah melihat Relly. Sherry mendengkus lagi.
"Aku pergi. Aku sudah melihat banyak apa yang perlu aku lihat. Terima kasih untuk seseorang yang sedang bersembunyi dalam pelukan telah menyebut namaku. Juga maaf membuat tangismu merebak," ujar Relly yang membuat Sherry kembali bermata nanar. Menoleh cepat ke arah tubuh yang sedang membelakanginya.
Aska juga terperanjat kaget. Lalu pandangannya menunduk melihat pucuk kepala Vermouth yang semakin menenggelamkan diri pada tubuh Aska. Tangannya yang menggenggam kemeja sekolah Aska bertambah erat dan kuat. Perkataan Relly sepertinya mampu membuat Vermouth semakin menangis keras.
Sherry menoleh ke arah Vermouth. Dengan mata nanarnya dia juga memandang Aska yang sedang memandangnya juga. Kedua mata itu beradu dan sepertinya punya pemikiran yang sama.
Mungkin Relly memang tidak tahu rupa di balik tangisan itu. Bagaimana matanya, hidungnya, tulang pipinya, tapi Sherry yakin Relly paham bahwa Sherry menyembunyikan gadis itu karena tubuh itu kemungkinan adalah dirinya.
Benar, Relly tersenyum sesaat hendak pergi dari kamar pasien. Dia hanya berpura-pura tidak menduga hal itu dan ingin tahu dengan memancing Sherry sampai terdesak. Relly tidak berpikir Sherry akan membahas tawaran manis miliknya. Relly hanya mendesak ingin melihat reaksi apa yang akan di lakukan Sherry.
Relly mulai paham takdir aneh ini. Suara tadi meyakinkan dia akan dongeng yang sedang mengitari mereka berdua.
__ADS_1
.