
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Daniel, kau menjaga adikmu dengan baik. Terima kasih," kata Gio bersyukur. Daniel membungkuk sopan. Di jaga? Mata Sherry membelalak dan mendengus sebal.
Dia memang tadi sempat menjagaku di depan rak buku. Lebih tepatnya di kepung oleh lelaki ini. Di penjara dalam lingkaran tangannya. Sherry melirik Daniel tajam. Lelaki itu paham lirikan tajam mata gadis berseragam itu. Namun dia tetap bersikap tenang.
Hebat banget manusia itu.
"Kamu pasti belum makan. Ayo kita bertiga makan dulu," ajak Gio yang langsung di setujui oleh Daniel.
Sherry sedang duduk di dapur bercengkrama dengan Elda sambil lihat Ijah masak. Lalu muncul Ibu tiri dengan kaki tangannya Lola, yang membawa aura muram bagi semua orang. Padahal tadi suasana sangat ceria.
"Hari ini kamu yang belanja untuk keperluan dapur dan rumah," titah Ibu tiri tiba-tiba seraya menyerahkan catatan belanjaan yang panjang. Sherry langsung melongo melihat daftar itu. List belanjaan yang enggak main-main.
"Banyak sekali...," Sherry bergumam tanpa sadar dan ini membuat raut muka ibu tiri bernuansa gelap.
"Kau sedang mengeluh padaku?" tanya Nyonya Julia sedikit murka. Sherry mendongak. Wajah itu mau marah. Gitu aja marah ... Dalam hati Sherry mencebik. Sherry langsung melukis senyum pada bibirnya untuk memulihkan mood Yang mulia ibu suri.
"Bahan-bahan di dapur habis, jadi banyak yang harus di beli. Kamu keberatan?" Begitu alasan Nyonya Julia menjawab komentar Sherry dengan nada sengit.
__ADS_1
"Tidak," jawab Sherry cepat. Kedua matanya masih mencoba membaca daftar itu. Dia sedang memperlakukan nona ini jadi jongos nih? Rupanya Nyonya itu memang sedang bermain-main.
"Biar saya dan Pak Gito yang berbelanja Nyonya." Bu Sarah menawarkan diri. Beliau memperjuangkan nona mudanya agar terhindar dari kekejaman seorang istri kedua. Mata nenek sihir itu berkilat tidak suka.
"Bukankah kamu sudah banyak pekerjaan Bu Sarah? Kamu itu harus memperhatikan keadaan seluruh rumah. Tidak perlu mengerjakan pekerjaan seperti ini. Bukankah kamu sedang senggang, Ve?" Mata Nyonya Julia berpindah ke Sherry yang masih saja membaca daftar belanja.
"Eh, iya."
"Nah ... dia sendiri yang bilang sedang senggang. Biar dia tahu juga bagaimana caranya mengelola keuangan dengan baik. Bukan begitu, Lola?" tanya Nyonya Julia ke arah pengikut setia yang sedang berdiri dengan angkuh juga di sampingnya. Padahal status sama dengan pelayan di rumah ini, tapi dia sudah berlagak layaknya ajudan kepresidenan. Pelayan rumah yang sok-sok-an karena merasa jadi kepercayaan nenek sihir itu.
"Iya Nyonya." Apa saja yang di lakukan nyonya selama itu bukan menyuruhnya, dia iya aja. Dasar penjilat ulung. Dan perkataan Nyonya Julia hanya alasan yang kebetulan tepat.
"Biar, nona belanja diantar sama Pak Gito," Bu Sarah.
"Tidak. Dia belanja dengan Elda saja," sergah Ibu tiri. Sherry melirik Elda dengan menahan senyum. Selalu saja dia kena imbasnya. Apapun yang terjadi sama Ve, Elda sering kali juga kena.
Kadang orang bisa tetap sehat walau makan sedikit tapi hatinya gembira. Tapi orang bisa sekarat walau dengan harta berlimpah, kalau keadaan hatinya sakit.
"Bagaimana sih, Bu Sarah. Kan ada pegawai supermarket yang bantu di sana. Biar mereka minta tolong pada pegawai itu. Iya kan Nyonya?" Lola sungguh pandai mengambil hati nyonya Julia.
"Iya. Minta tolong saja mereka," kata Nyonya Julia menyebalkan.
Elda dan Sherry berangkat ke supermarket. Di dalam mobil Elda mengomel tidak karuan. Dia kesal. Sherry malah cekikikan. Merasa sangat lucu.
"Kamu tidak merasa kesal dengan sikap Nyonya Julia dan pengikutnya? Kenapa bisa tertawa dalam keadaan seperti ini. Menyuruh Ve seenaknya. Di rumah kan banyak orang yang bisa di suruh belanja. Kenapa perlu menyiksa nona Ve," ujar Elda gusar.
"Mereka memang menyebalkan sih. Tapi aku biasa saja di suruh belanja. Sudah sering sih, di suruh ibu di rumah. Jadi tidak keberatan. Yang bikin kesal itu sikap Lola. Kenapa bisa dia bersikap arrogan. Pejabat bukan, pengusaha bukan. Dia juga selalu mengerjai Ve padahal hanya pelayan rumah. Mungkin Ve terlalu baik."
__ADS_1
"Iya. Aku tidak tahu kenapa nyonya sangat tidak menyukai nona Ve."
Untuk seorang Sherry yang berasal dari keluarga menengah ke bawah hal ini sangat normal. Tapi ini terjadi pada Ve yang tak lain adalah puteri pengusaha dan juga punya tubuh yang lemah. Padahal banyak pelayan lain yang bisa melakukannya tapi Ibu tiri itu justru menyuruh Ve.
Elda memarkir mobil di depan minimarket. Karena dia ingin segera ke toilet. Sherry turun lebih dulu. Lalu di ikuti Elda. Saat turun dari mobil, dari arah kanan mobil tiba-tiba ada seorang pemuda yang langsung menarik tas yang ada di bahu Elda.
"Jambret! Sherry ada jambret! Jambret!" teriak Elda panik. Sherry yang ada di pintu sebelah kiri langsung lari mengikuti pria yang berlari itu. Dengan sekuat tenaga Sherry berlari mengejar pemuda yang ternyata ada dua.
Aksi kejar-kejaran ini sempat di lihat orang yang melintas. Namun mereka bukan orang yang bisa menghentikan para penjambret itu. Karena Ibu barusan sudah tua renta. Lalu kakek yang di kanan jalan, hendak berteriak saja sudah susah apalagi harus membantu menghentikan para penjambret itu. Di depan sana ada anak kecil yang mungkin masih kelas tiga SD bersama dengan ibunya yang sedang hamil.
"Hentikan dia!" teriak Sherry kepada seorang pemuda yang kebetulan lewat.
"Dia jambret!!" teriak Sherry. Awalnya pemuda itu juga tidak paham saat Sherry berteriak untuk menghentikan orang yang lari tadi. Tapi saat Sherry berteriak kalau yang melintas barusan penjambret, pemuda itu langsung ikut mengejar mereka. Kegesitan pemuda itu mampu membuatnya berhasil meraih jaket penjambret satu dan menariknya agar dia berhenti. Bruk! Penjambret itu terjengkang.
Lalu penjambret dua juga terjerembab karena ulahnya sendiri. Tubuhnya jadi oleng karena dia lari sambil melihat kebelakang saat temannya berhasil di hentikan pemuda yang menolong tadi.
Sherry meraih kerah penjambret dan memukulnya. Bug! Penjambret itu meringis kesakitan. Rasa sakitnya jadi dobel. Pertama jatuh karena terjerembab. Kedua karena Sherry memukulnya.
"Ini, ini ... tasnya," kata cowok itu memberikan hasil jambretnya ke Sherry sambil meringis. Penjambret di belakang tidak di apa-apakan oleh pemuda itu karena langsung meminta ampun. Tapi pemuda itu sudah siap menghajar kalau kalau jambret membahayakan.
"Hosh, hosh .. Dasar kalian ini," Sherry mendesis geram di sela-sela nafasnya yang tersengal-sengal. Perlahan penjambret di depan Sherry berdiri dengan panik lalu berlari kabur di ikuti penjambret yang ada di belakangnya.
Sherry berkacak pinggang dan wajahnya meringis merasakan sakit di perutnya karena lari sekuat tenaga!
"Aaarggghh!! Capeknya aku!" teriak Sherry kesal. Pemuda tadi juga sedikit ngos-ngosan sambil melihat Sherry. Tudung jaket tadi terbuka karena tubuh Sherry bergerak berlebihan. Dan ini memperlihatkan semua wajah Sherry.
"Kamu!" pekik pemuda yang menolongnya kaget. Sherry noleh ke samping. Ternyata itu adiknya, Aska.
__ADS_1