Diary Sherry

Diary Sherry
Aku berharap


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Sherry tahu sikap Daniel itu menunjukkan ketertarikan akan cerita Elda dan tentang kebiasaan yang sangat berbeda. Gadis ini diam sambil menggeser netranya ke Elda lagi. Daniel melihat kesamping untuk lebih menajamkan telinganya.


"Hhh ... dan aku juga mendengar kamu membuat keributan dengan menantang senior disana." Elda mengatakannya dengan mimik tidak percaya. Sherry merasakan Daniel semakin tersenyum takjub mendengar kisah kepahlawanan adik tirinya yang tidak masuk akal. "Hentikanlah melakukan hal seperti itu. Kamu bisa membahayakan Ve kalau terus saja begitu." Bola mata Sherry melebar begitupun Daniel. Bibir dan mata Sherry hendak mengisyaratkan Elda untuk berhenti membicarakan hal ini tapi tidak bisa. Daniel terus saja memantaunya.


Apa yang sedang di bicarakan mereka. Daniel menautkan alis.


"Kalau saja jiwa kalian bisa kembali lagi pada tubuh masing-masing, Ve tidak akan bisa menjadi seseorang yang tangguh sepertimu. Dia akan tetap menjadi Ve yang lembut, penakut dan lemah." imbuh Elda.


Daniel tersentak kaget dan menolehkan kepala ke arah Elda yang berada tak jauh darinya. Elda masih berdiri membelakangi Daniel hingga membuatnya tidak tahu keberadaan laki-laki ini. Setelah mendengar dengan jelas apa yang di katakan Elda, mata Daniel berganti memandang Sherry yang membeku di sofa single-nya.


Sherry melihat lagi raut wajah terkejut itu. Matanya bergetar saat Daniel melihatnya dengan tatapan serius dan penuh banyak tanya. Mulutnya tidak lagi berusaha untuk berkata-kata memberi peringatan Elda bahwa ada orang lain sedang berada di dalam kamar.


Ve? Sherry? Mengapa Elda membicarakan satu orang tapi dengan menyebut dua nama. Membahayakan Ve? Bukankah gadis di depan ini adalah Ve?

__ADS_1


"Kecelakaan yang membuat semua orang berpikir itu bunuh diri memang menyebalkan. Kamu dan Ve harus mengalami takdir aneh yang membuat jiwa kalian tertukar. Maaf membuatmu memaksakan diri menjadi Ve. Entah bagaimana jiwa Ve sekarang. Aku harap dia baik-baik saja." Elda masih membicarakan takdir aneh ini.


Takdir aneh? Jiwa mereka tertukar seperti dongeng? Daniel berunding dengan dirinya sendiri. Menduga-duga dan menerka-nerka sendiri bagaimana sesungguhnya kenyataan ini. Sherry memperhatikan.


"Kenapa kamu diam saja dan tegang seperti itu, Sherry? Apa sekarang kamu berlagak menjadi nona Ve? Itu tidak akan bisa menipuku. Aku sangat tahu perbedaan Sherry dan Ve. Sherry itu orang yang berani dan tidak peduli sementara  Ve punya sifat kebalikannya. Dia tidak akan pernah menjadi sepertimu, Sherry," lanjut Elda semakin dalam.


Sherry terdiam dan menarik ekor matanya dari Elda lalu berganti melihat Daniel yang semakin menatapnya serius. Daniel mendengar semua.


Apa yang di pikirkan lelaki ini sekarang?


Daniel yang duduk dengan bersila kaki dan tangan didepan dada itu mampu mengutarakan bahwa dia ingin bertanya, 'Benarkah cerita ini?' tanpa mengeluarkan suara.


"Sherry, kenapa diam saja?" tanya Elda masih berbisik karena melihat Sherry tidak bereaksi atas nasihatnya, "Kamu tidak ingin mendengarkan nasihatku, ya.."


"Terus? Sherry, kamu sedang melihat ke arah mana sih?" Elda merasa Sherry sedang tidak melihat kearahnya.


"Dia," tunjuk Sherry dengan dagunya. Elda memutar tubuhnya dengan rasa was-was ke arah sofa yang berada di balik pintu.


"Halo Elda," sapa Daniel sambil tersenyum sopan. Mendengar ada orang lain berada dalam kamar saja, Elda sudah merasa terkejut meskipun dia belum tahu itu siapa. Apalagi saat memutar tubuhnya, dan mendapatkan Daniel duduk di sofa. Elda sangat terkejut hingga mulutnya menganga dan matanya membulat. Melihat ke Sherry dan Daniel secara bergantian dengan raut wajah panik.


Rasa cemas, bersalah dan gelisah bercampur jadi satu. Dia bingung harus berkata apa. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari bibirnya.


Hanya meringis dan mempertanyakan bagaimana ini ke Sherry tanpa mengeluarkan suara apapun. Sherry menatap Elda dengan mulutnya yang masih bungkam. Raut wajah itu pasrah dengan kedua bola mata melirik ke Daniel yang juga sedang melihat reaksi Elda yang beraneka ragam karena keterkejutan dan bersalah. Lalu menatap Sherry yang tidak melakukan bantahan ataupun penyangkalan.

__ADS_1


"Kamu masih punya banyak pekerjaan bukan, Elda?" tanya Sherry menghentikan kebingungan Elda karena kalimatnya yang secara tidak sengaja membahas soal jati diri Sherry.


"E ... tapi..." Elda meringis ragu untuk pergi meninggalkan Sherry sendirian.


"Tidak apa-apa. Aku akan selesaikan makan dan dia akan segera keluar," ujar Sherry menenangkan pelayan Ve yang setia dan baik hati itu. Daniel masih di sofa sambil melihat ke Elda sebentar. Dengan rasa bersalah dan khawatir, Elda keluar kamar. Menutup pintu dan memastikan bahwa tertutup dengan benar.


"Apakah tidak apa-apa, Sherry aku tinggal berdua dengan Daniel? Apalagi dengan perkataanku soal dia ..." Elda diluar pintu masih merasa cemas dan khawatir.


Suasana di dalam kamar menjadi hening. Kecanggungan tadi muncul lagi. Bukan hanya rasa canggung yang timbul karena ucapan Elda, tapi sekarang juga di tambah dengan ketegangan yang luar biasa. Daniel masih membungkam mulutnya. Tidak bertanya apa-apa terkait hal yang di katakan Elda.


Kebungkaman ini membuat Sherry merasa terjebak. Apa Daniel ingin penjelasan dari mulut Sherry sendiri? Akhirnya Sherry mengangkat tangannya dan menyuap makanan lagi. Kali ini dengan pikiran yang berkecamuk. Sherry membiarkan dirinya diperhatikan lebih dalam, lebih seksama dengan bola mata warna abu-abu tua milik Daniel. Terkadang bibir itu tersenyum simpul saat melihat dirinya.


Sherry gelisah tapi dia harus tetap menuntaskan makan yang rasanya jadi semakin hambar di lidah. Tinggal sesuap lagi. Sherry memaksakan mulutnya membuka dan ******* makanan. Menelannya dengan keras agar tertelan dengan cepat. Meletakkan piring di atas nampannya lagi kemudian mengangkat gelas berisi air putih. Hanya menyeruputnya sedikit lalu melanjutkan ke  gelas selanjutnya yang berisikan jus dengan warna jingga yang berasal dari sayur wortel.


Sherry sangat tidak menyukai rasa jus dari wortel ini. Bikin eneg dan mual. Namun entah kenapa Sherry ingin menghabiskan waktu yang berisi dengan macam emosi ini dengan meminum jus yang di bencinya. Dia ingin membunuh semua emosi itu dengan mengalihkan perhatian pada jus itu. Memaki, mengumpat dan mencemooh jus itu dengan puas.


"Hentikan meminum semua minuman itu," sergah Daniel menggertakkan giginya.


"Lalu?" tanya Sherry. Sekarang ini dia melihat Daniel dengan serius. Bibir Daniel diam sebentar. Menghempas napas sejenak kemudian berbicara lagi.


"Aku hanya tidak ingin melihatmu menghabiskan minuman yang terlihat mencekikmu itu karena gelisah." Mata Sherry melihat lurus lelaki itu. Daniel kembali diam. Laki-laki itu tahu Sherry sedang gelisah tapi dia hanya memperhatikan tidak menanyakan apapun. Itu justru membuat Sherry gelisah dan tidak tenang.


Tolonglah jangan diam. Ucapkanlah sesuatu lagi. Jangan membuat bibirku membuka dan menuturkan semuanya sendiri. Kamu perlu bertanya Daniel. Itu terdengar aneh dan tidak masuk akal.

__ADS_1



__ADS_2