
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Di rumah keluarga Sherry,
Pagi yang cerah membuat Aska bersemangat untuk mencuci motor bututnya. Apalagi ini hari minggu. Jadi bisa leluasa memandikan si butut kece badai. Itu adalah sepeda motor lama peninggalan bapak.
"Aska, kamu sudah makan?" tanya kakak perempuannya lembut yang muncul di depan pintu. Aska yang sedang mencuci sepeda motor terperanjat kaget. Sejak meyakini dengan pasti bahwa Sherry asli ada di tubuh gadis cantik itu, Aska jadi merasa canggung. Bukankah berarti di hadapannya ini adalah orang lain?
Vermouth? Jadi nama dia Vermouth...
"Aska, kakak sedang bertanya. Kamu sudah makan belum?" tanya Ve mengulang pertanyaannya lagi karena Aska bengong.
"Belum," jawab Aska singkat.
"Makanlah dulu. Mencuci motornya bisa di selesaikan nanti. Makanan sudah siap." Ve tersenyum.
"Ya."
Kalau Sherry tidak akan mengatakannya dengan cara seperti itu. Bahkan dia akan membiarkan Aska kalau memang tidak mau makan. Anugerah tersendiri bagi Sherry bila Aska tidak makan. Karena tidak perlu berebut soal lauk.
Aska memandangi Ve yang masuk kedalam rumah. Kenapa gadis itu merasa sangat nyaman di rumah keluarga yang sederhana ini? Bukankah rumahnya sangat mewah. Dan di rumah ini sangatlah sulit karena makan saja di jatah. Harus bantuin Ibu yang mencari uang sendiri karena ayah sudah meninggal. Sebenarnya bagaimana kehidupan dia saat menjadi dirinya yang asli?
Setelah selesai mencuci motornya Aska masuk ke rumah.
"Aska makanlah. Kakakmu sudah menyisakan lauk kesukaanmu," kata Ibu yang berpakaian rapi.
"Ibu mau kemana?"
"Ada pertemuan ibu-ibu di rumah Ibu Ani. Ibu berangkat dulu. Sherry! Ibu berangkat arisan dulu!" Sherry dengan jiwa Vermouth di dalamnya segera muncul di depan ibu dengan senyumnya. Rupanya dia ingin mengantar ibu berangkat arisan. Berlebihan memang. Seperti ibu akan melancong keluar negeri saja. Tapi memang seperti itu. Sejak kecelakaan itu seorang Sherry begitu banyak berubah.
__ADS_1
Aska memperhatikan kakak palsunya itu dengan helaan napas berat. Dia jadi kasihan dengan Sherry yang terjebak dalam tubuh Ve.
Kalau dia melihat Ibunya sangat akrab dengan Ve di sini dia pasti terluka. Semoga dia tidak pernah melihat keakraban Ve dengan Ibu, batin Aska.
Aska membuka tudung saji. Benar, Ve menyisakan lauk kesukaannya. Sungguh gadis yang baik. Aska memakan sarapannya yang terlambat dengan lahap.
Suara mesin pengaduk adonan terdengar dari arah dapur. Aska melongok ke dapur sambil memegang sendok. Ve punya hobi membuat kue. Sangat bertolak belakang dengan Sherry yang hanya hobi makan kue. Terdengar suara dering dari ponsel Aska di atas rak buku yang membuatnya mengalihkan perhatian dari Ve.
"Aska! Ponselnya bunyi tuh ..." Ve memberitahu sambil membawa ponsel ke meja makan. Padahal Aska juga dengar. Kalau Sherry bakal tetap cuek meski ponsel berdering ribuan kali pun. Ini sedikit tidak nyaman buat Aska.
"Terima kasih," kata Aska sopan. Ve tersenyum. Sungguh aneh harus berterima kasih dengan canggung kepada saudara sendiri.
"Dari siapa, cewek kamu yah.." tanya Ve mengagetkan. Ternyata gadis itu masih di sini.
"Teman. Cowok," Aska menjawab sambil terus menatap layar ponsel.
"Oh ... " Setelah mengucapkan itu, Ve balik lagi ke mesin pengaduknya. Aska langsung pergi ke depan teras sambil menerima panggilan.
"Halo," sapa Aska pelan.
"Lama amat, Ka! Mau jamuran nih nunggu situ angkat telfon." Suara nyaring dan cara memilih kata-kata yang unik menunjukkan itu Sherry.
"O ... Ibu juga ada?"
"Enggak. Ada apa?"
"Aku ingin kesana. Sebentar saja. Bagaimana keadaan rumah, Ibu dan Bik Inah." Terdengar nada getir di sana. Tanpa melihat ekspresinya saja Aska tahu wajah Sherry pasti pilu. Matanya pasti berkaca-kaca. Terdengar sangat jelas dari nada suaranya yang menyebut Ibu dengan sedikit gemetar. Sherry pasti rindu dengan keluarganya di sini.
"Jangan, Sher. Kita enggak tahu bagaimana respon tubuh kamu disini. Akan senang, atau malah ingin menjajah tubuhmu karena mulai nyaman dengan tubuhnya disini."
"Ka!" Lagi-lagi suara Ve memanggil.
"Apa?!"
"Makan dulu, jangan di tinggal! Habiskan dulu makannya. Ibu kan bilang enggak suka kalau makan dengan cara seperti itu!"
__ADS_1
"Iyaa!!" sahut Aska. Sherry yang mendengar suara Ve tertawa geli.
"Wah, wah, Ibu sekarang punya komplotan, ya ..." Aska menghela napas kesal mendengar ledekan Sherry.
"Dia lebih bawel dari kamu," sungut Aska. Sherry cekikikan.
"Jangan di hajar lho, Ka. Meski memakai tubuhku, jiwanya sangat lemah."
"Iya, iya paham. Bagaimana mungkin aku bersikap keras terhadap perempuan. Enggak laki banget."
"Memangnya kamu enggak seperti itu? Tiap hari aja kamu memperlakukan kakakmu ini dengan keras, bocah!" Sherry protes.
"Kamu beda, sher. Kamu bukan perempuan asli."
"Ngaco itu mulut. Aku lakban entar ya ..." Aska ketawa. Sherry itu kadang lebih cocok jadi teman daripada seorang kakak.
"Kalau gak di habisin kasihan ibu yang susah payah memasak untuk kita." Ve muncul dengan banyak wejangannya.
"Iya kak, sebentar lagi."
"Oke. Cepat selesaikan ngobrolnya. Terus di habisin nasinya."
"Busyet!" pekik Sherry di telepon. Lalu tertawa ngakak. Setelah Ve pergi kebelakang, Aska menggerutu kesal.
"Kak? Gak salah dengar nih? Aku yang belum korek kuping atau memang ada yang salah sama mulut kamu?" ledek Sherry.
"Diam." Aska menekan tombol merah untuk mengakhiri obrolannya dengan Sherry yang semakin memanas. Lalu menghabiskan makanan di piring dengan cepat karena takut dengar Ve bicara panjang seperti Ibu-ibu lagi.
Dia bicara dengan siapa? Terdengar sangat akrab cara Aska berbicara? Apakah seseorang yang aku kenal? Tapi itu tidak mungkin. Saat jadi Ve aku tidak tahu dan mengenal keluarga ini.
Rupanya Ve merasakan firasat yang tidak enak saat Aska terlihat berusaha bersembunyi saat menerima telepon. Dan belakangan ini Aska juga bersikap sedikit menjaga jarak dan lebih sopan daripada awal pertama Ve berada pada tubuh Sherry. Ve pikir karena Aska memang mulai sangat sopan karena sudah sering di beritahu Ibu untuk melakukannya.
Ve juga sering merasa di awasi belakangan ini. Sebenarnya apa yang sedang di lakukan Aska. Apa dia paham bahwa di dalam tubuh kakaknya ini ada jiwa yang lain. Tapi apakah mungkin orang begitu mudah percaya dengan kisah dongeng ini.
Ve menyayangi keluarga ini lebih dari rasa sayang kepada keluarganya sendiri. Karena di dalam rumah sederhana ini Ve menemukan kebahagiaan. Dari seorang Ibu yang tidak pernah dirasakannya dari kecil. Nyonya Julia saja tidak bisa menjadi seorang ibu bagi Ve. Beliau begitu sempurna menjadi seorang istri, tapi sangat cacat dalam hal menjadi Ibu.
__ADS_1
Ve bahagia di sini. Dia tidak ingin kembali.