Diary Sherry

Diary Sherry
Vermout_Dongeng gelap


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


Dua pria tadi terkejut melihat aksi gadis tawanan mereka di belakang. Erik melihat ke arah bangku belakang milik para lelaki yang berbunyi aneh barusan. Tidak terlihat karena kaca yang gelap.


"Cepat kita pergi," bisik salah satu pria kepada pria brewok yang memegang kemudi.


"Maafkan kami yang menghalangi jalan, Anda." Pria brewok berkata dengan sopan. Bermaksud menghindar dari menarik kecurigaan Erik dan Relly.


Sherry berusaha keras membuat kegaduhan dan menimbulkan kecurigaan. Tubuhnya berpeluh. Napasnya tersengal-sengal.


"Ayo, Erik. Kita harus cepat pergi." Relly menggeram. Erik sempat terpikir hal aneh. Namun segera di tepisnya karena Relly menatapnya tajam.


"Oke." Erik mulai menyalakan lagi mesinnya.


Relly aku disini. Aku di dalam mobil ini. Tolong aku, Relly...


Relly tersentak kaget. Kepalanya menjulur ke luar jendela. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri karena merasa ada suara yang memanggil namanya.


"Ada apa?" tanya Erik heran.


"Kau dengar itu?" Relly berusaha menajamkan indra pendengarannya.


"Apa?" Mobil sudah menyala akan melaju meninggalkan mobil penculik Sherry.


"Suara dia memanggilku?" Relly masih menoleh ke segala arah.


"Suara siapa?" tanya Erik.


"Suara Sherry sedang memanggilku."


"Sherry? Siapa itu?" tanya Erik tidak paham.


"Vermouth. Gadis itu."


"Tidak ada suara gadis sama sekali."


"Tidak. Aku yakin aku mendengarnya. Berhenti. Dia sedang meminta bantuanku. Sherry sedang butuh pertolonganku," racau Relly. Karena Erik masih tidak paham apa yang dikatakan tuan mudanya, mobil masih tetap melaju. "Berhenti, Erik. Aku bilang, berhenti!" teriak Relly kalut. Mendengar teriakan ini Erik langsung mengerem mobil setelah yakin keadaan jalanan sepi.


Relly membuka pintu mobil dengan cepat. Berdiri dan mulai berlarian mencari asal suara tadi. Itu suara Sherry. Aku sangat yakin. Namun dimanakah dia? Relly berlari kesana kemari sambil mencoba menajamkan telinga untuk mendengar suara Sherry yang meminta tolong.

__ADS_1


Sementara Sherry mulai berhenti menendang kakinya pada badan mobil. Mendengar deru mobil Relly menjauh, Sherry mulai menghentikan kakinya.


"Hei, kau gila?! Berhenti!" teriak pria itu ke Sherry sambil menggebrak bangku. Lalu menyuruh temannya berhenti. Setelah yakin mobil Relly tadi menjauh, pria brewok tadi menghentikan laju mobil. Pria satunya membuka pintu dan menghampiri Sherry yang kelelahan.


Tangan laki-laki itu menarik tubuh Sherry paksa dan ... Plak! Tamparan mendarat di pipi Sherry. Terasa sangat panas dan perih. "Bocah ini berani bertingkah. Jangan macam-macam, bocah!" teriak laki-laki itu marah. Sherry meringkuk di atas kursi mobil.


Ponsel berdering dari bangku mobil di bagian depan.


"Halo, boss."


"Apakah kalian sudah sampai?"


"Belum."


"Kenapa belum? Aku sudah berada di tempat ini, bodoh!"


"Maaf bos. Ada sedikit kendala tadi." Pria brewok membungkuk sambil menempelkan ponsel pada telinganya. Sambungan ponsel terputus. "Bos marah. Kita harus segera pergi."


"Gawat. Bocah ini juga sialan," umpat pria lain kearah Sherry. Lalu pria itu kembali ke depan dan melanjutkan perjalanan menuju bos.


Mobil melaju cepat ke sebuah tanah kosong dan lapang. Sherry kurang paham ini dimana. Tubuhnya lelah. Pandangan matanya terasa mengabur tadi.


"Maaf bos. Kita lama." Ada seorang pria tua tapi tetap gagah berdiri di pinggir tepian aliran sungai. Padang ilalang ini membawa mereka pada danau tenang di ujungnya. Danau tidak terawat.


Pria itu mendorong tubuh Sherry ke tanah. Tubuh gadis ini jatuh terduduk sambil meringis. Lalu ia berusaha menengadah untuk mencari tahu siapa bos mereka.


Pria tua tegap itu membalikkan tubuh. "Halo, Vermouth...," sapa pria berjas rapi itu menyeringai. Mata Sherry membulat. Lebar. Tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


...****************...


Erik keluar dari mobil dan mengikuti tuan mudanya yang berlarian kesana kemari.


"Berhenti Relly. Siapa yang sedang kau cari?" tanya Erik.


"Sherry. Aku sedang mencari Sherry. Aku yakin dia memanggilku Erik." Erik mendengarkan meski kurang paham. Tangan Relly meraih baju Erik dan mengguncang-guncangkannya. "Gadis itu sedang membutuhkan pertolonganku Erik."


"Iya aku tahu. Tenangkan dirimu." Erik berusaha mencoba menenangkan tuan mudanya. Relly melepaskan cekalannya pada baju Erik dan mendecak kesal.


Ada sebuah telepon masuk pada ponselnya. Dari nomor baru. Tidak ada identitas. Sebenarnya itu nomor sudah berulang kali mencoba meneleponnya, tapi Relly terlalu sibuk kebingungan dengan suara Sherry yang terdengar di gendang telinganya.


Nomor siapa? Sherry? Dengan cepat Relly menelepon balik ke nomor barusan. "Halo, Sherry. Kau disana?" tanya Relly tidak sabar. Tidak ada suara, hanya terdengar suara gemerisik mengganggu. Sepertinya seseorang sedang mencobanya memberitahu sesuatu. Terpotong-potong karena kemungkinan sinyal kurang kuat. "Kamu Sherry? Dimana kamu?" Suara disana masih terdengar hanya gemerisik tak beraturan. Tidak jelas. Erik berusaha menunggu dengan sabar hingga tuan mudanya menyelesaikan perbincangan.

__ADS_1


"A-aku Daniel." Kali ini suara terdengar dengan jelas. Namun suara itu terdengar lemah dan tidak berdaya.


"Daniel? Dimana Sherry?! Aku tahu Sherry bersamamu. Cepat katakan. Aku tidak akan membiarkanmu lolos jika membuat Sherry tidak aman," geram Relly mengancam.


"Hh ... aku ... sedang memberitahumu. Bukan mencelakainya, bodoh." Daniel memaki dengan suara menahan rasa sakit. Relly diam. Suara Daniel memang terdengar terengah-engah. Seperti sedang dalam keadaan sekarat.


"Temukan lokasi ini. Kau ... akan menemukan Sherry...." Suara Daniel mulai pelan dan akhirnya lenyap. Relly mengerjap. Klik. Dia harus mematikan ponsel agar aman. Kondisi mereka seperti tidak aman.


...****************...


Di sana, tempat Sherry berlutut di tanah tadi, matanya masih membeliak terkejut. Siapapun mungkin tidak menduga dalang dibalik kecelakaannya adalah dia. Pria tua ini.


"Aku membiarkanmu melihat semua kenyataan ini dengan seksama," ujarnya membuat Sherry merinding. Dia menyadari sesuatu. Jika mereka berani membuka topeng kebusukannya sendiri, itu berarti mereka punya keyakinan penuh bahwa Sherry tidak akan mampu membuktikan bahwa orang yang terlibat adalah penjahat ini. Bukankah itu membuat keadaan semakin menakutkan? Bukankah dirinya akan segera di lenyapkan! Itu cara mudah menutup bukti dan membungkam saksi agar tidak terkuak. Mereka akan membunuhnya!


Tubuh Sherry gemetar. Tak di sangka perjalanannya sebagai Vermouth menuju sebuah jurang kematian. Matanya panas. Menyadari ini akan jadi akhir hidupnya ketakutan menyergapnya dengan cepat.


"Benar. Aku akan menghabisimu yang sudah cukup banyak mencampuri urusanku. Seharusnya kau cukup diam jadi gadis manis penurut. Bukan gadis pemberontak seperti ini." Pria ini seperti tahu arti tatapan nanar bola mata gadis yang sudah lusuh dan berantakan. "Aku bisa membuatmu lolos dari kematian jika tetap bungkam. Jangan membongkar semua hal yang sudah kau ketahui. Meskipun aku yakin kau belum mengetahui semuanya bocah."


"Tidak mungkin. Aku harus membuatmu masuk dalam penjara," desis Sherry membuat api dimata pria itu semakin besar. Pria itu jelas akan membunuhnya malam ini. Disini. Tempat sempurna melakukan pembantaian dan membuangnya begitu saja. Tempat ini terkenal sebagai tempat bunuh diri. Ini lokasi cocok untuk pembunuhan.


Entah apa lagi yang di ocehkan para orang-orang itu. Sherry sudah tidak bisa mencerna dengan baik kalimat pria berjas itu. Dia hanya berpikir bagaimana bisa hidupnya berakhir seperti ini. Bagaimana bisa dongeng ini menjadi dongeng yang gelap dan hitam.


Relly... Aku jadi sungguh-sungguh ingin bertemu denganmu. Konyol. Seharusnya bukan kamu yang ingin aku temui. Seharusnya aku ingin bertemu ibu dulu. Lalu Aska. Lalu Elda. Lalu orang-orang yang berkaitan dengan Sherry. Bukan orang baru sepertimu.


"Bagaimana mayat yang di dalam bagasi, bos?" tanya pria yang membawa Sherry. Telinga Sherry tersentak kaget. Mayat? Mayat siapa itu?


"Kalian bodoh! Kenapa pria muda itu harus menjadi mayat?!" Pria itu marah.


"Dia juga berada di sana bos. Dia membantu gadis ini."


"Arrggh! Menyusahkan. Cepat selesaikan gadis ini lalu buang bersama. Buat kejadian seakan-akan mereka terlibat cinta terlarang dan berlipikir untuk bunuh diri bersama. Cepat selesaikan.


Daniel memang sedang pada situasi tidak aman. Dengan kepalanya yang berdarah, dia berusaha keras membuka pintu bagasi mobil. Dia bukan kabur. Daniel tidak sedang berkomplot dengan para penjahat. Dia juga di serang. Mungkin lebih parah dari Sherry. Karena kemungkinan Daniel melawan.


Kemungkinan tadi dia memang terlihat seperti mayat. Tidak bergerak dan tidak bernapas. Apalagi darah yang keluar dari kepalanya membuatnya seperti sudah binasa.


Bruk.


Tubuh Daniel ambruk saat keluar dari bagasi mobil milik penjahat tadi. Saat itulah dia bisa mendengar percakapan orang-orang di balik mobil ini. Dengan mencoba menelepon Relly dari ponselnya yang selamat, Daniel memberitahu pemuda yang mengaku sebagai kekasih Sherry. Dia memang sengaja menyalin nomor Relly dari ponsel Sherry beberapa waktu lalu saat mereka masih belum dalam keadaan terluka seperti ini.


__ADS_1


__ADS_2