Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Altar persembahan


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Saat itu bola matanya tertuju pada pria muda yang memanggilnya dengan sebutan mama. Seketika bola mata Julia melebar. Nanar dan panas.


"Daniel ..." ucapnya tertelan rasa ingin menangis. Rupanya pria itu sudah siuman. Kaki Julia melangkah perlahan mendekati. Di sisi ranjang, ada Relly dan Sherry yang menemani Daniel. Setelah langkah Julia sampai di dekat ranjang, perempuan paruh baya yang cantik itu memeluk putranya dengan haru. Tak kuasa lagi airmata menetes membanjiri.


"B-bagaimana bisa kamu masih bisa hidup Daniel? Gio bilang kamu sudah ... sudah ..."


"Relly menolongnya waktu itu, Ma." Ve memberitahu. Julia menoleh pada Ve lalu Relly.


"Terima kasih Relly. Berkatmu putraku masih hidup." Tangan Julia membelai wajah Daniel.


"Harus tetap menutup mulut, Tante. Keberadaan Daniel adalah rahasia. Jangan ada satupun yang mengetahuinya. Dia akan terancam bahaya." Relly memperingatkan. Julia mengangguk.


"Aku mengerti. Jadi ... kalian semua tahu bahwa Gio adalah palsu?" tanya Julia ragu.


"Ya," jawab Hansel. Semua mengangguk. Julia sedikit terkejut.


"Bahkan itu kamu, Ve?" Kali ini kepala Julia terfokus pada putri tirinya itu.


"Ya, Ma. Aku tahu berkat teman-temanku." Julia melihat anak-anak muda di depannya dengan terperangah. Bola matanya berkaca-kaca. Tidak menduga bahwa tidak hanya dirinya yang mengetahui soal Gio palsu. Julia terharu. Dia tidak sendirian.


Nyonya ini menangis. Semua terkejut. Ve segera mendekati mamanya. Daniel yang masih terbaring juga terkejut. Namun akhirnya dia tersenyum. Tangisan mamanya bukan tangis kesedihan, tetapi itu tangis kebahagiaan.


Ve memeluk mamanya. Meskipun pernah menyakitinya, saat ini rasa sakit hatinya lenyap. Dia yang sekarang di sibukkan soal kemunculan Gio palsu, merasa tidak memerlukan lagi perasaan yang dulu ada pada dirinya. Sakit hati, teraniaya, dan terpuruk karena tidak di inginkan lenyap sudah.


Dirinya berubah jadi orang baru. Meskipun tidak setangguh Sherry, dia sudah cukup tangguh sekarang. Ve mulai berani. Karena dia ingin keanehan dalam keluarganya terkuak. Hingga dia bisa hidup tenang.


Bola mata Daniel melirik menatap gadis berwajah baru bernama Sherry. Nama lama yang dia kenal, kini muncul dengan rupa baru. Duduk di dekat Relly yang memang dia tahu adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


Aku terlambat. Mereka lebih dulu mengenal. Mungkin kisah ini memang untuk mereka berdua, bukan untukku.


...----------------...


Tangisan dan keharuan Reda. Relly mulai membahas soal rencana mereka menguak Gio. Julia bertekad membantu mereka dengan ikut mencari berkas operasi milik Gio.


"Terima kasih mama mau membantu," ujar Ve.


"Tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih. Juga ... banyak maaf untukmu. Gadis yang selama ini aku telantarkan." Julia menatap Ve sendu.


"Ve tidak pernah membenci mama."


"Namun tetap aku merasa bersalah. Aku tidak tahu roda kehidupanku begitu cepat berubah. Mungkin itu karma karena aku selalu menyakitimu. Padahal kamu yang sudah di tinggal oleh seorang ibu, tapi aku yang datang padamu tidak berperan sebagai ibu." Julia begitu merasa bersalah pada gadis ini.


"Sudahlah mama. Jika takdir menyetujui, kita bisa hidup damai dan rukun setelah menguak penjahat yang sudah menjadi papaku."


"Ya. Kita harus membuat penjahat itu menanggung akibatnya," geram Julia.


Aliansi sudah terbentuk. Rencana akan di jalankan sesuai porsi masing-masing.


...----------------...


"Mama yakin, penjahat itu menyimpannya disini." Mama menuju ke rak yang berisi buku.


"Di sini, Ma?" Julia mengangguk. Mereka berdua mencari sebuah amplop yang sudah di jabarkan secara terperinci ciri-cirinya. Pelan-pelan dan telaten. Mereka tidak boleh luput. Pelan dan pelan.


"Sedang apa kalian di ruang kerja ini?" tanya seseorang. Suara laki-laki. Julia menoleh. Dia tahu siapa laki-laki itu, dia salah satu anak buah Gio.


"Ini ruang kerja suamiku. Aku tidak perlu melapor jika harus berada disini," Julia berusaha bertindak sebagai nyonya rumah ini. Karena meskipun mereka anak buah Gio, mereka tidak punya hak melarang dirinya yang menjadi istri sah Gio yang asli.


"Namun aku berhak melarang kalian, karena boss sudah memberiku perintah," kata laki-laki itu bengis. Julia mengepalkan tangan karena sedikit terintimidasi oleh raut wajah anak buah Gio.


Ve mendekat perlahan pada mama tirinya. Memegang lengan perempuan ini. Julia melirik ke arah putri tirinya yang juga merasakan hal yang sama.


"Ada apa?" tanya sebuah suara muncul dari belakang punggung laki-laki itu. Ve semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Julia. Mendengar suara itu, merasakan merinding. Bulu kuduknya berdiri. Mungkin tubuh ini mengingat akan ketakutan Sherry saat akan di bunuh, atau karena Ve sendiri percaya pada apa yang di katakan Sherry. Laki-laki ini penjahat. Dia bisa membunuh siapa saja.


"Mereka berada di ruangan ini tanpa ijin, Boss." Gio muncul dan melihat dua perempuan di depannya.

__ADS_1


"Ho ... Julia dan putri kesayanganku." Gio melihat pemandangan langka. Di mana Julia berusaha melindungi gadis itu. Tubuh Ve menggigil. Dia takut. Siapa saja pasti takut jika tahu bahwa laki-laki di depannya bukanlah  penjahat yang berubah menjadi papanya.


"Ada apa kalian di ruang kerjaku?" tanya Gio setelah duduk di kursi ruang kerjanya. Julia dan Ve diam. Brak! Gio menggebrak meja. "Katakan! Kenapa kalian berada disini?!" Gio marah. Ini semakin membuat mereka berdua beku.


Di luar ruangan, Elda bergerak ingin masuk tapi di tahan.


"Mau apa kau?" tanya anak buah Gio.


"Ada nona Ve di dalam. Aku ingin melihatnya."


"Diam. Tidak ada seoranpun yang boleh masuk ke dalam ruangan itu, apalagi kau." Laki-laki itu mendorong tubuh Elda hingga terjatuh.


"Masih bungkam? Aku harus memaksa mulut kalian buka suara? atau aku harus membungkam mulut kalian selamanya seperti putramu, Julia."


"Tidak. Kak Daniel tidak meninggal," teriak Ve tiba-tiba.


"Bocah. Kamu mulai bisa mengingat? Kepalamu sudah pulih dari amnesia?" tanya Gio yang kali ini melihat Ve dengan sangat tajam. Sebagai saksi dari segala kejahatannya, gadis ini adalah orang penting. Ve semakin mendekat ke lengan Julia.


"Apa yang sedang kau bicarakan? Tentu saja dia masih amnesia karena kecelakaan. Dia hanya berharap Daniel hidup. Seperti aku yang ingin putraku hidup." Julia tidak paham, tapi dia merasakan tanda bahaya jika berkata Ve tidak pernah amnesia. Ve akhirnya tidak lagi membuka mulutnya.


"Benarkah?" tanya Gio tidak percaya. "Aku merasa kalian melihatku dengan cara aneh belakangan ini. Mungkin kau sudah tahu tentang aku, Julia. Namun gadis itu tidak akan tahu kalau ingatannya belum kembali. Sekarang ... melihat ekspresi membencinya dan juga rasa takutnya padaku, aku yakin dia mulai mengerti dan ingat siapa aku. Aku adalah Gio palsu yang telah membunuh orangtuanya." Mendengar kalimat intimidasi ini jelas membuat Ve menangis. Dia sedih memikirkan papanya. Dia ingat orangtuanya.


"Ya. Kau adalah penjahat. Kau adalah orang kejam yang berpura-pura menjadi papaku!" teriak Ve histeris karena tidak tahan.


"Ve ..." ujar Julia mencegah gadis ini menjadi-jadi. Di luar dugaan Gio palsu tertawa menggelegar dan menakutkan.


"Jadi orang-orang yang mengenal siapa aku sudah berkumpul bagai domba persembahan disini. Ini bagus. Ini bagus." Tangan Gio menepuk bahu anak buahnya dengan keras.


Anak buah Gio ikut tertawa.


"Persiapkan altar bagi mereka berdua! Mereka harus di bungkam untuk selamanya."


"Apa yang akan kau lakukan?!" tanya Julia merasakan bahaya semakin kuat.


"Tentu saja membuat kalian tidak bisa bergerak dan tidak bisa membuktikan bahwa aku adalah palsu. Apalagi yang pantas aku lakukan sekarang? Bukankah itu yang memang wajib aku lakukan, Julia?" Tangan Gio menyentuh dagu Julia. Tangan Julia segera menepisnya tidak suka.


__ADS_1


__ADS_2