
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Diam, kau!" teriak anak buah Gio sambil menarik tubuh Julia dan Ve menjauh dari meja makan.
"Akh!!" teriak Ve. Julia hanya meringis saat mereka menarik lengan mereka dengan kasar.
"Nona!" teriak Elda yang lamgsung di hakau oleh penjaga. Welly langsung menoleh pada Gio dengan bola mata melebar karena terkejut.
"Lepaskan mereka!" teriak Relly sambil mendekat. Beberapa penjaga menghadang Relly. Mereka bersiap bertarung. Relly mungkin bisa menghajar mereka berdua, tapi bagaimana dengan mama dan Sigi yang saling berdekatan karena ketakutan.
"Berhenti!" perintah Gio yang langsung di patuhi anak buahnya
"Benarkah, itu Gio?" tanya Welly dengan rahang mengeras. Gio memandang pria di depannya dengan mata tenang. Tangannya mengelus dagu. Berpikir sejenak.
"Yah ... karena mereka sudah terlanjur membongkar rahasiaku. Ku katakan dengan tegas pada kalian semua yang baru saja datang di meja makan ini. Aku memang bukan Gio asli." Penjahat ini menyeringai puas. Welly hendak bergerak, tapi pistol Gio sudah mendekat ke pelipisnya. Semua mulut menganga melihat pistol itu.
"Welly!" teriak mama Relly. Sigi juga langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar karena tidak menduga semuanya menjadi menakutkan.
"Jangan bergerak Welly. Jangan bergerak. Itu tidak akan membuat keadaan kembali tenang. Ini akan menjadi panggung yang menakutkan jika kamu bertindak gegabah." Ekor mata Welly melirik ke arah pistol di pelipisnya.
"Jadi semua yang kamu katakan adalah benar, Relly?" tanya Welly di tengah ketegangan ini.
Relly yang juga beranjak berdiri akan melakukan sesuatu, menjawab. "Ya. Pa. Sesuai dengan apa yang aku katakan bukan?"
__ADS_1
"Hei ... Apa yang kalian bicarakan? Kalian merencanakan sesuatu?" Gio memiringkan kepala untuk melihat ke arah Relly. "Atau ... kau kecewa karena tidak bisa mengenali pwnjahat sepertiku?" Gio tertawa.
"Tidak. Aku hanya kecewa karena tidak percaya pada putraku yang mengatakan bahwa kamu adalah penjahat, Gio," kata Welly dengan raut wajah menahan marah.
"Hahahaha ... Jadi bocah itu bisa membaca aku adalah penjahat? Hahahaha ... Bagus. Bagus Relly! Kamu pintar! Namun papamu bodoh tidak memercayaimu. Jika dia mempercayaimu, kalian tidak akan terjebak disini bersama-sama. Hahahaha ... Sungguh mengagumkan aku berhasil mengumpulkan dua keluarga yang bisa menghancurkan apa yang selama ini aku perjuangkan." Tawa Gio menggema di seluruh ruangan.
Anak buah Gio juga ikut tertawa membuat merinding orang-orang yang baru saja memahami bahwa mereka sedang masuk ke kandang penjahat.
"Akhirnya aku tahu bahwa kamu memang penjahat. Semuanya adalah sandiwara." Welly berang.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Kau sudah tidak bisa melakukan apa-apa karena akan terkurung di sini dan membusuk, Welly." Welly diam. "Namun jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Mereka semua akan menemanimu. Keluargamu dan juga calon menantumu. Hahaha."
Ponsel Gio berdering. Gio menerima ponsel itu dengan menggeram marah. Dia merasa terganggu dengan gangguan kecil dari anak buahnya yang sedang berada di kantor.
"Hei! Ada apa kalian meneleponku?!"
"Bos, bisa datang ke kantor?"
"I-itu, bos ..." Hingga membuat mereka jadi gagap dan kesulitan berbicara. "Anu ..."
"Saat ini aku tidak bisa di ganggu, bodoh! Aku sedang menemukan mangsa yang besar."
"T-tapi, boss ... Disini ..."
"Argghhhh! Kamu tidak dengar aku mengatakan bahwa aku tidak bisa di ganggu? Sudah! Jangan meneleponku lagi. Aku sedang berhadapan dengan orang penting!" Setelah berteriak, Gio memutuskan sambungan ponselnya. "Dasar mereka itu. Apa mereka itu tidak bisa berguna, hah?!" tanya Gio marah dan bertanya pada salah seorang anak buahnya yang kemungkinan merupakan ketua diantara lainnya.
"Maafkan saya, boss. Nanti saya beri mereka pelajaran." Orang itu menunduk karena merasa melakukan kesalahan.
"Ayo, berjalan ke sana!" Gio menggiring tubuh Welly yang di todong ke pinggir. Anak buah Gio yang awalnya berada di pinggir, kini sudah bergerak mendekati mereka semua. Tidak ada satupun yang bisa lolos. Semua keluarga Welly dan tiga perempuan yang menjadi tawanan Gio ikut di seret. Mereka mengikat masing-masing agar tidak bisa bebas. Mama Relly dan Sigi gemetaran melihat kejadian yang sungguh mendadak ini.
__ADS_1
...----------------...
Sudah hampir satu jam lebih anak buah Gio harus mengikat satu persatu orang yang menjadi tawanan mereka. Bahkan Bu Sarah, Ijah dan Lola juga ikut di kumpulkan jadi satu dengan paksa. Kemudian mereka juga di ikat.
"Maafkan aku, istriku," lirih Welly melihat seluruh kelurganya dalam bahaya. Mama Relly hanya meneteskan air mata sambil mengangguk.
Sigi menangis saat tangannya terikat erat. Semua perempuan juga terlihat sama. Menangis dan terisak. Sementara Relly hanya bisa berdecih berulang kali. Rencana yang dia buat gagal. Ini membuat keluarganya berada di dalam bahaya. Mama dan Sigi jadi ikut dalam penawanan ini.
"Aku harus meringkus kalian dengan cepat. Karena semakin lama, semakin banyak orang yang tahu siapa aku sebenarnya. Ini sungguh tidak bisa di biarkan." Gio kembali duduk di kursi makan sambil mengelus alisnya dengan tangannya yang masih memegang pistol.
Samar-samar terdengar suara gaduh di luar. Gio memicingkan matanya dan menoleh ke arah pintu di luar. Lalu berusaha menajamkan telinga demi untuk mendengar suara yang di rasanya aneh.
"Jika kau memang Gio palsu, dimana Gio yang asli sekarang?" tanya Relly tiba-tiba. Membuat Gio yang tengah berusaha fokus menajamkan telinganya menoleh. Kini dia fokus pada pemuda yang duduk bergerombol bersama keluarganya. "Jika kamu palsu, lalu siapakah dirimu sebenarnya?"
Gio menatap Relly dengan tajam. "Kau bocah yang banyak ingin tahu rupanya."
"Aku jadi ingin tahu. Karena kamu begitu mengerti keseluruhan rumah dan isi pekerja di rumah ini. Seakan-akan kamu sudah lama tinggal di sini." Alis Gio menyatu. Menekuk wajah mendengar apa yang di katakan Relly barusan.
"Tembak saja segera bos. Dia banyak ngomong." Anak buah di sebelah Gio memprovokasi.
"Relly, sudah. Kamu harus diam!" geram Welly. Dia berusaha membuat putranya tidak lagi menyulut api. Dia tidak ingin pistol Gio teracung pada putranya. Relly menoleh pada papanya dan tersenyum. Welly tidak paham arti senyuman itu. "Jangan ... memancingnya," ingat Welly.
"Dengarkan kata-kata papamu anak muda. Jangan membuatku semakin mempercepat kematian kalian semua," desis Gio.
"Aku hanya penasaran. Apakah kalian juga tidak penasaran?" Kepala Relly menoleh ke samping. "Bahkan kamu belum tahu dimana papamu yang asli Ve."
"Aku sangat ingin tahu, dimana papaku yang asli. Katakan! Dimana kamu menyembunyikan papaku?!" teriak Ve yang memang sangat mudah terpancing.
"Bedebah!! Tutup mulut mereka semua dengan lakban. Aku tidak mau mendengar kicauan mereka!!" tunjuk Gio marah pada gerombolan tawanan.
__ADS_1
"Relly, apa yang kau lakukan?" tanya papa heran, putranya seperti sengaja membuat penjahat itu marah besar.