
...Lagi-lagi aku mengikuti permainannya. Dia menyuruhku berjaga di sini, sementara dia menjalankan aksinya disana....
...Daniel memejam mata tidak mempercayai dia mudah di perdaya gadis itu. Dia geram dengan dirinya....
..."Kamu belum selesai?" tanya Daniel yang melihat Sherry masih berkutat di depan meja. Dari tempat Daniel berdiri, dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan Sherry. Tangan Sherry sedang memeriksa di sana-sini. "Sebaiknya kita segera kembali, karena kamu sudah lama berada di kantor ini. Aku antar ...." Daniel tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena dia tergesa-gesa menutup pintu dan mendorong tubuh Sherry menjauh dari meja kerja....
..."Kenapa mendorongku ke sini? Kamu bilang ...."...
..."Diamlah dan sembunyi." Daniel menarik tubuh Sherry yang masih berdiri tegak, lalu mengajak bersembunyi di balik sofa. Rupanya ada paman Henry yang entah kenapa kembali lagi ke ruangannya....
...[ Episode Sebelumnya ]...
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Suasana semakin tegang saat paman Henry membuka pintu. Bola mata paman Henry terangkat. Merasa pintu terbuka dengan mudah. Padahal seharusnya beliau masih harus membuka kunci. Untung saja Daniel sudah mematikan lampu. Dalam kegelapan yang sepi menambah kegelisahan Sherry dan Daniel.
Kemudian beliau mengkedip-kedipkan mata merasa aneh. Saklar lampu di nyalakan dengan lambat. Langkahnya terhenti untuk waspada pada sekitar. Matanya nyalang mengedar ke seluru penjuru ruangan. Namun kemudian beliau merasa tidak ada yang perlu di cemaskan. Kepalanya menggeleng-geleng tidak mungkin dan beliau melangkah masuk menuju meja dengan tenang.
Sherry yang penasaran mencoba melongok. Paman Henry sedang mencari sesuatu di atas meja. Seperti yang di duganya, beliau mengambil amplop putih ukuran folio yang di tutupinya tadi. Kemudian menempatkan amplop itu ke dalam deretan buku-buku besar yang berjajar di rak. Sedikit mendorong agak menjorok kedalam, agar tersembunyi.
Sherry mendelik dan menundukkan kepala dengan cepat saat paman Henry menoehkan kepala ke belakang. Daniel langsung memeluk kepala Sherry erat agar gadis ini tidak bergerak sembrono. Merasa ada yang mengawasinya, paman Henry mendekati sofa yang di gunakan mereka untuk bersembunyi.
Suasana menjadi sangat tegang. Bahkan Daniel yang hanya ikut, turut merasakan debaran tidak karuan karena ketegangan yang tercipta. Langkah paman Henry semakin mendekat ke arah persembunyian mereka.
Sherry menggeram dalam hati. Debaran karena menanti di temukan itu ternyata tidak menyenangkan. Paman Henry yakin ada orang lain berada di dalam ruangannya. Dering ponsel membuyarkan fokusnya pada bayangan Sherry tadi. Kaki paman Henry pun menjauh dari sofa. Mematikan lampu dan keluar ruangan.
Akhirnya mereka berdua bisa bernapas lega. Namun Daniel belum melepaskan pelukannya.
"Bisa lepaskan pelukanmu?" pinta Sherry yang membuat Daniel terkejut dan melepaskannya. Saat Daniel melepaskan pelukannya, Sherry langsung melesat menuju ke rak buku. Mencari amplop yang di sembunyikan tadi. Daniel menghela napas panjang melihat polah gadis itu.
Sherry membuka isi amplop dan terperangah dengan temuannya. Saat membaca isi dari tulisan-tulisan yang berderet di atas sebuah kertas itu, matanya melebar. Menatap Daniel sebentar masih dengan tatapan heran, terkejut dan tidak percaya. Seakan ingin membagi tentang apa yang dibacanya, tapi tidak bisa. Dia harus hati-hati.
Lalu Sherry kembali membaca tulisan pada kertas yang di pegangnya.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat cari barangmu yang ketinggalan dan pergi." Daniel menggerutu melihat Sherry berdiri di depan rak buku. Namun Sherry terpaku di tempatnya berdiri. Mengkerjapkan mata, menggelengkan kepala. "Sher, kita harus keluar sekarang juga," bisik Daniel memerintah. Karena Sherry masih mematung, Daniel menggenggam jari Sherry dan menarik.
"Sebentar." Akhirnya Sherry tersadar. Melepaskan genggaman Daniel dan meletakkan amplop tadi pada tempat semula. "Ayo keluar. Aku sudah selesai." Sherry berjalan mendahului. Daniel tersenyum ironi saat tangannya di hempaskan oleh Sherry.
Tangan Sherry siap mengetik, ingin segera memberitahukan kepada Relly temuannya. Namun diurungkannya karena dia ingin memberitahukan langsung. Besok.
...****************...
__ADS_1
"Sher." Tangan Daniel menghentikan langkah kaki Sherry yang juga hendak masuk ke ruangan papa Vermouth. "Mau kemana? Ini sudah waktunya kamu pulang." Daniel tidak mau gadis ini berkeliaran ke semua ruangan.
"Masih belum."
"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari?" Daniel mulai menemukan rencana Sherry rupanya. Gadis ini pasti ingin menemukan sesuatu.
"Barangku ketinggalan."
"Aku yakin bukan itu."
"Tidak perlu yakin. Cukup mendengarnya saja dari mulutku." Sherry masih tenang. Daniel sudah menatap curiga kepada adik tiri palsunya ini.
"Aku tidak pernah tidak percaya padamu, Sherry. Jadi jangan pernah membohongiku." Sherry menelan salivanya sendiri melihat permohonan Daniel.
"Aku tidak berbohong. Flash disk-ku jatuh. Entah itu diruangan papa atau om Henry." Sherry perlu berbohong. Maaf. Dia tidak bisa mengatakan pada siapapun orang dari perusahaan Smart. Dirinya bisa terancam bahaya dan lenyap saat ini juga.
Relly juga sudah memperingatinya untuk tidak percaya pada siapapun. Ternyata Sherry lebih percaya Relly daripada oranglain. Itu tidak di duganya.
"Kalau hanya sebuah flashdisk, kamu bisa beli lagi atau aku belikan.
"Isinya penting."
"Kamu bisa kesini sendiri besok atau aku temani. Jangan malam ini. Walaupun itu papa Vermouth dan kamu terlihat seperti putrinya, jika harus memaksa masuk pada malam hari, rasanya tidak benar. Kamu mencurigakan." Daniel tidak bisa lagi terus menerus menuruti kemauan gadis ini. Sherry tidak bisa membantah. Suasana hati Daniel tidak mendukung. Dia tidak bisa maju lebih jauh lagi. Harus berhenti dulu.
"Baiklah. Aku akan kembali lagi besok." Sherry mengalah dan akhirnya pulang. Daniel mengantarnya. Setelah sejak tadi tidak menyentuh ponsel sama sekali, Sherry melihat banyak pesan dan panggilan tidak terjawab di layar. Mode silent membuat ponsel tidak memberitahu dengan deringnya saat ada telepon atau pesan masuk.
"Kenapa tidak memberi kabar?" sembur Relly cemas saat Sherry terpaksa menerima panggilan.
"Belum bisa." Sherry bersandar pada badan kursi mobil sambil melihat ke jendela di sampingnya. Daniel melirik sekilas.
"Apa yang terjadi? Kenapa sampai sekarang belum pulang kerumah?" cecar Relly.
"Tidak ada. Aku sedang dalam perjalanan pulang."
"Aku bisa menjemputmu."
"Tidak. Aku ..."
"Apa kamu mau makan malam dulu, Sher?" tanya Daniel saat melihat resto cepat saji.
Relly paham suara di sekitar Sherry adalah Daniel. "Kamu sedang tidak sendiri ya?"
"Ya."
"Aku tahu kalian hanya kakak adik tapi aku tidak suka." Sherry merasa tidak perlu berkomentar apa-apa. Tidak perlu. Tiba-tiba Sherry teringat sesuatu. "Daniel stop. Kita harus kembali. Tasku ketinggalan." Daniel melihat ke punggung gadis ini. Dimana tas ransel Sherry tidak berada di sana.
__ADS_1
"Kamu akan kembali ke kantor?" tanya Relly yang masih bisa mendengar suara Sherry karena sambungan telepon belum dimatikan.
"Ya."
"Aku akan kesana sekarang. Biarkan Daniel pulang, aku yang akan menemanimu." Relly memaksa.
"Hanya Daniel yang punya kunci ke kantor. Aku enggak punya." Karena namanya di sebut, Daniel menoleh ke samping.
"Aku cemas." Relly selalu mengatakan dengan jujur tentang apa yang dirasakannya, kalau itu soal dirinya. Sherry menatap lurus ke depan. Memandangi jalanan yang terasa sepi. Masih menempelkan ponsel pada telinganya. Namun bibirnya diam tidak menanggapi.
"Kututup ponselnya..."
"Hati-hati, Sher."
"Aku hanya kembali mengambil tas."
"Apapun itu, hati-hati." Suara Relly terdengar sangat lembut dan penuh perhatian. Membuat Sherry tiba-tiba jadi ingin bertemu. Sial.
"Ya," jawab Sherry akhirnya. Daniel hanya mendengar tanpa melirik, saat Sherry mendesah. Tangannya membelokkan mobil untuk memutar balik. Kembali ke kantor.
Karena Daniel memaksanya harus segera pulang, tas ransel sampai harus di telantarkan di ruangan Daniel. Hal bodoh itu terjadi karena dia memikirkan tentang tulisan yang ada dalam amplop itu. Sebuah hasil lab. yang membuatnya tercengang.
Saat Daniel ternyata harus merapikan dokumen yang di tinggalkan karena tergesa-gesa ingin mengajak gadis ini pulang, Sherry keluar dan menyelinap. Dia mengambil kunci ruang papa Vermouth yang tergeletak bersama kunci mobil Daniel. Karena Daniel sering lembur bersama papa tirinya, dia juga di bekali kunci duplikat ruangan beliau. Sherry tidak tahu pasti itu, dia hanya menduganya. Karena pria ini sering menghabiskan waktu bekerja bersama papa Vermouth dulu.
Dari apa yang sudah di bacanya, dia harus bisa masuk ke dalam ruangan papa Vermouth. Dia harus menemukan sesuatu di sana. Saat kunci-kunci itu di cobanya, dia berhasil membuka pintu dengan salah satu kunci. Ternyata benar Daniel memang punya kunci ruangan papanya.
Membuka ruangan perlahan dan masuk dengan segera. Dia harus bisa segera menemukan amplop yang terlihat sama dengan yang di pegang paman Henry.
Kalau mereka punya hasil lab yang sama, bukankah mereka sudah tahu kebenaran dari fakta ini?
Setelah mencari di tumpukan dokumen di atas meja dan rak buku, Sherry menemukan sebuah amplop putih di dalam laci meja kerja. Sepertinya juga dari sebuah rumah sakit. Dia menduga isi dari amplop itu sama. Hasil tes lab. Saat di buka, ternyata bukan. Sangat berbeda jauh dari amplop yang dia temukan di ruangan paman Henry.
Sebuah hasil kontrol rutin sebuah operasi plastik. Kening Sherry berkerut. Operasi plastik? Suara pintu terbuka mengejutkan Sherry. Ternyata Daniel, memasuki ruangan dengan mata marah dan geram.
"Sherry...," ujarnya geram dan tidak percaya gadis ini sudah masuk dan membaca sesuatu. Sherry hanya melihat dan segera memasukkan surat kontrol itu ke dalam amplop. "Kamu memang membuat orang naik darah. Apa yang sebenarnya kamu cari? Lalu amplop apa itu? Mengapa selalu saja amplop putih itu yang kamu baca?"
"Bukan apa-apa." Sherry segera meletakkan amplop di tempat semula sebelum Daniel sempat membaca.
"Aku ingin tahu." Daniel kali ini ingin tahu dengan pasti yang di lakukan gadis ini. Semua yang dia lakukan sangat mencurigakan. Semua.
"Ayo pulang." Sherry membalikkan tubuh Daniel. Saat itu tangannya membuka laci dan membawa amplop itu. Saat berjalan keluar, sungguh mengejutkan di luar sudah ada orang asing di depannya.
Duk! Dengan sekali pukul, Sherry mulai lemas dan ambruk. Dia pingsan.
"Bocah ini rupanya bisa bermain detektif-detektifan. Kata bos, dia bocah yang tidak bisa apa-apa. Makanya di biarkan saja. Sekarang terbukti dia ini berani dan ingin tahu segala hal," kata seorang laki-laki brewok. Tangannya memungut amplop putih yang di pegang Sherry tadi. "Berikan ini pada bos. Tangannya lincah juga." Pria satunya menerima sodoran amplop dari temannya.
__ADS_1