
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Sherry mencari keberadaan Ve. Gadis itu tidak muncul di kelas siang ini. Gadis itu tidak mungkin membolos bukan?
Relly tahu, Sherry kebingungan. Namun dia yakin gadis itu bersama seseorang dan sedang dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
Di tempat lain. Jauh dari sekolah mereka. Rupanya Hansel membawa Ve untuk membolos kelas siang ini.
Hansel menemani Ve menangis sepuasnya. Gadis itu menumpahkan semua rasa marahnya. Hansel hanya menemani di sampingnya. Tanpa berbuat apa-apa. Dia memberi ruang gadis itu untuk melepaskan semua perasaannya yang kacau.
Setelah menangis dan menerima sodoran air dari Hansel, Ve terlihat lebih baik.
"Terima kasih," ujarnya.
"Ya."
"Jadi kamu tahu, aku bukan Sherry?"
"Benar."
"Aku itu menyedihkan bukan?" Hansel menoleh kesamping. "Di rumah, ibu tiri selalu jahat padaku. Sekarang tunanganku tidak ingin bersamaku."
"Kamu punya ibu tiri?" tanya Hanseltl terkejut. Dia memang tidak pernah tahu soal gadis ini.
Ve menceritakan keluarganya secara gamblang pada Hansel. Hampir semua. Setelah sekian lama memendam, Ve punya orang yang membuatnya membuka semua luka hatinya. Meskipun dia juga tidak tahu. Apakah cowok ini mendengarkan sepenuh hati atau tidak.
"Jadi hari ini bersenang-senanglah."
"Aku tidak pernah membolos."
"Jadikan hari ini hari pertamamu membolos. Aku akan mengajakmu berkeliling." Hansel memberi tawaran. Entah helm siapa, Hansel sudah menyiapkan tadi.
......................
Ternyata tidak ada kelanjutan dari peristiwa di lapangan basket. Sepertinya cowok itu memilih tidak melanjutkan. Mungkin karena ada Relly di belakang Sherry. Ini jelas membuat Sherry lega.
__ADS_1
"Ahh ... aku jadi lega." Sherry menghembuskan napas panjang di area parkir. Karena tahu keadaan Sherry baik berkat Relly, Yura membiarkan gadis itu. Dia pulang sendiri lebih dulu tadi. Relly hanya tersenyum melihat tingkah gadis ini. "Kenapa aku bersamamu lagi kali ini? Bukannya kamu adalah penyebab aku di serang mereka. Seperti saat aku masih berada di dalam tubuh Ve," gerutu Sherry membiarkan Relly mengambil motornya yang di parkir.
"Maaf soal itu," ujar Relly. Sherry hanya mengedikkan bahu. Saat itu dan sekarang sama. Akibat pesona Relly yang membuat mereka kesal ada gadis yang dekat dengannya, mereka berulah. Cowok ini tetap bertanggung jawab untuk membantunya. Ya, Relly memang seperti ini sejak itu.
"Benarkah Ve, tidak apa-apa? Dia terlihat sangat terguncang dan membenciku. Apa dia tidak akan berbuat aneh-aneh?" tanya Sherry cemas.
"Ya. Aku yakin dia baik-baik saja." Relly siap dengan motornya.
"Pegangan yang erat," pesan Relly saat Sherry sudah di atas motor.
"Kenapa?" tanya Sherry tidak langsung menuruti.
"Lakukan saja." Dengan canggung Sherry menurut. Relly membonceng Sherry keluar dari area parkir. Semuanya jadi yakin bahwa Relly dan Sherry dekat. Soal Ve di tinggalkan benar. "Biar mereka tahu bahwa aku memang memilihmu daripada Ve," ujar Relly membuat Sherry perlu memukul punggungnya. Relly menyeringai.
......................
......................
Sherry dan Relly sampai di depan rumah Sherry. Terlihat Aska yang hendak keluar dengan motornya.
"Ada tamu buat kalian di dalam." Aska memberitahu. Sherry dan Relly saling pandang. Jika itu tamu buat Sherry masih wajar karena ini rumahnya, tapi jika tamu juga untuk Relly terdengar aneh. Setelah mengatakan itu, Aska pergi.
"Ada apa?" tanya Relly layaknya tuan rumah. Justru Sherry bungkam. Ini karena Relly merasa mereka datang karena dia. Soal dirinya yang menjadi tunangan Ve tapi terlihat lebih sering bersama Sherry.
"Hanya bertamu. Lagipula aku memang sering kerumah ini lebih dulu," sahut Hansel. Cowok ini memang mengenal keluarga Sherry sejak Ve menjadi gadis itu.
"Ah, iya." Sherry mempersilakan. Melihat di meja sudah ada minuman dan beberapa kue, itu menandakan mereka sudah menunggu Sherry sejak tadi. "Aku ambilkan minuman buat Relly dulu. Baru itu kita bisa mengobrol atau membahas sesuatu misalnya." Bagi Sherry, kedatangan mereka bukan sekedar bertamu saja.
"Ya," sahut Hansel mewakili Ve yang sejak tadi menunduk.
Beberapa menit setelahnya Sherry datang membawa minuman untuk Relly.
"Maaf, Sherr ...," ujar Ve mengawali perbincangan mereka. Sherry tidak segera menyahut. Dia menunggu kelanjutan kalimat Ve. "Maaf membuatmu kesulitan menjadi aku. Juga maaf karena ... " Hansel menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu sebentar. "Maaf karena ingin memiliki Relly tanpa peduli soal perasaan kalian berdua. Aku meminta maaf untuk kalian berdua." Meski sempat tersendat, Ve bisa mengatakannya dengan jelas.
Sherry bukan senang. Dia justru canggung. Sementara Relly terlihat lebih santai, tapi mendengarkan secara seksama. Cowok ini nampak lebih menghargai gadis itu sekarang.
"Aku tidak masalah, tapi dia ..."
"Aku juga tidak masalah." Sherry melirik tajam ke arah Relly untuk tidak berkata apa-apa.
"Terima kasih," ujar Ve sambil masih menundukkan kepala.
__ADS_1
"Dia tulus." Hansel serasa menjadi penjaminnya.
"Sudah aku bilang, dia tidak apa-apa bukan?" kata Relly seperti sudah tahu bahwa Hansel akan menenangkannya. Sherry menipiskan bibir.
"Sudahlah. Kita berdua sama-sama berada dalam situasi yang membingungkan. Aku dan kamu. Aku tidak bisa menyalahkanmu soal itu." Sherry berusaha bijak.
"Soal di lapangan basket, bukan Ve yang merencanakannya. Itu hanya ulah penggemar cowok ini," tunjuk Hansel ke Relly dengan nada menuduh dengan jelas. Relly tahu, Hansel mungkin geram dengannya. Entah itu soal Sherry atau yang lain.
"Aku paham. Bukankah bukan sekali ini saja aku di serang seperti ini." Sherry membuka tangannya. Merasa kejadian ini biasa.
"Gadisku memang hebat," ujar Relly tanpa malu mengusap rambut Sherry. Ini membuat Sherry mendelik. Karena terkejut, juga tidak nyaman di depan mereka berdua. Relly bersikap tidak peduli seperti biasa.
"Jika kamu tahu bahwa pertunangan kita salah, apa kamu akan tetap maju dengan status kita itu?" tanya Relly serius.
"A-aku tidak tahu." Ve bingung menjawab apa.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" Kali ini Hansel yang bertanya. Relly dan Sherry melihat ke Hansel. "Ve, bercerita banyak tentang semua hal. Aku tahu." Hansel menjawab pertanyaan yang terlihat dari raut wajah keduanya tanpa mereka perlu bersuara.
"Sudah pasti aku ingin melepas status tunangan antara aku dan Ve." Tanpa perlu menutup-nutupi, Relly mengatakan dengan jelas maksud dirinya. Sherry melebarkan mata sekejap mendengar Relly berbicara.
Ve menggigit bibir. Masih sakit. Hatinya masih dan tetap sakit walau tadi saat bersama Hansel sudah memantapkan diri untuk melepas cowok itu. Hansel berhasil menemani Ve saat bersedih tadi dan juga memberikan pandangan baru.
Membuka hati gadis ini dengan menjadi berani untuk mengaku salah dan meminta maaf. Hansel dengan caranya sendiri membuat gadis itu terbuka dan menemukan solusi untuk meredakan rasa sakit hatinya. Yaitu dengan rela melepaskan Relly.
"Bukan hal mudah melepas status tunangan kita karena ini ide papaku. Langkah awal adalah kamu mau bekerja sama. Ada hal lain yang lebih penting dari pertunangan kita, yaitu nyawamu, Ve." Relly menoleh ke arah Sherry. Dia seakan meminta ijin untuk membahas suatu hal yang mungkin akan sulit dipahami mereka. Sherry mengangguk.
Hansel dan Ve nampak terperangah kaget.
"N-nyawaku?" tanya Ve gugup. Kepalanya menoleh pada Hansel yang mengernyitkan dahi mendengar kata Relly. Lalu melihat ke arah Relly dan Sherry. Ekspresi mereka bukan sedang bercanda. Mereka serius.
"Ini soal hidup Ve?" ulang Hansel.
"Ya. Nyawanya terancam."
"K-kenapa nyawaku terancam?" tanya Ve tidak terima. Siapapun tidak terima jika tiba-tiba saja ada orang bilang nyawanya sedang dalam bahaya.
"Kita bisa bercerita jika kamu mau bekerjasama dan mau merahasiakannya." Relly mencondongkan tubuhnya kedepan.
"I-ini bukan main-main?" tanya Ve ragu.
"Sungguh konyol jika main-main soal nyawa seseorang." Relly menghempaskan punggungnya ke bantalan empuk kursi tamu. Menghela napas berat. Dia yang sudah melihat Sherry hampir saja kehilangan nyawa, merasa gundah saat membahas nyawa seseorang.
__ADS_1