
Perusahaan Smart? Kenapa kecelakaan ini berhubungan dengan perusahaan milik papa Vermouth? Berarti apakah orang yang ingin mencelakai Vermouth adalah orang dalam? Dan juga yang mengherankan adalah ... ada lelaki paruh baya juga sedang melakukan penelusuran tentang Vermouth. Siapakah dia? [ Episode Sebelumnya ]
.
.
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
"Jika memang orang yang mencelakai Vermouth adalah orang dalam perusahaan Smart, itu berarti kamu harus lebih berhati-hati dengan orang-orang di sekitarmu." Relly memberi nasehat setelah Sherry menyelesaikan kalimatnya berbincang dengan Elda lewat ponsel.
Kepala Sherry mengangguk. "Iya." Dari awal sebenarnya Sherry sadar bahwa tidak semua orang bisa di percaya. Namun, tujuan mencari sebab kecelakaan yang membuat jiwanya terperangkap mulai pudar saat dirinya mulai di sibukkan oleh ketiga manusia yang mulai mengenali dirinya yang bukan Vermouth. Hatinya campur aduk.
"Jadi tidak mengherankan jika ada orang yang berani menyeretmu ke tangga darurat itu. Padahal kamu adalah putri pemilik perusahaan." Relly yang awalnya heran mengapa seorang pria berani melakukan penyerangan pada putri pemilik perusahaan di gedung perusahaan itu sendiri, kini mengerti. Dia adalah orang dalam. Relly menemukan potongan-potongan puzzle tentang misteri kecelakaan Vermouth. "Apakah Elda bisa di percaya?" tanya Relly tiba-tiba.
"Ya. Tidak perlu di ragukan lagi," jawab Sherry yakin.
"Kamu baru mengenalnya, Sherry... Setelah jiwamu berpindah," tegas Relly. Wajahnya menunjukkan kecurigaan. "Tidak menutup kemungkinan, dia juga patut di curigai."
"Jangan berlebihan." Sherry tidak suka.
"Tidak. Disini semua bisa menjadi komplotan orang yang menyerangmu. Aku tidak berlebihan. Keselamatanmu itu yang paling penting." Tatapan Relly serius.
"Dia orang pertama yang percaya bahwa aku bukan Vermouth. Dia salah satu orang yang menemaniku, di saat aku sendirian di dalam tubuh orang lain. Tidak ada seorangpun yang menyadari. Ya, meskipun dia tahu setelah aku sendiri yang memberitahunya." Sherry merasa tidak pantas mencurigai Elda. Mata Relly menatap gadis di depannya lama.
"Apa perlu kau pindah ke rumahku, Sher?"
"Apa?! Gila. Idemu gila. Tidak." Sherry mendelik. Kepalanya menggeleng tidak setuju.
"Itu memudahkanku untuk mengawasimu. Mungkin orangtuaku juga setuju."
"Tidak! Yang benar saja." Kepala Sherry menggeleng lagi. Kali ini tangannya ikut menggerakkan ke sepuluh jarinya untuk menolak ide Relly.
"Ini semakin membuatku cemas." Sherry memutar bola matanya malas.
"Aku tidak tahu," sahut Sherry kesal Relly menggodanya terus. Relly tersenyum. "Antar aku pulang. Walaupun mungkin ibu tiri tidak marah karena aku sedang denganmu, ini sudah mulai malam. Aku harus pulang."
"Baiklah... Helm kamu." Sherry menerima sodoran helm dari tangan Relly.
***
Siang nanti, sepulang sekolah, Sherry berniat menghilang dulu untuk menghindari Relly. Sherry berencana tidak memberitahu keinginannya pada cowok itu. Namun kelihatannya sangat sulit karena mereka adalah teman satu kelas. Jadi Sherry terpaksa mengatakannya saat cowok itu membuntutinya di taman sekolah.
"Penelusuran kita hari ini off dulu, aku punya keperluan lain." Sherry mengatakan tepat saat istirahat kedua.
"Off? Kita tidak meneruskan penelusuran lagi?" tanya Relly yang duduk di sampingnya dengan memicingkan sebelah mata. Cowok itu juga sedang duduk di taman sekolah bersama Sherry. Dia berhasil menemukan keberadaan gadisnya.
__ADS_1
"Masih. Aku harus terus menemukan bukti kalau kecelakaan itu bukan murni bunuh diri. Itu adalah skenario yang di buat seseorang untuk mencelakai tubuh ini. Tapi hari ini aku ada keperluan lain."
"Keperluan apa?" tanya Relly menuntut ingin tahu.
"Ada. Tidak begitu penting, tapi juga tidak perlu memberitahumu. Tolong jangan mengikutiku."
"Semakin di larang, aku semakin ingin mengikuti."
"Relly!" teriak Sherry kesal. Relly terkekeh senang.
"Baiklah. Nanti malam aku ke rumahmu."
"Kenapa? Kita tidak ada tugas, jadi kamu tidak perlu menemaniku belajar."
"Bukan. Aku datang bukan untuk belajar, tapi untuk kencan." Sherry memutar mata malas. Relly masih bersikap sama. "Untuk hal ini tidak boleh tidak. Kamu harus menurutiku seperti perjanjian yang kamu buat sendiri." Aaargghhh! Sherry menggaruk dahinya kesal.
"Terserah. Jangan mengikutiku siang ini," ancam Sherry.
"Baiklah..."
***
Sherry ingin menemui Aska dan Vermouth. Dia ingin tahu lebih lanjut soal tubuh cantik ini. Mereka janji bertemu di sebuah cafe di ujung jalan, di sebuah jalan kecil. Cafe yang dulu selalu jadi tempatnya ngumpul bersama Aldo dan Sabo.
"Bunuh diri? Aku?" Vermouth nampak terkejut.
"Bukankah... bukankah... itu adalah sebuah kecelakaan?" Sherry malas menjelaskan. Bibirnya menggeram. Elda mungkin tidak menceritakan semua saat mereka bertemu. Dia juga melarang orang paling dekat itu mendekati Vermouth demi keamanan tubuhnya.
Aska mengambil alih untuk menceritakan garis besarnya. Cowok ini lebih mudah dalam hal mengontrol diri. Vermouth bukan gadis bodoh. Dia cepat menangkap apa yang sudah di jelaskan oleh Aska.
"Jadi... orang yang menyuruh pria yang menabrakku adalah dari perusahaan S-smart?" tanya Vermouth terbata-bata karena terkejut saat Sherry mengatakannya. Aska yang menemani Vermouth juga terkejut.
"Kamu sudah menyelidiki ini?" tanya Aska ingin tahu.
"Ya. Kita berdua sudah melakukan penelusuran yang sampai pada titik terang ini. Walaupun info yang aku punya masih sedikit, ini lumayan."
"Berdua? Siapa?" Aska penasaran. Tiba-tiba Sherry terkejut di tanya seperti itu. Raut wajahnya jadi gugup. Kedua bola matanya mengerjap. Vermouth melihat ke arah Sherry juga.
"Relly." Sherry menjawabnya sangat singkat. Mendengar ini Vermouth melihat ke arah lain dengan gugup juga. Aska melihat kedua gadis ini melakukan segala cara agar tidak canggung satu sama lain. Aska menipiskan bibir. Mencela keduanya.
"Aku ke toilet dulu," kata Vermouth beranjak pergi. Aska mengangguk.
"Kamu beneran pacaran sama dia?" tanya Aska. Membahas suatu hal di luar topik. Asha melihat Adiknya dengan satu alis terangkat. "Si Relly itu. Cowok berwajah dingin tapi punya sorot mata lembut jika melihatmu." Aska sangat ingat itu. Kejadian di rumah sakit.
"Hanya sandiwara."
"Oh, ya?" Entah darimana Aska perlu curiga.
"Kamu dengar sendiri aku melakukannya karena tidak ingin dia mengorek tentang diriku yang sebenarnya." Sherry perlu menjelaskan dengan wajah geram.
"Aku dengar itu, tapi siapa yang tahu." Aska mengangkat bahu.
__ADS_1
Soal siapa yang tahu, aku sendiri tidak tahu. Walaupun jadian itu karena sebuah ancaman, bersama dia memang lumayan menyenangkan.
"Dirimu jadi primadona diantara mereka. Sherry mulai bisa membuat cowok-cowok menyukainya sebagai cewek," ledek Aska bermaksud bercanda.
"Jangan main-main. Di sukai cowok-cowok itu tidak nyata. Aku tidak perlu bangga di sukai mereka. Karena, mereka hanya tertarik karena aku berbeda. Wajah cantik ini jadi menarik hanya karena terlihat unik sejak ada jiwaku di dalamnya. Semua mencintai tubuh Vermouth yang bersikap seperti Sherry. Hanya itu. Tidak ada jaminan, mereka benar-benar menyukai jika aku adalah seorang Sherry yang sesungguhnya." Nada Sherry terdengar sedih. Wajah Aska yang tadi sengaja meledek kakaknya jadi berubah sedih juga mendengar kalimat kakaknya. "Apakah buatmu mungkin, jika mereka sungguh menginginkan tubuh Sherry yang ada di rumah sederhana itu? Jadi jangan membahas tentang itu," pungkas Asha dan menghela napas.
"Kau menyukai salah satu dari mereka?" Sherry mendengkus.
"Aku senang, iya, tapi cukup sebagai Vermouth saja. Ini dongeng Ka. Aku tidak harus menggunakan semua perasaanku. Itu bisa menjadi bumerang bagiku, ketika aku sadar rasa suka mereka hanya sebatas jiwa Sherry berada di tubuh cantik ini." Aska mengangguk membenarkan. "Setelah aku bisa keluar dari tubuh ini, aku tidak harus punya hubungan apa-apa lagi dengan Vermouth dan orang-orang sekitarnya."
"Jadi penelusuranmu hanya kesenangan semata?"
"Itu wajib aku lakukan, karena dari sana jiwa kita tertukar. Aku berharap menemukan jawaban saat aku bisa menemukan orang yang ingin mencelakai Vermouth. Jadi anggap saja begitu. Aku ingin kembali ke tubuhku, Ka. Aku kangen ibu." Aska memundurkan punggungnya untuk mencapai badan kursi sehingga membuat nyaman untuk bersandar di sana.
"Namun dia... tidak melakukan apa-apa." Dagu Aska menunjuk ke arah toilet dimana gadis itu ada disana. "Apakah pantas jika kamu bekerja keras sementara dia, sepertinya enggan kembali pada tubuhnya sendiri." Sherry mendesah. Menyisir rambutnya ikut menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Mungkin memang menyebalkan. Namun aku tidak perlu banyak memikirkan itu. Aku bisa memahami dia bisa menjadi egois. Keadaannya di rumah besar itu, tidak sebagus luarnya. Kehidupannya tidak tenang." Aska akhirnya manggut-manggut paham. Vermouth pernah sedikit bercerita.
Vermouth yang sudah selesai dari toilet, tidak segera menghampiri kursinya lagi. Dia mendengar mereka berdua sedang membicarakan dirinya. Vermouth mendesah.
Selama menjadi Sherry, dia memang merasakan damai di dalam keluarga kecil itu. Sederhana tapi menyenangkan. Dia bahagia. Walaupun begitu, hati kecilnya tahu itu juga hanya sebuah mimpi. Dia hanya sedang bermain-main dalam taman bermain, dimana ada batas waktu yang untuk mengakhirinya.
Setelah yakin mereka berdua tidak lagi membicarakannnya, Vermouth muncul dan kembali duduk di kursinya lagi. Menyeruput jusnya sambil menatap keluar jendela.
"Sebenarnya, ada apa denganmu? Kenapa ada orang dalam yang ingin mencelakaimu?" Sherry duduk di depan kursi tempat gadis cantik itu duduk.
"Aku tidak tahu."
"Benarkah? Benarkah kamu tidak tahu? Apakah tidak ada yang kamu sembunyikan dari kita?" Sherry tidak percaya. Aska melirik kakaknya yang terdengar menuntut. Menggerakkan tangannya untuk meminta kakaknya tenang.
Dari hidup dalam satu atap sebagai kakak-adik palsu, Aska mulai paham Vermouth itu bagaimana. Mundur jika di tekan. Bungkam. Takut. Terintimidasi. Kebalikan dari Sherry yang semakin di tekan, semakin memberontak.
"Kamu bisa menceritakan pada kita, jika memang punya sedikit cerita. Mungkin saja itu bisa membantu kita. Ini demi kehidupan tubuh bernama Vermouth." Aska benar-benar pintar. Dia bisa mengucapkannya dengan lembut sehingga membuat Vermouth mendengarkan kata-katanya.
"Aku benar-benar tidak tahu Ka." Vermouth mengatakan dengan jujur. Sherry mendesah. "Relly...."
"Apa? Kenapa kau jadi membahas dia," gerutu Sherry sebal.
"Bukan. Relly ada di luar cafe ini. Dia masuk cafe ini," serobot Vermouth memberitahu. Sherry membeliakkan mata. "Apa aku harus bersembunyi?" tanya gadis itu tahu diri.
"Tidak. Biar Sherry dan aku yang pergi kebelakang. Kamu tetap disini. Dia belum mengetahui wajah Sherry asli." Aska memberi perintah. Vermouth mengangguk. Sherry dan Aska berdiri untuk bersembunyi di toilet.
Sementara itu kaki Relly memasuki pintu cafe bersama Lido. Sungguh aneh menemukan cowok itu di sekitar sini. Vermouth terus menatap tubuh yang berjalan tegap itu. Relly dan Lido duduk tak jauh dari tempat Vermouth duduk. Tak sengaja, mata Vermouth bersirobok dengan mata milik Relly. Beberapa detik mereka saling memandang.
Jika berkenan, kunjungi dan baca cerita Lady Vermouth yang lain. Terima kasih.
__ADS_1