Diary Sherry

Diary Sherry
Sikap Daniel


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


"Rambut itu memang seharusnya di potong, karena kamu terlihat lebih segar." Setelah kesunyian beberapa menit tadi, Daniel mulai bisa menetralkan suasana lagi. Kiranya Daniel menyadari rambut Sherry yang sudah di potong, tapi itu tidak aneh karena lelaki itu sudah menyentuh rambutnya tadi.


"Seorang playboy memang selalu mengamati buruannya," Sherry paham betul bagaimana seorang predator wanita beraksi. Daniel hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala menanggapi ejekan gadis cantik yang jadi adik tirinya. Sherry selalu mendengar banyak pujian dari pria ini. Dan sebaliknya, Daniel selalu menerima sindiran dari Sherry meskipun dia sudah memuji gadis itu. Tapi Daniel selalu tersenyum. Dia merasa senang menerima semua sindiran pedas dari mulut gadis yang masih SMA itu.


"Sudah selesai bukan ... Aku akan beristirahat dulu di dalam kamar." Daniel mengumpulkan jas di sandaran kursi untuk di bawa ke kamar tidurnya.


"Kau tidak ingin makan dulu?" tawar Sherry yang akhirnya menyesal untuk bertanya karena Daniel memutar tubuhnya dengan mata berbinar. Mengusap dagunya perlahan dan menatap Sherry dengan senyum bertingkahnya yang khas.


"Kau masih ingin aku di sini menemanimu? Tidak kusangka aku di cegah untuk pergi dari dapur ini olehmu,"


"Tidak, tidak. Aku hanya menanyakan kau ingin makan atau tidak. Kalau ingin makan silahkan di sini kalau tidak silahkan pergi karena aku juga akan pergi untuk beristirahat," sahut Sherry cepat. Lalu Sherry segera keluar dari dapur melewati Daniel.


Sherry membuka pintu dapur menuju ruang makan dan terkejut mendapati Elda sedang berdiri sambil menghela napas di balik pintu.


"Kau ada di sini Elda? Kenapa kau tidak ..." Sherry menghentikan kalimatnya karena Daniel muncul dari balik pintu menyusul Sherry. "Aku akan berada di dalam kamar," pamit Sherry.


Daniel juga naik ke lantai dua. Sherry melangkah menaiki anak tangga di ikuti Daniel di belakangnya. Sebenarnya bukan mau mengikuti, tapi kamar yang di sediakan bila dia datang kemari memang ada di lantai dua. Tepat berada di ujung lorong.

__ADS_1


Masih berjalan di belakang Sherry mata Daniel melihat mamanya di ruang santai di lantai dua. Nyonya Julia mengalihkan pandangan dengan gugup. Sherry sudah sampai di depan pintu kamar tidurnya. Membuka pintu lalu masuk. Sementara Daniel menuju tempat Nyonya Julia duduk.


"Mama sudah makan?" tanya Daniel.


"Sudah. Kamu sudah makan apa belum?" tanya Nyonya Julia khawatir tapi takut untuk melihat ke arah puteranya. Jadi dia hanya menengok sebentar lalu menghindari pandangan Daniel lagi.


"Aku terlalu lelah untuk makan ..." Daniel duduk di sofa seberang Nyonya Julia. Melihat Daniel yang seperti itu Nyonya Julia melihat ragu-ragu ke arah puteranya yang sudah menjadi lelaki dewasa yang tampan.


"Kau harus makan Daniel ... Kau sudah bekerja seharian dan ...." Daniel yang awalnya meletakkan kepala di atas sandaran sofa, kini bangkit dan menatap wanita yang melahirkannya.


"Soal Ve." kata Daniel.Nyonya Julia menegang. "Aku tidak ingin mama melakukan hal itu lagi. Apa mama tidak takut papa mengetahuinya?" tanya Daniel dengan kerutan di dahinya. Nyonya Julia menipiskan bibir sambil mengusap-ngusap jari jarinya dengan cepat. Pertanda beliau sedang gelisah. "Apa Ve berbuat salah kepada mama?" tanya Daniel. Nyonya Julia hanya menautkan jari-jarinya. Tidak menjawab pertanyaan Daniel. "Aku yakin mama hanya khilaf hari ini. Kedepannya tolong jangan seperti itu. Ve seperti aku, yang hanya mempunyai satu orang tua yang menemaninya. Jadi aku ingin mama juga menyayangi Ve seperti puteri mama sendiri seperti papa Gio menyayangi Daniel," ucap Daniel lembut.


Nyonya Julia yang terlihat sangat jahat di depan semua orang di rumah ini, sekarang menjadi seorang wanita lemah di depan Daniel putera satu-satunya. Nyonya Julia hanya diam. Sebenarnya Daniel akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi seputar Ve, tapi tidak jadi.


Cukup baginya tanpa sadar melempar tatapan tajam ke arah mamanya, saat melihat Sherry di perlakukan seperti pembantu tadi. Saat teringat lagi Daniel merasa telah membuat hati mamanya terluka.


Sherry segera membukakan pintu. Elda segera masuk.


"Aku bawakan camilan."


"Tumben. Padahal aku tidak memintanya," ujar Sherry melihat nampan yang di bawa. Elda memaksa masuk ke kamar Sherry dan segera menutup pintu. Setelah meletakkan camilan di meja nakas, Elda mulai duduk di sofa.


"Apa yang Daniel lakukan?" tanya Elda pelan pelan. Sherry yang masih berdiri mengernyitkan dahi mencoba memahami pertanyaan Elda. "Kenapa dia bersikap baik kepada mu?" Sherry mulai duduk di atas ranjangnya. Menggerak-gerakkan kepalanya yang kaku dan melihat Elda.


"Aku tidak tahu kenapa lelaki itu bersikap seperti itu. Aku juga merasa heran kenapa dia mulai berubah. Karena menurutmu, tidak ada orang yang menolong Ve saat ibu tirinya melakukan penindasan." Sherry mengatakannya juga hati-hati karena sekarang ada mereka di lantai dua.

__ADS_1


"Dia tidak pernah bertingkah seperti itu. Sekarang dia terlihat lebih hangat kepadamu ..." Mendengar ini, Sherry tergelak. Tawanya menyembur karena mendengar hal lucu yang mendadak.


"Pfftttt.... hangat menurutmu, hahaha..." Sherry memegangi perutnya saat ketawa. Elda bingung melihat responnya.


"Jangan terlalu keras tertawamu," Elda memperingatkan. Karena tawanya di tahan justru menambah kegelian tersendiri yang ketawanya tidak segera berhenti. Mata Sherry sampai mengeluarkan air mata.


Bagaimana mungkin laki-laki itu terlihat hangat. Mungkin saat membantunya tadi memang terlihat baik tapi selebihnya dia hanya pria bertingkah yang sangat mengganggu ketentraman Sherry. Apalagi dengan senyum-senyum anehnya.


"Dan cuplikan drama tadi ..." Sherry melirik Elda. Entah kenapa wajah Elda sedikit tersipu malu. Sherry menautkan alis. Sedang berpikir tentang apa dia hingga wajahnya tersipu malu seperti itu. "Kau sedang memikirkan apa? Wajahmu terlihat memerah," tegur Sherry. Elda terkejut. Lalu menutup mulutnya. Kemudian dia menatap Sherry.


"Kenapa seorang Daniel mengikat rambutmu dengan raut wajah seperti itu?" Elda sangat menggebu ingin tahu. Pantesan dia tersipu. Tidak perlu Elda, aku juga jadi terkejut dia bersikap seperti itu.


"Entahlah ..." kata Sherry sambil mengangkat bahu.


"Dan lagi, siapa cowok yang mengajakmu pergi dengan motornya?" Kali ini Elda menanyakan cowok lain.


"Relly. Dia cowok yang sangat di kagumi Ve." Sherry mulai mencomot kentang goreng yang ada di meja. Mencocolnya dengan saos pedas dan memasukkan ke dalam mulut. Hmmm enaaakk... Buat Sherry memang semua itu enak. Karena dia sangat menyukai makan. Meskipun begitu, tubuhnya tetap saja tidak bertambah gemuk.


"Dia juga menyukai Ve?" tanya Elda membuat Sherry mendongak.


"Tidak," jawab Sherry seperti terpaksa mengatakannya walaupun akan membuat Elda sedih. Sebagai orang yang dekat dengan nona muda, Elda jadi sangat menyayanginya. Dan Elda membuang napas, seperti merasakan bahwa Ve begitu kesepian.


"Lalu, kenapa dia mengajakmu pergi?"


"Aaahhh, itu hanya iseng. Dia hanya ingin bertanggung jawab. Karena gara-gara para penggemarnya, aku memotong rambut ini." Sherry mengangkat rambutnya dan menjatuhkannya.

__ADS_1


"Karena aku tidak pernah melihat ada seorang cowok yang mendekati Ve seperti mereka mendekatimu sekarang."



__ADS_2