Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Hidup baru


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Tok


tok


tok


Sherry yang sedang rebahan dan hampir terlelap di ruang tamu terkejut. Kepalanya terangkat dan melongok ke arah pintu. Dari jendela dengan tirai tipis atau vitrase, Sherry masih bisa melihat jika ada seseorang di luar. Namun mata masih tetap tidak bisa menebak siapa orang itu.


Ibu ada di kamarnya beristirahat. Aska juga demikian karena kelelahan menunggui dua perempuan di rumah ini. Sherry bangkit dari rebahannya dan berjalan menuju pintu.


Dengan malas Sherry membuka pintu. Sebuah serangan mendadak mengenai jantungnya. Sherry tercengang dengan kemunculan tamu tidak terduga ini.


"Han ... sel?" ucap Sherry patah-patah karena nanap dirinya. Cowok itu masih memakai seragam yang teramat di kenalnya karena dia sempat setiap hari memakainya.


"Kamu sudah pulang ke rumah rupanya."


"Ah ... ya." Cih. Kenapa Hansel bisa sampai kesini?


"Aku di biarkan berada di luar sini?" tanya Hansel ingin masuk.


"Biasanya kamu masuk rumahku?" tanya Sherry bodoh. Hansel terkejut.


Hansel datang ke rumah Sherry karena saat datang kerumah sakit, gadis itu sudah tidak ada. Kamar ibunya juga kosong. Dengan bertanya pada petugas, Hansel tahu keluarga Aska sudah pulang.


"Tidak. Kali ini karena sudah terlanjur datang, lebih baik aku di persilakan masuk." Dengan berat hati Sherry membiarkan Hansel masuk. Dalam hati, gadis ini mengomel. Bagaimana bisa Hansel bisa tahu soal keluarganya sejauh ini.


"Kamu sudah sehat Ve?" tanya Hansel.


Jadi dia tahu di dalam tubuh ini ada jiwa Vermouth? Ck! Dia banyak tahu lebih dari yang aku kira. Lebih baik aku berpura-pura menjadi gadis itu saja.


"Ya."


"Syukurlah." Perbincangan yang selalu di mulai dari Hansel mulai mengalir. Sherry tidak habis pikir cowok ini sampai di depan rumahnya. Apa yang sedang di pikirkan Hansel hingga dia sampai mengetahui segalanya tentang keluarganya?


.......

__ADS_1


.......


.......


Satu bulan setelah kembalinya jiwa Sherry pada cangkang aslinya.


Sherry duduk di kantin dan makan batagor. Kali ini tidak seperti biasanya. Dia di temani Yura dan Hanin. Teman baru yang sudah di gaet oleh Ve saat masih mendiami tubuhnya. Bukan teman yang cocok pada awalnya, tapi Sherry mencoba berteman. Ternyata Sherry mampu beradaptasi.


Mereka juga tidak mempermasalahkan soal sebutan cewek brutal karena Sherry seringkali terdengar terlibat perkelahian. Akhirnya Sherry juga terbiasa dengan mereka berdua. Mereka berdua terlihat lugu dan tidak modis, tapi mereka anak baik.


"Hai, kak Sherry," sapa Sabo dan Aldo. Sherry mengangkat satu tangannya untuk menyambut sapaan mereka. Mereka melihat Yura dan Hanin. "Hai, juga kalian." Dua gadis ini mengangguk. Mereka masih canggung.


"Ayo makan, tapi bayar sendiri." Sherry terkekeh.


"Kak Sherry mah begitu." Aldo bergaya manja.


"Aku sudah enggak kerja jadi enggak bisa traktir kalian. Biaya rumah sakit saja belum bisa bayar." Sherry ingat berkat dua teman adiknya ini dia bisa keluar dari rumah sakit.


"Soal itu jangan terlalu di pikirin," ujar Sabo. Aska muncul dan mengajak kedua temannya untuk pergi dari sana. "Ya!" sahut Sabo.


"Oke. Kapan-kapan kita main basket lagi ya." Sabo menepuk pundak Sherry.


"Main basket?"


"Jangan bilang kakak tidak bisa main seperti waktu itu. Kali ini kakak tidak bisa bercanda seperti waktu itu." Aldo menodong sherry.


"Jadi kamu bakal aktif lagi main basket seperti biasanya, Sher?" tanya Yura.


"Aktif lagi? Seperti aku sudah vakum lama." Sherry tersenyum merasa lucu.


"Kamu kan sudah berhenti lama tidak main basket, karena kamu bilang tubuhmu mulai lemah," kata Hanin.


"Begitu, ya..."


Kehidupan Sherry anugrah kembali normal seperti sedia kala. Walaupun ada hal baru, Sherry tetap berusaha mengikuti alurnya. Selama itu tidak menyulitkannya. Hanya saja, sekarang Sherry mengurangi perkelahian. Dia tidak ingin menyusahkan adiknya. Bisa di bilang Sherry lebih tenang daripada sebelum menjadi Vermouth.


...----------------...


Duk, duk, duk,


Sherry mendribble bola. Sore ini mereka tengah berkumpul di lapangan basket outdoor. Lapangan basket untuk umum. Gadis ini aktif lagi bermain basket bersama Sabo dan Aldo. Dia kembali menjadi Sherry Anugrah yang aktif dan banyak gerak. Bukan lagi Ve yang manis dan anggun.


Perubahan ini tentu di sambut meriah oleh dua bocah itu. Banyak yang terheran-heran mendapati perubahan ini. Namun mereka berdua sangat senang kakak Aska kembali menjadi gadis asyik di mata mereka. Tentu karena Sherry bisa di jadikan partner main basket.


Aska duduk duluan saat peluh sudah membanjiri kulitnya. Aldo dan Sabo berikutnya. Terakhir, Sherry yang membiarkan bola basket menggelinding di pinggir lapangan.

__ADS_1


"Minum," pinta Sherry ke adiknya. Aska melempar botol dan di tangkap dengan mudah oleh Sherry. Kemudian gadis ini duduk di samping adiknya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Aska.


Sherry tidak menjawab karena masih meneguk air minum. Baru setelah puas meneguk, dia menjawab. "Kenapa bertanya? Aku sedang dalam keadaan baik-baik saja."


"Benarkah?" tanya Aska tidak percaya sambil menoleh pada Sherry.


"Kamu sedang tanya apa sih? Aneh."


"Aku sedang bertanya bagaimana perasaanmu sekarang setelah kejadian aneh dan ajaib dan tidak masuk akal itu." Aska terdengar emosional. Sherry tersenyum mengejek.


"Kenapa emosional banget, heh?"


"Entahlah. Jawab saja pertanyaanku."


"Baik. Mungkin ..." Aska menghela napas mendengar jawaban kakaknya.


Tidak mudah pasti. Karena ada perasaan lain yang tertinggal dan belum dituntaskan sebelum mereka kembali pada tubuh masing-masing. Seperti kejadian yang masih misteri yang membuat Sherry babak belur dan tertabrak truk. Juga kejadian aneh di hatinya yang bercampur aduk. Soal dia dan Relly.


"Kamu tidak ingin tahu, apa Ve sudah kembali pada tubuhnya atau tidak?" tanya Aska. Sebenarnya dia ingin tahu soal gadis lain yang sudah seperti kakaknya sendiri karena tinggal dalam satu rumah itu. Namun Aska tidak berani membahas soal ini. Terlalu sensitif membahas soal ini saat Sherry sedang terguncang karena Relly tidak mengenalinya.


"Apa menurutmu aku perlu tahu?" Sherry membalikkan pertanyaan itu pada Aska.


"Aku bukan orang yang bersangkutan. Tidak punya banyak efek buatku soal ini. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Makanya aku menanyakan bagaimana denganmu."


Sherry tersenyum merasa lucu. Mencela dirinya sendiri. Aska benar. Tidak ada hubungannya takdir aneh ini dengan Aska kecuali bahwa adiknya itu sudah di repotkan olehnya dan Ve.


"Aku merasa tidak perlu. Aku tidak akan mendapat apa-apa dari ingin tahu bagaimana keadaan orang-orang di sana sekarang."


"Kau sedang mengharapkan sesuatu?" tanya Aska yang terasa menohok di telinga dan hatinya.


Ya. Aku mengharapkan sesuatu. Aku mengharapkan Relly bisa mengingatku. Suatu hal yang sangat tidak mungkin saat aku berada pada tubuh asliku. Jadi harapan ini terasa menyakitkan bagiku.


"Tidak." Sherry menggerakkan tangannya untuk mendekatkan botol ke dekat bibirnya. Meminumnya pelan-pelan hingga tandas. Agar rasa sakit tersamarkan. Juga ... tidak ingin airmatanya mengalir sekarang.


...----------------...


Pagi ini Sherry datang ke sekolah dengan tergesa-gesa. Walaupun terlambat, akhirnya dia bisa sampai di kelas dengan selamat. Itupun sebelum guru datang. Dia lumayan beruntung. Dengan napas tersengal-sengal Sherry segera duduk di bangkunya. Hanin menghampiri sambil bawa botol minumannya.


"Minum, cepat. Kamu itu kok mulai suka mepet bahkan telat beberapa menit berangkat sekolah? Padahal belakangan ini rajin berangkat pagi." Sherry menerima sodoran botol minum dan meneguknya. Gadis ini hanya mengangguk. Respon tidak jelas dari Sherry.


Gadis ini tidak sadar sejak tadi ada sepasang mata tengah memandanginya.


Saat guru pembimbing datang dan memulai mata pelajaran, Sherry merasa ada yang aneh. Kelas ini terlihat penuh. Kalau biasanya banyak bangku kosong karena adanya murid lebih sedikit dari bangku yang di sediakan, kini bangku-bangku kosong itu sudah terisi.

__ADS_1


Dia baru sadar karena kemarin bolos bareng Aska dan dua temannya. Ada beberapa orang yang di rasa baru olehnya. Siapa mereka?



__ADS_2