Diary Sherry

Diary Sherry
Edgar


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Perlahan semua orang yang berkerumun di bangku Sherry berpencar. Mereka ketakutan. Relly tampak sangat kejam hari ini. Sambil menatap Relly tidak percaya, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Frans saja sebagai teman dekat terkejut. Apa yang sedang merasuki Relly siang ini. Sejak tadi wajah itu berselimut awan mendung. Cowok cool itu mulai memperlihatkan sisi lain dari dirinya yang selama ini terlihat baik-baik saja.


Sherry menengok ke samping. Cowok itu masih berdiri dengan menatap dingin ke arah semua murid perempuan yang tadi habis bergerombol di tempat duduknya. Dia masih berdiri dengan tangannya yang sudah menggebrak keras tadi di atas meja.


Ada yang kaget, ada juga yang merasa lega karena suara dengungan mereka yang kepo menjadi lenyap. Seperti para cowok yang tadi merasa tidak senang karena banyak siswa perempuan yang terlalu berlebihan membahas tentang Hansel.


Ada apa dengan Relly? Dia tampak marah.



Sore hari ini suasana ruang latihan anak karate sangat ramai. Semua mata memandang takjub dan tidak percaya melihat ada seorang gadis yang sedang latih tanding. Untuk yang tidak tahu siapa gadis itu hanya berdecak kagum, saat melihat dia mampu bertahan dan berkelit dari serangan seorang anggota junior. Padahal dia baru saja datang ke klub karate ini. Tapi untuk yang pernah tahu siapa dia, selain takjub mereka juga tidak percaya.


Benarkah itu Ve?


Gadis berperawakan sedang dan mempunyai wajah cantik itu sedang melawan salah satu junior klub karate. Karena dia juga pemula maka lawannya juga adalah pemula. Namun dia jadi terlihat hebat hanya karena lawannya tidak menguasai tehnik sepenuhnya. Sebenarnya Sherry juga belum menunjukkan aksinya.


Semua itu mungkin karena pengalaman Sherry yang sering terjun langsung pada medan perkelahian, jadi dia bisa menghindari dan menangkis semua serangan junior itu. Setelah melihat kemampuan beladiri Sherry barusan, Devon selaku ketua klub menyuruh salah seorang senior melawan Sherry.

__ADS_1


"Aku harus melawan dia?" tanya Edgar, senior yang di tunjuk menjadi lawan latihan tanding merasa kesal. Meskipun latihan melawan sesama junior tadi dia menang, bukankah karena mereka sesama pemula. Bagaimana bisa, dia yang senior harus melawan anak baru yang terlihat lemah tak bertenaga itu. Bukankah itu lawan yang tak sebanding. Merupakan penghinaan bagi anak senior jikalau harus melawan anak baru.


"Benar," jawab Devon.


Menurut mereka anak baru seperti Sherry layaknya itu bertanding dengan sesama anak baru yang masih harus menguasai teknik dasar. Bukan malah di kasih lawan tangguh semacam Edgar. Orang yang sudah menguasai karate akan lebih tertantang jikalau harus melawan mereka yang setara atau bahkan lebih di atasnya.


"Kenapa aku harus meladeni anak baru. Bukankah ini sama saja artinya aku sedang bermain-main, bukan lawan tanding," gerutu Edgar dengan nada meremehkan. Teman-teman sesama senior tertawa menggoda Edgar.


"Sudahlah ... bermain-mainlah sedikit. Jangan terlalu serius melawannya. Lagipula ia lumayan cantik lho ...," sahut yang lain sambil cekikikan dengan pandangan mereka yang melecehkan. Selentingan itu sangat menusuk di telinga Sherry yang berdiri tak jauh dari mereka.


Mata Sherry berkilat tidak suka, tapi dia berusaha menahan mulutnya untuk tidak membalas omongan mereka. Saat ini dia juga sangat ingin menghajar orang-orang itu. Edgar masih ngedumel sambil mulai maju ke depan. Mata Edgar menatap tajam ke arah Sherry. Dia sangat ingin meneriaki gadis di depannya yang diam saja sejak tadi.


"Siap? Mulai!" Devon memberi aba-aba.


Sherry mencoba melihat pergerakan laki-laki berwajah keras itu dulu.


Dia memang terlihat kuat. Sherry mencoba menyerang duluan dengan tendangan tidak terpusat pada bagian apa yang akan di serang. Tentu saja tendangannya meleset. Menyerang tanpa memusatkan pada tubuh bagian apa, tidak akan menghasilkan serangan yang bagus. Karena tidak terfokus, hanya jadi serangan membabi buta tanpa arahan yang jelas.


Edgar bisa menghindar dengan baik. Senyuman sinis meremehkan terlukis di bibir Edgar. Tendangan barusan memang tidak dengan kekuatan yang besar makanya Edgar bisa menghindar dengan mudah. Tapi pemuda itu tidak tahu bahwa Sherry sengaja mengurangi tenaganya.


Edgar merasa gadis di depannya hanya sebagai gadis pemula yang masih belum paham teknik. Karena merasa lawan tanding adalah seorang perempuan dan juga anak baru di klub karate, Edgar tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Dia juga melancarkan tendangan hanya untuk menggertak saja.


"Edgar benar-benar sedang bermain-main. Dia sedang mempermainkan anak baru itu," tunjuk Lido sambil berkomentar.


"Devon salah pilih lawan nih. Seharusnya Devon bukannya menyuruh Edgar untuk jadi lawan tandingnya. Minimal sama orang yang kekuatannya diatas pemula sedikit, kan kasihan tuh. Lagi pula dia perempuan." Neymar ikut berkomentar dengan penunjukan Edgar sebagai lawan tanding anak baru.

__ADS_1


"Maksudnya menunjuk kita-kita?" tanya Nano.


"Kenapa kita, Ne?" tanya Lido.


"Bukannya di bawah Edgar ada kita bertiga?" inget Nano. Lido menggaruk kepala.


"Iya. Benar juga," Lido cengengesan.


"Jadi enggak tega lihat gadis cantik itu. Masih baru masuk langsung di suruh melawan Edgar yang temperamennya agar buruk," kata Neymar. Nano juga melihat lagi ketengah ruangan yang beralaskan matras karena ini latihan untuk pemula dulu.


"Sepertinya dia dari kelas sebelah deh. Yang selalu mengikuti Relly diam-diam itu," Lido sepertinya mulai paham. Nano dan Neymar mengamati.


"Benar. Gadis cantik tapi pemalu itu ya ..." timpal Neymar.


Mereka bertiga rupanya tahu siapa Ve hanya sempat lupa karena belakangan soal penggemar Relly mulai tidak tampak karena tidak mungkin Sherry yang ada dalam tubuh Ve melakukannya.


"Hei, kau serius berada di sini? Sepertinya tempatmu bukan disini, perempuan. Kau salah tempat. Pulang sana, main boneka," ejek Edgar. Devon mendengar ejekan Edgar.


"Hei, Edgar. Sebagai senior seharusnya kau berbicara dengan benar!" hardik Devon. Sebagai ketua klub karate Devon memang sangat berwibawa. Walaupun Devon kadang suka bercanda seperti waktu pertama kali bertemu Sherry tadi siang. Edgar langsung menutup mulutnya.


Sialan ini cowok. Segitu tidak sukanya harus jadi lawan tanding anak baru sepertiku. umpat Sherry di dalam hati.


"Ayo," Edgar memainkan jarinya lagi menyuruh Sherry untuk menyerangnya. Jari-jari Sherry mengepal. Hh... mata Sherry terlihat lebih serius daripada tadi.


"Memang seharusnya kau lebih serius untuk melawanku. Walaupun dengan serius dan pakai tenaga penuh sekalipun percuma, karena kau tetap tidak bisa melawanku," ujar Edgar pongah. Devon menipiskan bibir dan membuang napas tanda kurang senang mendengar dan melihat tingkah anggotanya.

__ADS_1



__ADS_2