
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Aku antar pulang." Tiba-tiba Relly memberikan penawaran menarik. Sherry terkejut. Hanya saja dia segera memberi penolakan. Dia tidak boleh terlena. Lagipula rumahnya sudah dekat.
"Tidak. Aku bisa sendiri."
"Aku tidak biasa mengantar seseorang, jadi terima saja tawaranku."
"Aku tahu," sahut Sherry datar. Yah ... kamu cukup dingin untuk menawarkan bantuan semacam ini. Sherry mengatakan dalam hati sambil melihat lurus ke depan.
"Tahu?" tanya Relly heran. Sherry terkejut sendiri saat Relly menanyakannya. Apa yang aku katakan barusan? "Kamu tahu tentangku?" selidik Relly.
Arggh! Sial!
"Kamu banyak di gemari anak-anak cewek di sekolah. Mungkin dari sana aku bisa mendengarnya." Sherry memberi alasan dengan cepat dan tepat.
"Begitu... Kamu juga punya waktu mendengar cerita tentangku." Bola mata Relly melirik sebentar pada gadis di sebelahnya.
Bukan. Aku tahu itu karena sudah mengenalmu.
"Berjalanlah di depan. Aku akan mengawasimu dari belakang." Relly memberi perintah.
"Tidak."
"Tenang saja. Itu tidak sama dengan aku mengantarmu," kata Relly cepat. Seperti tahu apa yang ada dalam benak Sherry. Gadis ini menghela napas. Lalu melangkahkan kaki dan menyusuri gang sendiri. Membiarkan cowok itu. Rupanya Relly berada di belakangnya. Benar-benar mengawasinya.
Buang kebaikanmu seperti ini, Rel. Ini tidak baik buat jantungku. Aku jadi menginginkanmu. Sangat mustahil saat ada kenangan Sherry di hatimu.
...----------------...
...----------------...
Keesokkan harinya, Relly berdiri sendiri di area parkir. Ini membuat gadis-gadis punya banyak kesempatan tersenyum dan melihatnya lebih puas. Mereka berbisik dan tersipu sendiri.
"Enggak masuk?" tanya Runo setelah memarkir motornya. Melihat heran siswa elit ini di sini.
"Ya. Sebentar lagi."
"Ada yang di tunggu?" Runo melihat sekitar.
"Tidak. Hanya saja masih ingin berada disini."
"Itu ... sedikit aneh." Runo berkomentar. Lalu menilik cowok pertukaran pelajar ini. "Tapi itu terserah kamu. Nikmati saja sekolahku sebanyak yang kau mau." Runo membanggakan sekolah tercintanya. Relly hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Ponselnya berdering. Erick yang menghubunginya.
"Ada apa?"
"Sherry menanyakanmu. Tadi malam kamu tidak kembali ke rumah sakit. Ada apa?"
Relly lupa. Ia tidak kembali ke rumah sakit. Relly tertidur lelap di kamarnya sendiri. Dia merasa lebih tenang daripada di rumah sakit.
Apa karena setelah melawan cowok-cowok tadi, makanya dia merasa lelah dan perlu segera tidur dirumah? Tidak. Seharusnya tidak. Karena Sherry itu lebih penting bagi Relly.
Namun, sepertinya rasa gelisah itu begitu berat hingga memaksanya keluar tanpa menemani gadis di rumah sakit itu seperti biasanya.
Lalu kemana rasa gelisah dan hampa yang mengusiknya tadi? Kenapa justru diluar membuatnya lebih tenang?
"Ya. Katakan padanya aku akan mengunjunginya nanti."
"Kamu tidak ingin bicara dengannya?" Erick mengatakannya dengan pelan.
"Tidak. Aku pasti kerumah sakit nanti. Sepulang sekolah."
"Baiklah. Aku akan memberitahunya." Erick sedikit terkejut tuan mudanya tidak muncul sama sekali di rumah sakit.
Biasanya pemuda itu tanpa jeda selalu berada di kamar ini. Duduk sambil merenung dan berharap gadis itu terbangun. Namun sekarang, saat gadis itu sudah bangun dari koma, dia justru pergi dan tidak muncul.
Sherry muncul di area parkir dengan Yura. Gadis itu terkejut melihat Relly disana. Hatinya mencoba berpikir biasa. Tidak mungkin cowok itu menunggunya. Pikiran yang berlebihan.
"Tidak bawa motor?" tanya Relly membuatnya terkejut.
"Ya."
"Tidak," sahut Sherry singkat. Selesai memarkir motor dengan benar, Yura menghampiri mereka berdua.
"Kalau masih ada perlu, aku duluan saja Sher," ujar Yura. Tangan Yura mencolek lengan Sherry. Relly dan Sherry menoleh bersamaan.
"Eh? Bukan ...," bantah Sherry, tapi Yura sudah mendahului sambil melambai. "Itu anak...," gumam Sherry geregetan.
"Kita jalan bareng ke kelas," ajak Relly yang tidak bisa di bantah. Bukan karena Sherry terlalu bahagia, tapi kakinya juga tengah menempuh perjalanan yang sama menuju kelas. Dia tidak mungkin bilang tidak jika ujungnya tetap bareng.
Sepanjang perjalanan, bibir mereka diam. Tidak ada yang di obrolkan.
Ya. Begini lebih baik. Aku tidak perlu mengeluarkan tenaga menjawab obrolannya.
Apa kabarmu Relly? Bagaimana keadaanmu sebulan yang lalu saat jiwaku sudah kembali pada tubuhku? Apa kamu merindukanku? Apa kamu mengingatku? Apa kamu tahu bahwa aku adalah Sherry yang itu?
Jika bisa, Sherry akan bertanya seperti itu. Sayangnya tidak bisa. Juga ... tidak perlu, karena rasanya percuma.
"Tadi malam, terima kasih." Sherry membuka obrolan. Relly menoleh.
__ADS_1
"Ya. Situasi tadi malam agak berbahaya."
Kemudian hening lagi. Mereka tidak mengobrol lagi.
Aku tidak paham. Aku sudah bisa melihat mata Sherry terbuka, tapi kenapa justru ingin lari darinya. Dia. Gadis baru yang kutemui, kenapa terasa lama mengenalnya? Siapa dia?
"Apa kita pernah bertemu sebelum aku jadi salah satu siswa pertukaran pelajar?" tanya Relly. Jantung Sherry berdegup lagi.
"Tidak."
"Biasanya orang akan mencoba memikirkannya beberapa detik, lalu menjawab. Tapi kamu begitu yakin tidak pernah bertemu denganku. Kamu sudah berpikir aku akan bertanya?" Sungguh, Sherry terperangah mendengar dugaan Relly. Beberapa detik, Sherry terpaku menatap Relly.
"Tidak mungkin. Karena kamu dari sekolah elit yang tentunya pasti beredar hanya di sekitar lingkungan elit, jadi tanpa memikirkannya pun pasti kita tidak pernah bertemu. Kita itu berbeda. Sangat tidak mungkin." Sekali lagi Sherry bisa menjawab dengan tepat.
Relly mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ada apa dengan Relly? Kenapa dia tampak sedang menyelidiki sesuatu? Jelas sungguh mustahil dia tahu bahwa aku adalah Sherry yang asli. Apa Ve sudah bangun dari koma dan mengatakan semuanya?
Sherry tidak tenang. Disisi lain dia juga berharap banyak Relly mengingatnya.
...----------------...
...----------------...
Sejak ada Relly di sekolah ini, kehidupan Aska jadi tersamarkan. Sherry melarang Aska beredar dan berkeliaran sembarangan. Itu membuatnya menjadi sedikit terhimpit. Area bermain Aska jadi di batasi.
Sherry sendiri jadi mengucilkan diri dari Aska and the gank. Karena Relly berulang kali mendekatinya. Hanya sekedar basa-basi atau mencegatnya. Melakukan banyak hal tidak perlu yang herannya tetap Relly lakukan.
Untung saja Hansel tidak termasuk dalam daftar siswa yang ikut pertukaran belajar. Kalau tidak, Aska semakin kerepotan dengan ulah kakaknya.
Hati Sherry bolak-balik tidak karuan. Antara suka dan masih berharap. Lalu terasa sakit lagi saat mendengar bahwa Relly masih membicarakan Sherry yang lain. Kemungkinan itu Vermouth.
"Jadi Ve sudah bangun dari koma? Syukurlah." Aska memberi tanggapan saat kakaknya bercerita.
"Namun, sepertinya Ve berpura-pura menjadi aku. Dia tidak menceritakan soal jiwa kita berdua yang kembali pada Relly. Gadis itu mengambil alih peranku di tubuhnya."
Saat mengatakan ini, ada rasa kecewa yang terselip. Aska tahu. Kakaknya pasti berharap, takdir berbelas kasih padanya untuk memutar keadaan yang langsung membuat Relly mengenali dan menjadikan dia gadis yang spesial. Sherry punya rasa spesial untuk Relly.
"Gadis itu masih tidak punya rasa mampu berdiri sendiri. Mungkin dia silau saat kesempatan menjadi dirimu ada. Karena dengan mengakui bahwa dia adalah Sherry, dia punya kesempatan mendapat perhatian dari Relly." Aska menjulurkan kaki lurus ke depan. Mereka sedang duduk di pinggir lapangan basket.
"Bukankah Ve, sangat menyukai Relly sejak lama. Dia juga lebih dulu mengenal cowok itu. Maklumilah keadaannya. Kehidupanmu jauh lebih baik dari dirinya. Kamu masih bisa menikmati kebahagiaan, walau ... seorang Relly tidak mengakuimu lagi sebagai Sherry yang pernah jadi kekasihnya." Aska mencoba memberi pandangan baru untuk kakaknya.
"Ya ... Itu hanya palsu." Sherry mendengkus. Dia ingat lagi status palsu itu. Status yang lama-lama membuatnya terbiasa.
"Iya, tapi kamu terlena. Sampai akhirnya kamu serakah, ingin memiliki perhatian cowok itu," tuduh Aska terang-terangan. Sherry mengerjap. Tidak menduga tuduhan di layangkan langsung oleh Aska.
__ADS_1
Dia tidak lagi mau menyembunyikan kekesalan soal Sherry yang terluka hanya karena Relly tidak lagi mengenalnya.