
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Tujuan dari rencana mereka membongkar kejahatan Gio adalah mencari berkas operasi wajah yang di maksud Sherry. Area yang pertama harus di datangi adalah kantor. Ruang kerja milik Gio.
Ve datang ke kantor di temani Relly. Tidak lupa dua manusia yang sekarang lebih sering bersama mereka, Sherry dan Hansel. Dengan seragam sekolah, mereka datang ke perusahaan Gio. Tidak ada yang melarang putri pemilik perusahaan datang.
"Aku akan tunggu papa di ruang kerjanya," ujar Ve kepada penjaga pintu.
"Tapi, tuan bilang ..."
"Tidak apa-apa. Aku kan putrinya. Beliau pasti tidak marah." Ve berusaha meyakinkan. "Apalagi, aku datang bersama tunanganku. Beliau pasti setuju aku membawa dia ke ruangannya." Tiba-tiba Ve menarik lengan Relly pelan dan memegangnya. Sedikit mencondongkan diri bermaksud untuk menunjukkan mereka sepasang kekasih.
Relly melirik ke tangan Ve yang menggamit lengannya. Dia terkejut. Hanya saja diam. Mengikuti alur yang di ambil Ve. Sherry dan Hansel juga ikut melihat. Mereka juga terkejut.
Penjaga itu melihat ke arah Relly. Dia tahu bahwa pemuda ini adalah tunangan putri Gio.
Ini hanya sandiwara. Sandiwara, rapal Sherry dalam hati tiba-tiba.
Hansel melirik ke arah Sherry yang memalingkan muka. Pasti Sherry tidak ingin terpengaruh oleh sandiwara Ve. Dia mungkin menghindari dari pemandangan mereka berdua yang begitu dekat.
Setelah yakin, penjaga itu mempersilakan mereka masuk.
Sherry yang masuk paling belakang sendiri memilih berdiri di depan pintu. Hansel berada di depannya. Sementara Relly dan Ve berjalan paling depan karena sedang berakting. Mereka masuk terlebih dahulu.
Klek. Suara pintu terbuka pertanda mereka berhasil masuk ke dalam ruang kantor.
Sebuah tangan menarik tangan Sherry. Sherry sempat tersentak karena begitu tiba-tiba.
"Kenapa berdiri di belakang?" tanya Relly. Rupanya cowok ini yang menariknya.
"Iya," jawab Sherry asal. Jika menjawab dengan jujur. Dia harus mengatakan adegan Relly dan Ve tadi. Setelah mengucap itu, Sherry melihat ke arah lain. Berdiri di dekat rak buku yang letaknya di samping pintu. Relly mengikuti.
"Aku hanya mengikuti apa yang Ve katakan," lirih Relly.
"Aku tahu."
"Kenapa tidak segera menarikku agar menjauh dari Ve?" Masih berbisik. Relly juga masih bertanya.
"Entahlah."
"Kalau cemburu tunjukkan saja. Jangan diam. Aku tidak suka."
"Bukannya kalian lagi berakting?" tanya Sherry tidak mau mengaku.
__ADS_1
"Benar, itu beberapa menit yang lalu. Saat masuk, kamu bisa segera menarikku untuk mendekat." Sherry diam. Kenapa begitu? Jika Relly berniat bermain sandiwara, dia cukup diam menunggu Relly menyelesaikan ceritanya bukan? Bukannya nanti Relly yang harus mendekatinya?
Ve juga segera mendekat perlahan ke Hansel.
"Aktingku ... meyakinkan?" tanya Ve lambat-lambat.
"Ya. Penjaga tadi mempercayaimu. Itu buktinya mereka membiarkanmu masuk dengan banyak orang seperti ini. Padahal ini ruang papamu." Hansel menanggapi. Ve menganggukkan kepala. Ekor matanya melirik ke arah Hansel lagi. Tidak ada tanggapan lain selain itu.
"Mulai darimana kita akan mencari?" tanya Hansel seraya menolehkan kepala ke arah Ve. Gadis ini terkejut karena dirinya masih menamatkan melihat cowok itu.
"Ah, itu ... Aku ... tidak tahu." Ve malu sendiri. Dia gugup. Hingga akhirnya menjawab pertanyaan Hansel dengan berantakan.
Sherry yang masih di tekan soal cemburu oleh Relly langsung memberi jawaban, "Mulai dari atas meja kerja. Kemudian mencari menyeluruh disana. Karena aku menemukan berkas itu tepat di atas meja. Namun kemungkinan sekarang berpindah tempat karena berbahaya baginya. Aku akan mencari disini."
Gadis ini ingin menetralkan suasana diantara dirinya dan Relly, makanya segera menjawab pertanyaan Hansel.
"Oke. Aku dan Ve akan mulai mencarinya disini," ujar Hansel yang memang dekat dengan meja kerja Gio. Ve mengikuti Hansel.
"Bentuknya sebuah amplop besar berwarna putih dengan kop surat dari rumah sakit." Sherry menambahkan sambil menoleh ke belakang.
"Ya," Ve dan Hansel menjawab hampir bersamaan.
Sherry juga meneruskan mencari di rak buku. Relly mengikuti. "Jika tidak nyaman, aku akan mengatakan pada Ve untuk tidak bertingkah seperti itu lagi," ujar Relly sambil ikut mencari.
Sherry diam. Relly masih membahas soal itu.
"Sepertinya aku yang merasa gelisah jika kamu diam setelah aku mengikuti sandiwara Ve." Relly terus saja berbisik mengutarakan apa yang ada di dalam otak di tempurung kepalanya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya merasa aneh saja."
"Apa?" Sherry menoleh karena Relly mendesak. Cowok ini menatap Sherry dalam-dalam.
"Kamu cemburu." Tepat. Sherry sedang merasakannya.
"Hh... " Sherry menghela napas. "Walaupun iya mau bagaimana? Kalian juga tidak melakukannya secara sengaja. Itu hanya sandiwara." Sherry tidak mengelak.
"Maaf," ucap Relly sambil memiringkan kepala ingin melihat langsung ekspresi gadis ini karena dia sengaja memalingkan wajah.
Krek. Pintu terbuka tanpa ada gerakan sebelumnya. Semua remaja di dalam ruangan ini terperanjat kaget. Tidak ada persiapan apapun untuk menghindar. Ve dan Hansel terpaksa terdiam di dekat meja kerja sang papa. Sementara Relly dan Sherry menoleh dengan sikap kaku.
"Ada orang?" tanya Gio merasa aneh. Dia memang mendengar bahwa putrinya ada di ruangannya bersama Relly tunangannya. Namun yang di temukannya pertama kali saat membuka pintu adalah gadis lain, Sherry.
Bola mata Sherry membeliak melihat kemunculan Gio.
"Mereka Relly dan teman-temanku, papa." Ve menyerukan suaranya agar perhatian Gio yang terlihat curiga teralihkan. Gio menoleh pada Ve dan tersenyum.
Sementara itu Sherry semakin terlihat aneh. Tubuhnya gemetar. Relly melebarkan mata karena cemas. Memegang bahu gadis itu.
"Sherr ...," bisik Relly yang melihat tubuh gadis ini tegang dan bergetar. Kepala Sherry menunduk merasakan hawa dingin menyentuh permukaan kulitnya. Ingatan akan rencana pembunuhan dirinya kembali melintas.
Sherry takut. Tubuhnya ingin meringkuk dan bersembunyi. Dia teringat Gio yang akan membunuhnya.
__ADS_1
"Sherr ...." Tanpa ragu Relly langsung memeluk tubuh gadis ini meskipun ada Gio di sana. Hansel dan Ve terkejut. Bukankah mereka harus berpura-pura sebagai teman? Apa yang di lakukan Relly?
Gio tentu saja merasa aneh. "Sepupu Relly mungkin kelelahan karena habis ada ujian di sekolah, Pa," bohong Ve.
"Ujian?" tanya Gio melihat Ve ragu.
"Iya, Tuan. Dia sepupu Relly yang satu sekolah dengan kita. Tubuhnya memang lemah. Maaf, saya Hansel teman sekolah Ve." Hansel menambahkan dan memberi sapaan.
"Relly, cepat baringkan tubuh sepupumu di atas sofa, biar dia mendingan," perintah Gio tanpa curiga. Baginya sekarang, keluarga Relly adalah ladang harta. Dia tidak mau dirinya di anggap tidak mempedulikan pemuda yang kelak jadi menantunya.
Relly membimbing tubuh Sherry menuju sofa dan membaringkannya. Hansel dan Ve ikut mendekat.
"Aku akan memanggil seseorang di luar." Gio menuju pintu
"Ada apa dengan sherry?" tanya Ve berbisik.
"Mungkin dia mengalami trauma karena pernah hampir di bunuh Gio. Tubuhnya bereaksi. Dia gemetar ketakutan." Relly menjelaskan pelan karena Gio berada di dekat pintu. Jauh dari sofa. Ve memandang Sherry iba.
Hansel ikut mendekat sambil sesekali melihat ke arah pintu. Mungkin saja Gio tiba-tiba ikut mendekat dan bisa menemukan pembicaraan mereka.
...----------------...
Sherry di pindahkan ke ruangan lain dimana ada ranjang disana. Dengan di antar sekretaris Gio, Relly membawa tubuh Sherry. Sementara itu Ve tetap di ruangan Gio dengan Hansel. Mengawasi Gio dari jarak dekat.
"Sherry bangunlah," ucap Relly cemas. Di tengah kepanikan tadi, gadis ini pingsan. Namun tidak lama gadis ini bisa membuka matanya.
"Relly ..." lirih Sherry. Relly langsung memeluknya erat. "Aku takut tadi Rell ..."
"Kamu aman. Tidak ada yang tahu siapa kamu karena kembali pada tubuhmu. Tenanglah ..." Relly menepuk pelan punggung gadis ini.
"Aku tahu, tapi aku masih takut," bisik Sherry sambil memejamkan mata. Tubuhnya begitu bereaksi meski telah berpindah tubuh. Siapa saja pasti mengalami trauma besar saat dirinya hampir saja terbunuh.
Sherry melepas pelukannya. "Tenangkan dulu dirimu." Sherry mengangguk.
"Aku ingin minum." Sekretaris Gio tadi sudah menyediakan minuman di meja. Relly mengambil dan memberikan pada Sherry. "Bagaimana tadi? Apa Gio curiga?"
"Sepertinya tidak. Ve dan Hansel segera berinisiatif mengatakan kamu adalah sepupuku. Sekarang mereka masih berada disana bersama Gio." Relly merapikan rambut Sherry. "Kamu masih cemburu?" tanya Relly masih membahas hal yang sama.
"Jika tadi iya, sekarang enggak." Sherry malu saat mengatakan ini. Dia menunduk dan meracau dalam hati karena bicara jujur. Relly tersenyum.
...APRIL...
...Cerita baru :...
.......
.......
__ADS_1
.......