
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Iya, Gio. Maafkan putraku. Sepertinya putraku begitu mencintai putrimu. Dia menolong putrimu yang tengah mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu detailnya, tapi Relly menyembuhkan putrimu hingga siuman."
Di bawah meja, tangan Gio mengepal. Membayangkan ternyata selama ini gadis itu bersembunyi dengan putra Welly.
Sialan! Ternyata bocah itu yang menolong. Kalau aku tahu ini ada hubungannya dengan bocah itu, aku segera meringkusnya.
"Begitukah?" tanya Gio menahan amarah.
"Aku tahu ini memalukan. Aku minta maaf, atas kecerobohan putraku. Dia masih labil karena masih muda, Gio. Keluargaku sungguh-sungguh meminta maaf padamu." Welly bersungguh-sungguh mengutarakan niat baiknya untuk berdamai.
Jika tidak ingin Gio menjebloskan putranya ke dalam penjara sebagai penculik, dia harus mengatasi amarah pria ini terlebih dahulu.
"Bagaimana kalau kita berbesan saja. Aku juga akan memberikan putrimu sahamku beberapa persen." Gio langsung memberikan tawaran menggiurkan. Ya. Selain sebagai pemilik rumah sakit, Welly juga punya perusahaan lain.
"Ah, tidak perlu begitu." Gio mulai mengerti bahwa lelaki ini ingin menyembunyikan putranya dari pihak kepolisian.
Sungguh lucu. Aku mencari mereka karena ingin membunuhnya. Namun, justru aku mendapatkan bonus. Tunggu. Bukankah gadis itu tahu soal aku?
"Emmm ... bagaimana dengan putriku? Apa dia setuju untuk pulang dan menikah dengan putramu?" Gio sadar, gadis itu sudah melihat wajahnya juga rahasianya. Apa mungkin dia ingin Gio menemukan dimana lokasi persembunyian dirinya sekarang?
"Ya. Aku rasa putrimu sangat bahagia."
Benarkah? Benarkah gadis itu tidak takut aku membunuhnya lagi karena tahu tentang aku yang palsu? Aku harus menyelidiki soal ini.
"Aku akan memikirkannya lagi, Welly."
"Oh, kau masih perlu berpikir lagi?" Welly kecewa. Menurutnya ini sudah tawaran menggiurkan untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih. Demi putranya, dia rela melakukan ini.
Penolakan Gio seakan menunjukkan bahwa dia tetap akan membawa Relly ke pengadilan. Dia ingin hukuman yang layak.
Mama Relly terlihat sedikit gemetar. Dia tentu mengkhawatirkan putranya. Welly menyentuh tangan istrinya. Berusaha menenangkan.
"Ya. Aku juga merasa putriku masih kecil jika berbicara soal saham. Dia masih perlu bermain karena usianya masih muda. Benarkan, Julia?" tanya Gio pada istrinya.
"Y-ya ... Ve masih perlu banyak belajar."
"Emmm ... bagaimana kalau aku memberikan sahamku atas namamu," tawar Welly sambil melihat ke arah istrinya sebentar.
Wahhh ... pria ini begitu menyayangi putranya. hingga tidak mau putranya terseret kasus jika aku mengatakan bahwa putriku di culik putra orang ini. Aku bisa memanfaatkannya.
"Aku tahu kebaikan hatimu. Namun, bolehkah aku bertemu putriku dulu?"
"Maaf, putrimu masih dalam perawatan. Kecelakaan itu sangat parah. Bisa saja itu sedikit mengganggu otaknya."
Otak? Aku harap gadis itu justru tidak ingat apapun. Jadi aku tidak perlu membunuhnya. Lalu aku bisa memanfaatkannya demi mendapatkan banyak harta dari orang ini.
__ADS_1
"Apa putra Anda juga menemukan putra saya, Daniel?" tanya Julia tiba-tiba.
"Daniel? Tidak. Di rumah sakitku hanya ada putrimu. Aku tidak menemukan putramu," ujar Welly yang memang tidak mengendus soal keberadaan Daniel di rumah sakit. Itu karena Relly tidak pernah berkunjung ke kamar perawatan pria itu. Relly hanya perlu menerima laporan dari orang-orangnya.
...----------------...
...----------------...
"Bagaimana Gio menanggapi bahwa, putrinya ada bersamaku?" tanya Relly yang mendengar papa mengadakan jamuan makan antara kedua orangtua. Pasti beliau akan bicara soal Ve yang berada di rumah sakit ini dengan Gio.
"Aku tidak paham bagaimana, tapi yang aku dengar, Gio menyetujui usulan tuan besar untuk berbesan."
"Hanya itu?"
"Kenapa? Kamu takut Gio akan menuntutmu karena menyembunyikan putrinya?"
"Bukan. Aku curiga ada yang salah dengan orang-orang dari perusahaan SMART. Tidak menutup kemungkinan bahwa Gio juga mencurigakan."
"Soal kecelakaan gadismu itu?" Erick pernah mendengar soal ini dari Relly.
"Ya."
"Entahlah. Yang kudengar mereka memutuskan mengadakan pesta pertunangan kalian. Gio juga ingin menemui putrinya terlebih dulu. Mungkin dalam waktu dekat dia akan ke rumah sakit."
"Sial. Seharusnya itu tidak terjadi. Sherry bisa dalam bahaya. Usahakan atur jadwal pertemuan mereka saat aku ada Erick. Aku harus menemani Sherry saat orangtua itu menjenguknya."
"Baik." Relly menutup telepon dan hendak menuju kelas. Dia sengaja meminta ijin ke toilet. Dengan begitu dia bisa menerima teepon dari Erick.
Relly melihat kanan dan kiri lorong, tidak ada siapapun. Sepi. Karena ini memang masih jam pelajaran. Mata Relly menyipit. Kedua alisnya menyatu. Keningnya berkerut. Relly berpikir keras bahwa cowok tadi mirip Aska.
Di balik dinding, Aska mengatur napas. Dadanya berdebar-debar karena berpikir tidak bisa lolos dari kejaran Relly. Sungguh beruntung, saat bisa menemukan tempat ini. Ya ... ini agak ... Aneh! Namun mampu menyelamatkannya.
Namanya juga satu sekolah, suatu saat aku pasti akan berpapasan dengan Relly. Walaupun ketemu, apa dia akan langsung paham bahwa Sherry itu adalah orang yang sama dengan Sherry yang di kenalnya? Aku memang adik Sherry, tapi apa Relly langsung mengenali kalau Sherry itu adalah kakakku? Hhh ... bikin lelah saja.
Merasa aman, Aska keluar dari toilet wanita. Sialnya di luar justru bertemu Sigi yang akan masuk ke dalam toilet.
"Aska?" seru Sigi terkejut. "Kenapa ... keluar dari sana?" telunjuk Sigi menunjuk pintu toilet. Aska menelan ludah. Sangat tidak keren ketahuan oranglain saat sedang bersembunyi di dalam toilet wanita.
"Aku bersembunyi." Aska mengaku.
"Dari siapa?" Sigi melihat ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Dia memang bertemu dengan Relly sepupunya yang kembali ke kelas, tapi tidak mungkin Aska bersembunyi dari cowok itu.
"Seseorang. Sudah, aku pergi." Aska tidak ingin berlama-lama.
"Kapan-kapan aku kerumah kamu, Ka!"
Kaki Aska yang berjalan pergi, jadi berhenti. Lalu memutar tubuh. "Buat apa datang kerumahku?"
"Enggak ada. Hanya berkunjung saja," sahut Sigi simple. Alis Aska berkerut. Sungguh merepotkan jika gadis ini kerumah. Apalagi dia sepupu Relly.
"Aku saja yang mengunjungimu." Raut wajah Sigi berbinar.
"Kamu akan datang berkunjung kerumahku?" selidik Sigi menahan rasa gembira.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau. Aku hanya perlu menemuimu di suatu tempat." Sigi melebarkan mata. Itu berarti dia bisa bikin janji untuk bertemu di luar dengan cowok ini. Aska sendiri sepertinya tidak sadar membuka celah untuk sebuah kencan.
"Oke." Sigi tersenyum.
...----------------...
...----------------...
Aska terhenyak kaget saat mendapati Hansel ada di dekat pintu gerbang. Dia menghentikan motornya.
"Ada apa? tanya Sabo.
"Kalian ke depan dulu. Aku masih ada perlu. Sebentar." Relly menyerahkan motornya pada Sabo. Tubuhnya berbalik ingin menemui Sherry di belakang. Walau bingung, mereka menurut.
Melihat kakaknya berjalan sendirian, Aska mendekat.
"Ada apa?" tanya Sherry.
"Ada Hansel di depan."
"Sudah, abaikan saja."
"Dia datang buat bertemu denganmu. Pasti. Belakangan ini Ve dan Hansel akrab."
"Tuh anak enggak ada kerjaan banget. Sudah abaikan ..."
"Bener? Aku lebih suka tidak main kucing-kucingan."
Sherry memamerkan giginya. "Jangan. Bawa dia pergi. Aku sedang malas menerima tamu."
"Seperti orang penting saja. Aku pergi."
"Ya." Sherry memperlambat jalannya untuk memberi Aska waktu mengusir Hansel. Namun saat Sherry sudah hampir sampai gerbang, Hansel masih berdiri di sana. Misi gagal.
Sherry memutar balik tubuhnya ingin menghindari Hansel dengan tergesa-gesa dan ... suara decit rem terdengar begitu keras. Karena panik, Sherry tidak memperhatikan jalan. Sebuah motor berhenti tepat di depannya.
Gadis ini menutup mata, sudah mengira dirinya di tabrak.
"Sherry," tegur seseorang.
Eh, aku enggak jadi ketabrak nih. Perlahan Sherry membuka mata. Lho, kenapa Relly melihatku seperti itu?
Rupanya Sherry hampir saja menabrakkan diri ke arah motor Relly. Cowok itu turun dari motornya dan menghampiri Sherry.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Relly.
"Enggak. Aku enggak apa-apa. Kamu mau kemana?"
"Aku? Aku jelas mau pulang."
"Jangan. Jangan pulang," cegah Sherry tiba-tiba. Alis Relly terangkat. Heran gadis ini mencegahnya.
__ADS_1