
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
Tiba-tiba kaki Hansel berhenti di depan sebelum berhasil mendekati cewek-cewek pembully itu.
"Aaghh!" Teriakan terdengar lagi. Rupanya itu bukan teriakan Sherry. Itu teriakan cewek di sebelah kanan. Dia mengerang kesakitan. Tangannya berhasil di tekuk Sherry dan di dorong ke tanah. Lalu Sherry menarik rambut indah cewek yang masih memegangi tangannya dengan kasar.
"Aaghh!" Cewek ini juga berteriak kesakitan. Cewek berambut pendek yang memegang gunting membelalak kaget melihat apa yang di lakukan gadis yang di kenal penakut, pendiam dan sakit-sakitan itu. Dia sempat terhipnotis melihat kejadian tidak terduga di depannya. Dia panik. Semuanya tidak sesuai dengan rencana.
"Aku mungkin terlihat lemah, tapi kalau kalian sungguh sungguh ingin melukai ku ... jangan harap aku juga akan diam." Sherry mengucapkannya dengan sangat mengintimidasi. Tangannya masih menjambak rambut seorang pembully. Dua orang itu seketika keder. Sherry melepas tangannya dari rambut seorang cewek sambil mendorongnya ke arah teman-temannya.
Sherry meraih gunting yang di bawa salah satu dari mereka dengan cepat. Seketika gunting itu sudah berpindah tangan. Sebenarnya tadi mereka berniat memotong rambut Ve yang indah. Mungkin tidak benar-benar akan memotong semuanya. Hanya gertakan kecil untuk membuat takut seorang Ve.
"Kalian ingin memotong rambutku ini kan?" tanya Sherry dengan mata tajam dan sangat dingin. Tangannya menyentuh rambut panjangnya. Dan ... Kresh, kresh... Tiba-tiba Sherry memotong sendiri rambutnya yang panjang jadi sebatas dada. Mata mereka melotot. Helaian rambut itu berjatuhan di tanah. Membuat rambut panjang dan indah itu rusak bagian bawahnya. Cewek cewek itu mulai merinding dan ngeri. Yang tadinya hendak membully jadi gemetar melihat apa yang saat ini di lakukan Sherry.
Sherry benar-benar memotong rambutnya secara asal. Mata ketiga cewek itu tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mata mereka membelalak kaget. Menggigit bibir sendiri dengan tangan mengepal mencoba menenangkan diri. Awalnya mereka berpikir Ve akan menangis ketakutan kalau di gertak rambut indahnya akan di potong. Namun ini, dia sendiri yang justru memotong rambut indah itu dengan asal di depan mereka.
"Kalian juga ingin aku memotong rambut kalian?" tanya Sherry dengan senyum tipis menakutkan. Sherry jadi mirip psikopat yang gemar menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Tubuh ketiga cewek itu gemetar hebat. Mata mereka nanar. Kaki mereka melangkah mundur ke belakang perlahan. "Kemarilah. Aku yakin bisa memotong rambut kalian dengan indah," ujar Sherry menggerakkan jarinya meminta mereka mendekat.
Mereka langsung berhamburan pergi dengan ketakutan yang sangat jelas di wajah mereka. Sherry membiarkan mereka kabur. Lalu dia membuang gunting yang di pegangnya ke tanah.
__ADS_1
Mengusap rambutnya yang tidak begitu basah dan mencoba merapikannya dengan tangan. Menghela nafas sambil melakukan peregangan otot dengan menggerak-gerakkan kepala.
Dexy dan Hansel yang melihat kejadian yang singkat ini melihat dengan serius ke arah Sherry. Mereka menyaksikan seorang cewek yang penakut dan pemalu itu menjadi gadis yang brutal. Mereka hanya diam tidak menduga akan seperti ini.
"Siapa dia?" tanya Dexy dan Eliot seperti tidak pernah mengenal gadis di depan itu.
"Ve," jawab Relly enteng. Walaupun terkejut, dia menjadi sangat lega gadis itu tidak apa-apa. Dia sempat cemas tadi. Mendengar ada orang lain yang menyebut nama itu, Sherry noleh. Dia mulai menyadari keberadaan ada orang lain di sana. Bibirnya mendesis.
Gawat, kenapa ada ketiga cowok itu? Mereka pasti sudah melihat adegan barusan. Sial! Kenapa pula harus ada yang lihat. Rambut yang di potong ngawur ini akan sangat mencolok di mata mereka... Sherry melirik ke arah rambutnya yang sebagian terpotong asal dan ngawur.
Suasananya menjadi canggung. Dexy dan Eliot diam tidak berkomentar. Sherry diam juga. Tidak maju ataupun pergi. Masih berdiri dengan tegak di tempatnya. Dia seperti sedang tertangkap basah.
"Bagus. Memang seharusnya seperti itu,"
ujar Sherry membuat Eliot tersentak. Dexy tersenyum geli juga akhirnya. Cewek ini tidak menyangkal kejadian barusan. Dia memang melakukannya dengan sadar tadi. Semua mata menatap tertegun dan iba melihat keadaan rambut Sherry.
"Bagaimana dengan rambutmu?" tanya Hansel tiba-tiba saja menjadi khawatir. Sebagai perempuan, rambut adalah mahkota. Bagaimana perasaannya saat melihat rambutnya yang indah menjadi rusak?
Sherry memegang rambutnya.
__ADS_1
"Hentikan tatapan kalian yang melihat rambutku dengan kasihan. Ini bukan masalah besar karena nanti akan tumbuh lagi." Kalimat Sherry tepat sasaran. Memang mereka sedang memikirkan nasib rambut itu. Dexy dan Eliot meringis lucu. Hansel diam. "Dan juga ini kan karena ulahku sendiri. Tidak ada yang perlu di sesali," kata Sherry sok bijaksana. Padahal dalam hati dia menggeram tadi.
Memang tidak ada yang perlu di sesali, tapi ada yang perlu di salahkan. Lalu dia beranjak pergi melewati mereka dengan tenang.
"Atau sebaiknya kamu bersihkan dulu luka di lenganmu," ujar Hansel lagi mengejutkan. Menghentikan langkah Ve. Dexy saja yang berdiri di situ tidak tahu cewek itu terluka. Bagaimana Hansel bisa tahu. Sherry berhenti dan melihat ada darah di lengannya. Rupanya dia tergores saat di dorong tadi.
"Oke. Nanti saja," jawabnya sambil berlalu. Membiarkan rambutnya yang rusak tadi terurai. Awalnya dia mau menyembunyikan, tapi karena sudah ada saksi, lebih baik di biarkan saja terlihat.
"Bagaimana, cute bukan?" tanya Hansel yang kegirangan membuat Eliot mencibir.
"Bukannya cewek seperti itu menakutkan?"
"Bukan dia yang menakutkan, tapi Hansel." potong Dexy. Eliot mengerutkan kening. Hansel menoleh juga karena Dexy berpikir demikian. "Bukankah wajar kalau kita merasa kaget, aneh, dan heran saat lihat dia yang biasanya penakut dan pemalu itu menjadi menakutkan. Tapi Hansel justru merasa senang dan bilang dia cute. Itu yang patut dibilang menakutkan." Hansel tersenyum lagi menanggapi pendapat Dexy.
"Iya, juga. Dasar Hansel jadi gila." Eliot setuju. Hansel malah tertawa terbahak-bahak. Seperti menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan. Sudah lama Hansel tidak menemukan gadis yang menarik seperti ini.
Di dalam tawanya yang terlihat senang, Hansel menyimpan banyak tanya. Kenapa gadis itu sangat berubah. Dia yakin telah bertemu dengan gadis itu sebelum kejadian belakangan ini. Gadis cantik yang melihatnya sedang menghajar seseorang di toilet. Dan dia gemetar ketakutan karenanya.
Hansel yakin gadis itu adalah Ve. Benar, nama itu yang tertera pada nama di seragam sekolahnya. Hansel tidak terlalu suka dengan gadis yang bagaikan puteri manja dan tidak mandiri. Tapi saat ini dadanya bergejolak melihat perubahan drastis barusan. Gadis itu tak lagi menjadi puteri yang manja. Sekarang dia menjadi seorang gadis yang terlihat gampang dekat dengan semua orang, tapi sebenarnya gadis yang sulit di taklukkan.
__ADS_1