Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Pengakuan Relly


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Setelah yakin apa yang akan di bicarakan nanti, Relly yang baru pulang segera masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang." Saat Relly melintas, Welly menoleh. Mereka berdua telah selesai makan malam. Sepertinya beliau akan masuk ke dalam ruang kerja.


"Relly." Mendengar panggilan dengan suara datar dan tegas, Relly menoleh. Mama yang juga duduk di sofa berjingkat sebentar. Beliau yang sudah mengetahui suaminya akan marah, semakin tegang.


"Ya, Pa." Relly berhenti.


"Papa mau bicara."


"Apa lebih baik, dia di suruh mandi dulu lalu makan, Pa. Dia kan baru pulang." Mama memberi jeda untuk Relly bernapas.


"Tidak. Dia akan punya banyak waktu untuk mengelak. Kemari. Papa mau bicara." Mama mendesah saat suaminya sudah tidak bisa di ajak kompromi. Bola mata mama melihat putranya yang berjalan mengikuti papanya masuk ke dalam ruang kerja dengan langkah berat. Mama mengikuti mereka.


"Duduklah. Karena akan lama."


Suasana semakin berat dengan papa mengatakan ini akan lama. Ekor mata mama tidak berhenti melirik putranya.


Setelah meneguk minuman, papa mengambil napas.


Relly mencoba tenang berdiri di dekat meja dan mendengarkan papa bicara.


"Tidak duduk?" tanya mama. Relly menggeleng. Papa tidak peduli.


"Katakan ini siapa?" Papa mengeluarkan sejumlah foto dari dalam amplop dimana disana Relly tengah bersama Sherry dengan latar belakang berbagai tempat.


"Itu Relly, Pa."


"Jangan membuat lelucon. Yang papa tanyakan adalah siapa gadis yang ada di sana. Sebenarnya siapa yang selalu bersamamu itu?"


"Anak di sekolah Relly."


"Kenapa kamu lebih sering terlihat bersama dia, daripada dengan tunanganmu?"


Relly diam.


"Apa yang harus di katakan papa saat bertemu papa Ve dan bertanya soal ini?"


Relly masih diam.

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu, apa yang sudah papa korbankan demi menyelamatkanmu dan keluarga kita dari publik akibat ulahmu?!"


"Maaf."


"Maaf? Hanya cukup maaf?" Papa terlihat marah. "Papa sudah memberikan beberapa persen saham papa pada Gio agar bisa berdamai karena ulahmu. Sekarang kamu berulah lagi dengan terus saja bersama gadis lain yang bukan tunanganmu. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?"


Kepala Relly menunduk. Kesalahan karena akhirnya bertunangan dengan Ve adalah salahnya, tapi itu juga bukan tanpa alasan. Dia melakukan itu demi keselamatan tubuh Ve.


"Gio bisa menguras habis harta kita kalau tahu kamu mempermainkan putrinya. Lebih baik kamu hentikan terus bersama dengan gadis itu, kalau tidak mau papa yang bertindak."


"Ve sudah tahu soal aku dekat dengan gadis itu, Pa."


"Apa? Apa kamu bilang?! Sudah tahu?!" Papa semakin marah. "Lalu jika sudah tahu, bukannya kamu harusnya menghindari bertemu. Kenapa justru kamu sering bersamanya?"


"Karena dia ..." Dia lah yang sebenarnya aku sukai, Pa. Bukan Ve. Dialah yang aku sayangi.


"Jangan membuat alasan yang membuat papa naik darah, Relly..." desis papa mengancam. Relly bungkam. Jika dia terus mendesak, Sherry akan terancam. Namun dia juga tidak mau diam saja.


"Aku sengaja menjadi tunangan Ve untuk melindunginya pa, bukan mencintainya."


"Relly!"


"Jangan berkata yang tidak-tidak, Relly...." Mama segera menengahi. Beliau langsung mendekati putranya.


"Kamu mau mempermalukan papamu ini?!" tanya Welly tidak percaya. Mama mendekat ke suaminya. Menggosok punggungnya untuk meredakan amarah.


"Aku tidak bohong, Ma. Aku tidak melakukan hal yang akan mempermalukan papa." Relly masih bersikeras.


"Diam!" hardik papa.


"Aku akan buktikan bahwa aku melakukan hal yang benar."


"Sudahlah Relly ..."


"Untuk saat ini, Relly hanya bisa meminta maaf pada mama dan papa, tapi Relly berjanji akan meluruskan semua. Tolong percaya pada Relly ... Ma, Pa. Jangan menyakiti gadis itu. Relly mohon. Relly sedang berjuang menguak kebenaran. Doakan Relly ...," ujar Relly sambil membungkukkan badan sebelum pergi dari ruangan ini.


**


Relly tiduran di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Dia perlu secepat mungkin bergerak maju. Segera mengungkap kejahatan Gio demi keamanan Sherry.


Daniel belum siuman. Pria itu hampir mati. Tentu saja butuh waktu lama. Benar kata Sherry, harus bisa mendekati mama Ve. Kemungkinan wanita itu tahu sesuatu.


Dering ponsel membuatnya menoleh. Tangannya berusaha menggapai ponsel itu tanpa berdiri. Akhirnya bisa di raih. Rupanya Sherry.


"Halo," jawab Relly antusias.


"Halo, Rel. Kenapa sejak tadi tidak bisa di hubungi?" tanya Sherry sepertinya sudah sejak tadi menghubungi ponselnya. "Aku tiba-tiba merasa khawatir."


Bibir Relly tersenyum. "Aku sedang makan. Ponsel aku tinggal di kamar. Maaf sudah membuatmu khawatir." Relly berbohong. Dia tidak ingin Sherry tahu kebenarannya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Sherry tidak percaya. "Suaramu terdengar lemah."


"Benar. Aku hanya lelah."


"Baiklah kalau kamu baik-baik saja. Tidurlah yang nyenyak walau belum begitu malam. Lebih baik istirahat lebih awal."


"Iya." Relly mengangguk. Padahal mereka hanya menelepon.


Tok, tok! Terdengar pintu kamar di ketuk. Relly menoleh. Sambungan ponsel dari Sherry juga sudah terputus.


"Siapa?" tanya Relly tanpa beranjak dari tempat tidur.


"Ini mama, Relly ... Apa mama boleh masuk?"


"Ya. Masuklah Ma." Perlahan handle pintu bergerak. Mama muncul dengan senyuman hangat seperti biasa. Relly bangkit dari rebahannya dan duduk. Mama juga ikut duduk di sampingnya.


"Mama tidak tahu sebenarnya ada apa. Kalau boleh, mama ingin Relly memberitahu mama." Tangan hangat mama menyentuh punggung putranya dengan sayang.


"Soal apa, Ma?"


"Soal apa yang tadi kamu bicarakan dengan papa. Mama dengar dari papa, kamu sedang dekat dengan gadis lain padahal sudah memilih bertunangan dengan Ve, putra Gio itu. Mama sendiri bingung. Kenapa kamu justru dekat dengan gadis lain padahal keinginanmu sudah terkabul untuk bertunangan dengan Ve?"


"Oh itu."


"Juga ... tentang kesungguhanmu soal meminta doa pada kami berdua karena sedang menguak kebenaran. Untuk yang satu itu mama takut kamu melakukan hal yang berbahaya."


Ya. Memang berbahaya.


"Mama janji tidak akan mengatakan pada papa. Mama hanya ingin tahu," rayu mama. Relly masih diam. "Untuk soal gadis yang bernama Sherry, mama sebenarnya tidak ada masalah. Selama kamu tidak sedang menjalin sebuah pertunangan dengan putri orang, Relly ... Namun kamu tahu sendiri saat ini kamu sedang berstatus tunangan dengan Ve."


"Pertunangan itu hanya kedok, Ma." Relly membuka suara.


"Kedok? Kedok apa?" tanya Mama bingung.


"Relly keliru mengira gadis yang ada di rumah sakit itu adalah Sherry yang sekarang sering bersamaku. Karena aku ingin menolongnya, aku mau saat papa menawarkan pertunangan dengan gadis itu. Namun aku keliru. Tubuh yang terbaring di rumah sakit itu bukan milik Sherry, dia Ve. Karena itu aku berusaha mencari Sherry yang asli. Aku menemukannya. Itu membuatku tidak bisa berpaling lagi dari Sherry asli, ma."


Mama mengerutkan kening tidak paham. Namun untuk salah mengira, beliau sedikit mengerti.


"Jadi ... sebenarnya yang kamu sayangi adalah gadis yang selalu bersamamu itu? Yang ada dalam foto-foto yang di ambil oleh orang papamu?"


"Ya. Dia Sherry, Ma."


Walaupun mama terlihat kebingungan saat Relly bercerita, beliau tetap mendengarkan. Satu kesimpulan yang diambil beliau, Relly begitu menyayangi gadis itu. Saat ini Relly sedang melakukan sesuatu untuk bisa membatalkan pertunangan dengan menguak sebuah kebenaran. Hingga bisa membuat keluarganya tidak punya aib di depan umum dan aman dari cengkraman Gio.


"Apapun itu, mama percaya pada putra mama. Namun berhati-hatilah. Papa bersikap marah seperti tadi juga karena sayang sama kamu dan ingin melindungi keluarganya." Mama memberi nasehat.


"Relly tahu."


__ADS_1


__ADS_2