
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
"Duduklah, kalian bisa memesan apapun dengan diskon 50%," ujar kakak itu berpromosi.
Sherry hendak menolak dengan sopan, tapi Relly menganggukkan kepala mengiyakan, "Kita akan memesan." Relly menarik tangan Sherry dan mengajaknya ke kursi yang berada di sudut dekat dinding kaca. Sontak membuat Sherry tersentak kaget karena sentuhan ini. Namun tubuh Sherry terdiam, tidak menolak. Dia mengikuti saja rencana Relly.
"Apa-apaan? Kita kesini bertanya soal cctv kan?" tanya Sherry tidak setuju setelah mereka berhasil mendaratkan pantatnya di kursi cafe.
"Nikmati saja dulu. Merayakan keberhasilan tubuhmu telah mendapatkan perhatianku." Relly mengatakan dengan wajah bahagia. Sherry menipiskan bibir.
"Ada-ada saja." Sherry melihat kesekeliling dengan bergidik. "Aku sedikit aneh berada di dalam ruangan penuh dengan apapun yang berisi warna pink."
***
Hansel tahu. Hansel melihat itu tadi. Gadis itu, Sherry, selalu di kawal oleh Relly. Ada sedikit kecewa dia tidak bisa mendekatinya lagi. Namun dia merasa lebih menang dari Relly. Karena dia lebih tahu lebih dulu bagaimana rupa Sherry. Saat Relly dan Sherry sedang melakukan penelusuran tertukarnya jiwanya dengan Vermouth, Hansel ingin lebih tahu soal kehidupan Sherry sebenarnya.
Pulang sekolah, Hansel mengarahkan sepeda motornya ke arah tempat tujuannya, yaitu sekolah Aska. Saat menolong mereka, Hansel menemukan identitas sekolah Aska dan Vermouth dari seragam yang masih di kenakan mereka saat itu. Hansel ingin tahu lebih banyak soal Sherry, juga ... ingin tahu kehidupan Vermouth yang terjebak di dalamnya.
Tidak sulit bagi Hansel menemukan sekolah mereka. Saat itu Vermouth sedang berjalan menuju gerbang sekolah bersama teman-temannya. Bisik-bisik gadis-gadis yang mengatakan soal kekaguman mereka akan munculnya seorang cowok keren di sekolah mereka, membuat Vermouth tertarik. Namun saat tahu itu adalah Hansel, entah kenapa Vermouth diam dan justru tidak beranjak menuju ke arah cowok itu. Bukankah dia bisa menemui Hansel dan menyapanya? Gadis-gadis tadi pasti akan terkejut karena dia bisa mengenal cowok keren dengan seragam sekolah yang mencolok itu.
Tidak. Vermouth merasa tidak perlu. Hansel datang kesini mungkin karena ingin tahu soal Sherry. Hanya Sherry saja. Bukan dirinya. Tidak ada yang peduli soal dirinya. Vermouth sudah akan bersembunyi dalam tubuh teman-temannya dan kembali masuk ke dalam sekolah untuk mencari Aska. Namun sebuah tangan berhasil mencegahnya.
"Ve ...," sebut sebuah suara memanggil namanya. Nama asli. Tanpa memutar tubuhnya dia tahu siapa yang memanggilnya. Vermouth terpaksa membalikkan badan. Masih dengan wajahnya yang menunduk. Dengan takut-takut Vermouth mendongak. Matanya menemukan sosok yang sudah bisa di tebaknya. Hansel.
Semua gadis-gadis di sana menyaksikan ini. Mereka bergumam dan takjub. Biasanya mereka mencemooh Sherry yang cuek dan hanya mementingkan makan juga berkelahi, tapi saat melihat ini, mereka merasa Sherry memang masih punya jiwa seorang gadis yang juga tertarik pada cowok keren. Rasa takjub mereka juga karena Sherry mampu membuat cowok keren dari sekolah lain menghampirinya.
"Kamu menghindar," tuduh Hansel tanpa basa-basi. Tubuh itu gugup. Ya ... ini jiwa Vermouth. Ini memang gaya gadis ini yang kikuk.
"T-tidak. Maaf. Aku t-tidak menghindar." Hansel tersenyum. Dia mengerti gadis di depannya adalah Vermouth.
"Sendiri? Tidak bersama Aska?"
"I-iya." Hansel sudah melepaskan pegangannya, tapi Vermouth masih menunduk. Gadis ini memang begitu. Mata Hansel masih beredar melihat ke dalam gerbang sekolah.
Dari arah dalam gerbang, Aska terkejut saat melihat ada Hansel dengan tubuh kakaknya di depan. Aldo dan Sabo memekik saat menemukan Hansel muncul di sana. Seperti beberapa cowok-cowok tadi, mereka berdua juga penasaran kenapa Hansel si Jagoan itu muncul di depan sekolah mereka?
Kaki Aska bergerak lebih cepat. Dia ingin segera sampai di depan mereka.
__ADS_1
"Kenapa kau ada disini?" sembur Aska. Dia langsung menarik lengan Vermouth untuk berada di belakangnya. Tubuh itu menurut.
Hansel menoleh dan tersenyum santai. "Aku hanya ingin mengunjungi teman."
"Halo ... Kita pernah bertemu di rumah sakit saat Kak Sherry di serang," sapa Aldo. Hansel tersenyum menyambut sapaan mereka, juga mengerjap dengan cara mereka menyebut Vermouth. Aska terkejut mereka menyebut nama kakaknya di depan Hansel.
"Sherry?" ulang Hansel. Dia berpikir.
"Bukan," bantah Aska.
"Iya, Kak Sherry." Aldo meyakinkan bahwa Hansel benar. Jawaban mereka tidak sama meskipun bersamaan menjawab. Aska melihat Aldo dingin. Mata Aldo mengerjap di pandang dingin begitu. Lalu menyikut Sabo. Di sikut seperti itu, Sabo diam.
"Kak?" tanya Hansel heran.
"Iya. Jika kita hanya memanggil Kak Sherry dengan nama saja, Aska akan membunuh kita." Sabo ketawa. Aldo juga ikut ketawa juga. Vermouth masih diam menunduk. Aska tidak bereaksi. Matanya masih menatap marah ke mereka berdua. Mereka langsung diam. Mata Hansel melihat cowok yang tubuhnya hampir sama tinggi dan besar dengan dirinya.
"Kalau sudah selesai keperluanmu, cepatlah pergi. Kita akan pulang." Alis Hansel mengerut. Sudah jelas yang paling dominan disini adalah Aska. Lalu hubungan mereka berdua apa?
"Jangan kaget, Aska memang sangat melindungi kakaknya."
"Diam, Sabo!" Tubuh Vermouth yang berada di belakang Aska berjingkat mendengar Aska menghardik. Sabo dan Aldo menoleh cepat. Mereka terkejut. Raut wajah Aska menegang. Berbeda dengan Hansel yang mulai tersenyum.
Jadi kalian bersaudara?
Keduanya sibuk sikut-sikutan mempertanyakan kesalahan kalimat mereka. Raut wajah Vermouth jadi muram. Begitulah dia. Mulutnya selalu bungkam. Ketakutan saat ada seseorang yang berteriak. Dia memang bukan Sherry.
"Tenanglah ... Aku tahu dia tidak ingin tentang dirinya ketahuan. Aku paham. Maaf. Aku hanya ingin berteman, Aska." Kalimat Hansel ini tentu saja tidak di mengerti Sabo dan Aldo, tapi Vermouth paham mereka sedang membahas Sherry.
"Jangan melakukan apa-apa. Anggap saja kamu tidak mengetahui antara aku dan dia. Bersikaplah biasa. Dia sangat tidak suka identitasnya diketahui oleh orang-orang di sekitar Vermouth." Saat Aska mengatakan ini Vermouth mendongak.
Tidak ingin di ketahui? Kenapa perlu menyembunyikan diri kalau mereka sudah mengetahui bahwa Sherry adalah tubuh ini? Bukankah menyenangkan jika kalian benar-benar bertemu dengan tubuh Sherry yang sebenarnya jika nanti kita kembali pada tubuh masing-masing. Yah ... walaupun sepertinya tidak.
"Oke, oke. Aku tahu." Hansel mencoba meyakinkan Aska.
Sherry ... Aku sudah bisa menemukan tubuh asli dan identitasmu. Sungguh lucu karena ini membuatku senang.
Sabo dan Aldo menggaruk tengkuk mereka. Merasa bodoh dan tidak pintar jika mendengar obrolan Aska dan Hansel. Mereka tidak paham.
***
__ADS_1
Daniel sedang mengerjakan tugas kantornya saat muncul seseorang yang dia tahu pemilik salah satu rumah sakit terbesar, yaitu orangtua Relly. Melihat ini dia jadi teringat lagi kejadian di rumah sakit. Dimana dia mengetahui bahwa gadis itu telah menjadi kekasih bocah putra lelaki ini.
Pikirannya menjadi keruh lagi. Berhari-berhari dia uring-uringan merasakan marah yang muncul karena kalah dalam memenangkan hati Sherry.
Apakah dia tahu bahwa ada jiwa orang lain yang mendiami tubuh itu?
Terdengar aneh tiba-tiba saja adik tirinya itu dekat dengan cowok. Setahu dia, mama Julia tidak pernah bercerita soal kedekatan mereka. Vermouth tidak pernah sekalipun dekat dengan teman laki-laki. Daniel menduga bahwa kedekatan mereka di mulai sejak jiwa Sherry ada pada tubuh Vermouth. Sherry bisa melakukan itu.
Melihat papa Vermouth yang sangat menyambut kedatangan orang itu, berarti memang mereka sangat menyetujui kedua putra putri mereka dekat. Kalau begini berarti menuju ke status tunangan akan sangat dekat. Apalagi ini sangat menguntungkan bagi papa Vermouth. Jika putrinya berhasil bersanding dengan putra pengusaha besar itu, perusahaan besar itu juga akan mendukung perusahaan miliknya. Daniel mendesah lelah.
Mencintai Sherry saja sepertinya mustahil karena tubuh itu masih milik Vermouth. Dia yang menjadi anak tiri tentu akan kesulitan jika ingin menjalin hubungan dengan putri papa barunya itu.
Tangan Daniel mengendorkan dasi yang terasa mencekik lehernya tiba-tiba. Ia ingin menanyakan kabar gadis itu.
***
Ternyata makanan memang ampuh untuk mengusir rasa tidak suka Sherry pada tempat ini. Dia makan dengan lahap apa yang di pesan Relly tadi.
"Aku suka kamu yang sedang makan dengan semangat. Tidak berpura-pura anggun dan menolak makanan." Relly tidak makan, dia hanya melihat Sherry.
"Aku menolak makan karena tidak suka atau kenyang. Tidak perlu menolak makanan hanya karena tidak ingin terlihat buruk. "
"Ya ... kamu masih terlihat sopan meskipun memakan makanan dengan bersemangat." Bibirnya melengkung mengulas senyum. "Apakah kamu menyukainya?" Sherry mengangguk sambil menunjukkan jempol tangannya. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Tangan Relly menjulur kedepan menyentuh pipi Sherry karena ada makanan yang menciprat kesana.
"Em?" Sherry melirik saat pipinya tersentuh.
"Hanya sedikit noda di pipimu." Relly memberikan penjelasan. Sherry mengangguk. Ponsel Sherry berdering. Relly melihat. Ada nama Daniel di layar yang menyala itu. Bola mata Relly naik melihat reaksi Sherry yang melongok ke arah layar ponsel. Sebelah tangan Sherry hendak menyentuh ponsel, tapi Relly segera menekan tombol terima dengan mode loud speaker tanpa mengangkat ponsel itu. Manik mata Sherry membulat. Gemas. Ada sedikit jengkel, tapi tidak terungkap.
"Sherry, kamu dimana? Aku bisa menjemputmu pulang sekolah." tanya Daniel.
"E... aku sedang berada di tempat lain."
"Tempat lain? Kamu sudah pulang sekolah?"
"Ya. Aku sedang bermain ...."
"Dia sedang bersamaku." Suara Relly mengambil alih percakapan Sherry. Sherry gemas sambil mengacungkan sendok ke arah Relly. Pemuda ini tidak peduli.
"Kau siapa?" tanya Daniel merasa tidak kenal dengan suara cowok barusan.
__ADS_1
"Relly." Suara Daniel hilang. Dia membisu.