Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Mereka berdua


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Relly tampak kusut dan frustasi di luar ruang operasi. Dia sendirian. Erik masih berada di lokasi kejadian bersama orang-orangnya. Relly berdiri dan berkali-kali berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Di dalam sana, ada gadis yang di cintainya tengah berjuang.


"Sherry..."


Di waktu yang sama, Ve menjalani pemeriksaan menyeluruh. Dokter kebingungan karena tidak ada tanda-tanda sakit yang menjadi penyebab sakit kepala yang di alami pasiennya. Semua pada kondisi normal.


Hansel menunggu di luar kamar dengan perasaan gelisah. Malam ini sepertinya mereka berdua tidak bisa tidur. Ve dan Sherry sama-sama sedang mengalami kesakitan yang luar biasa.


...----------------...


Aska mendatangi kamar pemeriksaan Ve pagi ini dengan bertanya pada petugas. Menemukan Hansel yang terpekur sendiri di depan kamar. Terlihat dari kondisinya, dia juga tidak baik-baik saja.


"Sebaiknya kamu pulang. Ini waktunya sekolah. Atau kalau tidak, pulang saja untuk istirahat. Aku tahu kamu pasti lelah," tegur Aska sambil meletakkan jaket berbahan denim di sebelah cowok itu. Hansel menolehkan kepala ke asal suara. Mengerjapkan mata yang terasa perih karena terjaga.


"Bagaimana dengan ibumu?"


"Beliau sudah bangun dengan kondisi masih lemah. Pulanglah... Terima kasih sudah menemaninya." Aska duduk di sebelah Hansel.


"Baiklah. Aku pulang dulu Aska." Hansel berdiri dan meraih jaketnya.


"Ya.


Aska duduk bersandar. Tubuhnya terasa lengket. Namun dia tidak bisa pergi jauh dari kamar ibu atau disini. Dia harus menjaga keduanya.


Saat itu melintas seorang gadis yang tidak asing baginya. Mata Aska menyipit berusaha menemukan nama di balik wajah itu. Namun Aska tidak ingat. Yang dia ingat hanya ... pencuri di ruang guru itu!


"Aska." Ternyata gadis itu ingat namanya. Gadis itu sudah berpakaian seragam sekolah yang sama dengannya di pagi yang masih dingin ini.


"Kenapa berkeliaran disini?" tanya Aska.


"Aku bukan berkeliaran. Aku ada perlu," kata gadis itu tidak setuju. "Kamu sendiri, kenapa disini? Bukankah ini waktunya berangkat sekolah?" tanya gadis itu sambil celingukan karena Aska hanya sendirian.


"Kakak dan ibuku sakit."


"Benarkah? Aku baru dengar." Gadis itu mendekat. "Kenapa kamu di luar?"


"Kakakku masih di periksa." Gadis itu mengangguk-anggukkan kepala sambil mencoba melongok ke dalam kamar. "Aku lupa namamu. Kamu siapa?"


"Jadi kamu mau mengajakku bicara tanpa tahu siapa aku?"


"Aku mengenalmu. Si pencuri itu."

__ADS_1


"Kenapa itu yang di ingat kamu..." Gadis ini menipiskan bibir tidak suka saat Aska masih ingat soal aksinya waktu itu (Bab 37_Pencuri di ruang guru). "Namaku Sigi." Aska mengangguk. Menandakan dia mengerti apa yang di sampaikan gadis ini. "Jadi kamu enggak berangkat sekolah?"


"Aku nunggu yang jaga, tapi sepertinya aku enggak bisa masuk sekolah."


"Ya sudah. Semoga kakak sama ibumu cepat sembuh. Aku pergi dulu. Nanti aku ijinkan deh sama wali kelas."


"Memangnya kamu tahu, aku kelas berapa?" tanya Aska. Karena takut gadis ini keliru memberitahu wali kelas lain.


"Tahu. Cowok berandal, tapi pintar. Cowok seperti itu, mana bisa tidak di kenal orang ... Kamu cukup populer di sekolah. Aku tahu kamu," ujar Sigi tidak terduga.


"O." Aska hanya merespon singkat. Matanya mengerjap. Populer? Sangat asing.


"Sudah. Aku pergi."


...----------------...



...----------------...


Dokter sudah menyampaikan bahwa Sherry telah di operasi dengan baik. Rellypun pagi ini tengah duduk di kursi samping ranjang, sambil menggenggam tangan gadis itu.


Erik juga sudah kembali dan berada di dekat pintu. Tadi, tuan besar menelepon ponselnya menanyakan ada apa dengan putranya. Erik hanya memberitahu bahwa Relly baik-baik saja karena saat ini bersamanya. Sebenarnya masih banyak pertanyaan lain yang berisi teguran untuk Erik.


Relly terus saja menatap gadis di depannya dengan getir. Dengan semua alat yang menyokong hidup Sherry di badannya, gadis itu tampak begitu menyedihkan. Tiba-tiba saja Relly beranjak berdiri dan meninju dinding kamar pasien. Bug!


"Relly...," seru Erik berusaha menghentikan. Relly marah dengan keadaan Sherry sekarang. "Tangan kamu." Relly menepis Erik yang berniat membantunya. Erik mengambil tisu di meja.


"Sudah kau temukan orang yang berada di balik kejadian ini?" tanya Relly membiarkan darah menetes dari tangannya. Erik menyodorkan tisu pada Relly.


"Belum. Kita hanya bisa menemukan tubuh Daniel yang tidak sadarkan diri. Pria itu juga dalam keadaan hampir tidak bisa di selamatkan karena luka pada kepalanya." Relly memandang ke luar jendela sambil mengelap bersih tangannya. Lalu melemparkan ke arah tempat sampah di dekat kakinya.


"Lalu, dimana dia sekarang?"


"Dengan pengawalan ketat dan rahasia, Daniel di rawat di kamar lain. Aku rasa dia juga di hajar orang-orang yang sama. Daniel di temukan persis dengan lokasi pada ponselmu." Erik memberitahu. "Dan ... tuan besar menanyakan keberadaanmu tadi malam barusan. Beliau ingin tahu ada apa denganmu."


"Papa?"


"Ya."


"Apa kau memberitahu soal Sherry?"


"Tidak. Aku belum menanyakan itu padamu." Relly menghela napas. "Apa aku boleh mengatakannya pada tuan besar? Beliau pasti setuju jika gadis yang di anggap sebagai kekasihmu itu di rawat di sini."


"Jangan. Aku yakin papa akan setuju, tapi aku tidak mau keluarganya tahu keberadaan Sherry di sini," cegah Relly.

__ADS_1


"Jadi ... kau akan mengurung gadis ini disini tanpa siapapun datang menjenguknya?" tanya Erik menyelidik sambil melihat sekilas ke arah gadis dengan perban di kepalanya.


Relly menghela napas lagi. "Aku yang akan menjenguknya Erik. Hanya aku yang bisa menjenguknya. Cukup aku," kata Relly dengan nada terdengar begitu pedih. Juga ada amarah terselip disana. Saat pemuda di depannya membalikkan tubuh dan mengalihkan pandangan dari luar jendela ke arahnya. Erik bisa menangkap kegundahan di mata tuan mudanya.


"Baiklah. Lalu apa alasan yang akan kau katakan pada tuan besar?"


"Aku tidak tahu. Itu cukup di pikir nanti saja." Relly rupanya masih merasa kacau karena kecelakaan yang menyebabkan Sherry terbaring lemah tak berdaya di sini sekarang.


"Lebih baik kau istirahat terlebih dahulu."


"Aku cukup istirahat di dalam kamar ini. Tolong ...." Srek!! Pintu kamar di buka. Relly tidak jadi meneruskan kalimatnya. Semua menoleh ke arah pintu. Muncul gadis berseragam SMA.


"Halo, kak Relly."


"Kenapa kamu bisa ada disini, Sigi?" tanya Relly. Erik ikut memutar tubuhnya untuk melihat ke arah gadis itu.


"Tentu karena aku memaksa petugas mengatakannya."


"Petugas?" Pandangan mata Sigi bergeser ke arah orang di sebelah Relly. Erik menoleh ke Relly dengan cepat dan panik. "Kau memberitahu dia?" tegur Relly melirik dengan tajam ke arah Erik.


"Maaf." Erik menunduk.


"Erik tidak salah, Kak. Aku memang memaksanya karena tadi malam sangat khawatir kakak tidak pulang. Aku takut ada apa-apa denganmu. Melihatmu ternyata masih utuh dan tidak terluka parah, aku bisa tenang." Sigi segera membela Erik. Relly berdecih. Kepala Sigi menoleh ke arah ranjang. Dimana ada seorang gadis terbaring di sana. "Dia, siapa?" tanya Sigi. Perhatian Sigi teralihkan oleh tubuh Sherry. Erik melirik ke arah sepupu tuan muda dengan terkejut.


"Bisa tidak kamu tidak bertanya? Aku tidak ingin menjawab." Di jawab dengan sebuah pertanyaan dengan nada dingin, Sigi mengalihkan pandangan ke arah Relly. Raut wajah sepupunya ini terlihat serius.


"Maaf." Melihat Relly begitu ingin melindungi siapa gadis itu, Sigi yakin pasti hubungan mereka bukan hanya sekedar teman. "Jika aku harus tutup mulut atau hal semacam itu, aku akan melakukannya. Jadi jangan khawatir soal keberadaanku disini. Aku sekutu kak Relly. Aku bisa membaca tentang ini. Dia pasti orang spesial bagi kak Relly." Sigi tidak mempedulikan tatapan serius Relly dan berjalan mendekat ke ranjang. Duduk di sana dan memperhatikan Sherry yang menutup mata. Relly membuang napas dengan kasar.


Akhirnya dia membiarkan Sigi melihat Sherry. "Aku pergi sebentar. Tolong jaga Sherry baik-baik, Erick. Dan Sigi ... Jangan bertingkah macam-macam." Relly memberi ancaman pada sepupunyam


"Baik." Erick mengangguk


"Siap, kak."


...----------------...


"Jadi dia pacar kak Relly?" tanya Sigi masih memperhatikan Sherry. "Ada apa dengannya? Kenapa sepertinya dia sangat kesakitan?"


"Dia mengalami kecelakaan. Tubuhnya tertabrak truk hingga terpelanting keras dan jauh di atas aspal." Erik memberitahu. Sigi meringis ngeri. Jika melihat sendiri, gadis ini pasti lebih merinding saat melihatnya.


"Dia satu sekolah ya, dengan kak Relly?"


"Ya. Dia dulu sempat di anggap sebagai pengganggu oleh Relly."


__ADS_1


__ADS_2