
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Aska akan mengantarkan kakaknya pulang ke rumah besar itu, tapi Sherry menolak. Dia ingin mengobrol banyak dengan adiknya. Akhirnya Aska mengajaknya di lesehan sambil pesan roti bakar dan susu cokelat.
"Terima kasih, Ka," kata Sherry sambil menepuk pundak Aska lalu tersenyum saat makanan dan minuman itu sudah diantarkan.
"Jangan berterima kasih. Aku tidak ingin mentraktirmu. Aku hanya memesankan. Kamu tahu berapa digit nominal uang saku kita bukan? Sebaiknya keluarkan uang sakumu yang banyak untuk mentraktirku," ujar Aska santai, tapi menyebalkan. Sambil memonyongkan bibirnya Sherry membuka dompet dan mengeluarkan uang.
"Nih. Kamu yang bayar entar. Biar kelihatan keren laki-lakinya yang bayarin gadisnya," ujar Sherry sedikit mengejek.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh kata keren lagi. Aku sudah cukup keren. Dan lagi, kamu bukan gadisku, aku enggak kenal kamu. Aku tidak akan mengajak gadisku ke sini," tolak Aska dengan ide kakaknya.
"Belagu, ih!" Sherry memukul ujung topi Aska dengan keras.
"Aduh! Jangan terlalu kasar sama cowok, Sher. Kamu bisa kualat dan enggak ada yang suka sama kamu," umpat Aska kesal. Namun saat melihat Sherry jadi bermuka muram karena kata-katanya, Aska jadi merasa bersalah. "Hei, jangan sedih gitu dong. Aku kan lagi bercanda. Masa iya kamu enggak laku," hibur Aska jadi salah tingkah dan salah gaya sambil menepuk lengan kakaknya pelan. Dia jadi iba.
Sherry mendongak dengan wajah muramnya yang mendadak berubah.
"Aku bukan sedang bersedih karena enggak laku, Ka," bantah Sherry.
"Lalu?" tanya Aska. Sherry diam beberapa detik. Seperti bertanya dan berunding dengan dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Sudahlah ...," kata Sherry kemudian tertawa garing. Sepertinya ada yang di sembunyikannya. Saudara perempuannya ini belum bisa cerita atau merasa tidak perlu bercerita.
"Kalau ada yang perlu di ceritakan, cerita saja. Aku akan dengarkan," kata Aska sambil menyeruput susu cokelatnya.
__ADS_1
"Kamu memang harus mendengarkan aku kalau aku lagi bercerita," kata Sherry seperti merajuk.
"Iyaa ..."
"Tapi aku belum menemukan hal yang bisa aku ceritakan padamu. Nunggu ngumpul dulu baru cerita entar."
"Baiklah. Terserah kamu. Pokoknya kalau perlu teman cerita, kita bisa ketemuan. Kita kan bersaudara," kata Aska hangat. Sherry terbengong. "Kenapa malah bengong? Aku sudah merasa geli sendiri karena mengatakannya. Setidaknya ucapkan terima kasih atau apalah ...." Aska jadi tersipu mengeluarkan kata-kata hangat demi menenangkan kakaknya.
"Iya, terima kasih," Sherry tersenyum.
"Kamu berusaha keras untuk menjadikan tubuh itu jagoan, ya?" tanya Aska sambil menunjuk lengan tubuh yang di diami Sherry menjadi berbentuk.
"Iya. Aku enggak mau tubuh ini kelihatan tidak berdaya. Ve pernah dibully juga. Aku tidak suka itu. Kasihan tubuh ini kan ...," kata Sherry yakin sama keputusannya.
"Kamu akan terus berada di sana selamanya?" tanya Aska yang membuat Sherry tertegun. Mata adiknya itu masih memandangnya dengan tatapan serius. Tangan Sherry membenarkan letak tali selempang tasnya. Lalu menelan ludah. Akhirnya melihat ke arah Aska yang masih setia menunggu jawaban dari kakaknya.
"Tidak," jawab Sherry singkat. Lalu membenarkan letak tali tas selempangnya lagi yang sebenarnya sudah pada tempatnya. Dia hanya jadi gelisah saat pertanyaan itu meluncur dari bibir adiknya. Benar. Mengapa Sherry harus bersusah payah menjadikan tubuh nona kaya ini sangat nyaman di tempati?
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan, Ka? Tidak ada orang yang pernah mengalami takdir aneh ini. Aku sendiri juga enggak suka di dalam tubuh ini. Aku ...." Tiba-tiba Sherry jadi emosional dan ingin nangis.
"Stop! aku gak suka lihat kamu nangis. Berhenti! Kalau enggak, aku tinggal," sergah Aska panik sambil menunjuk ke arah muka kakaknya. Lalu dengan kesal dia berdiri. "Kebiasaan nih. Di depan aku nangis terus. Memangnya kamu pikir aku suka lihat kamu menangis terus seperti ini?" sungut Aska sambil berkacak pinggang.
Sherry yang sudah merebak merah matanya jadi mencebik kesal.
"Lebih baik kamu menangis di depan cowok tadi daripada di depanku, dia ..." Aska menghentikan kalimatnya. Sherry yang mengusap matanya dengan ujung telunjuknya mendongak. Ingin tahu kenapa Aska menghentikan kalimatnya. "Dia satu kelas denganmu?" tanya Aska entah sedang menanyakan siapa.
"Siapa?" tanya Sherry bingung.
"Cowok di depan tempat latihan karate tadi," jelas Aska.
"Tidak, tapi dia satu sekolah denganku."
"Apa dia bernama ... Hansel?" tebak Aska yang membuat Sherry mengernyitkan kening merasa heran. Tebakan Aska sangat tepat.
__ADS_1
"Darimana kamu tahu? Kamu kenal?"
"Ya. Kamu tidak ingat laki-laki yang bisa mengalahkan anggota geng SMA 45 yang kuat?" Sherry menggaruk dahinya.
"Laki-laki yang melawan geng mereka hanya dengan beberapa temannya?" tanya Sherry. Aska mengangguk. "Apa hubungannya dengan ... Jadi, dia Hansel itu?" tanya Sherry terkejut.
"Ya, dialah Hansel itu. Laki-laki hebat itu. Legenda para petarung seperti kita." Aska duduk lagi sambil merasa takjub.
"Petarung? Entah kenapa aku terdengar keren saat kamu menyebutnya dengan sebutan itu," ujar Sherry takjub. Aska memutar bola matanya malas mendengar kakaknya nampak senang dengan ucapan itu.
"Sebentar, kamu bilang dia teman satu sekolah berarti kamu sekolah di SMA 'X' yang elit itu Sher?" tanya Aska yang langsung membelalakkan matanya. Sherry tidak paham dengan kehebohan adiknya.
"Ya. Ve berasal dari sekolah elit itu." Sherry masih menjawab pertanyaan adiknya dengan tenang.
"Wahh... kamu hebat bisa masuk sekolah elit itu, Sher...," kata Aska menepuk tangan seperti kasih standing applaus ke Sherry. Lagi-lagi dengan takjub.
"Ve sendiri bagaimana?" tanya Sherry. Aska jadi diam mendengar pertanyaan kakaknya. Baik Ve maupun Sherry sama-sama sedang mencoba menjadikan tubuh mereka seperti milik sendiri. Kemungkinan kembali memang belum ada. Hampir tidak ada. Bahkan nol. Jadi keduanya ingin mencoba nyaman menjadi tubuh mereka saat ini.
"Dia juga sama sepertimu. Ingin menjadikan cangkang masing-masing sesuai dengan jiwa kalian."
Namun kalian tidak sadar bahaya yang bisa datang. Aku harus bekerja keras untuk kalian berdua nih ...
"Apa dia tahu bagaimana seorang Sherry dulunya?" tanya Sherry penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi seharusnya dia mencari tahu. Jika kamu saja bekerja keras menjadikan tubuh ini kuat karena tahu Ve sering di bully, seharusnya dia lebih berusaha sepertimu."
"Memangnya dia tidak melakukan apa-apa?"
"Dia sedang berbahagia mendapat keluarga yang jauh lebih baik dari keluarga di rumah mewahnya. Dia tidak berpikir panjang soal Sherry. Dia hanya fokus pada dirinya sendiri," jelas Aska dengan memberi tekanan pada kalimat terakhirnya. Itu seperti mengusik Aska. Sebagai saudara mungkin dia tidak rela Ve hanya peduli pada dirinya sendiri, tapi bukan pada tubuh Sherry.
Bukankah Sherry juga begitu? Aska merasa begitu karena itu seperti menjadi beban baginya. Jika Ve hanya berkutat pada keinginannya karena dia ingin menikmati kehidupan barunya, itu sungguh menyebalkan. Tujuan Sherry masih jelas karena dia ingin merubah pandangan orang-orang berubah kepada gadis kaya ini. Juga membuat mereka tidak meremehkannya.
__ADS_1